Sambil menggertak gigi, Siang Lan me lakukan perlawanan dan ia telah mengambil keputusan nekad untuk membunuh musuh besarnya atau terbunuh oleh keroyokan itu! Ia mengamuk dengan nekat sekali sehingga ketujuh orang pengeroyoknya menjadi kagum dan juga terheran-heran. Mereka mendesak terus dibarengi dengan suara Leng Kok Hosiang yang menertawakannya dan mengejeknya untuk membuat gadis itu menjadi makin gemas.
“Ha ha ha! Hwe-thian Mo-li, kau hendak lari ke mana? Kau seperti seekor tikus kecil dalam perangkap. Ha ha!”
Pada saat kedudukan Hwe-thian Mo-li benar-benar berada dalam bahaya besar, tiba-tiba terdengar suara dari luar kuil.
“Hm, sungguh tak tahu malu tokoh-tokoh kang-ouw seperti tujuh orang ini mengeroyok seorang gadis muda! Benar-benar dunia ini penuh dengan manusia-manusia curang!” Berbareng dengan habisnya ucapan itu, muncullah seorang pemuda tampan dari pintu kuil. Ia berpakaian seperti seorang pemuda pelajar yang lemah lembut dan sederhana, akan tetapi begitu tangannya bergerak, ia telah mencabut sebatang pedang yang berkilauan dari bawah jubahnya yang panjang.
“Betapapun juga, Kun-lun Siauwhiap (Pendekar muda dari Kun-lun) tidak dapat membiarkan keganjilan ini berlangsung terus!” seru pemuda itu yang segera maju menyerbu dan membantu Siang Lan.
Semenjak mendengar suara itu, dada Siang Lan sudah berdebar aneh karena ia mengenal suara itu. Apalagi sete lah pemuda itu muncul, tak terasa lagi muka gadis ini menjadi merah sekali dan gerakan pedangnya kacau sehingga hampir saja tongkat Bong Te Sianjin mampir di pundaknya. Ia cepat membuang jauh-jauh pikirannya yang kacau itu dan bersilat dengan mengerahkan seluruh tenaga.
Sementara itu, Bong Te Sianjin dan Leng Kok Hosiang yang sudah mendengar kemashuran nama Kun-lun Siauhiap, pendekar muda dari Kun-lun-pai yang menurut kabarnya amat tangkas dan gagah perkasa itu, merasa tidak enak hati. Apalagi setelah pedang di tangan Tek Kun bekerja amat cepat dan kuatnya, menghalau beberapa pedang pengeroyok, hati mereka menjadi cemas.
Leng Kok Hosiang mencoba untuk mendesak Siang Lan, namun gadis itu yang memang selalu mengarahkan serangan pedangnya kepada hwesio ini, ternyata masih kuat dan dan tidak mudah dirobohkan begitu saja. Pertempuran menjadi makin hebat. Ngo-lian-hengte mengeroyok Tek Kun, sedangkan kedua orang pertapa itu menghadapi Siang Lan.
Kalau gadis perkasa itu masih merasa kewalahan menghadapi Leng Kok Hosiang dan Bong Te Sianjin yang benar-benar tangguh, adalah Tek Kun yang dikeroyok oleh lima orang ketua Ngo-lian-kauw itu menghadapi makanan empuk. Baru beberapa gebrakan saja terdengar teriakan- teriakan kesakitan, disusul oleh robohnya Kui Sin dan Kui T i.
Makin cemaslah hati Leng Kok Hosiang. Ia maklum bahwa kalau kawan-kawannya ini roboh dan ia harus menghadapi Hwe-thian Mo-li seorang diri, pendekar wanita itu tentu takkan mau berhenti sebelum mengadu jiwa! Dia melihat kepandaian pendekar wanita ini, ia masih merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat menang apabila bertempur satu lawan satu.
Tiba-tiba Leng Kok Hos iang melompat mundur dua tombak lebih dan ketika Siang Lan mengejar, hwes io ini dengan tubuh merendah lalu menyerangnya dengan pukulan Hek-coa-jiu yang lihai itu!
Siang Lan pernah mendengar tentang kelihaian pukulan Hek-coa-jiu ini, maka cepat ia mempergunakan ginkangnya dan tubuhnya mencelat ke udara dan langsung ia menyerang ke arah hwesio itu dengan pedangnya. Akan tetapi Bong Te Sianjin telah datang dan menyambut pedangnya yang menyerang hwesio itu, sedangkan Leng Kok Hosiang yang menyaksikan betapa gadis itu dengan mudah dapat menggagalkan serangannya, cepat mempergunakan kesempatan itu untuk melompat keluar dari kuil dan melarikan diri. Dengan marah Siang Lan hendak mengejar, akan tetapi Bong Te Sianjin tidak mau melepaskannya, bahkan lalu menyerang hebat sekali dengan tongkatnya.
“Bong Te Sianjin, kau benar-benar menjemukan!” seru Siang Lan dengan gemas sekali dan pedangnya lalu bekerja lebih cepat lagi. Kini ia tidak mau main-ma in lagi dan kedua tangannya bergerak, yang kanan menyerang dengan pedang, yang kiri melancarkan pukulan-pukulan dengan pengerahan tenaga lweekang sepenuhnya. Ia kini dikuasa i oleh nafsu untuk merobohkan dan membunuh kakek yang menghalanginya mengejar hwesio musuh besarnya.
Bong Te Sianjin sudah kehabisan tenaga, maka mana ia mampu mempertahankan diri lebih lama lagi? Biarpun tongkatnya masih berhasil menangkis pedang di tangan lawannya, akan tetapi pukulan tangan kiri Siang Lan telah beberapa kali mengenai dadanya, dan biarpun yang mengenai hanya angin pukulan saja, akan tetapi karena napasnya memang sudah tersengal-sengal sehingga ia tidak dapat mengerahkan tenaga pertahanan dengan baik. Akhirnya ia terhuyung-huyung dan roboh sambil muntahkan darah segar dari mulutnya.
Siang Lan tidak memperdulikan keadaan kakek itu lagi dan melompat keluar mengejar musuh besarnya sambil berseru.
“Bangsat gundul, kau hendak lari ke mana?”
Akan tetapi karena waktu antara kepergian hwes io itu sudah agak lama, ketika ia tiba di luar kuil, Leng Kok Hosiang sudah lenyap tak nampak bayangannya lagi.
Sementara itu, Tek Kun dengan mudah juga sudah merobohkan ketiga orang pengeroyoknya dan melihat gadis itu me lompat keluar mengejar hwesio tadi, iapun melompat pula mengejarnya.
Tek Kun melihat gadis itu berdiri di pinggir hutan sambil matanya memandang ke sana ke mari mencari jejak orang yang dikejarnya, dan ketika pemuda itu datang menghampirinya, gadis itu menyambutnya dengan teguran ketus,
“Mengapa kau mencampuri urusanku?”
Tek Kun melengak dan untuk beberapa lama tak dapat segera menjawab. Tak disangkanya bahwa gadis gagah perkasa ini demikian galaknya. Akan tetapi ia tersenyum dan berkata,
“Siapa yang mencampuri urusanmu? Aku hanya melihat ketidakadilan dalam pengeroyokan itu, maka aku membantu tanpa kusadari lagi. Apakah kau marah karena aku membantumu?”
Nada suara yang halus ini menikam hati Siang Lan. Memang semenjak suhunya meninggal dunia, ia merasa hidup sebatangkara dan tak seorang pun di dunia ini yang dapat ia andalkan. Kini setelah ada pemuda yang amat menarik hatinya ini membantu tanpa dim inta, mengapa ia harus marah-marah? Ia merasa betapa ia telah bersikap terlalu sekali, maka ia lalu menjawab,
“Tidak ada alasan bagiku untuk menjadi marah. Akan tetapi jangan kaukira bahwa aku harus berlutut kepadamu dan menghaturkan terima kasih atas bantuanmu tadi. Karena kau membantu tanpa kuminta dan akupun belum tentu kalah dikeroyok oleh tujuh orang tadi!”
Tek Kun tersenyum lagi, senyum yang membuat wajahnya yang tampan itu nampak berseri dan senyum yang membuat jantung Siang Lan berdebar aneh.
“Nama Hwe-thian Mo-li memang amat menggemparkan dan sudah lama aku mengagumi namamu. Benar-benar kau gagah perkasa dan maafkan kalau tadi aku telah berlaku lancang.” Kembali Siang Lan merasa terpukul hatinya. Orang telah membantunya, merobohkan, Ngo-lian hengte, kini orang ini tidak mengharapkan terma kasihnya, bahkan datang-datang secara jujur meminta maaf. Sungguh pihaknyalah yang amat keterlaluan dalam hal ini.
“Sudahlah, aku tidak perlu dengan segala permintaan maaf!” katanya.
“Kau galak sekali!” kata Tek Kun sambil tersenyum dan sepasang matanya memandang dengan jenaka.
“Habis, apakah kau menyuruh aku tersenyum-senyum kepadamu, bersikap manis dan genit? Aku tidak bisa bersikap seperti itu!” Siang Lan menantang.
“Maaf nona, bukan maksudku menyinggung hatimu. Sebetulnya mengapakah kau mengejar hwesio itu? Siapakah dia tadi? Kulihat ilmu silatnya tinggi juga.”
“Dia adalah Leng Kok Hosiang, musuh besarku. Sayang ia dapat melarikan diri dan aku tidak tahu ke jurusan mana ia pergi!”
Pemuda itu nampak terkejut. “Diakah yang bernama Leng Kok Hosiang yang berjuluk Jai-hwa-sian? Ah, sayang, kalau tadi aku tahu, tentu tak sudi aku melayani segala cacing seperti Ngo-lian hengte dan membantumu merobohkannya.”
“Aku tidak m inta bantuanmu dan sekarangpun aku hendak mengejarnya seorang diri.” Siang Lan hendak pergi, akan tetapi pemuda itu berkata.
“Nona, kau tidak tahu ke mana perginya hwesio itu?” “Apakah kau tahu?”
“Tentu saja aku tahu ke mana ia pergi! Ia tentu pergi ke kota raja, karena sesungguhnya menjadi tugasku pula untuk menyelidikinya. Ia menjadi utusan kaum pemberontak di selatan. Mungkin sekali dia hendak menghadap kaisar sebagai seorang utusan.”
“Begitukah? Nah, aku pergi!” jawab Siang Lan tanpa mengucapkan terima kasihnya.
Akan tetapi belum lama Siang Lan pergi menuju ke kota raja di sebelah utara, tiba-tiba telinga gadis itu mendengar sesuatu dari tempat di mana tadi ia bertemu dengan Tek Kun. Ia segera berlari ke tempat itu kembali dan terheranlah ia ketika ia melihat pemuda itu berlutut di depan seorang tosu (pendeta To) tua yang bersikap bengis dan sedang marah besar,
“Mengapa kau mengabaikan tugasmu dan membuang waktumu dengan membantu segala gadis kang-ouw? Mengapa kau tidak menjatuhkan hukuman kepada susiokmu sebagaimana yang telah menjadi tugasmu?”
“Ampun, Sucouw (kakek guru), teecu tidak sampai hati menjatuhkan hukuman itu karena menurut pendapat teecu susiok tidak bersalah.”
Marahlah tosu itu. Ia membanting-banting kaki dan berkata. “Anak lancang! Betapapun tinggi kedudukanmu, siapapun juga adanya kau, kau telah menjadi murid Kun-lun- pai dan harus tunduk kepada semua peraturan. Cin Lu Ek telah melakukan pelanggaran, bersekutu dengan orang-orang jahat dan membunuh Ong Han Cu secara pengecut, curang, dan merendahkan nama Kun-lun-pai yang besar. Kau sudah kuberi tugas untuk menjatuhkan hukuman kepadanya, akan tetapi ternyata kau te lah mengabaikan tugasmu. Tahukah kau hukuman apa yang dijatuhkan kepada seorang anak murid Kun-lun-pai yang mengabaikan tugasnya?”
“Teecu tahu, sucouw. Akan dicabut kembali semua kepandaian yang teecu pelajari dari Kun-lun-pai.”
Tosu itu melangkah maju. “Nah, kau sudah tahu, itu baik sekali. Bersiaplah kau!” Sambil berkata demikian, tosu ini bergerak hendak menotok kedua pundak Sim Tek Kun. Kalau totokan itu mengenai sasaran, maka kedua lengan tangan pemuda itu akan menjadi lumpuh dan se lama hidup kedua lengannya takkan dapat dipergunakan untuk bersilat lagi.
Tiba-tiba menyambar bayangan yang cepat sekali dan tosu itu dengan terkejut merasa betapa ada sambaran angin yang kuat dari belakangnya. Ia membalikkan tubuh dan menunda gerakannya menotok anak muridnya, dan secepat kilat ia mengibaskan ujung lengan bajunya ke belakang. Siang Lan yang ternyata turun tangan menolong Tek Kun, terhuyung mundur sampai lima langkah karena kebutan ujung lengan baju ini.
“Hm, gadis lancang, kau siapakah sebenarnya maka berani sekali turun tangan terhadap pinto?”