Iblis dan Bidadari Chapter 27

NIC

Jerih juga hati lima orang ketua Ngo-lian-kauw itu menyaksikan ketenangan dan ketabahan pendekar wanita itu, akan tetapi Kui Jin yang tertua lalu melangkah maju dan berkata,

“Hwe-thian Moli, urusan penasaran di Kan-cou dulu hanya urusan kecil, karena sudah lazimnya dalam pertempuran ada yang menderita kekalahan. Akan tetapi, kami telah mendengar tentang sepak terjangmu yang ganas dan kejam. Kau telah membunuh Santung-taihiap dan telah mengacau pesta Toat- beng Moli dan kemudian bersama gadis penari itu kau telah membunuhnya pula. Kau benar-benar tidak mengindahkan orang-orang kang-ouw dan mengandalkan keganasanmu berlaku sewenang-wenang!”

Hati Siang Lan merasa sebal sekali mendengar ucapan ini dan dengan gerakan tak sabar ia mengibaskan tangannya.

“Sudahlah, aku datang ke sini untuk memenuhi tantanganmu, bukan untuk mendengarkan ocehanmu. Kita tidak mempunyai permusuhan, akan tetapi kalau kau berlima berani menantang, jangan kira bahwa Hwe-thian Moli akan mundur setapak pun”.

“Perempuan sombong!” seru Kui Sin yang termuda dengan marah dan ia segera mulai menyerang gadis itu. Keempat saudaranya juga maju berbareng dan sebentar saja Hwe-thian Moli, terkurung oleh lima orang itu.

Siang Lan mendapat kenyataan bahwa kini ilmu pedang ke lima orang itu agak lebih maju, akan tetapi masih belum cukup berbahaya baginya. Ia hendak menyelesaikan pertempuran ini secepat mungkin, maka sambil berseru keras gadis pendekar ini lalu memutar pedangnya dan mainkan ilmu pedang Liong-cu kiam-hwat.

Bagaikan seekor naga sakti, gulungan pedang di tangan Siang Lan menyambar-nyambar dan bermain-main di antara gulungan lima pedang lawannya, dan saking cepatnya gerakan gadis ini, tubuhnya sampai lenyap dari pandangan mata.

Seperti juga dulu ketika mengeroyoknya di dalam rumah Toat-beng-sin-to Liok Kong, ke lima orang ketua Ngo-lian- kauw ini menjadi terkejut sekali. Mereka telah menciptakan ilmu silat pedang yang dima inkan oleh mereka berlima dan yang berbentuk bunga teratai dengan lima daun bunga yang mereka namakan Ngo-lian-tin atau Barisan Lima Teratai. Akan tetapi menghadapi keges itan Siang Lan, Ngo-lian-tin mereka ternyata tiada gunanya sama sekali.

Gadis ini tak dapat dikurung ditengah-tengah, baru saja mereka berhasil mengurung, gadis itu telah sanggup memecahkan dengan serangannya yang ganas ke satu jurusan. Kini, sete lah gadis itu mengeluarkan kepandaiannya, bukan gadis itu yang terkurung, bahkan mereka berlima yang seakan-akan terkurung oleh gulungan sinar pedang yang berkelebatan tak tentu perkembangan dan perubahannya itu.

Baru saja pertempuran berlangsung dua puluh jurus, pedang di tangan Kui Le telah terlempar karena gempuran pedang Siang Lan. Dan Kui Gi terpaksa harus melepaskan pedangnya pula karena lengannya tercium oleh ujung sepatu Siang Lan sehingga ia merasa seakan-akan tulang lengannya menjadi patah. Kederlah hati tiga orang pengeroyok yang lain dan pada saat itu, terdengar bentakan halus. “Kalian mundurlah dan biarkan lohu (aku yang tua) menangkap gadis liar ini!”

Siang Lan merasa ada angin menyambar dari kiri dan cepat ia mengelak. Ia terkejut juga ketika melihat bahwa sambaran angin ini dikeluarkan dari tangan kakek itu yang dipukulkan kepadanya dari jauh. Kui Jin, Kui T i, dan Kui Sin lalu melompat mundur dengan hati lega karena supek mereka sekarang mau turun tangan.

Sementara itu, Siang Lan sambil menunda pedangnya di depan dada, lalu bertanya kepada kakek itu.

“Ngo-ciangbun menantang aku yang muda untuk mengadu kepandaian, dan siapakah kau orang tua yang ikut mencampuri urusan kami?”

Kakek itu tersenyum menyeringai dan terlihatlah bahwa di dalam mulutnya sudah tidak ada gigi sepotongpun.

“Hwe-thian Moli, Sudah lama lohu mendengar namamu yang menggemparkan. Murid-murid keponakanku tak dapat melawanmu, maka biarlah aku Bong Te Sianjin yang menjadi supek mereka main-main sebentar denganmu!” Sambil berkata demikian, kakek itu lalu mengambil senjatanya, yakni sepotong tongkat yang gagangnya berbentuk ular.

“Bong Te Sianjin, kau orang tua yang sudah disebut s ianjin (manusia dewa, orang suci) sungguh mengherankan sekali masih suka mencari urusan. Kalian terlalu mendesak maka terpaksa aku yang muda memberi hajaran sedikit. Jangan kira bahwa aku takut. Nah, majulah semua!” tantang Hwe-thian Moli dengan garang sekali.

Bong Te Sianjin terkekeh, lalu menyerang sambil berkata, “Bocah cilik yang besar kepala!”

Biarpun tongkat itu kecil saja, namun daya serangannya jauh lebih bertenaga dan lebih berbahaya dari pada lima batang pedang dari Ngo-lian-hengte tadi. Siang Lan maklum bahwa kini ia menghadapi seorang lawan yang tangguh, maka ia berlaku hati-hati. Ia cepat menangkis dengan pedangnya dan baiknya ia berlaku hati-hati, karena begitu pedang menempel pada tongkat lawan.

Tiba-tiba dengan getaran tenaga lweekang, tongkat itu diputar sedemikian cepatnya sehingga kalau Siang Lan tidak cepat menarik kembali pedangnya, banyak kemungkinan pedangnya akan terlepas dari pegangan. Maklumlah ia bahwa kakek ini dapat menyalurkan tenaga lweekangnya yang tinggi melalui tongkatnyasehingga tongkat pendek itu dapat bergerak mengandung tenaga cam (melibat, mengikat), tenaga Coan (memutar), membetot , dan lain-lain menurut kehendak kakek itu.

Gadis yang berilmu tinggi ini teringat akan nasehat mendiang suhunya bahwa untuk menghadapi seorang yang ilmu lweekangnya lebih tinggi darinya, ia tidak boleh menggunakan tenaga kasar, tidak boleh menggunakan tenaga dan harus mengandalkan kecepatan untuk mendahului lawan. Maka Siang Lan lalu mengerahkan ginkangnya (ilmu meringankan tubuh) yang memang sudah sempurna itu, dan ketika ia mainkan ilmu pedangnya, maka kini gulungan sinar pedangnya lebih lebar dan lebih cepat dari pada tadi ketika dikeroyok lima. Semua serangannya ia tujukan ke arah jalan darah yang berbahaya dari kakek itu, merupakan serangan maut yang benar-benar ganas dan berbahaya.

Bong Te Sianjin benar-benar terkejut Tak pernah disangkanya bahwa gadis muda ini sedemikian lihainya. Tadinya ia hendak mendesak, mempermainkan gadis itu untuk memamerkan kepandaiannya di depan ke lima murid keponakannya.

Akan tetapi setelah bertempur mati-matian, jangankan hendak mendesak mempermainkan, bahkan untuk mengimbangi gerakan gadis yang luar biasa cepatnya itu saja telah membuat napasnya menjadi megap-megap. Namun ilmu tongkatnya memang kuat sekali sehingga bagi Siang Lan juga tidak mudah untuk merobohkan kakek ini.

Agaknya hanya soal napas saja yang akan dapat memberi kemenangan kepada gadis itu, maka Siang Lan juga berlaku cerdik dan bergerak makin cepat agar kakek itu mengerahkan tenaga dan kehabisan napas. Kalau tidak dapat menang dalam seratus jurus, biarlah aku ladeni dia sampai dua ratus jurus pikirnya.

Adapun ke lima orang ketua Ngo-lian-kauw itu, ketika melihat betapa supek mereka tidak dapat menang setelah bertempur puluhan jurus, dan malah terdengar napas supek mereka megap-megap seperti kerbau disembelih, mereka serentak maju mengeroyok lagi. Kui Le dan Kui Gi sudah mengambil pedang mereka kembali dan Bong Te Sianjin kini tidak malu-malu lagi untuk membiarkan ke lima orang itu membantunya.

“Bagus, majulah semua!” Siang Lan menantang tanpa takut sedikitpun. Akan tetapi harus diakuinya bahwa keroyokan enam orang ini benar-benar merupakan lawan yang amat berat. Dengan masuknya lima saudara she Kui itu, ia harus memecah perhatiannya dan ini merupakan hal yang berbahaya karena serangan tongkat di tangan Bong Te Sianjin masih tetap kuat dan berbahaya sekali. Ia lalu bersilat dengan hati-hati dan tenang, tidak mau menghamburkan tenaga seperti tadi ketika berhadapan dengan Bong Te Sianjin seorang.

Tanpa terasa, Siang Lan telah bertempur seratus jurus lebih dan masih saja ia dalam keadaan terkurung. Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak-gelak, disusul dengan suara yang parau.

“Ha, ha, ha, ha...! Enam orang laki-laki mengeroyok seorang gadis muda jelita. Sungguh lucu. Eh, Bong Te Sianjin, apakah kau sekarang sudah menjadi pikun dan loyo?” Mendengar suara itu, Bong Te Sianjin berseru girang dan menjawab. “Leng Kok Hosiang ! Kau tidak tahu bahwa gadis muda ini adalah Hwe Thian Moli yang lihai dan ganas!”

Ucapan dari Bong Te Sianjin ini mendatangkan rasa kaget kepada Siang Lan dan juga kepada hwes io yang baru muncul itu. Siang Lan terkejut berbareng girang karena dapat bertemu dengan musuh besarnya, sebaliknya Leng Kok Hosiang terkejut karena ia sudah mendengar betapa dara perkasa ini sedang mencari-carinya untuk membalas dendam. Ia juga sudah mendengar betapa Hwe Thian Moli telah berhasil membunuh tiga orang kawannya yang dulu ikut naik ke Liong- cu-san.

(Oo-dwkz-oO)

“AH, dia memang gadis jahat dan kejam!” serunya sambil meloloskan goloknya. “Kita harus membunuhnya. Marilah kubantu kalian!” Dengan gerakan cepat sekali Leng Kok Hosiang lalu maju menyerbu dan mengeroyok Siang Lan.

“Keparat jahanam Leng Kok Hosiang! Kebetulan sekali kau mengantar kepalamu yang gundul untuk kuhancurkan!” seru Siang Lan dengan gemas sekali dan ia menyambut kedatangan hwes io itu dengan serangan kilat yang dilakukan dengan sepenuh tenaga. Akan tetapi karena selain Leng Kok Hosiang sendiri memiliki kepandaian tinggi, juga di situ terdapat Bong Te Sianjin dan Ngo-lian-hengte, tentu saja ia tak dapat bergerak dengan leluasa, bahkan sebentar saja ia telah terdesak mundur karena datangnya senjata lawan bagaikan hujan lebatnya.

Posting Komentar