Akan tetapi Cin Lu Ek yang tidak tega melihat Ong Han Cu hendak dibunuh begitu saja, tetap menangkiskan pedangnya ketika golok Leng Kok Hosiang membacok ke arah tubuh Raja Pedang itu, akan tetapi pada saat itu juga, senjata-senjata empat orang itu menghantam pedangnya sehingga terpental dari tangannya.
“Ha, ha, ha! Dengan kepandaianmu yang rendah ini kau masih hendak berlagak?” Leng Kok Hosiang mengejek dan sebuah tendangan kakinya membuat tubuh Kim-gan-liong terpental tiga tombak jauhnya dan jatuh bergulingan.
Terpaksa Kim-gan-liong meramkan mata ketika melihat betapa Leng Kok Hosiang menggunakan goloknya menyabet putus kedua kaki dan tangan Pat-jiu kiam-ong Ong Han Cu.
“Kejam.... kejam....!” ia berseru sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Hati nuraninya memberontak, akan tetapi apakah dayanya? Menghadapi hwes io itu saja ia takkan menang, apalagi di situ masih ada tiga orang lain yang kepandaiannya tinggi.
Leng Kok Hosiang dan tiga orang kawannya lalu menyerbu ke dalam gua dan dapat menemukan peti yang terisi harta pusaka itu. Mereka lalu membagi-bagi harta itu antara berempat dan dengan senyum mengejek Leng Kok Hosiang menghampiri Kim-gan-liong Cin Lu Ek.
“Kenapa kau sudah ikut kami datang ke sini, sudah hakmu untuk menerima sedikit bagian harta ini. Pulanglah dan bawalah bagianmu dan hiduplah dengan tentram dan aman!”
Akan tetapi Kim-gan-liong menggeleng kepalanya dan berkata dengan tegas, “Tidak, aku tidak sudi menjamah harta kotor ini!”
“Ha, ha, ha! Kim-gan-liong, kau berpura-pura suci. Dapatkah kau membebaskan dirimu dari pembunuhan hari ini? Kau datang bersama kami dan Ong Han Cu telah melihat dengan matanya sendiri bahwa kau termasuk rombongan kami. Kita berlima yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini. Apakah kau kira akan dapat membebaskan diri begitu saja? Atau, agaknya kau yang berhati kecil ini takut akan datangnya pembalasan dari pihak Pat-jiu kiam-ong?”
“Tidak, aku tidak takut!” jawab Cin Lu Ek marah. “Sudah sepantasnya aku dibalas dan dibunuh, karena aku yang mengaku sebagai orang kang-ouw tidak berdaya melihat kekejaman ini terjadi, tanpa dapat mencegah sedikitpun. Aku memang patut dibunuh .... patut dibalas .... aku ikut berdosa terhadap Pat-jiu kiam-ong!”
Sambil tertawa-tawa empat orang yang lain mengejeknya sehingga Kim-gan-liong Cin Lu Ek lalu membalikkan tubuh dan lari pergi dari tempat itu.
Mendengar penuturan Kim-gan-liong Cin Lu Ek yang nampak berwajah amat sedihnya itu, Hwe-thian Moli menjadi bingung tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Demikianlah nona, keadaanku yang sesungguhnya sehingga aku terlibat dalam urusan kematian suhumu itu. Akan tetapi, jangan kau kira bahwa aku menceritakan hal ini untuk membela diri karena aku takut akan pembalasanmu. Tidak! Betapapun juga, aku merasa bahwa akupun ikut berdosa dengan tewasnya suhumu itu. Kalau aku memiliki sedikit saja kegagahan, tentu pada waktu itu aku dapat menolong suhumu. Aku terkena bujukan mereka dan ikut dengan rombongan jahat itu, maka kalau kau menganggap aku sebagai seorang musuh besar suhumu, silahkan kau melakukan pembalasan. Aku takkan mundur setapak menghadapi hukuman yang memang sudah patut kuterima. Aku menceritakan semua ini untuk mencegah jangan sampai kau bertempur dengan Tek Kun!”
Hwe-thian Moli mengerutkan alisnya dan berpikir keras. Haruskah ia mengundurkan diri setelah ia mencari musuh ini dengan susah payah dan setelah kini dapat bertemu? Tidak, sedikitnya ia harus memberi hajaran juga kepada orang ini, bukan karena kejahatannya, akan tetapi oleh karena kelemahan dan kesombongannya telah berani mengadu kepandaian dengan mendiang suhunya dan datang bersama rombongan jahat itu.
“Kau keluarlah dan cabut pedangmu!” ia menantang sambil melompat keluar.
Dengan sikap amat tenang, Kim-gan-liong Cin Lu Ek lalu berjalan keluar dan mencabut pedangnya, siap menanti datangnya serangan.
“Susiok, jangan ......!” Sim Tek Kun berseru, akan tetapi susioknya tidak meladeninya.
“Hwe-thian Moli, jangan kau mendesak orang tua ini!” serunya pula kepada gadis itu, akan tetapi Siang Lan hanya mengeluarkan senyum mengejek dan secepat kilat pedangnya meluncur dan melakukan serangan pertama kepada Kim-gan- liong.
Orang tua ini lalu menangkis dan dari benturan pedang ini tahulah ia bahwa gadis muda ini benar-benar telah mewarisi kepandaian Pat-jiu kiam-ong sehingga diam-diam ia menjadi kagum sekali. Iapun lalu mengerahkan kepandaiannya dan bertempurlah kedua orang itu dengan hebatnya.
Akan tetapi, baru saja bertempur tiga puluh jurus, sudah terlihat nyata sekali betapa Kim-gan-liong terdesak hebat sehingga tak dapat membalas, hanya mempertahankan diri saja.
“Tahan, nona, jangan kau membunuh orang tidak berdosa!” seru Sim Tek Kun sambil maju menerjang dengan pedangnya. Akan tetapi terlambat, karena pada saat itu pedang di tangan Hwe-thian Moli telah bergerak dengan tipu Burung Gagak Menyambar Cacing. Kim-gan-liong berseru keras, pedangnya terlepas dari tangan dan pundak kanannya berlumuran darah karena tertusuk oleh ujung pedang Hwe- thian Moli.
Siang Lan menahan pedangnya dan berkata dengan keren. “Oleh karena kau tidak ikut membunuh suhu dan hanya menjadi kawan gerombolan jahat itu, maka biarlah kuampunkan jiwamu!” Kemudian, ia menatap wajah Tek Kun dan berkata sambil tersenyum menyindir, “Dan kau! Kalau kau merasa penasaran bahwa aku sudah melukai susiokmu, setiap waktu kau boleh mencariku untuk membalas dendam!”
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat tubuh gadis itu lenyap ditelan kegelapan malam. Tek Kun berdiri melengak dan menggeleng-geleng kepalanya, lalu menolong susioknya yang terluka pundaknya. Ternyata luka itu hanya merupakan luka di kulit dan daging saja dan sama sekali tidak berbahaya sungguhpun banyak mengeluarkan darah.
“Alangkah ganasnya gadis itu!” Tek Kun menggerutu. “Akan tetapi ia gagah perkasa dan cukup adil. Ilmu
pedangnya lihai seperti suhunya!” kata Kim-gan-liong dan suaranya kini berobah seakan-akan batu besar yang tadinya menindih hatinya telah terangkat. “Kesalahanku dulu telah terbalas, puaslah hatiku!” Setelah membalut dan merawat susioknya, pada keesokan harinya, Tek Kun lalu berpamit dan berkata pada orang tua itu,
“Teecu melihat Ngo-lian-hengte dan Bong Te Sianjin berada di kota ini, maka tentu akan terjadi sesuatu yang buruk. Teecu perlu menyelidiki keadaan mereka,” katanya dan Kim-gan- liong tak dapat menahan murid keponakannya ini karena iapun maklum akan ganasnya sepak terjang Ngo-lian-hengte, lima ketua dari Ngo-lian-kauw itu. Apalagi Bong Te Sianjin yang menjadi supek (uwak guru) dari mereka, karena pertapa tua ini terkenal sebagai seorang tua yang selalu membela dan membantu perkembangan Ngo-lian-kauw.
Adapun Hwe-thian Moli sete lah pergi dari rumah Kim-gan- liong dan kembali ke kamar di hotel, lalu merebahkan diri di atas pembaringan dan ia mengenang semua peristiwa tadi dengan hati puas. Ia telah memberi peringatan dan hajaran kepada Kim-gan-liong sehingga dengan perbuatan itu, ia
.menghilangkan rasa penasaran dari suhunya dan juga mengangkat nama suhunya. Akan tetapi anehnya, kenangan ini se lalu terganggu oleh bayangan wajah pemuda yang tampan itu. Sim Tek Kun ! Nama ini selalu dibisikkan oleh bibirnya.
“Kurang ajar!” kata Hwe-thian Moli karena gangguan ini dan ia berusaha sekuat mungkin untuk mengusir bayangan ini dari ingatannya, Akan tetapi, makin diusir, makin jelas lah bayangan wajah pemuda itu dan makin tak dapat dilupakan. Pandangan mata yang jenaka itu, senyum yang berseri itu, ah....... Hmoli mengeluh dan menganggap diri sendiri sudah menjadi gila.
Gadis perkasa yang berhati baja dan tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga ini, secara tak sadar telah dipermainkan oleh pengaruh yang besar sekali kekuasaannya, yang kuasa mempermainkan manusia yang bagaimanapun juga. Tak perduli ia orang biasa, petani m iskin, hartawan, bangsawan, bahkan panglima-panglima perang yang gagah perkasa, tetap saja dapat dipermainkannya seperti halnya Hwe-thian Moli sekarang ini. Dan pengaruh ini bukan lain adalah Asmara.
Hatinya yang keras merasa tidak puas dan gemas terhadap kelemahannya sendiri dan ia juga merasa heran sekali mengapa bayangan pemuda yang belum dikenalnya itu dapat membuat ia hampir tak dapat meramkan matanya semalam penuh.
Dengan hati masih mendongkol, pagi-pagi benar ia sudah bangkit dari tidurnya, duduk bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga dan menentramkan semangat, kemudian ia lalu berdandan dan pagi-pagi sekali ia sudah membereskan pembayaran kamar hotelnya dan pergi menggendong buntalannya menuju ke sebelah barat kota. Ia hendak mencari kuil di sebelah barat kota untuk memenuhi janjinya dengan Ngo-lian-hengte yang menantangnya.
Ketika ia tiba di depan kuil, di situ amat sunyi karena kuil itu berada agak jauh di luar kota, di luar sebuah hutan. Hwe- thian Moli berdiri di luar kuil, merasa ragu-ragu untuk masuk. Agaknya kuil ini adalah sebuah kuil kosong dan ia merasa sangsi untuk masuk, kalau-kalau di s itu terdapat perangkap.
“Ngo-lian-hengte!” ia berseru keras. “Aku sudah datang memenuhi janji!”
Suaranya bergema sampai di hutan itu dan tak lama kemudian terdengar seruan dari dalam kuil,
“Bagus, Hwe-thian Moli, ternyata kau benar-benar mengantarkan nyawamu kepada kami!” Berbareng dengan ucapan itu, muncullah lima orang saudara she Kui itu dari pintu kuil, dan melihat keadaan mereka yang sudah siap sedia dengan pedang ditangan, dapat diduga bahwa mereka memang telah menanti sejak tadi. Ketika Siang Lan melihat seorang kakek yang berpakaian seperti pertapa ikut keluar di belakang lima orang itu, ia berlaku waspada. Lima orang ketua Ngo-lian-kauw itu sama sekali tidak ditakutinya karena ia sudah tahu sampai di mana kepandaian mereka, akan tetapi kakek ini agaknya memiliki kepandaian tinggi, melihat dari sikapnya yang tenang dan pandangan matanya yang tajam berpengaruh.
“Aku telah datang dan kalau kalian merasa penasaran atas kekalahan tempo hari, nah, mau tunggu kapan lagi?” kata gadis yang tabah ini sambil melemparkan bungkusan pakaiannya ke bawah pohon dan mencabut pedangnya.