Iblis dan Bidadari Chapter 25

NIC

Saking malunya, Kim-gan-liong menjadi penasaran sekali dan sambil berseru keras ia lalu bersilat pedang. Ia mengerahkan seluruh ilmu pedangnya dari cabang Kun-lun-pai dan mengeluarkan tipu-tipu yang paling berbahaya dan sukar ditangkis.

Akan tetapi benar-benar Pat-jiu kiam-ong lihai sekali. Dengan tenang dan lambat ia menggerakkan pedangnya, namun pedang itu telah merupakan benteng baja yang membuat pedang di tangan Kim-gan-liong se lalu terpental kembali dengan telapak tangan merasa perih. Tiga puluh jurus lebih Kim-gan-liong mengeluarkan kepandaiannya namun sedikit juga ia tidak dapat mendesak lawannya. Jangankan mendesak, bahkan selama iru Pat-jiu kiam-ong tak pernah merobah kedudukan kakinya dan sambil berdiri biasa saja ia telah dapat menangkis semua serangan.

Tiba-tiba Pat-jiu kiam-ong berkata perlahan, “Kim-gan- liong, sekarang kau jagalah seranganku!”

Kim-gan-liong terkejut sekali dan buru-buru ia mainkan ilmu pedang Wanita Cantik Membuka Payung. Pedangnya diputar sedemikian rupa merupakan payung yang memayungi seluruh tubuhnya. Akan tetapi pandangan matanya segera menjadi kabur ketika pedang Pat-jiu kiam-ong berkelebatan bagaikan halilintar menyambar-nyambar. Silau matanya melihat cahaya pedang ini dan tanpa diketahui bagaimana caranya, tahu-tahu pedang ditangannya telah terlepas dari pegangan dan ketika ia membuka matanya, ternyata bahwa pedangnya itu telah berada di tangan kiri Pat- jiu kiam-ong. Raja pedang itu tersenyum ramah dan mengembalikan pedangnya sambil berkata.

“Ilmu pedangmu cukup lihai, Kim-gan-liong!”

Cin Lu Ek berdiri bengong dan setelah menerima pedangnya cepat ia maju memberi hormat sambil membongkokkan tubuhnya.

“Ah, luar biasa sekali ! serunya. “Biar matipun aku Cin Lu

Ek tidak merasa penasaran setelah menyaksikan ilmu pedang dari K iam-Ong (Raja Pedang)!”

Melihat sikap Kim-gan-liong, senanglah hati Ong Han Cu karena ia dapat merasa betapa ucapan dan pandangan mata orang ini memang sejujurnya, tidak mengandung pujian yang menjilat.

Sementara itu, ketika kedua orang itu mengukur kepandaian, dengan perlahan Leng Kok Hosiang berbisik kepada tiga orang kawannya. “Aku sengaja mengadu mereka untuk melihat sampai di mana kepandaian Pat-jiu kiam-ong. Kalau kiranya tidak berapa tinggi dan kita sanggup menghadapinya, baik kita mengeroyoknya, akan tetapi kalau terlampau kuat, kita menggunakan jalan lain yang lebih halus.” Ia lalu menunjuk ke arah cawan-cawan arak di depannya.

Memang Leng Kok Hosiang, terkenal sebagai ahli racun yang lihai sekali. Bahkan ilmu pukulannya yang disebut Hek- coa-jiu (Tangan Ular Hitam) amat berbahay dan dapat mendatangkan kematian seperti tergigit ular beracun apabila mengenai lawannya.

Melihat kehebatan ilmu pedang Raja Pedang itu, tercenganglah Leng Kok Hosiang dan kawan-kawannya, dan dengan cekatan sekali tanpa diketahui oleh siapapun juga hwes io itu memasukkan jari tangannya ke dalam baju. Ketika dikeluarkannya, ternyata jari tangannya telah berlumur benda putih yang cepat dioles-oleskan ke dalam cawan tuan rumah. Kalau dilihat dem ikian saja, maka cawan itu tetap bersih tidak terlihat sesuatu, akan tetapi sebetulnya telah mengandung racun yang amat jahat.

“Bagus, bagus!” kata Leng Kok Hosiang sambil berdiri menghampiri kedua orang yang sudah selesai berpibu tadi. “Kepandaian ilmu pedang dari Pat-jiu kiam-ong benar-benar mengagumkan sekali. Terus terang saja, tadinya akupun ingin mencoba-coba, akan tetapi melihat ilm u pedang selihai itu, belum apa-apa aku sudah merasa leherku dingin dan lebih baik niatku itu kubatalkan sajaI’

Bagi Ong Han Cu, pujian ini berbeda jauh sekali dengan pujian yang keluar dari mulutnya Kim-gan-liong. Pujian hwesio inilah yang berbahaya dan perlu dijaga, karena dibelakangnya tersembunyi maksud-maksud tertentu dan jahat.

“Jiwi (tuan berdua) perlu diberi penghormatan dengan tiga cawan arak !” Ia lalu mempersilahkan keduanya duduk di dekat meja. “Marilah, silahkan minum arak untuk penghormatan. T idak setiap hari kita dapat berkumpul seperti ini dan minum arak bersama-sama!”

Ong Han Cu cukup waspada akan kecurangan dan kejahatan pendeta gundul yang terkenal sebagai penjahat pemetik bunga yang amat cabul. Itu, maka ketika melihat cawan kosong di depannya, ia lalu mengambil cawan itu dan melemparkannya ke atas sehingga cawan itu berjungkir balik beberapa kali di tengah udara lalu turun kembali diterima dengan tangan kanannya. Ia melakukan ini dengan senyum simpul sambil memandang kepada hwesio itu dengan tajam. Akan tetapi Leng Kok Hosiang hanya tertawa saja dan berkata kepada kawan-kawannya. “Lihatlah, demikian cara seorang kang-ouw yang kosen menjaga diri. Kalau di dalam cawan itu terdapat barang kotor, maka tentu barang kotor itu akan tertiup keluar oleh tenaga khikang yang dipergunakan untuk melontarkan cawan itu. Hebat, ... hebat?”

Ong Han Cu kagum juga akan kelihaian mata hwesio itu, maka ia hanya tersenyum dan berkata. “Kebiasaan orang kang-ouw harus berlaku hati-hati, biarpun menghadapi kawan- kawan sendiri. Tingginya gunung dapat didaki, dalamnya sungai dapat diselam i, akan tetapi siapa dapat meraba hati dan pikiran orang?”

“Betul, betul!” kata Hwesio itu sambil menuangkan arak ke dalam cawan kedua orang yang baru saja berpibu tadi. “Nah, marilah kalian m inum arak untuk penghormatan yang kami rasa di dalam hati kami terhadap ilmu pedang yang lihai itu!”

Sebelum minum, Ong Han Cu mempergunakan ketajaman hidungnya untuk mencium arak di guci, akan tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Karena ia melihat Kim-gan-liong minum araknya tanpa ragu-ragu lagi, iapun lalu m inum araknya sekali teguk.

Harus diketahui bahwa apabila racun yang dioleskan di dalam cawan oleh Leng Kok Hosiang tadi merupakan obat bubuk, tentu obat bubuk ini te lah terbang keluar karena ketika melontarkan cawan kosongnya ke udara tadi, Ong Han Cu telah menggunakan tenaga khikangnya.

Akan tetapi racun itu merupakan racun yang telah dicairkan dan ketika dioleskan ke cawan, tentu saja menjadi menempel dan tidak dapat terbang keluar. Pula, racun ini merupakan racun kembang putih yang tidak terasa apa-apa, akan tetapi khasiatnyapun tidak terlalu keras.

Kembali Leng Kok Hosiang menuangkan arak ke dalam cawan itu dan kini Liok Kong mengeluarkan cawan-cawan lain untuk ia sendiri dan kawan-kawannya. Berkali-kali mereka minum arak sampai arak diguci menjadi kering sama sekali.

“Pat-jiu kiam-ong,” kata Leng Kok Hosiang kemudian, “Kedatangan kami ini se lain mengantar Kim-gan-liong yang hendak menyaksikan kelihaian ilmu pedang, juga oleh karena kami tertarik oleh berita mengenai gua di gunungmu ini. Kami mendengar kabar bahwa di sini terpendam harta pusaka yang tak ternilai harganya. Maka pandanglah muka kami sebagai sahabat-sahabat di dunia kang-ouw dan biarkanlah kami mencari harta pusaka itu yang bagimu tidak ada gunanya lagi.”

Ucapan hwesio ini sebenarnya hanya pancingan belaka dan usahanya ternyata berhasil baik. Ong Han Cu terkejut dan memandang dengan tajam, “Dari siapakah kau mendengar tentang harta pusaka itu?” tanyanya.

“Ha, jadi benar-benar adalah harta pusaka itu? Bagus, kau harus memberi kesempatan kepada kami untuk mencarinya, Pat-jiu kiam-ong.”

“Tak perlu dicari!” jawab Pat-jiu kiam-ong yang entah mengapa tiba-tiba merasa agak pening. Ia menganggap bahwa hal ini tentu karena ia terlampau banyak minum arak. “Harta pusaka itu telah menjadi hak milikku!”

“Ah, ah, begitukah?” kata Leng Kok Hosiang dengan girang sekali. “Kalau begitu, janganlah berlaku kikir, sahabat. Berilah bagian kepada kami!”

Tiba-tiba Ong Han Cu bangun berdiri dengan marah. “Hm, untuk itukah kalian datang ? Sungguh tak tahu ma lu! Harta dunia saja yang kalian pikirkan dan karena harta dunia pula maka kalian menjadi jahat!”

(Oo-dwkz-oO)

Leng Kok Hosiang memberi tanda kepada tiga orang kawannya yang segera berdiri dan siap sedia. Adapun Kim- gan-liong masih duduk saja dengan terheran-heran dan hatinya berdebar-debar tegang menyaksikan keadaan yang sudah tidak enak ini.

Akan tetapi, ketika ia bangkit berdiri, Ong Han Cu tiba-tiba merasa pening kepalanya makin menghebat dan pandangan matanya berputar-putar. Ia maklum dengan hati terkejut bahwa tentu ia telah menjadi kurban kekejaman hwesio dihadapannya itu.

“Aha, kau roboh, Pat-jiu kiam-ong .....! Kau roboh ! Ha,

ha, ha !” Leng Kok Hosiang tertawa bergelak.

“Jahanam berhati binatang!” Pat-jiu kiam-ong marah sekali dan mengerahkan tenaga untuk menubruk maju. Akan tetapi karena pandangan matanya telah gelap dan kepalanya pening, ia menubruk tempat kosong dan jatuh terguling di atas tanah tanpa dapat berdiri lagi. Ia telah menjadi pingsan.

Sambil tertawa bergelak Leng Kok Hosiang mencabut sebatang golok. Semenjak dikalahkan oleh Ouwyang Sianjin, hwes io ini telah me latih diri dengan semacam ilmu golok yang cukup lihai. Ia lalu maju ke arah Ong Han Cu yang rebah tak berdaya itu sambil mengangkat goloknya membacok.

“Traaang!” tiba-tiba goloknya itu tertangkis oleh sebatang pedang dan ternyata bahwa yang menangkisnya adalah Cin Lu Ek.

“Leng Kok Hosiang, tidak malukah kau untuk berlaku sekeji ini? Bukan perbuatan gagah untuk menewaskan musuh dengan cara demikian curang!”

Marahlah Leng Kok Hosiang. Matanya berputar mengerikan ketika ia menghadapi Kim-gan-liong dan dengan goloknya ia menuding sambil membentak, “Kim-gan-liong, Apakah maksudmu dengan perbuatan ini? Apakah kau hendak membela musuh besar kami?” “Aku tidak membela siapa-siapa, hanya aku tak dapat membiarkan kalian membunuh Pat-jiu kiam-ong dengan cara yang curang!”

“Kami berurusan dengan musuh kami sendiri, kau perduli apakah?” bentak hwesio itu sambil menggerakkan goloknya kembali. Kim-gan-liong hendak menangis pula, akan tetapi Liok Kong Si Golok Sakti Pencabut Nyawa, Yap Cin Si Lutung Sakti, dan Pendekar Besar dari Santung Siong Tat mencabut senjata mereka dan menghadang di depan Kim-gan-liong dengan sikap mengancam.

“Kim-gan-liong, benar-benarkah kau hendak mengorbankan nyawamu untuk musuh besar kami?”

Posting Komentar