“Kebetulan sekali Kim-gan-liong berada disini!” Leng Kok Hosiang berseru. Hwesio ini pernah mengalahkan Kim-gan- liong dalam pibu, akan tetapi setelah bertempurhampir dua ratus jurus, maka ia merasa girang sekali karena tahu akan kelihaian Kim-gan-liong.
Sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan, hwes io cabul yang berjuluk Jai-hwa-sian (Dewa Pemetik Bunga) ini pernah diberi hajaran keras oleh Pat-jiu kiam-ong Ong Han Cu. Setelah melatih diri, se lama lima tahun dipuncak Sin-tok- san dan melatih ilmu pukulan Coa-tok-jin yang lihai, ia turun gunung mencari Ong Han Cu, akan tetapi kembali ia mendapat kekecewaan karena ia telah dirobohkan oleh adik seperguruan Pat-jiu kiam-ong, yakni Ouwyang Sianjin.
Dengan hati mengandung penuh dendam hwes io ini lalu merantau dan mencari kawan-kawan untuk melakukan pembalasan. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Yap Cin Si Lutung Sakti yang juga menaruh dendam sakit hati besar sekali terhadap Pat-jiu kiam-ong karena Ong Han Cu pernah merobohkannya.
Biarpun sudah mendapat kawan, namun Leng Kok Hosiang masih merasa jerih untuk mengganggu Ong Han Cu karena ia mendengar betapa pendekar ini telah menemukan ilmu pedang yang luar biasa. Ia mempunyai telinga yang amat tajam dan biarpun Ong Han Cu menyembunyikannya, namun hwes io itu mendengar bahwa pendekar itu selain ilmu pedang, juga telah menemukan harta pusaka yang besar jumlahnya di puncak bukit Liong-cu-san. Berita inilah yang membuat ia berhasil menarik Toat-beng Sin-to Liok Kong dan Santung-taihiap Siong Tat, karena kedua orang gagah ini walaupun tidak mempunyai permusuhan apa- apa terhadap Ong Han Cu, namun mereka tertarik oleh harta pusaka itu. Maka berangkatlah empat orang kang-ouw ini dengan maksud buruk terhadap Pat-jiu kiam-ong, menuju ke gunung Liong-cu-san untuk mencari Ong Han Cu.
Leng Kok Hosiang maklum bahwa Cin Lu Ek Si Naga Bermata Emas adalah seorang yang jujur dan tidak tertarik akan harta pusaka.
Ia telah mendengar pula betapa Kim-gan-liong yang tadinya adalah seorang hartawan, telah menghamburkan hartanya guna menolong orang sehingga kini menjadi m iskin, maka tentu saja pendekar ini takkan tertarik akan berita tentang harta pusaka itu. Maka ia lalu mempergunakan lain siasat.
“Kim-gan-liong,” katanya, “Aku dan kawan-kawan ini hendak mencari Pat-jiu kiam-ong di bukit Liong-cu san. Kuharap saja kau suka pergi bersama kami untuk menambah semangat.”
“Dengan maksud apakah cuwi sekalian hendak mencari Pat-jiu kiam-ong?” tanya Kim-gan-liong.
Hwesio itu tertawa. “Kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu kiam-ong adalah seorang yang usilan dan suka mencampuri urusan orang lain. Antara dia dan kami te lah ada sengketa yang harus diselesa ikan sekarang. Maka harap kau suka mengawani kami pergi mencarinya.”
Kim-gan-liong Cin Lu Ek mengerutkan alisnya. “Akan tetapi antara dia dan aku sama sekali tidak ada permusuhan sesuatu, bahkan bertemu mukapun belum. Untuk apa aku ikut pergi ke sana? Kalau cuwi hendak mencarinya dan membalas perhitungan lama, silakanlah, tapi jangan bawa-bawa aku yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan urusan ini!”
“Ha,ha,ha! Kim-gan-liong yang gagah perkasa agaknya takut kepada Pat-jiu kiam-ong dan baru mendengar namanya saja sudah menjadi gentar!” Yap Cin Si Lutung Sakti mengejek.
Memang kelemahan Kim-gan-liong terletak di dalam kesombongannya dan sifatnya yang tidak mau kalah. Mendengar ejekan ini, ia mencabut pedangnya dan berkata angkuh.
“Aku Kim-gan-liong tidak pernah takut kepada siapapun juga!” serunya dengan matanya yang tajam itu bersinar ganas. “Sudah lama aku mendengar nama Pat-jiu kiam-ong dan ingin sekali aku mengajaknya pibu. Akan tetapi, maksudku hanyalah menguji kepandaian belaka, tidak bermaksud mencelakakannya karena memang antara dia dan aku tidak ada permusuhan apa-apa. Siapa bilang aku takut kepadanya?”
Leng Kok Hosiang lalu me langkah maju dan menyabarkannya. “Sudahlah, antara kawan sendiri tak perlu ada pertikaian. Sabarlah, Kim-gan-liong taihiap, ketahuilah bahwa Sin-wan Yap enghiong hanya berkelakar. Siapa yang tidak mengetahui bahwa kau adalah seorang gagah? Kau tadi menyatakan ingin berpibu dengan Pat-jiu kiam-ong, mengapa tidak mempergunakan kesempatan baik ini? Marilah kau ikut dengan kami dan nanti sesampainya dihadapan Pat-jiu kiam- ong, kau boleh mengajak ia mengadu ilmu pedang. Bukankah ini baik sekali?”
(Oo-dwkz-oO)
KARENA dibujuk-bujuk, akhirnya Kim-gan-liong Cin Lu Ek menurut juga dan pergilah mereka berlima mendaki bukit Liong-cu-san.
Kedatangan mereka disambut oleh Pat-jiu kiam-ong yang berada di bukit itu seorang diri, oleh karena muridnya, Nyo Siang Lan, baru turun gunung sebagaimana telah dituturkan di bagian depan. Melihat tokoh-tokoh kang-ouw yang datang, Ong Han Cu segera berdiri menyambut mereka sambil tersenyum.
“Ah, Ngo-wi (tuan berlima) enghiong jauh-jauh datang mengunjungi tempatku yang buruk, tidak tahu ada keperluan apakah?” tanyanya.
Leng Kok Hosiang memberi hormat dan sambil tertawa ia berkata. “Pat-jiu kiam-ong, kami telah mendengar nama besarmu dan mendengar pula bahwa kau telah menemukan semacam ilmu pedang yang hebat. Maka kami sengaja datang menghaturkan selamat!”
“Ilmu pedang manakah yang hebat!” Pat-jiu kiam-ong merendah. “Tidak lain hanya beberapa gerakan yang buruk.”
“Sesungguhnya kami datang sengaja hendak mengantar Kim-gan-liong Cin Lu Ek yang merasa amat tertarik oleh nama besarmu dan hendak minta sedikit pengajaran!” kata hwesio itu dan Kim-gan-liong merasa terheran sekali mendengar ucapan yang jauh berlainan dengan maksud kedatangan empat orang itu. Terpaksa ia maju dan memberi hormat kepada Hong Han Cu lalu berkata.
“Sesungguhnya, Pat-jiu kiam-ong, aku Cin Lu Ek yang bodoh amat tertarik dan ingin sekali memohon sedikit petunjuk dari kau yang gagah perkasa.”
Ong Han Cu tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Tak kusangka bahwa Kim-gan-liong yang bernama besar masih suka main-main seperti anak kecil. Kalau kita berpibu dan ada yang kalah, apakah ruginya dan kalau menang, apakah untungnya?”
Memang Kim-gan-liong Cin Lu Ek mempunyai watak yang tidak mau kalah. Mendengar ucapan Pat-jiu kiam-ong, ia merasa diejek dan dianggap ringan, maka merahlah mukanya.
“Pat-jiu kiam-ong, mungkin karena kau telah berjuluk Raja Pedang, kau tidak perlu lagi dengan penambahan ilmu kepandaian. Akan tetapi aku sebagaimana orang-orang kang- ouw yang lain, aku hanya memiliki semacam kesenangan, yakni ilmu silat. Di mana saja aku berada, apabila aku mendapat kesempatan, aku ingin sekali menambah pengetahuanku tentang ilmu silat. Kini aku berhadapan dengan kau yang berjuluk Raja Pedang, tentu saja aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mempelajari beberapa gerakan.”
“Bagus, bagus!” seru Leng Kok Hosiang dengan girang dan ia lalu berkata kepada Toat-beng sin-to Liok Kong yang selalu membawa guci arak.
“Liok-enghiong, keluarkanlah guci arakmu! Marilah kita berjanji, siapa yang menang mendapat tiga cawan arak dan yang kalah menerima lima cawan sebagai hiburan! Kim-gan- liong terkenal sebagai jago pedang dari Kun-lun-pai sedangkan Pat-jiu kiam-ong baru saja mendapatkan ilmu pedang yang luar biasa. Sungguh pibu yang amat menarik dan akan membuka mata kita sekalian.”
Setelah berkata demikian, empat orang ini lalu duduk dan guci arakpun ditaruh di atas tanah. Terpaksa Pat-jiu kiam-ong lalu mencabut pedangnya karena Kim-gan-liong juga sudah berdiri dan siap dengan pedangnya pula. Jago dari gunung Liong-cu-san ini tentu saja bukan seorang bodoh dan ia dapat menduga bahwa kedatangan Leng Kok Hosiang dan kawan- kawannya ini tentu mengandung maksud tertentu. Ia maklum bahwa mereka tidak mengandung maksud baik dan mungkin sekali lima orang ini sengaja datang hendak mengeroyoknya. Akan tetapi ia t idak merasa gentar sama sekali.
“Kim-gan-liong, kau perlihatkanlah ilmu pedang Kun-lun-pai yang tersohor itu!” katanya sambil memasang kuda-kuda, menaruh kaki kiri ke depan, menekuk kaki kanan dan pedangnya ditempelkan ujungnya pada tanah, sedangkan tangan kirinya ditaruh di dada selaku pemberian hormat. Inilah yang disebut sikap Dewa Muda Menanti Titah.
“Pat-jiu kiam-ong, maafkan keburukan ilmu pedangku,” kata Kim-gan-liong yang segera menggerakkan pedangnya menyerang dengan gerak tipu Sian-jin-tit-louw (Dewa menunjukkan Jalan). Akan tetapi tanpa merobah kedudukan kakinya, dengan mudah Ong Han Cu mengangkat pedangnya menangkis.
Getaran pedangnya benar-benar membuat Cin Lu Ek terkejut sekali karena dari getaran pedang yang menangkis itu keluar tenaga yang membuat telapak tangannya yang memegang pedang menjadi kesemutan. Cepat ia menarik kembali pedangnya dan melanjutkan dengan serangan Pek-in- kian-jit (Menyapu Awan Melihat matahari). Pedangnya berkelebat cepat dan menyapu ke arah leher lawannya, sedangkan tangan kirinya di dorong ke depan menyerang dada dengan tenaga lweekang sepenuhnya.
Bahaya yang terdapat dalam serangan ini sesungguhnya terletak dalam pukulan tangan kiri itu dan jarang sekali Kim- gan-liong gagal apabila ia menyerang lawan dengan tipu ini. Ia maklum akan kelihaian Pat-jiu kiam-ong, maka dalam jurus kedua saja, ia telah mengeluarkan gerak tipu yang berbahaya ini.
Ong Han Cu tentu saja maklum akan bahaya serangan ini, maka tiba-tiba ia berseru keras dan kagetlah Kim-gan-liong karena tiba-tiba ia t idak melihat lagi bayangan lawannya. Tiba- tiba dari belakang ia mendengar angin menyambar dan cepat ia merendahkan diri sambil melangkah maju terus membalikkan tubuhnya.
Ternyata bahwa lawannya telah berada dibelakangnya, maka tahulah ia bahwa Pat-jiu kiam-ong dengan ginkangnya yang luar biasa telah melakukan lompatan luar biasa melalui atas kepalanya dan dengan cara demikian menghindar diri sekali gus dari pada serangannya. Akan tetapi ia merasa malu sekali karena ternyata setibanya dibelakangnya, raja pedang itu hanya mengebutkan ujung lengan baju kirinya untuk memberitahu bahwa ia berada dibelakangnya.