“Kau mau membalas dendam? Mau membunuhku? Nah, majulah dan lekas kau lakukan hal itu. Aku memang sudah bosan hidup!”
Untuk sejenak Siang Lan merasa ragu-ragu, Bagaimana ia dapat membunuh orang yang bersikap seperti itu? Orang yang tidak mau melawan sedikitpun juga? Akan tetapi, dia musuh besarnya. Dia seorang di antara lima orang yang telah membunuh suhunya secara curang dan pengecut. T idak lekas dibunuh, mau menanti, sampai kapan lagi?
“Kalau begitu, bersedialah untuk menyusul suhu dan membuat perhitungan di akhirat!” serunya dan dengan gerakan Kwan-im hoan-hwa (Dewi Kan-im Mencari Bunga) pedangnya menusuk ke arah dada kiri Cin Lu Ek. Orang tua itu memandang tanpa berkejap sambil tersenyum sedih.
“Traaang !” Pedang Siang Lan terpental ke belakang dan
nona ini dengan terkejut melompat pula ke belakang lalu bersiap dengan pandang mata marah. Ternyata bahwa pedangnya telah ditangkis oleh pemuda itu yang kini sudah memegang sebatang pedang pula. “Kurang ajar!” seru Siang Lan dengan muka merah. “Siapakah kau? Apa maksudmu menghalangi seranganku?”
Pemuda itu hanya tersenyum saja dan Cin Lu Ek yang menjawab. “Hwe-thian Moli, dia ini adalah murid keponakanku yang bernama Sim Tek Kun.”
“Perduli apa aku akan namanya? Aku tak ingin mengetahui nama orang!” kata Siang Lan marah akan tetapi nama Sim Tek Kun ini tanpa disadarinya telah terukir di dalam lubuk hatinya. “Ku ulangi pertanyaanku tadi, mengapa kau menghalangi seranganku kepada musuh besar suhuku ini ?”
“Tidak baik bagi seorang gadis untuk berwatak seganas itu,” akhirnya pemuda itu menjawab dengan suara tenang dan senyumnya masih belum meninggalkan mulutnya. “Aku ingin mencegah kau tersesat dan membunuh orang yang tidak melawanmu.”
“Orang sombong! Lancang dan sombong! Apa perdulim u akan urusanku? Apa hubungannya dengan segala sepak terjangku dengan kau?” Ia melangkah maju lagi hendak menyerang Cin Lu Ek, akan tetapi kembali pemuda itu menghadang dengan pedang di tangan.
“Jangan, sayang seorang gadis gagah perkasa seperti kau sampai tersesat dan membunuh seorang tua yang tidak mau melawan.”
Siang Lan marah sekali dan hampir saja ia menyerang pemuda itu. Akan tetapi ia masih dapat menahan tangannya dan hanya sepasang matanya saja yang memandang marah seakan-akan hendak membakar pemuda itu.
“Eh, kau ini orang macam apakah? Mengapa kau mencampuri urusanku? Aku tersesat atau tidak, kau peduli apakah?” bentaknya. “Aku melakukan ini untuk membalas budi suhumu,” jawab Sim Tek Kun tenang dan jawaban ini membuat mata Siang Lan yang indah bening itu terbelalak.
“Apa maksudmu?”
“Susiokku telah berdosa terhadap suhumu dan perbuatan dosa hanya dapat ditebus dengan perbuatan baik. Aku mencegah kau sebagai murid suhumu berbuat sesat dan hal ini kulakukan untuk membalas budi suhumu yang telah tewas karena susiok dan kawan-kawannya. Inilah yang kumaksud dengan pembalasan budi suhumu.”
Bingunglah Siang Lan mendengar ucapan ini.
“Kalau aku terus menyerang dan membunuhnya?” tantangnya.
“Akan kuhalangi dengan pedangku!” jawab pemuda itu.
Siang Lan tersenyum menghina, “Hm, bagus sekali tipu busukmu yang berpura-pura membalas budi. Kalau seandainya kau terbunuh olehku, bukankah kau tidak berhasil membalas budi bahkan aku kau anggap makin tersesat.”
“Tidak!” jawab pemuda itu dengan sungguh-sungguh. ”Kalau aku mati olehmu, matiku adalah mati yang sudah sewajarnya, mati dalam pertempuran. Berbeda kalau kau membunuh susiok yang tidak mau melawan, itu adalah perbuatan yang yang amat rendah dan tidak selayaknya dilakukan oleh seorang gadis yang gagah perkasa.”
Siang Lan tertegun. Ia ingin marah, akan tetapi tidak dapat. Entah mengapa, sikap pemuda yang berani dan lancang ini amat menarik hatinya dan sama sekali tidak dapat menimbulkan kebenciannya, bahkan diam-diam ia merasa
heran mengapa ia dapat merasa kagum kepada pemuda ini.
“Jadi kau rela mati untuk membela paman gurumu? Kau hendak membela orang yang sudah berbuat curang dan pengecut?” bentaknya pula. Pemuda itu menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Tidak, kalau yang datang bukan kau, aku tentu akan membela susiok dengan mati-matian. Akan tetapi, kalau seandainya susiok telah berdosa terhadap suhumu, aku melarang kau membunuh susiok yang tidak mau melawan hanya untuk mencegah kau berlaku sesat.”
Siang Lan menjadi serba salah. Haruskah ia mengalah dan mundur, tidak jadi membalas dendam hanya karena adanya pemuda kurang ajar ini? Tidak, tidak! Ia tidak harus bersikap selemah ini.
“Kalau begitu, biarlah aku bunuh kau lebih dulu!” katanya sambil menyerang dengan pedangnya.
“Kalau kau dapat,” pemuda itu membalas dengan suara mengejek lalu menangkis dengan pedangnya. Benturan kedua pedang ini membuat keduanya terpental mundur tiga tindak dan masing-masing merasa terkejut karena maklum bahwa kepandaian lawan tak boleh dibuat main-ma in.
Siang Lan menyerang lagi dan Tek Kun melayaninya dengan hebat sehingga mereka bertempur amat ramainya. Pedang mereka bergulung-gulung dengan cepat, mengeluarkan angin dan terdengar suara pedang bersuitan, kadang-kadang terdengar bunyi nyaring ketika pedang beradu, diikuti oleh bunga api yang berpijar menyilaukan mata.
Siang Lan diam-diam merasa kagum akan kehebatan ilmu pedang Kun-lun-pai yang dimainkan oleh pemuda ini. Ternyata bahwa ilmu pedang pemuda ini benar-benar lihai sekali. Sebaliknya, Tek Kun juga kaget karena tidak disangkanya bahwa Hwe-thian Moli benar-benar amat ganas dan sukar dilawan ilmu pedangnya.
Sementara itu, Kim-gan-liong Cin Lu Ek menjadi bingung sekali. Ia lalu melompat maju dan dengan nekat berdiri ditangah-tengah, di antara kedua orang itu sambil berkata, “Tahan! Berhentilah bertempur atau aku akan membiarkan tubuhku hancur oleh kedua pedangmu!”
Karena tidak ingin membunuh orang tua yang tidak mau melawan ini, kedua orang muda itu me lompat mundur. Sambil mengeluarkan dua titik air mata dari sepasang matanya, Cin Lu Ek lalu berkata kepada Siang Lan.
“Nona, aku mengundang kau untuk masuk ke rumahku dan dengarlah penuturanku. Boleh kau anggap ini sebagai pengakuan dosaku terhadap mendiang suhumu dan kalau kemudian kau masih berkukuh hendak membunuhku, baiklah, aku akan melawanmu dengan senjata.”
“Susiok!” bentak Tek Kun marah. “Apakah susiok masih ada muka untuk melawan murid dari Pat-jiu kiam-ong?”
“Biarlah, memang aku harus mati. Mengapa aku takut menambah sedikit dosa kalau aku tahu bahwa aku takkan dapat melawan nona yang lihai ini? Masuklah nona dan dengarlah ceritaku.”
Karena ingin sekali mendengar penuturan orang ini dan untuk memperlihatkan keberaniannya dihadapan pemuda ini, Siang Lan lalu menyarungkan pedangnya kembali dan berkata kepadanya. “Pertempuran boleh kita tunda dulu untuk mendengarkan penuturannya. Tiada salahnya nanti dilanjutkan lagi kalau kau masih berani!”
Ketiganya lalu masuk ke dalam rumah itu dn menduduki bangku-bangku yang tua dan sederhana sekali. Setelah mereka duduk, Kim-gan-liong Cin Lu Ek menghela napas berkali-kali, barulah ia menuturkan riwayatnya.
Tadinya Cin Lu Ek adalah seorang hartawan yang suka menolong orang. Tidak saja ia kaya raya, akan tetapi juga ia terkenal sebagai anak murid Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi hidupnya penuh derita, yakni derita batin. Dengan isterinya yang tercinta, ia tidak mempunyai seorang keturunanpun dan ketika terjangkit penyakit menular, isterinya diserang penyakit itu sehingga mendahuluinya pulang ke a lam baka.
Hal ini amat menyakitkan hati Cin Lu Ek sehingga hampir- hampir membuatnya gila. Ia tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam kekayaannya, maka ia lalu mengambil keputusan yang membuat banyak orang merasa heran. Ia menjual semua rumah dan sawahnya, lalu membawa semua uangnya itu pergi merantau. Mungkin ada ribuan orang m iskin yang terancam bahaya kelaparan yang telah ditolongnya, diberi uang sehingga lambat laun uangnya habis sama sekali. Akan tetapi Si Naga Mata Emas ini tidak berhenti merantau dan mengulurkan tangan kepada rakyat jelata. Namanya menjadi terkenal di kalangan kang-ouw, akan tetapi sekarang ia telah jatuh miskin. Harta satu-satunya yang dimilikinya hanyalah sebatang pedang dan sepotong pakaian yang dipakainya.
Disamping kegagahan dan kedermawanannya, Cin Lu Ek mempunyai cacad, yakni watak yang tidak mau kalah dalam hal ilmu silat. Di mana saja ia mendengar ada seorang ahli silat, maka didatangilah orang itu dan diajaknya pibu (mengadu kepandaian) secara persahabatan.
Selama merantau bertahun-tahun lamanya, baru dua kali ia kena dikalahkan orang dalam pibu. Pertama kali oleh Ouwyang Sianjin dan kedua oleh Leng Kok Hosiang maka ia menjunjung tinggi kedua orang tua ini, terutama sekali Ouwyang Sianjin yang berkepandaian jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaiannya sendiri.
Perantauannya yang membuatnya menjelajah di se luruh propinsi itu membuat ia terkenal sekali. Banyak orang kang- ouw yang telah dikenalnya, dan di antara mereka, ia telah mengikat tali persahabatan dengan Toat-beng Sin-to Liok Kong, Sin Wan Yap Cin, Santung taihiap Siong Tat dan yang lain-lain. Pada suatu hari ia bertemu dengan empat orang kang-ouw ini, yakni Liok Kong, Yap Cin, Siong Tat, dan dikepalai oleh Leng Kok Hosiang.
“Eh, eh, naga-naga turun dari gunung, keluar dari guanya, ada apakah yang terjadi dipermukaan bumi ini?” tanya Cin Lu Ek kepada mereka.