Hwe-thian Moli menjadi ragu-ragu dan ia pikir untuk datang pada malam hari nanti, karena kalau ia turun tangan di waktu siang hari, hanya akan menimbulkan keributan saja. Maka pulanglah ia ke kamar di hotel yang disewanya dan ia beristirahat mengumpulkan tenaga untuk malam nanti.
Setelah senja terganti malam, Hwe-thian Moli bersiap mengenakan pakaian ringkas dan membawa pedangnya, lalu keluar dari hotel dan menuju ke rumah Cin Lu Ek yang berada di sebelah utara kota. Ketika ia sedang berjalan perlahan, tiba- tiba terdengar suara orang berseru, “Hwe-thian Moli !”
Siang Lan cepat mengangkat kepala memandang dan ternyata ia telah berhadapan dengan lima orang yang dikenalnya baik. Mereka ini bukan lain adalah Ngo-lian-hengte, kelima orang saudara she Kui yang menjadi ciangbun atau ketua dari Ngo-lian-kauw (Agama Lima Teratai). Teringatlah ia bahwa memang mereka ini tinggal di propinsi Hopak, di kota Po-teng.
“Ah kiranya ngo-ciangbun yang berada di sini!” kata gadis itu dengan suara dingin dan tidak mengacuhkan sama sekali.
“Bagus, Hwe-thian Moli, memang pertemuan inilah yang kami harapkan dan tunggu-tunggu. Bersiaplah kau membayar hutangmu kepada kami di rumah Liok Kong dulu itu!” kata Kui Sin saudara termuda dari Ngo-lian-hengte sambil mencabut pedangnya. Memang saudara termuda dari Ngo-lian-hengte ini memiliki watak yang paling keras, apalagi karena mengingat bahwa dulu ia pernah terluka oleh pedang Hwe-thian Moli ketika mereka mengeroyok dara ini di rumah Toat-beng sin-to Liok Kong.
“Jangan banyak lagak, kawan” Hwe-thian Moli mengejek tanpa mencabut pedangnya, “aku sedang menghadapi urusan penting dan tidak mempunyai waktu untuk melayani kalian bertempur!”
Memang Siang Lan tidak mempunyai nafsu untuk bertempur dengan mereka, karena selain hal ini memperlambat usahanya membalas dendam kepada Kim-gan- liong Cin Lu Ek, juga kalau sampai terjadi pertempuran di tempat itu, tentu terlihat oleh banyak orang. Hal ini kalau sampai terdengar oleh Kim-gan-liong akan memberi kesempatan kepada musuh besar itu untuk melarikan diri.
Mendengar ucapan gadis ini, Kui Sin tertawa bergelak dengan nada mengejek.
“Ha, ha, ha! Hwe-thian Moli menjadi penakut. Kau takut menghadapi Ngo-lian-hengte?”
“Tutup mulutmu!” Siang Lan membentak marah dan hampir saja ia mencabut pedangnya. “Hwe-thian Moli tidak tahu akan artinya takut. Apalagi terhadap seekor tikus kecil macam kau!”
“Ngo-te (adik kelima), sudahlah jangan memaksa!” kata Kui Jin saudara tertua, lalu ia berkata kepada Siang Lan dengan suara halus, “Hwe-thian Moli, sungguhpun di antara kita tidak terdapat permusuhan besar, namun ada sedikit penasaran dalam hati kami terhadapmu. Kau tentu maklum bahwa kami yang pernah kau lukai, takkan merasa puas sebelum mencoba kepandaianmu sekali lagi untuk menentukan mana yang lebih kuat. Oleh karena itu, karena sekarang kau tidak ada waktu, beranikah kau datang ke kuil yang terletak di luar kota ini di sebelah barat pada besok pagi-pagi? Kami akan menanti di sana!” Kui Jin yang cerdik sengaja menggunakan kata-kata “beranikah” yang bersifat menantang dan menghina, maka muka Hwe-thian Moli menjadi merah karena gemas!”
“Ngo-lian-hengte, jangan kau membuka mulut besar. Kalau aku tidak sedang menghadapi urusan penting, sekarang juga akan kuperlihatkan kepada kalian bahwa Hwe-thian Moli bukanlah orang yang boleh dibuat permainan oleh lima orang macam kalian. Baik, kalian tunggu saja sampai besok pagi- pagi di kuil sebelah barat kota ini. Aku pasti akan datang.”
Setelah berkata demikian, Hwe-thian Moli lalu melompat pergi meninggalkan mereka. Kui Sin yang merasa penasaran hendak mengayun tangannya menyambit dengan senjata rahasia piauw, akan tetapi Kui Jin memegang lengan adiknya dan berbisik. “Bodoh! Tidak tahukah kau bahwa ilmu kepandaiannya amat tinggi? Kita belum tentu akan dapat menang terhadap dia maka aku sengaja menantangnya besok pagi-pagi agar kita mendapat kesempatan mengundang supek turun tangan.”
Saudara-saudaranya menyatakan setuju dan menjadi girang. Akan tetapi tentu saja percakapan mereka ini tidak terdengar oleh Hwe-thian Moli yang sudah pergi jauh menuju ke rumah Kim-gan-liong Cin Lu Ek.
Dengan hati-hati sekali Siang Lan menghampiri rumah kecil terpencil itu. Ia melihat di dalam rumah masih terang dan bahkan ia mendengar suara orang bercakap-cakap. Hatinya tertarik mendengar suara yang nyaring sekali, maka dengan hati-hati ia lalu menghampiri jendela rumah itu. Karena ia mempergunakan kepandaian ginkangnya, maka langkah kakinya tidak mengeluarkan suara bagaikan langkah kaki seekor kucing. Jendela itu tertutup rapat maka ia hanya dapat mendengar suara dua orang laki-laki sedang bercakap-cakap yang membuat hatinya berdebar keras. “Susiok, benarkah berita yang kudengar tentang Pat-jiu kiam-ong itu?” suara yang nyaring itu terdengar lagi mendesak.
Terdengar suara elahan napas panjang tanda kekesalan hati yang diusul oleh jawaban suara yang dalam dan tenang akan tetapi mengandung nada sedih. “Memang benar, tak dapat kusangkal lagi. Aku memang terjerumus ke dalam komplotan jahat itu.”
“Memalukan sekali!” tiba-tiba suara yang nyaring itu berseru keras. “Memalukan sekali dan mencemarkan nama susiok yang besar, terutama mengotorkan nama perguruan kita!”
Kembali orang yang disebut susiok (paman guru) itu menghela napas menyatakan kekesalan hatinya, lalu suaranya terdengar menggetar penuh keharuan.
“Tek Kun, memang tuduhanmu ini benar. Kau sudah mewarisi kepandaian cabang persilatan kita dan telah memiliki kepandaian tinggi. Kalau kau hendak mewakili sucouw kita, cabutlah pedangmu dan tabaslah leherku. Aku menerima salah, sungguhpun kejahatan itu tidak kulakukan dengan sengaja. Mataku telah buta dapat dibujuk oleh Leng Kok Hosiang!”
Hening sejenak dan Siang Lan tidak ragu-ragu lagi bahwa orang yang disebut susiok itu tentulah Cin Lu Ek Si Naga Bermata Emas dan agaknya orang yang suaranya nyaring itu adalah murid keponakannya. Namun ia merasa agak tertarik mendengar percakapan ini dan ia tidak mau menerjang masuk, bahkan ingin sekali melihat wajah kedua orang yang bercakap-cakap itu.
Ia lalu mengumpulkan tenaganya dan bagaikan seekor burung gesitnya, ia menggunakan gerak lompat Burung Walet Menerjang Mega dan melompat ke atas genteng. Ia telah mengerahkan seluruh kepandaiannya dan ginkangnya untuk menjaga agar kedua kakinya tidak sampai mengeluarkan suara.
Akan tetapi, baru saja kakinya menginjak genteng, terkejutlah ia ketika mendengar suara yang nyaring tadi berkata,
“Susiok, di atas genteng ada orang!”
“Biarlah”, jawab suara yang tenang itu, “pintuku tidak terkunci, gentengku juga tipis mudah dibuka, sahabat yang berada di luar dengan mudah dapat masuk kalau mempunyai keperluan dengan aku.”
Karena orang di dalam rumah sudah mengetahui kedatangannya yang menandakan bahwa ilmu kepandaian orang yang bersuara nyaring itu cukup tinggi, Siang Lan lalu berseru keras,
“Kim-gan-liong, kalau kau benar gagah, keluarlah untuk membayar hutangnya kepada Pat-jiu kiam-ong! Aku, Hwe- thian Moli telah menanti di luar. Aku tidak sudi bertindak seperti maling memasuki rumah orang, baik melalui pintu maupun genteng tanpa diundang!” Setelah berkata demikian, Siang Lan lalu melompat turun lagi dan berdiri dengan gagahnya didepan pintu rumah itu.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dari dalam dan keluarlah dua orang laki-laki. Yang berada di depan adalah seorang laki-laki yang tinggi kurus, berusia kurang lebih lima puluh tahun, berjenggot panjang dan berpakaian serba putih yang amat sederhana. Orang ini keadaannya biasa saja, hanya sepasang matanya yang benar-benar amat berpengaruh, mengeluarkan sinar yang berapi-api. Kalau dia diberi julukan naga Bermata Emas, memang tepatlah karena sepasang matanya memang luar biasa sekali.
Orang kedua adalah seorang pemuda yang secara aneh telah memaksa sepasang mata Siang Lan memandang, kemudian me lemparkan pandangannya dengan muka merasa jengah. Belum pernah selama hidupnya Siang Lan merasa tertarik untuk menatap wajah seorang pemuda dan belum pernah ada seorang pemuda yang dapat membuat hatinya berdebar lebih lebih cepat dari pada biasanya. Akan tetapi pemuda ini benar-benar membuatnya bingung dan untuk sesaat tak dapat berkata-kata.
Pemuda ini mengenakan pakaian seperti seorang pelajar, pakaiannya rapi sekali sungguhpun tidak mewah. Tubuhnya tegap dan dadanya bidang, menunjukkan bahwa tubuh itu mengandung tenaga yang kuat sekali. Kepalanya tertutup oleh kain kepala yang dililitkan sembarangan saja akan tetapi membuat wajahnya makin menarik. Sepasang alisnya hitam tebal dan berbentuk golok, sesuai benar dengan sepasang mata yang lebar dan berseri itu.
Hidungnya mancung dan lurus, cocok dengan bibirnya yang baik bentuknya dan membayangkan kekerasan dan kegagahan. Dagunya berlekuk sedikit pada tengahnya, membuat ia yang usianya paling banyak dua puluh dua tahun itu nampak lebih masak. Kulit mukanya putih bersih dengan pipi kemerahan karena sehatnya.
Pendeknya, jarang Siang Lan melihat seorang pemuda yang demikian tampan dan gagahnya. Berapapun sungguh-sungguh ia mencoba untuk menghindarkan pandangan matanya menuju kepada pemuda tampan itu, namun beberapa kali sinar matanya menyeleweng dan menatap wajah yang menembus ke ulu hatinya itu.
Karena kelambatannya membuka mulut, ia didahului oleh Cin Lu Ek yang mengangkat kedua lengan dan menegur.
“Nona, apakah nona yang memperkenalkan diri sebagai Hwe-thian Moli tadi?”
“Benar!” jawab Siang Lan dengan dingin dan singkat tanpa membalas penghormatan orang. “Kau kah yang bernama Cin Lu Ek dan yang secara pengecut membunuh suhu?” Kim-gan-liong Cin Lu Ek memandang tajam dan berkatalah dia dengan wajah duka. “Jadi kau adalah murid dari Pat-jiu kiam-ong? Setelah kau datang, bukankah maksudmu hendak membalas dendam atas kematian suhumu?”
Siang Lan mencabut pedangnya dan berkata keras, “Tentu saja! Anjing-anjing jahat Yap Cin, Siong Tat, dan Liok Kong telah mampus, tinggal kau dan Leng Kok Hosiang. Kalau kedatanganku bukan untuk membunuhmu dan membalas denda, apakah kau kira aku datang untuk beramah tamah dengan engkau?”
Akan tetapi aneh, tidak seperti musuh-musuhnya yang lain, Kim-gan-liong Cin Lu Ek ini tidak menjadi takut, juga tidak menjadi marah, bahkan tersenyum dengan tenang,