Iblis dan Bidadari Chapter 20

NIC

“Nah, kau beritahukanlah kepada majikanmu!” kata Siang Lan kepada guru silat she Li yang masih memegangi tangan kanannya. Siang Lan sengaja mengampuni guru silat ini oleh karena ia melihat guru s ilat ini lebih pantas sikapnya dari pada yang lain. Akan tetapi sebelum Li-kauwsu pergi, tiba-tiba terdengar suara ketawa menyeramkan dari sebelah dalam.

“ha, ha, ha kedua kauwsu dan kawan-kawanmu yang demikian banyak jumlahnya tak dapat mengalahkan seekor kucing betina liar ini? Sungguh memalukan!”

Ternyata yang keluar itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berwajah tampan dan gagah, akan tetapi matanya bersinar liar, ganas, dan cabul. Pakaiannya gagah sekali, seperti pakaian seorang pendekar silat, akan tetapi terbuat dari pada sutera halus yang berkembang di sana sini dan memakai pita benang emas. Di pinggangnya tergantung sarung pedang dengan dua gagang pedang, tanda bahwa orang ini biasa menggunakan siangkiam (sepasang pedang).

“Li-kauwsu,” kata orang itu kepada guru silat yang masih memegangi lengan kanan dengan muka sakit, “lekas singkirkan gentong-gentong nasi yang tiada gunanya ini ke belakang!”

Li-kauwsu dengan bantuan kawan-kawannya yang tidak ikut mengeroyok dan tidak menjadi kurban keganasan Hwe- thian Moli, lalu menggotong tubuh para penjaga itu ke belakang sehingga lantai itu kini menjadi bersih, hanya masih nampak darah berceceran di sana-sini. Sementara itu para penonton ketika melihat betapa kini Santung taihiap Siong Tat sendiri yang keluar, menjadi ketakutan dan segera keluar dari pekarangan rumah gadai itu, dan hanya menonton dari pinggir jalan.

“Sayang, sayang ......!” kata Siong Tat menyembunyikan kemarahannya di balik senyumnya yang menarik. “Kucing yang begini bagus bulunya ternyata amat liar dan ganas. Eh, boca, siapakah kau dan mengapa kau datang mengacaukan tempatku?”

Semenjak tadi Siang Lan memandang kepada Siong Tat dengan mata tajam. Inikah musuh suhunya? Kebenciannya meluap-luap dan ia menjawab singkat. “Siong Tat manusia busuk! Agar jangan mati penasaran, ketahuilah bahwa aku adalah Hwe-thian Moli Nyo Siang Lan!”

Siong Tat belum pernah mendengar nama julukan yang menyeramkan ini karena memang Hwe-thian Moli belum lama beraksi di dunia kang-ouw. Sebagai seorang yang berpengalaman dalam kalangan kang-ouw, dan memiliki kepandaian tinggi, tentu saja ia t idak gentar mendengar nama julukan sehebat itu. Ia bahkan tertawa menghina.

“Hwe-thian Moli? Sungguh julukan yang tidak patut bagimu yang begini cantik! Hwe-thian Moli, sebenarnya apakah maksud kedatanganmu ini?”

“Kau belum mendengar? Aku datang untuk menebus barang yang kugadaikan di s ini.”

“Barang apakah yang kau maksudkan?” Siong Tat bertanya heran.

“Apalagi kalau bukan kepalamu!”

“Kurang ajar!” seru Siong Tat sambil mencabut keluar sepasang pedangnya, akan tetapi ia masih tersenyum. “Kau kurang ajar dan lucu. Sejak kapankah kau menggadaikan kepalaku? Dan mana surat gadainya?” Ia hendak bersikap lucu agar tidak kalah hati, karena ia maklum bahwa menghadapi seorang lawan yang tangguh tidak boleh menurutkan nafsu hati dan marah.

“Sejak kau menjadi kaya raya, dan surat gadainya adalah nyawa dari suhuku Pat-jiu kiam-ong Ong Han Cu!”

Kini terkejutlah Siong Tat demi mendengar bahwa gadis cantik yang ganas ini adalah murid dari Ong Han Cu. Akan tetapi ia masih dapat menyembunyikan rasa takutnya.

“Ah, jadi kau adalah murid setan tua itu? Pantas saja kau begitu ganas. Jadi kau datang karena kau merasa rindu kepada suhumu dan hendak menyusul ke neraka? Baik, baik! Mari kuantar kau menjumpai suhumu.”

Dan tiba-tiba saja, tanpa peringatan lebih dulu, Santung Taihiap Siong Tat menubruk maju dengan sepasang pedangnya. Kedua pedang ini digerakkan dengan cepat dan berbareng, melakukan dua macam serangan. Dengan merobah kedudukan kakinya dan setengah berjongkok, tiba- tiba ia menusukkan pedang di tangan kiri ke arah ulu hati lawannya dan pedang kanan membabat kedua kaki. Inilah gerak tipu yang disebut Pengembala Menyabit Rumput yang lihai dan berbahaya sekali.

Biarpun diserang dengan tiba-tiba tanpa peringatan, Siang lan yang selalu bersikap waspada tidak menjadi gugup karenanya. Ia pergunakan ginkangnya yang sudah sempurna untuk mengenjot kedua kakinya sehingga tubuhnya mumbul ke atas dan tusukan pedang kiri lawannya itu ditangkis dengan pedangnya yang diputar ke bawah.

“Siuuut!” pedang kiri Siong Tat menyambar ke bawa kaki gadis itu dengan cepat dan mengeluarkan angin, kemudian disusul oleh bunyai nyaring “traaang!” ketika pedang kanannya terbentur oleh tangkisan pedang Siang Lan.

Melihat kegesitan lawan, Siong Tat tak berani memandang ringan dan ia mempergunakan kesempatan ketika tubuh gadis itu masih berada di atas, cepat menyusul serangannya dengan kedua pedangnya diguntingkan dari kiri ke kanan. Dan babatan pedang ke arah tubuh ini adalah sebuah serangan yang sungguh-sungguh berbahaya sekali karena tubuh Siang lan masih belum turun ke bawah.

Akan tetapi, gadis perkasa itu tidak menjadi gentar. Dengan cepat ia memukul pedangnya ke kanan, yakni ke arah pedang kiri lawan yang datang lebih dulu, dibarengi dengan pengerahan tenaga ginkangnya. Ketika kedua pedang bertemu, ia meminjam tenaga pertemuan ini dan melemparkan tubuhnya ke belakang berjungkir balik beberapa kali dalam bentuk poksai (salto) yang indah dan ia telah berhasil menggunakan ilmu lompat Kim-tiauw-hoan-sin (Rajawali Emas membalikkan Tubuh) dengan baik sekali. Karena gerakannya yang cepat ini, maka ia berhasil melepaskan diri dari sambaran pedang kanan lawannya yang tadi menyusul cepat.

Kalau Siong Tat merasa kagum melihat kelihaian ginkang dari lawannya, adalah Siang lan juga terkejut melihat kelihaian ilmu pedang dari Santung Taihiap ini. Gadis ini maklum bahwa ia menghadapi lawan yang tangguh, maka ia berlaku hati-hati sekali dan sebelum lawannya sempat menyerang lagi, ia te lah mendahului dan menyerbu dengan gerakan-gerakan ilmu pedang Liong-cu kiam-hwat yang selain cepat, juga kuat dan tidak terduga perubahannya.

Siong Tat memang amat takut kepada Pat-jiu kiam-ong Ong Han Cu dan maklum bahwa ilmu pedang dari Raja Pedang Bertangan Delapan itu amat tinggi. Kalau tidak takut, tidak nanti ia ikut bersekutu menjatuhkan pendekar itu dengan curang sekali.

Sungguhpun ia takut terhadap ilmu pedang Liong-cu kiam- hwat, namun melihat usia murid Raja pedang yang masih mudah ini, ia berbesar hati. Apalagi karena dua serangannya yang pertama tadi membuat ia menang kedudukan, maka hatinya makin tabah. Akan tetapi, setelah kini ia menghadapi gadis itu yang mulai mainkan ilmu pedangnya, diam-diam ia merasa terkejut sekali. Ia melihat betapa pedang gadis ini berkelebatan bagaikan kilat menyambar dan gulungan sinar pedang ini demikian kuat dan menyilaukan matanya. Tak pernah disangkanya bahwa ilmu pedang Liong-cu kiam-hwat ternyata dapat dima inkan dengan cara yang begini dahsyat dan ganasnya.

Baru bertempur belasan jurus saja, kepalanya telah menjadi pening karena matanya harus mengikuti gerakan pedang yang benar-benar aneh dan sukar diduga perubahannya. Setiap tusukan atau babatan pedang lawannya terjadi demikian tiba-tiba sehingga ia hanya mempunyai sedikit waktu untuk mempertahankan diri dan sukar sekali untuk dapat membalas.

Ia menggertak gigi dan melakukan perlawanan sengit, mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mengeluarkan semua tipu-tipu yang didapat dalam pengalamannya bertempur selama puluhan tahun ini. Memang sukar sekali dipercaya bahwa seorang gadis yang baru dua atau tida tahun turun gunung dapat mendesak seorang pendekar seperti Santung Taihiap Siong Tat. Ini hanya dapat terjadi karena memang ilmu pedang Liong-cu kiam-hwat luar biasa sekali. Apalagi pedang yang dipergunakan oleh Hwe-thian Moli adalah pedang mestika dan digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi pula.

Pertempuran berjalan sengit sampai lima puluh jurus dan akhirnya Siong Tat harus mengakui keunggulan musuh besarnya.

Pada saat ia menyerang dengan gerak tipu Harimau Lapar Menubruk Kelinci, yakni pedang di kedua tangannya berbareng membacok ke depan sebelum lawannya dapat menyerang, Siang Lan menggunakan gerakan yang benar- benar mengagumkan dan tidak terduga-duga. Gadis ini menggunakan ilmu tendang K im-liong-twi dengan kaki kirinya, memapaki tangan kanan lawan bahkan mendahului pedang lawan dengan tendangan ke arah pergelangan tangan kanan lawannya, kemudian pedangnya sendiri dari sebelah dalam lalu dibenturkan kepada pedang kiri lawan dan dari tenaga benturan ini pedangnya diteruskan menusuk ke depan.

(Oo-dwkz-oO)

Bukan main hebatnya gerakan ini yang sekaligus dapat merobah kedudukan. Kalau tadi gadis pendekar itu terserang oleh kedua pedang lawan, kini sekali menangkis ia ma lah dapat melakukan dua serangan sekali gus. Kaki kirinya menyerang pergelangan tangan kanan lawan dan pedangnya menusuk dengan cepatnya ke arah tenggorokan Siong Tat.

Santung taihiap berseru kaget dan cepat ia miringkan kepalanya. Ia lebih mengutamakan penjagaan diri terhadap serangan pedang ke arah lehernya dari pada tendangan itu, maka tiada ampun lagi kaki kiri Siang Lan berhasil mendupak pergelangan tangan kanannya.

“Duk ..... traaanng ...!” pedangnya yang sebelah kanan terlepas dari pegangan dan ia merasa betapa lengan kanannya menjadi kejang. Siang Lan tidak mau berhenti sampai sekian saja dan menyusul dengan serangan maut yang disebut Giam- ong-toat-beng (Raja Maut Mengambil Nyawa), pedangnya menusuk ke arah ulu hati lawannya.

Siong Tat masih terhuyung mundur ketika lawannya melancarkan serangan hebat ini, akan tetapi jago Santung ini masih dapat melihat keadaannya yang amat berbahaya. Ia menggerakkan pedang kirinya menangkis dari kiri, disabetkan ke arah pedang lawan yang meluncur bagaikan anak panah ke arah dadanya itu. Sama sekali ia tidak mengira bahwa di dalam penyerangan ini, Siang Lan telah siap dengan tangan kirinya yang dikepal. Melihat betapa lawannya masih sempat menangkis, ia lalu membarengi dengan pukulan tangan kiri yang menuju ke arah leher lawan.

Berbareng terjadinya pertemuan pedang dengan pukulan yang mengenai leher itu. “Traang ....! Buk!” Leher Santung taihiap telah kena terpukul oleh tangan Siang Lan yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya.

Posting Komentar