Golok Sakti Chapter 99

NIC

Kini ia sudah ketemu Ho Tiong Jong pemuda yang menjadi pujaan kalbunya. Selanjutnya tidak akan berjumpa lagi dengan pemuda itu, yang ia anggap ada seorang yang tak mempunyai rasa cinta yang teguh. Kalau memang ada mempunyai rasa cinta yang murni, tentu tidak akan meninggalkan dirinya mentah-mentah dalam rumah penginapan tempo hari, sehingga dirinya hampir-hampir menjadi korbannya penjahat tukang memetik bunga. Memikir begitu, hatinya sangat gemas pada pemuda cakap ganteng itu, tapi kegemasannya lantas menjadi lumer kalau mengingat akan cinta kasih yang dialamkan selama bergaul dengan sipemuda dalam tempo yang singkat, naik kuda bersama sama dan bergurau dengan penuh rasa kemesraan, hangat dalam pelukannya tak dapat ia melupakannya. Begitu cinta Ho Tiong Jong kepada dirinya,

masih dengan tegas ia sudah menyatakan cintanya yang murni berani mengorbankan dirinya untuk kepentingan si nona. Tapi kenapa dia berkelakuan demikian rupa terhadap dirinya?

Kenapa ia menotok urat tidurnya dan kemudian meninggalkan dirinya dalam kamar tidak terkunci? Apa maksudnya ?

AAAH... salah paham di antara kedua muda mudi itu.

Yang satu dianggap dirinya dipandang rendah, yang lain menganggap si pemuda tidak teguh cintanya. Sungguh sulit sekali diperbaikinya, karena kedua pihak tak mau membuka mulut untuk menyatakan rasa penasarannya masing-masing.

coba kalau mereka tak sungkan-sungkan menyatakan isi hatinya yang penasaran, sudah tentu salah paham itu tak akan terjadi.

sementara berjalan, Seng Giok cin pikirannya sangat kalut, Air matanya terus turun bercucuran, sapu tangan yang dipakai menyeka air mata boleh dikata sudah boleh diperas saking banyaknya air kesedihan-

Jalannya yang agak linglung sudah main terabas saja apa yang melintang didepannya, seakan-akan ia jalan tanpa mata, Ho Tiong Jong mengawasi dan kejauhan menjadi sangat heran-

sebelumnya ia dapat menduga-duga sebabnya, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh jeritan Seng Giok Cin yang saat itu telah kesandung oleh batu yang menghadang didepannya dan ia sempoyongan jatuh tengkurep.

"IHuuusst..." terdengar Ho Tiong Jong berseru, lantas tubuhnya melesat menghampiri si nona yang jatuh tengkurep.

Ia angkat si nona dengan penuh kasih,

"Adik Giok. kau kenapa?" tanyanya halus, Si nona yang menyandarkan kepalanya didada yang kekar lebar dari si anak muda, lalu mendongak dan mengawasi wajah yang tampan didepannya, kedua belah pipinya berlinang-linang dengan air mata.

Ho Tiong Jong mengawasi dengan hati heran dan kasihan-"Adik Giok, kau kenapa?" ia mengulangi pertanyaannya.

Seng Giok Cin tidak menjawab, sebaliknya terdengar tangisannya yang sedih sekali sambil menyusupkan kepalanya pada dadanya sipemuda, hingga air mata menembusi dada yang kekar kokoh itu.

Ho Tiong Jong menjadi bingung, ia hanya dapat mengusap-usap rambutnya sigadis yang hitam jengat dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya memeluk erat pada tubuh yang langsing ceking itu.

Tampaknya ia sangat menyinta sekali, kelakuannya seolah olah takut akan terpisah lagi dari pemudi impiannya itu. Kelakuan yang demikian itu justeru membuat Seng Giok Cin merasakan kehangatanya cinta murni pemuda pujaannya, hatinya sangat girang dan pelahan lahan menangisnya yang tadi keras menjadi pelahan dan akhirnya hanya kedengarnya masih terisak-isak.

"Adik Giok..." terdengar Ho Tiong Jong menghibur, "kau jangan menangis, adik Giok, karena air matamu membuat hatiku seperti disayat-sayat dengan pisau yang tajam. Aku cinta padamu dengan setulus hati..."

"Engko Jong, apakah kata-katamu ini betul?" tanya sigadis masih terisak-isak.

"Apa kau masih belum percaya hatiku?"

"Tapi kenapa kau meninggalkan aku dalam keadaan tertotok dirumah penginapan ?"

Ho Tiong Jong melengak.

"Itu..itu... itulah..." kata Ho Tiong Jong gugup,

"itu, itu apa? jawab yang tegas, kenapa kau meninggalkan aku?"

"Baik, mari kita duduk disana, aku akan menutur..." kata si pemuda, sambil memimpin si gadis diajak duduk diatasnya sebuah batu besar, dibawah sebuah pohon yang teduh sekali.

Ho Tiong Jong sambil masih terus menyekal tangannya si gadis, belum mau bercerita lantas, matanya memandang dengan tidak bosannya pada wajah Seng Giok Cin yang cantik jelita.

Seng Giok Cin tersenyum, ia tidak marah sebaliknya malah merasa sangat bangga sang kekasih melepaskan pandangannya begitu rupa atas dirinya tampaknya seperti yang sangat mengagumi sekali kecantikannya.

"Engko Jong kenapa kau belum mau cerita?" ia akhirnya menegur.

"oo, ya, ya.... maaf, adik Giok, Aku beriaku kurang sopan barusan memandang wajahmu terus-terusan- Baik, baik, aku akan ceritakan ..."

"Tidak apa." jawab si gadis ketawa manis. "malah aku merasa bangga wajahku yang jelek mendapat perhatianmu."

"Ah, adik Giok... wajahmu sangat cantik, tidak satu saat aku dapat melupakannya, betul."

"terima kasih, tapi kenapa kau meninggalkan aku dalam keadaan tertotok?" memotong si gadis, wajahnya agak guram.

"Adik Giok. maafkan, karena kala itu aku tidak ingin kau menyaksikan-..?"

"Menyaksikan apa?"

"Menyaksikan kematianku..."

"Tapi kenyataannya sampai sekarang kau toh belum mati ?"

"Ya, aku juga tidak sangka aku bisa panjang umur."

"Kau toch kena racunnya Tok-kay. ceng-ciauw dan souw Kie Hin punya jarum hati, bagaimana jiwamu bisa terluput dari kematian?"

"Ha ha itulah ada sebabnya, adikku yang manis..."

Seng Giok Cin deliki matanya yang jeli, tapi tidak urung mulutnya yang mungil menyungging senyuman mesra. Ho Tiong Jong ketawa gembira.

"Adikku, dengarlah engkomu akan ceritakan pengalamannya yang luar biasa." kata nya dengan jenaka sekali.

Seng Giok Cin ketawa gelak ia menekap mulutnya supaya jangan ketawa ngikik.

"Awas, ini apa?" kata Seng Giok Cin, sambil unjukkan jempoi dan telunjuknya dalam sikap menyapit.

"Hei, mau cubit iagL" serunya jenaka.

Seng Giok Cin ulur tangannya hendak mencubit pemuda jenaka itu. Tapi Ho Tiong Jong malah menyodorkan lengannya untuk dicubit si gadis.

"Aduh" seru sigadis, ketika cubitannya di rasakan seperti mencubit papan besi. Matanya terbelalak mengawasi pada kekasihnya, "Kau, ooooo kau..."

"Kenapa?" tanya sipemuda sambil nyengir ketawa,

"Kulitmu...." kata si nona heran, "kulitmu seperti papan besi . . ."

Ho Tiong Jong terpingkel-pingkel ketawa, "Makanya, coba adik Giok dengar dahulu aku menutur, tentu tidak berani mencoba menyentuh kulit badanku."

"Bagaimana kau bisa jadi begitu, Engko Jong, Lekas cerita."

Ho Tiong Jong lantas menceritakan pengalamannya yang luar biasa, ketemu dengan Ie Boen Hoei, Racunnya dapat dikeluarkan kemudian belajar ilmu golok keramat yang kurang enam jurus lagi, hingga sekarang ia pandai memainkan ilmu goloknya sampai delapan belas jurus.

Kemudian menceritakan pengalamannya dalam gemblengan Tay Hong Hosiang, yang tenaga dalamnya diberikan kepadanya, hingga ia kebal terhadap totokan musuh pada jalan darahnya dan tenaganya menjadi berlipat ganda tambahnya.

Dalam ceritanya itu, sudah tentu ia sembunyikan pengalamannya dengan Li-losat Ie Ya, si iblis cantik yang juga ada menyintai dirinya. Karena kalau ia menyebut nama Ie Ya dan diceritakan pengalamannya dalam kuil Kong Beng Sie, sudah tentu Seng Giok Cin akan merasa tidak enak hatinya dan cemburuan.

Setelah mendengar ceritanya Ho Tiong Jong, Seng Giok Cin angguk-anggukan kepalanya dengan berlinang-linang air mata.

"Allah selamanya memberkahi orang baik-baik." katanya, sambil menyeka air matanya yang mulai mengalir membasahi pipinya yang botoh. Ho Tiong Jong terkejut Seng Giok Cin menangis.

"Adik Gok. kenapa kau menangis ?"

"Inilah ada sebabnya."

"Sebabnya, apa ?"

"Girang, karena jiwamu sudah terluput dari bahaya kematian-..."

Ho Tiong Jong tergerak hatinya. Duduknya menggeser lebih dekat, kemudian tangan-tangannya memegang kedua

tangannya si nona dan dibawa kepipinya, matanya menatap wajah si nona yang elok dengan sepasang matanya yang jeli jernih, yang saat itu balas menatap kepadanya, bibirnya yang merah semringah dan kecil mungil bergerak-gerak seolah-olah yang menantang dicium. Hatinya Ho Tiong Jong bergoncang.

Ingin ia mencium bibir yang merah semringah itu, ingin ia menyentuh pipi yang putih halus laksana kapas itu dengan hidungnya tapi pikiran sehat tak mengijinkan ia berbuat demikian-

Seng Giok Cin masih belum resmi menjadi miliknya.

Ia malah seketika itu merasa jengah, apabila ia mengingat pada waktu yang lampau ia sudah mencuri mencium pipinya si gadis karena pikirnya saat itu ada saat yang penghabisan pertemuannya dengan si nona, karena ia akan menghadapi kematian karena racun yang ada dalam dirinya.

Maka ia hanya dapat mencium jidatnya si nona dan mengusap usap pipinya yang botoh.

"Adik Giok...^ katanya berbisik, "kau...kau..."

"Aku kenapa, Engko Jong,.,.? "tanya si gadis pelahan, yang sementara itu merasakan hangat ciuman mesra sipemuda pada jidatnya.

Posting Komentar