Golok Sakti Chapter 98

NIC

Matanya Ho Tiong Jong memandang tajam pada sepasang matanya sikedok kuning, yang balas memandang dengan melalui lubang pada bagian mata dari kedoknya, itulah sepasang mata yang tidak asing lagi bagi Ho Tiong Jong.

Tapi apa benar seng Giok Cin mungkin ia benar sinona, sebab ia sudah biasa menyaru dalam pakaian lelaki. Tapi, Ho Tiong Jong sangsi, kalau benar Seng Giok Cin, kenapa ia tidak mau bicara ? Bukankah pertemuan itu ada menggembirakan mereka? Kenapa? Apakah Seng giok cin marah kepadanya.

Untuk mendapat kepastian, maka ia lalu berkata.

"Ya, baikah, aku menurut padamu, tapi aku mau lihat dahulu wajahmu, Nah, bukalah kedokmu."

sikedok kuning menggeleng-gelengkan kepalanya.

Penolakan itu memang sudah diduga teriebih dahulu oleh Ho Tiong Jong.

Pemuda itu maju menghampiri tapi si kedok kuningpun mundur menjauhi, maka sipemuda hentikan langkahnya.

"Saudara, kau telah memberikan bantuan padaku. apakah sebabnya ?"

si kedok kuning tidak menjawab, hanya ia berdiri memandang pada sipemuda.

"Apa saudara ini gagu?" Tanya Ho Tiong Jong.

Si kedok kuning anggukkan kepalanya. Ho Tiong Jong melengak. Pikirnya, "pantasan dia dari tadi tak bisa bicara, kalau begitu memangnya dia gagu?

Tapi pemuda itu sangsi untuk membantah dugaannya sendiri, bahwa orang asing di depannya itu ada si nona pujaannya, Apalagi, karena tiupannya angin malam pada saat itu telah membawa harum yang ia sudah kenal baik menusuk kehidungnya. Akhirnya Ho Tiong Jong bersenyum tawar.

Ia merasa sedih, karena gadis pujaannya itu kelihatannya sudah tidak mau kenal lagi kepadanya. itulah mudah dimengerti karena tingkatan giok cin dengan dirinya ada seperti bumi dan langit, mana ia surup menjadi timpalannya?

Mengingat akan nasibnya yang malang, Ho Tiong Jong jadi melamun pada kejadian yang lampau, bagaimana baiknya si nona terhadap pada dirinya, bagaimana mesra si cantik menyintai dirinya, Sekarang mungkin ia sudah diusir oleh ayahnya dan teriunta-lunta disebabkan gara-gara dirinya yang dituduh mencuri benda pusaka keluarga Seng, ia saat itu menjadi bengong seketika lamanya.

Pikirnya, apakah ia balik kembali ke kuil untuk bertempur? Tapi dipikir sebaliknya ia sendiri melawan tiga jago kenamaan dari Perserikatan Benteng perkampungan ada berat untuk

menang, Mungkin mereka kini sudah mendapat bala bantuan lagi, tentu akan lebih berat melawannya.

Paling baik ia batalkan niatannya kembali biarlah lain kali, ada satu hari ia dapat mengunjungi jago-jagonya perserikatan Benteng perkampungan ini untuk membuat perhitungan dan disitu barulah mereka akan kenal kelihayan Ho Tiong Jong.

siorang berkedok kain kuning melihat Ho Tiong Jong seperti orang linglung, agaknya tidak sabaran dan diam-diam telah meninggalkan si pemuda.

Ketika Ho Tiong Jong tersadar dari lamunannya, ia celingukan mencari si kedok kuning, ternyata sudah tidak berada disamping nya lagi Kemana dia ? Terdengar ia menghela napas beberapa kali.

Meskipun hatinya tidak niat kembali ke-kuil Kong beng sie, akan tetapi sang kaki tanpa disadari telah membawa dirinya dengan perlahan-lahan kearah kuil.

Makin dekat makin berkobarnya api makin besar, hatinya sangat perih, mengingat ia tidak berdaya memberikan pertolongan kepada Tay Hong Hosiang yang telah berkorban tenaganya untuk kepentingan dirinya.

Ia berdiri termenung-menung mengawasi lautan api yang memusnahkan kuil Kong beng sie dari sebelah kejauhan air matanya beriinang-linang. ia menyesal saat itu tak dapat membasmi kawanan orang ganas itu, karena kalau ia berlaku nekad, sekali kena dikepung jiwanya sukar tertolong dan kalau ia mati, siapa yang nanti akan membalas Tay Hong Hosiang dengan murid-muridnya yang menjadi korban keganasan kawanan jahat, untuk menbalaskan sakit hatinya.

Selagi ia termenung tiba-tiba ada sebuah batu menyambar dari samping atas.

Ho Tiong Jong sudah mahir menangkap suara bagaimana kecilpun, maka sambaran batu itu sudah lantas diketahui

olehnya, cepat ia berkelit dan tubuhnya berputar kejurusan batu tadi menyambar. Ternyata di atas sebuan pohon tidak jauh daripadanya ada si kedok kuning yang sedang menggapaikan tangannya.

Berbareng si kedok kuning sudah melompat turun dari atas pohon, hingga ketika Ho Tiong Jong sampai kesitu ia sudah angkat kaki beberapa tumbak jauhnya. Tangannja terus menggapai lagi, ketika melihat Ho Tiong Jong berdiri menjublek.

Sipemuda tergerak hatinya, pikirnya, kalau tidak ada urusan penting niscaya ia si kedok kuning tidak menggapai-gapaikan tangannya demikian. Berpikir kesitu, cepat cepat ia gerakkan kakinya menyusul.

Dua orang beriumba-lumba lari, Kelihatan keduanya mahir dalam ilmu mengentengi tubuh dan lari cepat maka dalam tempo pendek saja sudah dilebatkan jarak beberapa li. Mereka sampai pada sebuah lapangan yang rata, dimana ada terdapat sebuah telaga yang jernih airnya.

Si kedok kuning sudah masuk kedalam rimba, sedang Ho Tiong Jong merandek di-tepinya telaga dan menyaksikan pemandangan disitu, hatinya lantas terkenang kepada masa lampau ketika Seng Giok Cin menyediakan seperangkat baju baru untuknya setelah ia mandi dalam telaga di Seng-kee-po.

Nona Seng cantik luar biasa, ia pandai bun dan bu (silat dan sastra), pikirnya bukan timpalannya untuk menjadi kawan hidup, Lebih lagi, si nona ada turunan orang hartawan, sedang ia hanya seorang miskin dan tidak tahu siapa orang tuanya. Ia merasa sedih kalau ia memikirkan nasibnya yang buruk.

Tiba-tiba hatinya mendadak terbuka dan bergembira, ketika pikirannya melayang kepada saat-saat ia bersama dengan si nona, berkuda berduaan dan saling peluk dengan mesra. Meski Seng Giok Cin ada anaknya orang hartawan dan kecantikannya dapat menundukkan pemuda yang mana saja,

akan tetapi ia tidak angkuh dan sombong terhadap dirinya yang miskin, malah si nona pernah mengatakan bahwa ia belum pernah melayani lelaki dan Ho Tiong Jong yang pertama kalinya dilayani, sedang hatinya pun sangat tunduk kepadanya, ramah tamah dan telaten ketika merawat dirinya sipemuda dalam mabuk dalam sebuah hotel.

Melamunkan apa yang sudah lewat, hatinya terus terkenang kepadanya yang baik hati itu. Pikirnya entah kapan ia dapat berjumpa lagi dengan nona Seng?"

Saking asyik semangatnya melayang-layang hingga ia tidak merasa kalau si kedok kuning sudah berada disampingnya berdiri mengawasi kepadanya.

XXXI PELUKAN YANG HANGAT

SI KEDOK KUNING kelihatan seperti yang merasa sangat kasihan kepada Ho Tiong Jong yang berdiri termenung-menung sambil mengawasi kearah telaga.

Ia datang lebih dekat dan mengutik lengannya si pemuda, saat itu si pemuda baru ingat dan cepat berbalik, kiranya yang mengutik tangannya adalah si kedok kuning, Ho Tiong Jong tertawa tawar, "Saudara kau mengajak aku kemari ada urusan apa ?" tanyanya.

Si kedok kuning tidak menjawab, hanya tangannya diangkat dan jarinya menunjuk ke sebuah batu besar seakan-akan menyuruh si pemuda duduk disitu.

Ho Tiong Jong tidak mengerti akan maksudnya, akan tetapi ia tidak banyak menanya, lalu ia menghampiri dan duduk diatas batu yang ditunjuk tadi. Kemudian si kedok kuning menghampiri dan datang dekat padanya.

Tangannya segera diulur membukai bajunya si pemuda, memeriksa luka-lukanya di bagian pundak dan dadanya. Ho Tiong Jong seperti yang terkena sihir, diam saja dan biarkan si

kedok kuning tangannya memijat-mijat bagian yang terluka untuk menjalankan darah yan membeku. Rasa sakit bukan main, akan tetapi tidak dihiraukan oleh Ho Tiong Jong, matanya terus mengawasi pad si kedok kuing yang seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diperhatikan oleh sipemuda didepannya, Ho Tiong Jong pelahan-lahan merasa heran dan aneh juga menghadapi kelakuannya si kedok kuning. Dilihat dari tangannya yang begitu halus dan lemas, putih laksana salju, si kedok kuning ini tentu ada seorang yang menyaru lelaki.

Tapi, kenapa dia begitu memperhatikan dirinya?

Sementara itu ia lihat si kedok kuning mengeluarkan dari sakunya obat cair, di oleskan pada luka-lukanya, hingga dirasakan sangat perih oleh sipemuda sebentar lagi, setelah tangannya yang halus memijit-mijit lagi, lantas ia mengeluarkan obat bubuk dan di torehkan kebagian yang luka di bahu dan dadanya. obat bubuk. ini begitu diborehkan, dirasakan oleh Ho Tiong Jong sangat adem dan rasa sakitpun telah lenyap pelahan-lahan. sungguh mujarab sekali obat bubuk itu.

Sementar merasakan kesegaran dari pengaruhnya itu obat si kedok kuning. diam-diam Ho Tiong Jong hatinya bergoncang keras. pikirnya kalau bukan si "dia" siapa lagi yang begitu telaten melayani dirinya?

Maka ketika kedua tangan yang halus itu hendak merapihkan bajunya sipemuda, Ho Tiong Jong dengan tidak sabaran telah memegangnya dan menatap wajahnya si kedok kuning, ia berontak. matanya balas mengawasi sebentara n, kemudian telah menundukkan kepala.

"A... dik Giok. kau..." terdengar suara Ho Tiong Jong terputus-putus. Si kedok kuning tergetar hatinya. Pelahan-lahan ia coba menarik pulang tangannya yang dicekal oleh si pemuda, akan tetapi sudah kasep. karena dengan satu

gerakan yang tidak terduga-duga Ho Tiong Jong sudah bikin si kedok kuning jatuh dalam pelukannya.

"Adik Giok, hanya kau seorang yang dapat memperlakukan diriku seperti apa yang barusan kau berbuat mengobati luka-lukaku? Adik Giok, kau..."

Dengan penuh kasih, Ho Tiong Jong dengan pelahan-lahan telah pegang dagunya si kedok kuning yang menutupi wajahnya dilain saat sudah terbuka dan-.. satu wajah yang elok dan menggiurkan tertampak di depannya. "Adik ... Giok..."

Ho Tiong Jong berdebar keras hatinya.

Debaran itu telah dirasakan oleh si nona yang dipeluk erat-erat.

Seng Giok Cin tidak berontak. tapi ia tampaknya tidak gembira. Mulutnya yang mungil menyungging senyuman tawar, hingga si pemuda menjadi sangat heran-Pikirnya apakah gadis pintar ini tidak senang berada dalam pelukannya.

Maka ia segera melepaskan si nona berkata.

"Adik Giok, sukakah kau membalut lukaku dengan kain kuning?"

Ia bersenyum dan perkataan itupun banyak main-main saja. Tapi Seng Giok Cin ternyata bersikap sungguh-sungguh. Ia tidak menjawab bicaranya Ho Tiong Jong, akan tetapi ia ambil kain kuning yang dipakai kedok olehnya barusan, lalu disobek dan dipakai membalut luka lengan si pemuda, yang terus dalam bingung menghadapi sikap si cantik,

Seng Giok Cin kelihatan bersikap tawar dan dingin, tetapi dalam pekerjaan menolong luka Ho Tiong Jong tampak ada sangat telaten. Ia membalut luka sipemuda dengan penuh perhatian dan hati-hati, hingga Ho Tiong Jong merasa sangat berterima kasih atas pertolongannya. Selama itu ternyata

Seng Giok Cin sepatahpun tak mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.

Kelakuannya yang berubah begitu jauh jika dibandingkan dengan dahulu mereka berada bersama-sama telah membuat Ho Tiong Jong terbenam dalam teka-teki.

Sementara si nona bekerja membalut dan kemudian merapihkan lagi, otaknya Ho Tiong Jong terus bekerja, pikirnya, Seng Giok Cin ada satu nona tingkatan atas, paadai silat dan surat, tentu ia merasa menyesal telah bergaul dengannya.

Buktinya kini ia bersikap dingin, tak mau membuka suara menanyakan apa-apa sejak mereka berpisahan. Kafau si nona tidak mau menanyakan apa apa, bagaimana ia bisa mulai bicara? Ah, gadis pujaannya sudah mulai dingin hatinya, iapun hatinya akan berubah dingin-

Lebih baik ia mengasingkan diri kepuncak gunung dan tak ketemu lagi dengan si nona, yang merasa menyesal mencintai dirinya seorang bodoh dan miskin-Tiba-tiba hatinya merasa sangat perih.

"Adik Giok..." akhirnya ia berkata dengan suara di tenggorokan, "terima kasih atas kebaikanmu. Tapi aku seorang bodoh dan miskin, tidak sepatutunya mena dapat perhatianmu seorang gadis..."

Ia hentikan bicaranya sampai disitu, sebenarnya ia bermaksud melanjutkan bicaranya dengan kata-kata yang kaya raya dan pintar. Tidak pantas seorang gadis demikian memperhatikan si bodoh dan miskin yang tidak ada gunanya.

Ia tekan kata-katanya demikian yang hendak meluncur dari mulutnya, dikuatir akan melukai hatinya si gadis karena ia belum tahu pasti apa perubahan sikap si nona itu desebabkan ia ada satu pemuda miskin-

Seng Giok Cin tidak menjawab, hanay sepasang matanya yang jeli mengawasi kepada si pemuda dengan mengembeng air matana, mukanya berubah pucat seketika.

Tiba-tiba ia menekap muka dan kemudian putar tubuhnya pergi meninggalkan Ho Tiong Jong, yang jadi melengak tidak tahu apa yang ia harus berbuat.

Lantas saja pikiran "diri rendah" telah menguasai dirinya, ia biarkan si nona berlalu, malah ia jadi sangat mendongkol, karena pikirnya si gadis benar telah tidak memandang mata kepadanya.

Ia mengalihkan pandangannya kearah telaga, ia seperti tidak ingin melihat bayangannya si nona. Tapi cintanya yang besar atas dirinya si gadis, tak mengijinkan ia berbuat demikian, sebab dilain saat ia sudah memalingkan pula pandangannya mengikuti bayangan si nona yang berjalan dengan agak limbung kelihatannya. Hatinya merasa pilu ia mengawasi dengan bengong pada bayangan seng Giok Cin.

Pikirnya, saat itu adalah pertemuannya yang penghabisan kali dengan si nona, selanjutnya tidak akan berjumpa pula. Sementara Seng Giok cinpun ada pemikiran demikian-

Posting Komentar