Golok Sakti Chapter 96

NIC

"Seng Kang" menyelak Ho Tiong Jong dengan suara membentak. "Kau hanya mencari Ho Tiong Jong tidak berurusan dengan yang lainnya bukan? Nah sekarang kau sudah menghadapi orang yang dicari, kau boleh berbuat sesukamu. Tapi aku mau memperingan kau, kalau mau malam ini tak mampu membunuh aku, maka kau yang akan menjadi setan tak berkepala."

Ho Tiong Jong berkata sambil menghunus goloknya Lam-tian-to. "Haa ha... bisa omong gede juga, ya?" menyindir Hui Seng Kang,

Sementara berkata demikian, Hui Seng Kang diam-diam ia berpikir, kini ia menghadapi Tiong Jong didepan dan ie Ya dibelakang benar dirinya kejepit, kalau mereka turun tangan berbareng, ia bakal mendapat kerugian- Maka seketika itu timbul akal liciknya dan berkata lagi.

"Tiong Jong, disini tempat sempit, Kalau kau satu laki-laki hendak menempur aku, marilah keluar, bagaimana?"

"Seng Kang, siapa takuti kau? Hmm, jangan buang tempo terimalah golokmu?"

Ho Tiong Jong keluarkan goloknya menyerang, dengan sepasang tongkatnya Hui Seng Kan menangkis tapi tidak urung tubuhnya sempoyongan dan tangannya dirasakan kesemutan-Hatinya menjadijerih seketika.

"Ha, ha.... Seng Kang, kau masih bukan tandinganku Lekas kumpulkan kawan-kawanmu untuk mengeroyok aku siorang she Ho"

Hui Seng Kang bukan main marahnya mendengar hinaan itu.

Ia pusatkan seluruh tenaganya pada sepasang senjata pentungannya, Satu pentungan menangkis goloknya Ho Tiong Jong yang lain nya dengan gerak tipu yang sangat lihay itu. Suara beradunya senjata nyaring sekali.

"Tiong Jong," tiba-tiba Ie Ya berkata. "orang she Hui ini sangat jahat, lebih baik jangan kasih dia lolos ..."

Ho Tiong Jong menjawab, hanya ia bersenyum menganggukan kepalanya. Dilain pihak Hui Seng Kang bukan main marahnya.

"Budak hina, apa kau kira begitu mudah untuk membuhkan aku? Hm... kau lihat sebentar aku bikin remuk kepalanya Tiong Jong ..."

Tapi belum pertanyaan lampias, tangannya tergetar menangkis goloknya Ho Tiong Jong. ia sangat heran senjatanya Ho Tiong Jong tidak begitu berat kelihatannya, akan tetapi di tangkisnya ada demikian beratnya.

Ini sebenarnya tidak heran, karena Ho-Tiong Jong menggunakan goloknya dibarengi dengan tenaga dalamnya yang hebat.

Hui Seng Kang terus-terusan bergetar, malah satu tongkatnya telah terpapas kutung.

Ia semakin jerih menghadapi lawan berat, Karena ini, pembelaannya makin kalut dan satu saat kembali pentungannya kena dipapas kutung.

Ia masih memberikan perlawanan dengan nekad, tapi hanya sebentaran saja sebab sebentar kemudian dadanya sudah berada dalam ancaman ujung goloknya si pemuda, Hui Seng Kang tidak berdaya, ia hanya memejamkan matanya untuk memenuhkan keinginannya ie Ya, akan tetapi dipikir sebaliknya jikalau ia membunuh Hui Seng Kang satu orang, akibatnya seluruh hweshio penghuni kuil itu akan di basmi habis-habisan oleh Perserikatan Benteng perkampungan-

Mengingat ini, ia urungkan ujung goloknya menusuk pada dadanya si orang she Hui, ia hanya mengancam saja dengan ujung goloknya kearah dada orang.

Hui Seng Kang sudah ketakutan setengah mati, pikirnya kali ini melayanglah jiwa nya, Ketika ditunggu-tunggu Ho Tiong Jong masih juga belum turun tangan- Hui Seng Kang berkata. "Tiong Jong, lekas kau turun tangan Apa kau kira aku orang she Hui takut dengan kematian- ."

"cres...." terdengar goloknya Ho Tiong Jong menembusi dadanya, hingga Hui-Seng Kang matanya terbelalak dan dengan badan sempoyongan ia rubuh di lantai mandi darah.

Hei, kenapa Ho Tiong Jong membunuh? Bukankah ia tadi sudah menarik niatnya untuk mengambil jiwanya orang she Hui itu?

Inilah ada sebabnya pembaca, pada saat Hui Seng Kang menantang ditusuk golok, tiba-tiba Ho Tiong Jong merasakan ada angin pukulan yang luar biasa hebatnya menyerang dari belakangnya,

Ia tidak keburu berbalik maka ia segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk disalurkan sebagai yang diarah musuh untuk menangkisnya serangan membokong itu.

Meskipun ia dapat memunahkan pukulan dahsyat itu, tapi tidak urung badannya terdorong kedepan, hingga golok yang mengarah Hui Seng Kang kontan telah menembusi dadanya si orang tua she Hui yang apes.

Ketika Ho Tiong Jong berbalik, ia kenali orang yang menyerang padanya adalah Hui siauw ceng, ayahnya Hui Seng Kang.

"Bagus perbuatanmu." kata Ho Tiong Jong menyindir. "lantaran gara-gara pukulanmu membokong orang, akibatnya adalah kematian dari anakmu sendiri..."

Hui Siauw ceng tanpa menghiraukan kata-katanya Ho Tiong Jong telah lari menubruk anaknya yang menggeletak mandi darah dan sudah tidak bernapas. Hatinya bukan main sedihnya, karena kematian itu disebabkan olehnya sendiri.

Setelah mengucurkan air matanya sejenak. lalu timbul amarahnya pada Ho Tiong Jong dan berkata pada si pemuda.

"Tiong long, bagaimana juga kematian anakku karena gara-gara ancaman golokmu. Maka untuk membalas dendam hati anakku yang sudah mati, mari kita bertempur diluar. Mari..." menantang siorang tua.

"Ha ha..." Ho Tiong Jong ketawa dingin. "Kau menantang bertempur dengan aku di luar, apakah kau tidak takut aku melarikan diri?"

"Kau jangan mengimpi" jawab Hui siauw cong dengan suara dingin. "Sekalipun kau mempunyai sayap. tidak nanti dapat keluar dari dalam kuil ini. Aku hendak membesetmu ha ha.." ia tertawa seram. Ho Tiong Jong tidak menjawab

Ia mengerti akan kedukaan hatinya si orang tua dan ingin membalas kematian anaknya, meskipun kematian itu

disebabkan oleh kesalahan kepada orang lain, seakan-akan ini ada hiburan untuk kedukaannya.

Maka ketika Hui Siauw ceng bertindak keluar, ia juga mengikuti dengan tidak diminta lagi. Periahan-lahan ie Ya terdengar berkata. "Tiong Jong, aku tunggu kau di luar kuil, ya"

Ho Tiong Jong hanya anggukan kepalanya, ia tidak menjawab karena kuatir Hui siauw ceng mendapat tahu kalau disitu ada Li lo-sat Ie Ya.

Ie Ya pada waktu melihat Hui Siauw ceng datang, telah menyembunyikan dirinya lagi, ia hampir menjerit ketika melihat orang tua itu membokong Ho Tiong Jong, tapi hatinya bukan main lega dan girangnya tatkala menampak Ho Tiong Jong tidak kurang suatu apa, malah Hui Seng Kang yang ia benci telah binasa diujung golok pemuda pujaannya itu.

Ketika Ho Tiong Jong sudah sampai dipekarangan luar, ia heran disitu ada Khoe cong sedang bertempur dengan seorang yang berpengawakan kecil yang wajahnya ditutup dengan kain kuning.

Ia merasa kagum melihat ilmu pedangnya si kedok kuning yang hebat, hingga musuhnya terdesak mundur. Tapi herannya, setelah ia muncul disitu, dengan tiba-tiba saja si kedok kuning permainan silatnya agak kalut dan barbalik keteter oleh serangan Khoe cong yang hebat.

Ho Tiong Jong berpikir, "Aku tidak kenal orang ini, tapi kedatangannya pasti hendak membantu aku, maka nya dia bertempur mati-matian dengan Khoe cong."

"Tapi kenapa barusan ilmu silat pedang nya demikian bagus, sekarang berubah menjadi kalut? Betul-betul aneh. Tapi tidak apa, aku harus menolong padanya ..."

Sebentar kemudian tubuhnya melesat dan menyelak diantara dua orang yang sedang bertempur, hingga dua-duanya tertolak mundur.

"Tiong Jong..." seru Khoe cong heran

"Ya, aku Ho Tiong Jong," jawab sipemuda kemudian ia berpaling kearah si kedok kuning dan berkata. "Saudara, kau mundurlah. Biarlah aku yang menempur kawanan kurcaci ini. Terima kasih atas bantuanmu, lain kali kita ketemu aku akan membalas budimu."

Si kedok kuning mundur berdiri disamping menonton Ho Tiong Jong menghadapi bekas lawannya tadi (Khoe cong), ia tak bergerak apa atas perkataannya Ho Tiong Jong. Khoe cong perdengar tertawa menghina,

"Segala anak haram berani membentur Siauw- ya (tuan muda), benar-benar tidak tahu diri."

Kata-katanya belum lampias atau satu serangan golok yang berat membuat si muka buruk itu gelagapan menangkisnya. ia merasa linu tangannya ketika senjata goloknya membentur golok lawan- Bukan main kagetnya ia tidak mengira sama sekali bahwa Ho Tiong Jong kepandaiannya kini sukar diukur.

Dengan kepandaiannya Ho Tiong Jong seperti tempo hari, pikirnya ia boleh menghina seenaknya pada pemuda itu, akan tetapi sekarang setelah mendapat kenyataan kepandaian Ho Tiong Jong lain daripada yang lain, maka tak berani memandang rendah lagi dan terus melayani dengan ilmu-ilmu yang lihay.

Hui Siauw ceng yang ditinggalkan musuhnya, tidak tinggal peluk tangan, ia buru dan berteriak-teriak. "Anak bau, kenapa kan meninggalkan aku? Kau jangan mengimpi untuk melarikan diri dari hadapanku "

Sementara itu Ho Tiong Jong dan Khoe cong sudah bertempur

Hui Siauw ceng, begitu sampai, ia juga lantas menyerbu, ia gunakan senjata pitnya untuk menyerang Ho Tiong Jong.

Posting Komentar