Ia jadi mengucurkan air mata. Tiba-tiba hatinya dibikin pedih lagi mendengar jeritannya Seng Sin, salah satu saudaranya oleh Khoe cong, ia kena ditendang dan terpental jauh, hingga tulang pahanya patah.
"Ha ha ha..." terdengar Khoe cong ketawa girang, "Kalian mau coba menahan padaku, nah rasakan akibatnya. Ha..ha.."
Tertawanya paling belakang belum lampias, sudah berhenti sendirinya, karena ia harus menghindarkan serangan pedang yang dilancarkan dengan tiba-tiba. siapakah orang yang menyerang dengan pedang itu?
Kiranya ia bukan hwesio dari gereja disitu, hanya ada seorang berbadan kecil langsing, wajahnya tertutup dengan kedok kain kuning. Matanya bersorot tajam, gerakannya gesit dan serangannya laksana kilat, hingga Khoe cong menjadi gugup ketika ia menghindarkan serangan orang asing itu. Ia tidak mengenali siapa ini lawan berkedok kain kuning ?
Saat itu ia sangat gusar, lalu melayani lawannya dengan menggunakan gerak tipu yang dinamai "Burung rajawali manggut tiga kali" serangannya ang dilakukan susul menyusul tiga kali bukan main hebatnya, akan tetapi semua itu dapat dipunahkan oleh slorang berkedok kain kuning.
Khoe cong amat heran, karena serangan berantai itu sebenarnya belum pernah luput, tapi kini ternyata dengan mudah dapat dipunahkan oleh lawan-
"Siapa kau?" bentaknya dengan keras, Tapi sikedok kuning tak menjawab, hanya mainkan terus ilmu goloknya yang banyak perubahannya mencecar pada lawannya.
"Kau kenali aku dulu siapa ? Kau berani melawan tuan mudamu, jangan menyesal kalau tuan mudamu marah dan tidak memberikan keampunan padamu..."
Bicaranya mendadak berhenti, karena ia sangat kaget ketika satu tusukan pedang kearah tenggorokannya hampir saja tak dapat ia hindarkan- Berkat kegesitannya saja, dengan jalan menjatuhkan diri ke belakang, baru ia dapat menghindari tusukan pedang sikedok kuning.
Bukan main gusarnya Khoe cong menghadapi lawan lihay ini. Ilmu "Telapak tangan dewa" yang sangat diandaikan tak menolong.
Orang berkedok kain kuning itu makin lama serangan-serangannya makin santar saja, hingga Khoe ceng menjadi sangat gugup menangkisnya, serangan yang diarahkan ke tempat yang berbahaya pada tubuhnya membuat Khoe cong menjadi keringat dingin.
Seng Kok dan kawannya menyaksikan pertolongan yang tak diduga-duga itu diam-diam merasa banyak bersyukur kepada sang Budha yang dipujanya, karena pikirnya tuan penolong itu sudah didatangkan oleh sang Budha. Mereka dibikin kagum oleh ilmu silatnya orang berkedok kain kuning itu karena tamunya yang lihay luar biasa, sudah dibikin keteter olehnya.
Menggunakan kesempatan sitamu lihay sedang bertarung dengan tuan penolongnya, Seng Kok ajak kawannya menolongi pada Seng Sin yang barusan kena ditendang terbang dan tulang pahanya menjadi patah.
Mereka gotong sang korban kepinggiran dekat dinding.
Kemudian mereka itu padapasang mata lagi, menjaga kemungkinan munculnya kawan dari si tamu itu. Ternyata ini tak di tunggu lama oleh mereka, sebab lantas ada berkelebat masuk ke dalam ruangan itu seorang tinggi besar dengan
membawa sepasang gegaman berupa tongkat yang sangat berat sekali.
Seng Kok dan kawan kawannya meskipun sudah pada bersenjata lagi, ternyata tak dapat menahan terjangannya ini tamu baru. Kelihatannya ada lebih lihay dari yang sudah, karena saban kali senjatanya menangkis senjata lawan segera juga sudah dapat membikin terpental orang punya senjata.
Bukan main kagetnya mereka dan merasa sangat cemas tak dapat mentaati pesan gurunya yang saat itu sedang berada dalam kamar berduaan bersama Ho Tiong Jong dan tak dapat diganggu.
"Ho Tiong Jong, pengecut " teriak orang itu dengan kasar sekali. "Lekas keluar, jangan sembunyikan diri "
Hui Seng Kang jalan menghampiri, tapi dicegah oleh seng Kok dan Seng Hai.
"Sahabat, tahu aturan sedikit" bentak Seng Hay. "Kuil ini bukannya kuilmu. boleh punya suka mengumbar adatmu. Masih ada kita berdua disini, jangan kau sembarangan main gila, Nah..."
XXX. KUIL KONG BENG SIE DIBAKAR
Baru saja menyebut "nah" atawa tongkatnya si orang kasar berkelebat dimukanya hingga bukan main terkejutnya Seng Hay, Dengan goloknya ia coba menangkis. tapi senjata lawan kelewat berat, hingga ia rasakan tangannya kesemutan dan hampir saja goloknya jatuh di lantai.
Seng Kok tampil ke muka, tapi cuma tiga gebrakan saja sudah terpukul sampai sempoyongan, Benar-benar jagoan Hui Seng Kang ini.
Melihat demikian mudahnya ia memukul mundur musuhnya, maka hatinya makin besar, ia terus menghampiri
Kamar yang dikatakan oleh Khoe cong tadi, tapi sebelum ia bergerak, satu tusukan pedang dari samping hampir saja membuat ia lompat mundur. Ternyata yang menyerang tadi adalah si orang berkedok kain kuning.
Ia sebenarnya sedang menemani Khoe cong, akan tetapi melihat Hui seng Kang mau menerobos ke dalam kamar yang dijaga oleh Kong Goan, dengan tiba-tiba saja ia menyerang, sehingga si orang kasar menjadi kelabakan.
"Kau mau cari mampus" bentak Hui Seng Kang, sambil mengawasi dengan romai gusar sekali, ia terus menerjang dengan sepasang tongkatnya yang berat.
Ternyata menghadapi si orang berkedok kain kuning Hui Seng Kang tidak melempem, serangannya yang bertubi-tubi dan berat, dengan cekatan di tangkis atau dikelit oleh sikedok kuning, betul-betul hebat ilmu silatnya dia. Siapakah dia? Demikian kata Ie Ya dalam hatinya.
Ie Ya sudah sejak tadi mengikutijalannya pertandingan, ia sebenarnya kepingin turun tangan, akan tetapi mengingat lukanya masih belum sembuh benar, maka ia tidak berani sembarangan mengeluarkan tenaga-nya, kalau tidak sangat terpaksa, misalnya musuh menyerbu masuk kedalam kamarnya Ho Tiong Jong. Begitu juga dengan keadaannya Kong Goan hweshio.
Khoe cong juga sangat penasaran kepada si orang berkedok kain kuning itu, maka melihat Hui Seng Kang bertempur ia juga tidak tinggal diam dan lantas nyerbu mengeroyok pada si kecil langsing.
Ternyata kepandaian si kedok kuning tidak sampai disitu saja sebab melihat dirinya dikerubuti oleh dua jagoan dengan lantas ia meroboh ilmu silat pedangnya sekarang tampak pedangnya berkelebatan lebih menakuti lagi, tubuhnya seolah-olah dikurung oleh pedangnya yang dimainkan demikian cepatnya.
Hui Seng Kang dan Khoe cong sampai tidak punya kesempatan untuk menyerang lawannya yang gesit dan pandai itu.
Mereka merasa heran, sampai sebegitu jauh, mereka belum menemukan tandingan yang demikian hebat, tapi jatuhnya sampai juga mereka tak dapat mendesak mundur lawannya.
Malah mereka merasa seram sendirinya karena pedang yang dimainkan si kedok kuning bukan hanya mengeluarkan suara mengaung, tapi juga mengandung hawa dingin yang dirasakan nyusup ketulang-tulang.
Kong Goan hweshio nampak si kedok kuning penolongnya, dikerubuti demikian rupa, sudah tidak sabaran lagi, maka ia juga lantas keluarpun bentakan dan menyerbu kedalam kalangan pertandingan dengan golok Seng Kok yang ia sambar dari tangan sutenya itu.
Ia menempur Hui Seng Kang dengan hebat sekali, ia menggunakan ilmu golok delapan belas jurus keluaran Siauw- limpay yang lihay.
"Kurang ajar" teriak Hui Seng Kang, "Kiranya ilmu golok Tiong Jong itu ada dari siauw lim-pay dan kalian kepala gundul disini yang mengajarnya? Bagus aku akan membasmi kuil ini sehingga tidak ada satu manusia yang terluput dari kematian Ha ha ha..." Hai Seng Kang tertawa kejam, sepasang tongkatnya yang bernama jantung hati dimainkan cepat sekali menangkis dan menyerang lawannya yang menggunakan golok.
Si kedok kuning ini hanya melayani Khoe cong seorang yang bersenjata golok rupanya dianggap enteng sekali, karena ilmu pedangnya yang lihay dalam sekejapan saja sudah dapat mendesak Khoe cong keluar dari dalam kamar.
Khoe cong merasa sangat malu kena didesak keluar oleh lawannya, ia sejak umur tiga belas tahun sudah terhitung menjadi salah satu jago dari Perserikatan Benteng Perkampungan, Dalam sepuluh tahun ia melatih ilmu silat dengan tekunnya dan merasa dirinya sudah berkepandaian sangat tinggi, tidak sembarang orang berani menempur padanya.
Tidak dinyana, kini ia menghadapi lawan yang begitu kecil pengawakannya kena didesak keluar dari kamar.
Hatinya menjadi sangat panas. Pikirnya, masa iya aku kalah dengannya?
Tabeatnya yang nekad-nekadan seketika itu telah timbul dan lantas mengeluarkan ilmu simpanannya untuk melayani siorang berkedok kain kuning.
"orang asing." terdengar ia berkata pula, "lekas kau beritahukan namamu, supaya tuan mudamu tidak mengotorkan tangannya dengan membunuh segala orang tak ternama. Kalau kau masih membandel, jangan sesalkan aku, Khoe ..."
Khoe cong tidak diberi kesempatan untuk melampiaskan omong besarnya, karena sikedok kuning telah menceCer ia dengan ilmu pedang yang lihay dan membuat ia kelab akan untuk mengandalkan diri dari serangan-serangan itu.
Kong Goan hweshio tidak tahan melayani senjata Hui Seng Kang yang berat, lagi pula badannya masih belum sembuh benar, ia rasakan tangannya kesemutan kalau senjatanya
bentrok dengan senjatanya Hui Seng Kang. Dilain pihak Ie Ya menjadi sangat gelisah. Diam diam ia berdoa, supaya Khoe cong dengan kawannya dapat diusir pergi.
Ia mengerti, kalau siorang she Khoe itu mengetahui ia berpihak pada Ho Tiong Jong, ia akan dianggap sebagai penghianat dan bisa mendapat hukuman dari kepala komplotannya, ayahnya Khoe cong sendiri, yalah hukuman beset kulit dan dibelah hati. Suatu hukuman yang mengerikan sekali.
Ia terus mengumpat dibelakang kerai, menyaksikan Hui Seng Kang mengamuk^
Tiba-tiba terdengar ia menjerit, karena kerai yang mengalingi dirinya sudah jatuh terpukul oleh Hui Seng Kang. Kini dirinya sudah dilihat oleh si orang she Hui tak dapat ia menyembunyikan diri lagi.
"ooo, Li-lo-sat Ie Ya juga ada disini?" menyindir Hui Seng Kang dengan nada dingin, Kemudian ia tidak menghiraukan lagi si nona, hanya terus berjalan menghampiri pintu kamar dimana Ho Tiong Jong berada dengan Tay Hong Hosiang. Ie Ya dan Kong Goan menjadi ketakutan-
Untuk turun tangan mencegah, mereka tidak berdaya, Maka dengan mata terbelalak mereka menyaksikan Hui Seng Kang menggempur pintu dengan dahsyat sekali. Suara bergedubrakan dari pintu yang rubuh digempur terdengar nyaring.
Hui Seng Kang tiba tiba dibikin kaget, didepannya sekarang sudah berdiri Ho Tiong Jong, orang yang ia mauin itu.
Anak muda itu berdiri tegak dengan gagahnya, hingga ia tanpa disadari telah berseru: "Tiong Jong, apa kau kaget ?"
Suaranya halus, menandakan cinta kasihnya yang mesra serta penuh kasih sayang. Halmana tidak terluput dariperhatinnya Hui Seng Kang, siapa segera berkata dengan
suara dingin. "^ Ya, lebih baik sekarang kau lari untuk menyelamatkan dirimu, kalau kelak di kemudian hari Perserikatan Benteng Perkampungan tidak dapat mencekuk batang lehermu, benar-benar kau ada satu iblis wanita jempolan- Ha ha ha ha..."
Li lo-sat Ie Ya bergemetar tubuhnya, ia ngeri kalau mengingat akan hukuman apa yang ia akan terima karena telah menghianati perserikatan- Tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur, rahasianya berpihak pada Ho Tiong Jong sudah diketahui, maka timbullah kenekadannya dan ia menyahut dengan nada dingin.
"Aku Ie Ya tidak akan mengedipkan mata menghadapi perbuatannya. Tak usah kau mengancam, orang she Hui"
"Ha ha ha ..." Hui Seng Kang tertawa besar "Bagus-bagus, kau ada satu wanita kosen dengan gagah berbicara begitu, Tapi .."