Entahlah, air mata yang mengalir saat itu dari kedua tela kupan matanya yang indah itu, apa air mata kedutaan atau air mati kegirangan ?
Ho Tiong Jong dibawa kedalam satu ruangan yang cukup besar, keadaannya sangat bersih, dimana hanya terdapat satu tempat pembaringan dari batu pas untuk seorang. Diatas pembaringan ini tubuhnya Ho Tiong Jong direbahkan-
Lain dari itu ada satu meja dekat pembaringan ini, diatasnya ada satu koper entah isinya apa? Beberapa kursi ditaruh berjauhan dengan pembaringan dan meja tadi.
Ie Ya duduk pada salah satu kursi tadi senang hweshio muda menanti disekitarnya IHo Tiong Jong berbaring. Kiranya itu ada pembaringan untuk orang dioperasi, sedang koper diatas meja itu berisi perkakas untuk melakukan pembedahan itu.
Tak lama muncul Tay Hong Hosiang diantar oleh Kong Goan, Hanya satu hweshio yang menggotong Tiong Jong tadi
dikasih tinggal terus dalam kamar itu, yang lainnya disuruh keluar.
Kemudian Tay Hong Hosiang membuka jubahnya, tangannya menggunakan sarung tangan- . menyuruh Kong Goan untuk membuka pakaiannya Ho Tiong Jong untuk diperiksa di bagian tempat lukanya.
Jago muda itu ternyata mendapat luka di bagian dadanya kedapatan ada tanda biru yang selang berubah menghitam.
"Nona Ie. Kau tidak boleh datang dekat "kata Tay Hong Hosiang pelahan, ketika melihat si nona bangkit dari duduknya dan menghampiri.
Kiranya si nona merasa kaget ketika pakaiannya sipemuda dibukai, curiga sipemuda akan di aniya oleh dua hweshio itu.
Tapi Ie Ya tidak mau berlalu, "Maafkan Tay-su, bagaimana juga aku tak dapat ber-jauhan dengannya, Dia ada sahabatku yang paling baik..." demikian ie Ya berkata dengan suara yang seperti mau menangis.
Tay Hong Hosiang terharu mendengarnya ia merasa kasihan pada si nona yang juga perlu harus di tolong lukanya.
Maka ia biarkan saja si nona mengikuti jalannya, ia membedah lukanya Ho Tiong Jong, Meski Ie Ya tidak pernah berkedip bila membunuh orang, kini ia melihat pemuda pujiannya dibedah, tak tahan merasa ngeri dan menutupi mukanya dengan tangannya, sambil terisak-isak menangis pelahan-
Ternyata Tay Hong Hosiang rupanya sudah biasa membedah cara demikian, ia sangat sebat, sebab sebentar saja Ho Tiong Jong sudah dibalut lukanya setelah pada bagian yang dibedah diberi obat yang manjur.
Setelah beres, memberi pertolongan pada Tiong Jong, lantas ia suruh muridnya yang ada disitu mengambil kursi.
Kapan tempat duduk itu sudah berada didekatnya lantas berkata pada Ie Ya. "Nona Ie, kau juga harus kutolong. Kau duduklah dan buka bajumu." Ie Ya tampak bingung.
Matanya mengawasi pada Tay Hong Hosiang kemudian pada Kong Goan dan sutenya, Tay Hong Hosiang lantas saja mengerti, sambil ketawa ia berkata. "Kong Goan dan Seng Hay keluar dulu sebentar "
Dua orang itu tidak disuruh sampai dua kali, karena mereka juga lantas mengerti sendiri. Mereka lalu keluar dan merapatkan pintunya lagi
Kini Tay Hong Hosiang tinggal berduan saja dengan Ie Ya, dikecualikan Ho Tiong Jong yang masih rebah pingsan.
"Taysu, kau benar pintar." si nona ketawa manis sambil menekap mulutnya yang mungil.
Kemudian tanpa disuruh lantas menghampiri kursi dan duduk disitu.
Tay Hong Hosiang hanya ketawa saja, Kiranya Ie Ya merasa malu barusan, kalau ia harus membuka baiknya disaksikan oleh dua hweshio muda tadi. Kini ia hanya berhadapan dengan Tay Hong Hosiang yang sudah lanjut usianya dan boleh dijadikan engkongnya, ia tidak malu-malu lagi.
"Nona Ie, bukalah bajumu....!" menyuruh Tay Hong Hosiang, ketika si nona masih diam saja duduk dikursinya.
"Taysu, maafkan aku, Rupanya aku harus membuat Tay su berabe juga untuk menolong lukaku, karena aku sendiri tak dapat membukanya sendiri, karena tanganku dirasakan linu dan sakit..."
"ooo, begitu...."
Berbareng sihweshio tua mendekati Sinona dan membuka sebagian bajunya di bagian bahunya yang terluka. Bahu yang
putih mulus dan lengan yang halus lunak lantas tertampak didepan matanya Tay Hong Hosiang.
Ia kesima menyaksikan apa yang dilihatnya. Matanya ketika kebentrok dengan sepasang matanya si nona yang halus merayu dan senyumannya yang membuat ia melamun, tiba-tiba dirasakan hatinya tergoncang. "No..na..., Ie, kau ..."
"Aku kenapa, Taysu ."
Li lo sat Ie Ya sebagai iblis wanita yang banyak pengalaman dalam kalangan Kang-ouw sudah lantas dapat menangkap perkataan yang diucapkan dengan gaga gugu itu.
Si kepala gundul kesima oleh kehalusan kulitnya, terpesona oleh kecantikan dan sorot matanya yang merayu. Tapi ia tidak keder menghadapi perubahan itu.
"No... na... le, kau.... kau cantik sekali, Wanita yang paling cantik dalam dunia...kau..."
"Aku sudah bosen mendengar kata kata semacam itu."
"Tapi nona, memang benar kau cantik.."
PENGORBANAN TENAGA DALAM
Ie Ya kerengkan matanya yang galak sambil bersenyum simpul.
hweshio tua itu berontak hatinya tiba-tiba timbul napsu jahatnya mengawasi pada si nona dengan mata beringas.
"Aku cantik, habis kenapa?" tanya Ie Ya tertawa.
"oh, nona Ie. kau, kau, .."
Ia sudah tak dapat mengendalikan napsu-nya, seketika itu ia menubruk sinona dan memeluknya mulutnya menciumi bahu dan lengan nona Ie dengan bernapsu.
Bahu dengan lengan yang halus laksana kapas itu jadi sasaran mesra dari hidung dan mulutnya Tay Hong Hosiang, Herannya Ie Ya tinggal membiarkan saja si hweslo tua mengumbar napsunya menciumi bahu dan lengannya tapi ketika Tay Hong Hosiang tangannya mulai menggerayang hendak membuka kancing bajunya ia mencegah dan berkata dengan suara dingin. "Tay-su kau sadariah..."
"Tidak. nona Ie..." kata si hweshio tua dengan suara parau, karena tak dapat menahan getaran napsu birahinya..
"Tay Hong Taysu." terdengar pula suara si nona berkata dengan suara halus tapi dingin "kau menyebutlah omitohud."
Perkataan- omitohud, yang diucapkan si nona, seolah-olah kalajengking yang menggigit tangannya si hweshio tua sebab dengan gemetar seketika itu ia melepaskan pelukannya dan mundur dua tindak, matanya mengawasi pada si nona seperti yang ketakutan-
"Tay-su." melanjutkan si nona. "Dua puluh tahun sudah kau cuci tangan dan hendak kembali menjadi orang baik-baik apakah tidak sayang ketekunan itu menjadi punah karena bertindak? Apakah tidak akan menyesal seumur hidupnya, hanya kesalahan sendiri tak dapat menindas napsu jahat, membuat kesujudanmu memuji sang Buddha dua puluh tahun lamanya menjadi hilang seperti tersapu air banjir?"
Tay Hong Hosiang menggigil tubuhnya. Satu demi satu perkataan Ie Ya seperti juga pisau yang menyayat hatinya, sangat perih, otaknya diliputi oleh kemenyesalan besar. sorot matanya menjadi layu dan malah tak berani memandang Ie Ya, yang saat itu masih tetap duduk dengan tenang dan bahu serta lengannya yang halus putih masih seperti tadi keadaannya telanjang yang dapat napsu birahinya si hweshio tua melonjak.
Keadaan Tay Hong Hosiang saat itu seperti anak kecil yang sedang mendengari omelannya sang ibu. ia berdiri dengan
kepala ditundukkan, tidak berani mengawasi pada si nona. Kecantikan Ie Ya bulu mata dan lengannya menggoncangkan napsunya kini lenyap seperti tersapu angin tak meninggalkan bekas. Apa yang ada dalam hatinya sekarang kemenyesalan besar, perasaan putus harapan akan menjali seorang suci. Pikirannya betul betul saat itu sangat kalut. Tiba tiba berkelebat dlotaknya suatu keanehan, ia lalu menanya. "Tapi nona Ie, eh, kenapa kau barusan diam saja ketika aku memelukmu ?"
"Kenapa aku sudah dapat menebak akan jalan pikiranmu?"
"Eh, apa artinya itu ?"
"Kalau kau berotak dan menolak keras, kebuasanmu yang dulu akan merajalela dalam hatimu yang sudah mulai balik dalam kebenaran." Tay Hong Hosiang bungkam.
"Nafsu buasmu harus di beri jalan supaya pikiranmu menjadi tenang dan nasehatku bisa masuk dalam pikiranmu." kata pula Ie Ya, dengan tenang.
Kembali Tay Hong Hosiang membisu "Nona Ie." ia berkata kemudian, "bahumu dan lenganmu yang halus mulus tadi menjadi sasaran napsu iblisku, apakah kau tidak merasa jijik?"
Ie Ya bersenyum manis. "Apa boleh buat, aku harus berkorban guna menolong orang jangan terjerumus kedalam dosa lagi....."
"Apa artinya perkataanmu, nona Ie?"
"Kalau nafsu buasmu tidak mereda karena pengorbananku itu dan kau berbuat yang melanggar batas, tidakkah sia-sia untuk waktu selama dua puluh tahun kau sudah bertobat?"
"Nona Ie, oh, kau bukan saja rupamu yang cantik seperti bidadari tapi juga hatimu cantik dan suci."
Tay Hong Hosiang mengawasi si gadis dengan mata welas asih dan penuh dengan perasaan terima kasih, Si nona
mengerti apa yang dipikirkan oleh Tay Hong Hosiang, maka ia membiarkan wajahnya diawasi dengan tajam oleh jago Siauw lim sie itu. Keadaan hening beberapa lamanya.
"Taysu bagaimana dengan maksudmu untuk mengobati lukaku?" tiba-tiba si nona memecah kesunyian, sambil ketawa manis.
"Oh. betul, betul... kenapa aku jadi lupa." kata Tay Hong Hosiang dengan gugup, ia cepat-cepat memeriksa lukanya si nona yang sudah siap sejak tadi bahunya yang sudah mulai menghitam itu untuk diobati.
Ie Ya ternyata tulang bahunya telah patah dan perlu disambung.