mengagumi juga kepandaiannya sang lawan yang muda belia. Pikirnya pantasan ia tekebur, Kalau begitu ia ada isinya?
Mereka serang menyerang dalam jarak setumbak, keduanya melancarkan pukulannya dengan tidak sungkan-sungkan lagi tapi sangat hati-hati sebab masing-masing mengetahui lawannya ada berkepandaian sangat tinggi.
Setiap kali Tay Hong Hosiang melancarkan serangannya, telah menerbitkan suara keras. Batu dan pasir pada beterbangan karena kesampok oleh anginpukulannya.
Lihay sekali ilmu silatnya, Kalau saja yang menjadi lawan bukannya Ho Tiong Jong, terang-terang sudah dibikin terjungkal atau dibikin terbang tubuhnya kena angin pukulannya si hweshio tua yang luar biasa hebatnya.
Melihat kepandaiannya lawan ada demikian tinggi, Ho Tiong Jong memberikan perlawanan lebih hati-hati lagi, jangan sampai kena dipecundangi mentah-mentah. Malah hatinya sudah mengambil keputusan, ia harus menang, ia mesti dapat menjatuhkan lawannya untuk mencuci hinaan atas diri-nya enci Ie nya.
Sayang maksudnya tak tercapai, karena hweshio tua yang dihadapannya itu bukan sembarang jago silat, ia sangat lihay karena ia sudah menguasai ilmu Tat Mo Sin-kang (tenaga saki Tat Mo) dari Siauw lim-pay.
Bagaimana juga Ho Tiong Jong coba mendesak dan menguasai musuhnya, ternyata telah gagal. Ketika ia hendak mencabut goloknya untuk dipakai bertempur, ternyata sudah terlambat. Karena serangan dahsyat dari Tay Hong Hosiang yang dibarengi dengan tenaga dalam yang ampuh membuat Ho Tiong Jong terpental sampai dua tumbak. Ia merasakan dadanya sesak dan darah hidup hendak keluar dari mulutnya.
Ho Tiong Jong sebisa-bisa menelan lagi darah hidup yang hendak keluar dari mulutnya itu, sambil mendengarkan Tay Hong Hosiang berkata.
"Hmm Ho Tiong Jong, kini kau tak dapat mengunjuk kesombonganmu lagi- pukulan barusan tidak sembarangan orang dapat menangkisnya. Dalam dunia Kangouw yang dapat menahan seranganku itu boleh di hitung dengan jari."
"Kepala gundul" bentak Ho Tiong Jong, "Aku Ho Tiong Jong baru terhitung kalah kalau sudah tidak bernapas lagi- Siapa takuti dengan pukulanmu, mari maju lagi" ia menentang sambil menghunus goloknya. Tampak tubuhnya Tay Hong Hosiang melesat tinggi seperti burung garuda saja. dengan jubahnya yang berkibaran ditiup angin, ia turun dan berdiri tegak didepan Ho Tiong Jong yang sudah siap dengan goloknya.
Ho Tiong Jong tidak banyak rewel lagi, lantas saja mulai menyerang dengan hebat, ilmu golok keramatnya yang terdiri dari delapan belas jurus telah dimainkan dengan bagus sekali-
"Iiih...." seru Tay Hong Hosiang heran. "Dari mana Tiong Jong dapat ilmu golok Siauw lim pay ini?" tanyanya dalam hati. Pikirnya, ilmu golok keramat dari Siauw lim pay dimainkan begini bagus oleh Tiong Jong, sukar didapatkan keduanya diantara murid- murid. Siauw lim-pay dari tingkatan yang sepantaran dengan sipemuda . Meskipun demikian bagus dan hebat tipu-tipu serangan dari ilmu golok delapan belas jurus itu, menghadapi Tay Hong Hosiang ternyata tidak ada gunanya, sebab hweshio tua sudah mahir dengan ilmu pemunahnya dan setiap kali Ho Tiong Jong menyerang selalu mendapat sasaran kosong. Diam-diam ia menjadi heran, Pikirannya, "kepala gundul tua ini sangat hebat ilmu silatnya." Tapi Ho Tiong Jong tidak tahu bahwa lawan dihadapannya itu ada murid Siauw limpay yang pandai dan tinggi ilmu silatnya. Ie Ya dilain sudut berdiri menjublek, terpesona oleh kepandaian Ho Tiong Jong, pemuda itu ternyata lebih hebat jauh kepandaiannya dibanding dengan waktu tempo hari telah ketemu dengannya. Apa lagi kalau di ingat, Ho Tiong Jong maju dalam pertempuran itu adalah hendak membela pada
dirinya, pikirnya ia rela dirinya mendapat luka oleh pukulannya Kong Goan Hweshio, lantaran membela si pemuda, sebab sekarang ia menyakeikan dengan mata kepala sendiri Ho Tiong Jong bertempur mati matian adalah untuk kepentingan dirinya.
Melihat ilmu golok keramatnya tak dapat menyentuh ujung jubahnya saja si kepala gundul yang lihay, Ho Tiong Jong lantas merubah ilmu silatnya dengan Tok liong Ciang hoat dicampur dengan ilmu silat lain-nya, serangan yang dilancarkan olehnya sangat hebat dan indah sekali,jalannya begitu cepat dan sukar diduga lawan-Diam-diam Tay Hong Hosiang berpikir anak muda ini tidak dinyana sudah mencangkok banyak kepandaian dari berbagai partai,Baiknya saja ia yang melayani dan kalau saja orang lain, siang-siang sudah tentu akan menjadi pecundang Ho Tiong Jong.
"Bocah" bentaknya, "Kau sudah mencuri banyak ilmu serangan hebat dan berbagai partai, boleh dikatakan kau lihay juga, Nah sekarang kau kembalikan itu ilmu golok delapan belas jurus dari Siauw-lim-pay..."
Ia berkata sambil merubah gerak serangannya lebih cepat dan lebih berat menindih musuh-nya, itukah ilmu "Tat Mo Sin kang" yang jarang ia gunakan, kalau tidak terpaksa karena menghadapi musuh berat.
Dari situ sudah terbukti bahwa Ho Tiong Jong masuk kelas berat, makanya Tay Hong Hosiang sudah mengeluarkan ilmu simpanannya itu.
Kini Ho Tiong Jong benar dibikin terkejut. ia tak menduga sama sekali kalau hweshio tua ini ada tinggi kepandaiannya Diam-diam ia mengeluh dalam hatinya karena pengharapan ada sangat kecil untuk merebut kemenangan. Kalau bisa berakhir seri saja sudah bagus.
Tapi bagaimana juga tentu si kepala gundul tidak mengampuni kepadanya karena ia sudah berkata sombong dihadapannya.
Lie lo sat Ie Ya melihat jagonya keteter, bukan main cemas hatinya. Sayang ia tidak bisa bergerak, coba kalau ia tidak terluka, niscaya ia akan ceburkan diri membatu Ho Tiong Jong melawan Tay Hong Hosiang mati-matian. Ia hanya bisa menjerit-jerit saja memaki kalang kabut kepada Tay Hong Hosiang.
Mendengar jeritan jeritan Ie Ya, membuat banyak hweshio dalam kuil itu sudah pada keluar datang menonton perkelahian yang sangat seru itu.
Tekanan Tay Hong Hosiang makin dirasakan berat, Ho Tiong Jong sudah tidak tahan melayaninya, Pikirnya untuk mencegah kekalahannya ia harus kembali mainkan ilmu golok keramatnya yang dapat melindungi dirinya dari kekalahan Tapi kegesitannya Tay Hong Hosiang, ternyata ada lebih hebat dari matanya Ho Tiong Jong.
Karena seketika ia menyerang dengan telapakan tangannya laksana kilat dan sipemuda tubuhnya sudah dibikin melayang sampai jauh tiga tumbak baru jatuh ia terhuyung-huyung dengan memuntahkan darah segar, matanya berkunang kunang dan ia tak tahan berdiri lama, lantas rubuh tidak sadarkan dirinya lagi-Li-lo sat Ie Ya menjerit.
Ho Tiong Jong tampak menggeliat ditanah dengan didampingi oleh goloknya, tangannya mengeluarkan darah, rupanya kena goresan senjata tajam itu. Darah berceceran bekas tadi ia muntahkan dari mulutnya. Mukanya pucat seolah-olah ia sudah jadi mayat saat itu.
Lie lo-sat Ie Ya dengan paksakan diri perlahan-lahan jalan menghampiri sipemuda, kemudian jatuhkan diri memeluk tubuh sipemuda dan menangis.
"Tiong Jong, ah, kau... kau selalu menderita saja dalam hidupmu. Karena hendak mencuci maluku maka kau sudah berkorban begitu. Oh Tiong...." Li-lo-sat Ie Ya nangis menggerung-gerung.
Sebenarnya ada sangat ganjil kejadian saat itu. dimana Ie Ya keluarkan tangisan menggerung-gerung, Karena Ie Ya yang terkenal dengan julukannya Wanita Telengas dan Kejam, belum pernah mengucurkan air mata, apa lagi menangis menggerung gerung seperti itu.
Itulah karena rasa cintanya yang sangat besar terhadap dirinya Ho Tiong Jong yang kini menggeletak dalam keadaan setengah mati.
Tangannya yang halus meraba-raba pipi-nya dan matanya yang tertutup coba dibukanya, sambil dengan suara pelahan ia memanggiL "Tiong Jong kau jangan tinggalkan aku... Tiong Jo.... ng..."
Keadaan Ie Ya saat itu mengharukan sekali siapa yang lihat.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras, "Hayo kalian pergi dari sini!!" Itulah kata suaranya Tay Hong Hosiang yang menyuruh semua muridnya pada pergi meninggalkan tempat itu, hanya disitu ketinggalan ia dan muridnya yang tersayang, yalah Kong Goan Hweshio, bersama Ie Ya dan Ho Tiong Jong yang dalam pingsan-
Lie Io sat Ie Ya yang sedang menangisi Ho Tiong Jong tidak merasa kalau Tay Hong Hosiang sudah berdiri didekatnya.
Terdengar ia tertawa dingini "IHm kau juga ingin merasakan pukulanku seperti yang dirasakan oleh Tiong Jong ?"
Li-lo sat Ie Ya susut air matanya, kemudian mengawasi pada Tay Hong Hosiang dengan sorot matanya yang gusar
sekali- "Hweshio tua, kau boleh bangga dengan ilmu pukulanmu yang kejam itu, tapi ada satu hari aku Ie Ya akan datang kembali kesini akan membuat perhitungan."
"Ha ha ha...." tertawa Tay Hong Hosiang "Kau mau membuat pembalasan? Lagi dua puluh tahun kau belajar masih bukan tandinganku kau mengerti?"
Ie Ya tak menjawab ia kertak gigi dan gigit bibirnya sampai berdarah saking menahan rasa gusarnya yang meluap luap, Sayang ia dalam terluka didalam tubuhnya, coba ia dalam keadaan segar, meskipun tahu dirinya tidak bakalan menang, ia pasti akan menerjang si hweshio tua dengan nekad.
Sambil membongkekkan badannya mengambil golok wasiatnya Ho Tiong Jong, Tay Hong Hosiang telah berkata "Aaa... ini golok Lam thian to. memang tadinya ada milik keluarga Seng, tapi sekarang akan menjadi miliknya gereja Kong ben sie disini, Ha ha ha..."
"Tak tahu malu" membentak Ie Ya.
"Sudah membunuh orangnya, sekarang mau merampas miliknya, apakah itu yang dinamai seorang pemeluk agama Buddha? Hmm..." Tay Ho Hosiang mendelik matanya.
"Kau tangisi juga percuma dia tokh bakalan mampus, Bocah macam begini..." kakinya berbareng diangkat hendak menendang tubuhnya sipemuda tapi mendadak kaki itu cepat ditarik pulang karena pandangan matanya kebentur dengan suatu benda yang keluar dari sakunya Ho Tiong Jong.
Dekat tangannya yang berdarah ada nongol dari sakunya Ho Tiong Jong itu gelang batu kumala hijau yang membuat matanya si kepala gundul menjadi terbelalak heran.
Entah apa sebabnya, dengan lantas saja jatuhkan dirinya dan menjemput keluar benda tadi dari sakunya Ho Tiong Jong. Setelah diselidiki dengan seksama bahwa benda itu ada yang tulen, maka seketika itu juga sambil menjunjung gelang
batu kumala dengan kedua tangannya diatas kepalanya ia berlutut tambil mengucapkan rasa menyesal yang sangat besar, katanya.
"Susiokcouw, maafkan tecu yang berdosa, Tecu tidak mengenali kalau Tiong Jong ada utusan susiokcouw, oh..^. tecu telah berbuat dosa besar sekali..."
Kong Goan Hweshio yang berada tidak jauh diri situ, melihat gurunya dengan tiba-tiba berlutut sambil menjunjung gelang batu kumala, ia lantas mengerti dan ia juga turut berlutut sambil kemak kemik berdoa supaya perbuatan suhunya pun diampuni oleh susiok-cownya paman dari guru sang suhu.
Kong Goan berlutut dengan susah payah, peluh mengucur deras, karena ia menahan rasa sakitnya ia di kena ditendang oleh Ho Tiong Jong.
Lama keduanya suhu dan murid pada berlutut menghormat benda kepercayaan partai itu, hingga Ie Ya yang tidak lahu sebab-sebabnya menjadi keheran-heranan.
Ia tidak berkata apa-apa karena perhatiannya terus ditujukan kepada Ho Tiong Jong yang keadaannya sangat berat. Entah, pemuda itu dapat ketolongan atau tidak jiwanya? Tapi dilihat keadaan lukanya demikian rupa, rupanya pengharapan ada kecil sekali-
Hatinya si nona sangat gelisah, perasaan duka, menyesal dan marah mengaduk jadi satu dalam otaknya, hingga ia juga hampir pingsan tak dapat menahan perasaan demikian itu.
Tak lama Tay Hong Hosiang diikuti oleh muridnya telah bangkit berdiri dan berkata pada Ie Ya.
"Nona Ie,kau ada sahabat dari utusan susiokeouw kami- kini kau juga terluka, betul-betul membuat hatiku sangat menyesal. Tapi Nona Ie, harap kau jangan kuatir jiwanya Tiong Jong sebab dia tidak apa-apa."
Dengan tidak menanti Ie Ya menjawab lagi, Tay Hong Hosiang sambil membawa gelang batu kumala hijau tadi telah berlalu dan masuk kedalam ruangan kelenteng.
Setelah ia berlalu, Ie Ya lalu memeriksa jalan darahnya Ho Tiong Jong, ia girang, karena jalan darahnya si pemuda ada normal, ia rupanya hanya pingsan saja, sekarang dapat ia pikirkan kejadian barusan dimana Tay Hcong Hosiang dengan muridnya telah beriutut menghormat kepada benda yang keluar dari saku bajunya Ho Tiong Jong.
Perkataan si hweshio tua tadi ketika meninggalkan ia. apakah bermaksud hendak memberi pertolongan kepada Tiong Jong atau bagaimana, ia tidak tahu, ia terus menanti disitu sambil saban-saban mengusap-usap pipinya sipemuda yang telah memikat hatinya itu.
"Dia cakap dan gagah, sungguh jarang didapatkan lelaki seperti dia." demikian ie Ya berkata dalam hatinya sendiri.
Ia memeluk pemuda tampan yang sedang pingsan itupelahan-lahan menempelkan mulutnya itu yang kecil mungil diatas pipi yang cakap itu, lalu rapatkan pipinya pada pipi si pemuda dan air matanya kelihatan bercucuran mengalir pada pipinya yang halus menyebrang kepipinya pemuda pujaannya itu.
oh. Semua kecintaan yang tulus murni dari seorang wanita yang kejam telengas dinyatakan oleh air matanya dan oleh kelakuannya yang sangat menyayang dan memuja, Entah lah, bagaimana hatinya tiong long akan berdebaran atau seperti hendak lompat dari tempatnya, apabila ia hadapkan dalam keadaan sadar itu ciuman halus dari mulut yang kecil mungil dan pipi cantik yang halus ditempelkan kepada pipinya?
Sebentar lagi Ie Ya terkaget dan lepaskan pelukannya pada tubuh si pemuda, ketika mendengar tindakan orang mendatangi
Kiranya yang datang itu ada empat orang hweshio muda dengan membawa usungan untuk membawa Ho Tiong Jong, Sampai didepannya Ie Ya, salah satu antaranya empat hweihlo itu berkata.
"Nona, atas perintah suhu, kami berempat hendak membawa Ho sicu kedalam untuk diberi pertolongan lukanya yang parah itu."
"Terima kasih " kata Nona Ie dengan penuh rasa sukur, "silahkan suhu sekalian membawanya dia ketempatnya Taysu."
Empat hweshio muda itu dengan sebat sudah angkat tubuhnya Ho Tiong Jong dibaringkan diatas usungan, kemudian digotong oleh mereka berempat ke dalam kelenteng dengan diikuti oleh Ie Ya sambil mengucurkan air mata.