Golok Sakti Chapter 114

NIC

"itulah maksudku. cuma sayang kedatanganku tak disambut sebagaimana pantasnya, malah diajak setori oleh nona Kho, kemudian lotiang sendiri juga ikut-ikutan membuat aku jadi kecewa dengan maksudku yang semula itu." Sim Pek Hian tampak termenung.

Pikirnya ia sudah tua, belum ada seorang yang berbakat untuk menjadi akhli warisnya, Kebetulan Ho Tiong Jong ada satu pemuda yang mempunyai tulang-tulang bakat yang sukar didapatkan keduanya pada waktu itu, sebenarnya baik sekali kalau ia menerima anak muda itu menjadi muridnya. Tapi ia tak dapat memberi putusan ketika itu juga, maka ia berkata.

"Bocah, kau sudah berguru kepada berapa banyak guru? Aku lihat ilmu silatmu campur aduk banyak sekali macamnya."

"Aku belum pernah mempunyai guru."

"Habis darimana kau dapat itu kepandaian?"

"Aku belajar sendiri dengan beberapa pengunjukan dari kawan-kawan."

Sim Pek Hian tidak percaya, tapi ia tidak mendesak lagi.

"Baiklah, sekarang kau tinggal dahulu disini untuk sepuluh hari lamanya, aku akan pikir dahulu, apakah aku akan terima kau jadi muridku atau tidak. tergantung dari keputusanku nanti." Ho Tiong Jong tidak menjawab.

"EH, darimana kau tahu aku ada disini dan mempunyai sedikit kepandaian yang diturunkan oleh mendiang guruku ?" tiba tiba Sim Pek Hian menanya.

"oh, hal itu dari pikiranku saja, dari dugaan-dugaanku saja bahwa lotiang ada akhli waris dari In Kie Locian-pwee almarhum."

"Mana bisa begitu, kalau tidak ada pengunjukan orang lain tentu kau tak dapat mengetahui asal usulku disini ."

"Itulah terserah pada lotiang, mau percaya syukur, tidak mau percaya ya apa mau dikata. Sebab apa yang aku terangkan ada dengan sejujurnya hati." Sim Pok Hian kewalahan ketika mendengar jawaban sipemuda.

orang tua itu kemudian menepok pundaknya dan bebokongnya sipemuda, yang satu untuk membuka totokan, lainnya katanya ada totokan untuk menghilangkan tenaganya, ia berkata.

"Aku sudah bebaskan kau dari totokan, tapi aku menotok jalan darahmu yang penting, supaya kau jangan bergerak berat-berat, Kalau kau bergerak yang berat-berat, tahu sendiri akibatnya, tenaga dalammu akan musnah dan kau akan menjadi orang biasa lagi, Kau mengerti? Nah, setelah sepuluh hari aku akan menengoki kau disini, apakah aku nanti dapat menerima kau menjadi murid atau tidak?"

Setelah berkata, Sim Pek Hian lalu meninggalkannya anak muda itu dalam goa kuburan sendirian Kini ia gerakkan

badannya, ternyata tidak lemas lagi. ia bisa bergerak dengan baik. Tapi untuk bergerak berat-berat ia masih takut, sebab ia seperti benar ada merasakan totokan Sim Pek Hian-

Diwaktu sore ia diantari makanan oleh nona Kho dengan melalui lubang pada pintu, beda dengan sikapnya yang sudah, ternyata kali ini ia bertemu si nona bersikap sangat ramah dan manis budi.

"Toako, aku membawakan makanan untukmu, Harap kau terima dan makan biar kenyang" demikian sinona berkata sambil bergurau.

Sebenarnya Ho Tiong Jong tidak mau makan, tapi dipikir lagi kalau ia tidak terima makanan itu diwaktu malam ia kelaparan ia nanti makan apa? ia masih ada harapan hidup, maka adatnya yang badung ia tekan, ia sebenarnya jengkel pada nona Kho, karena gara-garanya menyebabkan ia bentrok dengan orang yang ia ingin jadikan gurunya. ia pura-pura menolak.

"Nona Kho, terima kasih, Biar saja aku mati kelaparan, buat apa kau perhatikan aku membawaKan makanan segala ?"

"oh, masih marahan nih? Hi hi hi...." sinona kata sambil tertawa cekikikan. "Memang juga aku marah padamu, karena gara garamu aku jadi dikeram begini."

"Tidak apa hitung-hitung mengasoh bolehkan Maksud baik kau tak mau terima, kau dapatkan maksud apa lagi ?"

Ho Tiong Jong bercekat hatinya mendengar kata-kata si nona paling belakang. Apa maksudnya?, tapi ia masih gemas saja pada nona jumawa itu. "Sudahlah, bawa lagi saja makanan itu ." katanya.

"Jangan begitu toako, Kau terima saja, kalau malam kau tidak lapar tak usah kau makan, Tapi kalau lapar, kau sudah ada makan yang buat diganyang ?"

Ah, ini nona bawel amat sih ? Kata-katanya amat jenaka, beda dengan ketika ia menghadapi pada saat yang lalu, Maka akhirnya ia terima juga makanan yang disodorkan itu sambil mengucapkan terima kasih.

"Tak usah pakai terima kasih, toako. cuma aku pesan, kalau api lilin yang menerangi ini sudah dekat habis kau sambung terus, sebab dalam ruangan ini tak boleh apinya padam. Lilin sudah sedia banyak disitu, bukan?"

Ho Tiong Jong melirik pada empat lilin, benar saja ada sedia banyak sekali lilin-

"Baiklah nona Kho," jawabnya, "tapi nona Kho, apa maksud sebenarnya ayah angkatmu menahan diriku ini disini ?"

Si nona ketawa manis, "Kau nanti tahu sendiri, kau tenang-tenang saja tinggal dalam goa kuburan ini, aku nanti saban-saban antari kau makanan . . ."

Si nona sambil berkata telah meninggalkan Ho Tiong Jong, hingga si pemuda tiiak mendapat kesempatan untuk berbicara terlebih jauh.

Setelah menaruh makanan diatas meja, Ho Tiong Jong duduk termenung.

Ia memikirkan kata-katanya si nona tadi. "Maksud baik kau tidak mau terima kau mau maksud apa apa. ia menebak nebak sekian lama, tak dapat ia menecahkannya. Keisengan, ia lalu jalan lihat-lihat tiga peti mati yang ada disitu.

Pada peti nomor satu ia melihat tulisan

"TEMPAT ISTIRAHAT SIANSU KUI KOK CU USIA 152 TAHUN,

yang nomor dua

"TEMPAT ISTIRAHAT THIAN KIE TEE PIT USIA 220 TAHUN"

dan yang ke tiga,

"TEMPAT ISTIRAHAT IN KIE LOJIN, USIA 150 TAHUN."

Hatinya Ho Tiong Jong ketarik oleh peti mati yang ketiga (in Kie Lojin), maka didepan peti mati siapa ia lantas berlutut, memohon kerelaan hatinya in Kie Lojin untuk ia membuka peti matinya.

Demikian setelah ia cukup berkemak-kemik, lantas perlahan tangan membuka tutup peti mati. ia tidak berani mengerahkan tenaganya, karena kuatir totokannya Sim Pek Hian bekerja dan dirinya berbahaya, ia geser peti mati itu perlahan-lahan, didalamnya ternyata sangat bersih, sebagai gantinya mayat ada kedapatan, disitu sebuah kitab dan sebuah pedang dengan gagangnya terbuat dari kayu pohon tho. pedang dan kitab itu terbungkus oleh sehelai kain warna kuning.

Ia dapat melihat ini semua dengan bantuan penerangan lilin yang dibawa kedalam peti mati, Ketika tersorot oleh terangnya api lilin, pedang tadi memancarkan sinar berkeredepan menandakan bahwa pedang itu ada pedang pusaka.

Sedang bukunya, ketika ia buka lembaran pertama, lantas dapat melihat dengan kalimatnya. "KITAB KUMPULAN ILMU SILAT SEJATI JILID KE-SATU."

HATINYA Ho Tiong Jong terkesiap membaca kalimatnya buku.

Buku keduanya ia sudah miliki, kalau ia dapat memahami buku yang ke satu ini terang ilmu silatnya akan meningkat sangat tinggi. Dengan tangan gemetar ia mengambil buku itu.

Dalam hati berdoa dengan sujut, minta karunianya in Kie Lojin supaya ia dapat memahami isinya kitab itu, kalau memangnya ia ada berjodoh menjadi muridnya orang tua yang sangat tersohor itu pada jamannya. Kemudian ia tutup rapih lagi peti mati itu.

Dengan hati berdebar debar Ho Tiong Jong mulai membaca isinya kitab pada sebuah kursi disisi meja diatas mana ada barang hidangan yang dikirim oleh nona Kho.

Posting Komentar