"Apa mereka bersembilan orang itu kini sudah bersatu lagi?"
"Aku tidak tahu?" jawab Ho Tiong Jong dan mulai ogah-ogahan kelihatannya melayani pertanyaan si orang tua yang mendesak padanya seperti juga polisi yang sedang mengempos persakitan-
"Apa kau tahu rahasia dari benda pusaka itu?" mendesak Sim Pek Hian.
"Aku tidak tahu-" suaranya perlahan, hampir tidak kedengaran.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang kitab. "Kumpulan ilmu silat sejati?" dan tentang mendiang suhuku?"
Ho Tiong Jong tidak menjawab.
Ketika pertanyaan tadi diulangkan, juga Ho Tiong Jong membisu.
orang tua itu menjadi jengkel, Dengan kecepatan kilat ia menotok jalan darah Ho Tiong Jong yang melumpuhkan badannya, seketika itu Ho Tiong Jong rubuh tak bertenaga.
"Bocah kau menghina aku? IHmm, kau berani tak menjawab segala pertanyaanku? Bagus, bagus Pasti satu hari sembilan benda pusaka itu ada ditanganku dengan mana aku tak melanggar janjiku untuk mendapatkan kitab "Kumpulan ilmu silat sebati", setelah aku mahir. sembilan orang itu tak akan luput dari tanganku, Aku akan menghajar mereka habis-habisan, Ha ha ha...."
Ho Tiong Jong meskipun tertotok tubuhnya tapi penglihatan dan kupingnya bekerja sebagaimana biasa.
Ia heran si orang tua marah-marah dan tidak mengerti dengan ocehannya barusan-
Sim Pek Hian tampak menghampiri kuburan, dimana ia melihat ada anak angkatnya selang berdiri dengan wajah seperti yang ketakutan-
Mungkin si nona sangat menguatirkan tentang dirinya Ho Tiong Jong sipemuda cakap jatuh ditangan ayah angkatnya bakal tidak dapat pengampunan dan akan dibunuhnya. Ketika ia melihat ayahnya muncul, ia cepat cepat menyambut
"Gihu...."
"SiuJie, kau pulang lebih dahulu" sang ayah angkat memerintah. Kho Siu cemberut, tapi ia tak berani membantah perintah Sim Pek Hian-
DENGAN tidakan ayal-ayalan ia melangkahkan kakinya.
Dilain saat orang tua jtu sudah balik kembali dan lalu angkat tubuhnya Ho Tiong Jong, dikempit dibawa kekuburan, ia merabah pada tulisan yang berbunyi DEWA dan menekan dengan telunjuknya, tak lama kemudian batu nisan menggeser dan terbukalah sebuah lubang.
Ia masuk kedalamnya dan ketemu dengan pintu besi kecil yang tidak berlubang kunci, tapi ketika ia menggeserkan batu nisan tadi ketempat biasa, lantas ada terbuka sebuah lubang, ia mengulur tangannya dimasukkan kelubang itu, tak lama
lantas terdengar suara gedobrakan, piatu besi itu lantas terbuka dan dengan menggendong Ho Tiong Jong orang tua itu berjalan masuk.
Pintu digebrukkan dan tertutup pula dengan sendirinya seperti semula keadaannya.
Keadaan didalam situ ada sangat gelap. Ho Tiong Jong rasakan dirinya dibawa menurun dan terputar-putar, Sebentar lagi Sim Pek Hian masuk kesuatu ruangan kamar yang diterangi api lilin yang cukup terang.
Kiranya ruangan itu ada sebuah kamar batu yang lebar, ditengah-tengahnya ada ditaruh tiga buah peti mati, tubuhnya Ho Tiong Jong lantas diletakkan ditanah, kemudian Sim Pek Hian menghadapi tiga peti mati tersebut dan berdiri beberapa saat dengan mulut kemak- kemik seperti juga ada mengucapkah apa-apa. Kemudian berkata pada Ho Tiong Jong.
"Bocah, kau ini sebenarnya ada satu pemuda yang berbakat hanya saja kau terlibat didalam sebuah komplotan Persatuan benteng perkampungan. Barusan sebenarnya aku hendak membunuhmu, tapi mengingat aturan kami tidak boleh membunuh sembarangan orang kalau tidak terhadap orang yang sangat jahat, maka aku urungkan tindakanku itu, Aku sekarang didepan peti mati memutuskan untuk menghukum kau. Kau bebas dari hukuman mati, tapi tak terluput daii hukuman hidup,"
"Ya, sesuka lotiang. Sekali aku sudah ditawan," katanya dengan gagah "aku menyerahkan nasibku padamu. Kau boleh punya suka menghukumku."
"Hmm... bocah bernyali besar" Ho Tiong Jong tinggal tenang-tenang saja.
"Bocah, kau jangan enak enakan." kata pula Sim Pek Hian, "apa kau tahu hukuman macam apa yang aku sudah tetapkan untuk dirimu?"
"Aku mana tahu?" jawab Ho Tiong Jong acuh tak acuh.
"Dengarlah, pertama ku bikin buta matamu, kedua potong lidahmu dan ketiga telingamu aku tusuk supaya tidak dapat mendengar. Setelah kau menjadi seorang cacad yang tidak melihat mendengar dan bicara, tentu kau tidak dapat membocorkan halnya tempat disini kepada orang lain-"
Sim Pek Hian menduga sianak mula akan terkejut mendengarnya dan menggigil karena ketakutan, tapi kenyataannya Ho Tiong Jong tinggal tenang-tenang saja, hingga membuat orang tua itu sangat heran-
"Bagaimana, apa kau tidak jeri dengan hukuman yang barusan aku sebutkan sebagai gantinya hukuman mati?" tanya Sim Pek Hian, ketawa nyengir.
Ho Tiong Jong tertawa dingin, "Lotiang," katanya, "soal kematian aku pandang seperti juga aku pulang kerumah. Aku tak takut mati, Kau akan menghukum aku dengan cara yang barusan kau sebutkan tidak menjadi soal, hanya..."
"Hanya apa, bocah ?"
"Hanya aku perlu meninggalkan pesan"
"Bagus, memang baik begitu, sebelum kau menjadi cacad kau boleh nyatakan keinginanmu, mungkin aku dapat melakukannya." Ho Tiong Jong menghela napas.
"Ingin aku meninggalkan pesan, supaya disampaikan kepada tiga orang."
"Lalu, siapa mereka itu ?"
"Mereka itu semuanya ada wanita."
Sim pek Hian melengak, "Kau maksudkan mereka itu ada ibumu dan dua saudaramu?"
"Bukan, Aku Ho Tiong Jong tidak punya anak saudara dalam dunia ini, Mereka bertiga mengasihi diriku yang
bernasib buruk maka perlu mereka diberi penjelasan tentang menghilangnya aku. Karena kalau tidak. mereka akan mencarinya dengan hati patah dan ini aku tidak mau."
"Habis bagaima aku harus berbuat?" memotong Sim Pek Hian-
"Meskipun kau tidak langsung membunuh aku tapi dengan hukuman mu itu akibatnya toch sama juga aku bakalan mati, Maka aku ingin kau sampaikan pesanku pada mereka."
"Baik, sebutkanlah apa pesanmu."
"Pertama aku minta kau menyampaikan pada nona Giok Cin puterinya Seng Eng dari Seng kepo."
"Seng Glok Cin puterinya Seng Pocu?" Sim Pek Hian menegasi heran-
"Ya, dia, Katakan padanya bahwa racun yang ada dalam tubuhku tiba-tiba telah kambuh dan karena tidak tahan sakitnya aku telah membunuh diri dan mayatnya hanyut dalam sungai. Giok Cin dalam perjalanan menemui ayahnya, untuk mengembalikan lencana pusaka itu, entah, apakah dia dapat diterima atau tidak oleh ayahnya? Karena dia dituduh oleh ayahnya telah berkomplot dengan aku mencuri benda pusakanya itu, maka ayahnya menjadi begitu murka dan mengusir anaknya yang paling dikasihinya itu.,." sampai disini Ho Tiong Jong berhenti, sejenak pikirannya ia tak dapat menemui mukanya pula.
"Lalu, selanjutnya bagaimana?" tegur Sim Pek Hian.
"Pesan kedua, tolong disampaikan kepada nona ie Ya yang bergelar Li lo sat. Katakan padanya bahwa aku Ho Tiong Jong sudah bersuami isteri dengan seorang gadis yang dipenujunya. Kini sudah membuang semua ilmu silatnya dan hidup dengan isterinya disebuah desa yang sepi sebagai petani..."
Kembali Ho Tiong Jong berhenti sejenak sampai disini, ia membayangkan wajahnya Ie Ya yang cantik menarik. iblis cantik yang sangat ditakuti kawan dan lawan, tapi terhadap dirinya ada demikian ramah dan telaten, senyumannya yang segar dan perbuatan perbuatannya yang banyak menolong pada dirinya tak dapat ia melupakan nona itu.
"Dan... pada nona yang ketiga, apa pesanmu?" tegur Sim Pek Hian-
"Dia adalah nona Kim Hong Jie, puteri nya Kim Po cu dari Kim liong po. Katakan padanya bahwa Ho Tiong Jong dalam suatu pertempuran melawan banyak orang sudah jatuh dalam jurang yang dalam, Dia telah binasa dan bangkainya dimakan binatang liar. Nona Kim tak usah mengharap akan ketemu kembali dengannya..." Ho Tiong Jong mengembang air mata setelah mengucapkan pesannya.
Pikirannya melayang pada nona cantik jelita dua sujennya yang memikat tak dapat ia lupakan, Masa lampau terbayang dimatanya, dimana Kim Hong Jie masih jadi gadis cilik, itulah pada masa ia menerima pelajaran dua belas jurus ilmu golok keramatnya si engkong nya si nona.
Ia paham, bahwa setelah dewasa, nona Kim tampaknya telah merubah cinta dalam arti adik terhadap engkonya menjadi seorang gadis terhadap pemuda impiannya. Bagaimana mesra ia bergurau dengan sinona ketika pertemuannya di sarangnya kakek Souw Kie Han. Cubitannya yang hangat, sampai saat itu ia masih rasakan Entahlah, bagaimana dengan keadaannya nona Kim sekarang ini?
Sim Pek Hian dapat mengerti dengan kesedihannya sipemuda saat itu.
Ia paham, bahwa Ho Tiong Jong tidak akan berkedip menghadapi kematian, Tapi ia mengucurkan air mata kalau mengingat tiga gadis yang mencintainya dengan besar, sebelumnya menjadi tua, Sim Pek Hian juga tentu pernah
mengalami saat-saat romantis, maka juga ketika melihat sipemuda tundukkan kepala, ia diam diam merasa terharu. Saat itu pikirannya pun melamun pada masa mudanya. Kemudian terdengar ia menghela napas beberapa kali.
"Bocah." katanya, "sebenarnya aku mau menghukum kau dengan apa yang aku katakan barusan, tapi mengingat pesanmu yang demikian dan mengharukan aku jadi tak tega untuk membuat dirimu menjadi cacad. Sekarang aku mau menanya padamu, apa maksudmu sebenarnya kau datang kemari."
"Kedatanganku sebenarnya bermaksud baik baik saja."jawab Ho Tiong Jong.
"Apa maksudmu itu?"
"Tadinya aku berniat untuk mengangkat lotiang menjadi guruku."
"Kau mau angkat aku jadi gurumu?"