Si nona dengan lincah dan gesit luar biasa telah menyerang dari kanan dan kiri laksana angin. Repot juga Ho Tiong Jong menangkisnya. ia tidak tahu entah bagaimana nona Kho bergerak. datang datang ia merasakan pipinya seperti kena ditempiling. Panas rasanya bekas tempilingan itu dipipinya.
Ho Tiong Jong sangat mendongkol, ia mengawasi pada si nona yang saat itu sedang mengawasi padanya juga, matanya melotot dan mulutnya bergerak-gerak seperti juga yang hendak meludahi mukanya.
Sialan betul kalau musti kena diludahi nona Kho pikirnya si pemuda.
Dalam jengkelnya Ho Tiong Jong telah mengeluarkan ilmunya Tok liong cianghoat, ilmu pukulan telapak tangan naga berbisa, warisannya Tok-kay Kang clong. Dengan ilmu serangan ini, kembali si nona kedesak ia sangat repot, terpaksa ia mainkan pula ilmu nya cuan lay cian goan (dalam lingkaran langit bumi), Tangannya membuat lingkaran menangkis serangannya si pemuda yang bertubi-tubi.
Hebat serangan pemuda itu, karena angin pukulannya saja yang menderu- deru cukup membuat lawannya merasa jerih. Dalam tempo pendek si Nona sudah mandi keringat melayani lawannya yang gesit.
"GihU, kau jangan pergi jauh-jauh. Diam di sini dan lekas kasih petunjuk pada Siu jie untuk menggebuk budak liar ini, oh... gihu..."
Si nona saat itu sudah meramkan matanya, karena satu serangan ganas segera menghajar tubuhnya, itulah Ho Tiong Jong kejengkelannya mau turun tangan sedikit berat terhadap si Nona yang bandel.
Tiba-tiba satu bayangan berkelebat dan pukulanya Ho Tiong Jong menghajar pada bayangan tadi yang menalangi tubuhnya Nona Kho, kiranya bayangan itu Sim Pek Hian sendiri yang cepat turun tangan melihat anak angkatnya dalam bahaya.
sim Pek Hian yang menyaksikan jalannya pertandingan diam-diam telah memuji kepandaiannya Ho Tiong Jong. ia memang sudah menduga, menghadapi kepandaiannya sipemuda sang anak angkat bukan tandingannya. Ketika mendengar keluhannya Kho Siu, hatinya diam diam sangat geli.
ia paham, bahwa anak angkatnya itu ke-pincuk hatinya oleh pemuda cakap itu. Kalau tokh ia masih mau menempur Ho Tiong Jong karena sifatnya yang angkuh dan tidak mau mengalah, ia penasaran dikalahkan oleh si pemuda.
Ketika sinona datang padanya mengadu halnya Ho Tiong Jong yang mempermainkan dirinya dalam suatu pertempuran dan minta sang ayah angkat untuk membalaskan penasarannya, Sim Pek Hian sudah mengerti akan isi hatinya Kho Siu.
Sebab ketika ia mengatakan bahwa ia akan memusnahkan ilmu silat sipemuda yang sudah lancang masuk ketempatnya dan menghina anak angkatnya Kho Siu berubah wajahnya dan memohon supaya sang ayah angkatjangan turun tangan berat. Cukup dengan sedikit hajaran enteng saja.
Waktu itu Sim Pek Hian belum melihat yang mana satu pemuda yang menghina Kho Siu, tapi hatinya sudah dapat menduga tentu ada satu pemuda cakap dan tinggi ilmu silat-nya, Sebab Kho Siu bukannya gadis biasa, ilmu silatnya tinggi atas didikannya sendiri, kalau tokh sampai kena dipermainkan tandanya pemuda yang menjadi lawannya tentu lihay.
Balik menceritakan Ho Tiong Jong, ketika merasakan pukulannya menghajar tubuh orang hatinya sangat terkejut, ia menyesal dan pikirnya si nona tentu tidak tahan akan pukulannya yang berat, tapi tidak dinyana pukulannya itu tertolak balik hingga ia mundur sampai tiga tindak.
Ketika ia mengawasi, kiranya yang menjadi sasaran pukulannya tadi bukannya si jelita melainkan Sim Pok Hian yang saat itu tampak berseri-seri kepadanya.
"Bocah kau terlalu kejam. Masa melayani satu wanita saja mau turun tangan begitu berat? Tidak pantas bukan?"
Ho Tiong Jong tundukan kepala, ia merasa bersalah maka ia mengucapkan rasa menyesalnya pada nona Kho dan minta maaf. Tapi Kho Siu hanya deliki matanya dan tidak mengatakan apa apa.
"Siujie " kata orang tua itu pada anak angkatnya "kau barusan tentu kaget, bukan? Nah, sekarang giliranku akan membalaskan sakit hatimu menghajar dia."
"Jangan, jangan-" menyelak sigadis, "Jangan gihu yang mengajarnya, harus dengan tanganku sendiri barulah aku merasa puas ow, coba lihat, dia seperti yang hendak melarikan diri."
Sim Pik Hian kewalahan dengan anak angkatnya yang manja.
Ia melihat Ho Tiong Jong tidak bergerak dari berdirinya, bagaimana anak angkatnya mengatakan ia hendak melarikan diri? Ho Tiong Jong berdiri alisnya, lalu tertawa dingin.
"Aku Ho Tiong Jong," katanya sambil tepuk-tepuk dada, "meski kepandaiannya rendah, tak nanti gentar menghadapi musuh yang mana pun juga,janganlah kalian memandang begitu hina, aku tidak akan lari." Sim Pek Hian tertawa bergelak gelak.
"Bocah sombong." katanya, "Kau telah permainkan anak angkatku, tentu juga kau bukannya orang baik-baik. Nah, keluarkanlah senjatamu." Ho Tiong Jong tertawa dingin.
"Kau juga harus keluarkan senjatamu." jawabnya, "Aku tak perduli pandanganmu terhadapku bagaimana, tapi aku akan memegang kesopanan, tidak berani aku menggunakan senjata menempur orang tua yang bertangan kosong."
Sim Pek Hian geleng-gelengkan kepala, "Bocah, kau jangan mimpi dengan tangan kosong melawanku kau dapat menang."
"Aku tidak perduli."
Berbareng saat itu si pemuda telah menerjang pada Sim Pek Hian-
Sim Pek Hian tidak bergerak dari berdiri-nya. Ketika tangannya sipemuda membentur tubuhnya, Ho Tiong Jong rasakan ia seperti memukul gundukan kapas, ia mengerti bahwa orang tua itu Iwekangnya sudah sampai pada taraf yang tertinggi. Tidak boleh sembarangan ia menempurnya.
Ia lalu menyerang pula. Tapi benar-benar Sim Pek Hian ada seorang tua yang matang dalam hal ilmu silat, karena sekali berkelebat satu pukulan sipemuda lelah jatuh ditempat kosong, orangnya sudah ada dibelakangnya sipemuda. Ho Tiong Jong diam-diam merasa kagum akan kegesitannya Sim Pek Hian.
Tapi ia ada satu pemuda bandei dan pantang mundur. Meskipun tahu lawan ada lebih tinggi kepandaiannya ia tidak menjadi jerih, malah sambil tertawa tawar ia berkata, "orang tua jagalah beberapa pukulan aku si orang muda "
Berbareng ia telah mengeluarkan ilmunya Kim cie Gin ciang satu, jari emas telapakan perak. ia gunakan gaya Thian lie Sa-hoa (Bidadari menyebarkan bunga), sepasang tangannya dikerjakan cepat sekali, menotok dan membabat lihay sekali.
Ternyata ilmu serangan Kim-gi Gin Ciang yang dia pelajari dari sahabat karibnya, Kho Kie siorang gaib yang bisa menembusi tanah, telah ia yakinkan betul-betul dan sekarang ilmu itu dimainkan olehnya bukan main lihay nya, mungkin Kho Kie yang mengajarnya juga tidak sampai demikian lihay nya.
Sim Pek Hian melayani dengan tenang akan tetapi hatinya diam-diam sangat kaget menyaksikan kepandaian pemuda lawannya itu. serangannya sangat cepat dan berbahaya, sedang penjagaannya jaga rapat sekali.
Mengetahui musuh ada sangat tinggi ilmu silatnya, maka Ho Tiong Jong sangat hati-hati melayaninya, ia hanya berani menyerang dengan tenaga lima bagian, ia kuatir serangannya akan gagal dan tenaganya digunakan oleh Sim Pek Hian untuk memukul baik dirinya, oleh karena pasti ia akan mendapat luka parah didalam tubuhnya.
Dugaan Ho Tiong Jong tidak salah. Beberapa kali Sim Pek Hian kasihkan dirinya ditotok dan dipukul, tapi totokan dan
pukulan itu menyentuh tubuhnya si jago tua seperti juga membentur benda yang empuk lunak.
Hal mana membuat Ho Tiong Jong diam-diam merasa gelisah juga melayaninya. Pelahan-lahan ia merasa dirinya seperti dipermainkan oleh jago tua itu. Maka Ho Tiong Jong lalu membentak.
"orang tua, kau benar lihay, Aku Ho Tiong Jong tidak kecewa Kalau musti jatuh dengannya seorang pendekar ulung seperti kau ini. Namaku akan menjadi harum dalam dunia persilatan Ha ha, ha."
"Bocah kau jagalah serangku" balas membentak Sim Pek Hian, Ho Tiong Jong tidak gentar, ia sangat andaikan ilmu golok keramatnya yang delapan belas jurus itu. Saat mana ia tidak menggunakan senjata golok, hanya telapakan tangan saja digunakan sebagai senjata tajam, membabat dan membacok hebat sekali.
Melihat gerakan sipemuda yang demikian itu, Sim Pek Hian kenali itulah ada ilmu golok simpanan dari Siauw-lim sie. Pada suatu saat, setelah berkelit dari serangannya Ho Tiong Jong, ia lompat menjurus satu tumbak kemudian berkata pada kawannya.
"Wah, benar-benar kau lihay, ilmu yang kau mainkan itu ada ilmu golok delapan belas jurus dari Siauw lim-sie. maka sekarang coba hunus golokmu supaya aku dapat melayani dengan lebih bersemangat lagi. Aku mau tahu, apakah kepandaianku dapat menandingi ilmu golok yang sangat lihay itu?"
Sim Pek Hian berkata dengan alis berdiri dan kumis serta jenggotnya juga kelihatan pada berdiri inilah menandakan, bahwa orang tua itu sedang marah. Dalam keadaan demikian, wajahnya orang tua itu menyeramkan dan bengis sekali, Hal mana membuat nona Kho yang menyaksikan menjadi sangat
kuatir cepat-cepat ia berkata. "Gihu, harap kau jangan marah begitu rupa, nanti kesehatanmu terganggu..."
"Siujie, kau berdiri jauhan" jawab sang ayah angkat, "Kau tidak tahu maksudku sekarang ini. Seperti aku pernah ceritakan padamu, pada dewasa ini yang tahan bertempur dengan aku dalam tiga jurus tanya ada tujuh orang saja yalah dua jurus aku berikan kesempatan lawan menyerang. Satu jurus lagi giliranku menyerang, Kalau bocah ini bisa tahan seranganku sejurus itu, dia akan terhitung orang yang kedelapan yang tahan bertempur denganku dalam tiga gebrakan."
Ho Tiong Jong mendengar perkataanya Sim Pek Hian, pikirnya orang tua ini sombong amat, maka saat itu tanpa menawar lagi ia sudah menghunus goloknya Lam tian to golok pusakanya keluarga Seng.
"orang tua kau jangan begitu takabur," kata Ho Tiong Jong, siap dengan golok ditangan-
Sim Pek Hian tertawa tergelak-gelak sambil mengurut-urutjengotnya.
"Bocah, nyalimu benar besar, Baiklah, sebentar akan jajal kepandaianmu tapi harap kau jangan sungkan-sungkan turun tangan. kau menyerang saja menurut suka hatimu, kau mengerti ?"
Ho Tiong Jong sangat mendongkol hatinya. "Nah, mulailah menyerang" kata Sim Pek Kian-
Ho Tiong Jong tidak sungkan-sungkan lagi, lantas menyerang dengan satu tipu serangan yang hebat sekali, ia mengarah pada orang punya jalan darah mati, tapi sebelum goloknya dapat mengenai sasarannya tiba tiba ia merasakan telapakan tangan dan jarinya seperti yang terkena strom listrik.
Bukan main kagetnya si pemuda, Itulah tenaga dalamnya yang disalurkan kegolok sudah kena dipunahkan oleh serangan yang tidak kelihatan dari Sim Pek Hian, yang menggunakan salah satu tipu serangan dari buku "Kumpulan ilmu silat sejati."
Ho Tiong Jong sekali digetarkan telapakan danjari tangannya, hampir saja golok yang dicekalnya jatuh ditanah juga ia tidak tahan berdiri tegak. ia terdorong mundur oleh tenaga tidak kelihatan hingga lima tindak jauhnya. Matanya Ho Tiong Jong terbelalak, keheranan-
"Ha ha ha,.. . Tiong Jong, meskipun kau mahir ilmu silat, terhadap aku tak bisa berbuat apa apa." kata Sim Pek Hian bangga. Ho Tiong Jong tertawa dingin.
"Atu tidak menduga ditempat ini ada seorang jago ulung dalam kalangan Kang ouw yang mengasingkan diri, Bicara terus terang, meskipun kepandaianku tak tinggi, ilmu golok keramatku hanya dapat dilawan oleh ilmu dari kitab "Kumpulan ilmu silat sejatii."
"Hai, kau...?" memotong Sim Pek Hian terkejut. orang tua itu kaget karena Ho Tiong Jong menyebut nama kitab pusakanya
"Hm...." ia menggerang, "karena kau sudah dapat tahu asalnya ilmuku ini, hari ini jangan harap kau bisa keluar dari kebun sayurku, Meskipun kau tumbuh sayap. jangan harap kau bisa kabur, bocah "
Ho Tiong Jong terkejut dan dia merasa heran, cepat ia menanya.
"Apa memangnya in Kie Lojin yang dahulu namanya terkenal dalam kalangan Kang ouw mempunyai hal yang rahasia dan tak dapat diumumkan? Kau yang menjadi akhli-warisnya dan memiliki benda pusaka terpaksa mengasingkan diri dan bersembunyi di tempat ini untuk menjaganya bukan?"
Sim Pek Hian dibuat melengak oleh kata-katanya Ho Tiong Jong.
"Darimana bocah ini mendapat tahu nama suhunya, Dari mana dia dapat tahu tentang Kitab "Kumpulan ilmu silat sejati" ? Demikian Sim Pek Hian menanya-nanya pada dirinya sendiri. Matanya mengawasi tajam sekali pada pemuda didepannya.
Ho Tiong Jong tak jerih, ia lawan ketawa, sorot mata yang memandang tajam kearahnya itu.
"Bocah," kata Sim Pek Hian, "aku tak perdulikan nama kosong dan harta dunia, makanya aku menyepi di tempat ini. Karena kau sudah mengetahui hal riwayatku, maka tak dapat keluar lagi kau dari kebun sayur ini."
Perkataannya ditutup dengan sambaran tangannya kearah tangan yang menyekal golok, hingga hampir saja Ho Tiong Jong goloknya terampas, ia cepat menarik tangannya dan menangkis dengan tangan Tay kang Beng-beng (Sungai besar tak terbatas), suatu ilmu serangan yang dapat dipakai menyerang dan menangkis. Sim Pek Hian tertawa tergelak-gelak.
"Bocah, apakah kau tidak punya ilmu lagi selainnya ilmu golok keramatmu itu?"
"Ya aku hanya mempunyai ilnu silat itu. Tapi, tak mudah kau menjatuhkan aku."
"Apa benar?"
"Boleh coba saja."
"Baik, lihat aku akan menjatuhkan kau..."