Ia coba lompat melesat kesana sini tapi tidak juga menemui jalan keluar, ia sangat heran- Ketika diteliti pintu kebun sekarang kelihatan seperti sudah dipindahkan kelain tempat,yalah kesebelah belakang bagian kanan, ia terus mencari jalanan keluar, tapi ia terputar putar dan merasakan jalan sudah sangat jauh, tapi herannya itu kuburan kalau ia menengok kebelakang masih tetap saja berada tidak jauh dari padanya.
Keadaan disitu makin lama makin membingungkan. Meskipun ia menggunakan ilmunya meng entengi tubuhnya yang sudah mahir, tidak menolong juga untuk mencari jalan keluar dari situ, ia sudah coba jalan sejauhnya bisa, tapi penghabisannya sampai disitu-situ juga.
Tempat itu rupanya merupakan satu tin (barisan) yang membingungkan yang memang dengan sengaja dibuat oleh si kakek Sim Pek Hian untuk melindungi kitab pusakanya.
orang yang masuk kedalam kebun sayur itu tidak gampang-gampang bisa keluar, kecuali dengan pertolongannya si kakek atau orangnya yang mengantarkan ia keluar. Ho Tiong Jong diam-diam mengakui kebenarannya perkataan si gadis.
Tadinya ia memandang rendah, kebun sayur yang demikian mana bisa menahan dirinya tapi kenyataanya sekarang ada demikian maka ia jadi teringat pada si cantik yang mengucapkan kata-katanya paling belakang suruh ia menjaga diri.
Apakah ia akan menolong dirinya? Kalan sampai begitu kembali ia akan berhutang budi kepada seorang perempuan, ia berhutang budi kepada Seng Giok Cin. Ie Ya dan Kim Hong Jie, kini ia akan berhutang budi lagi kepada si cantik dari
Kebun Sayur rupanya, memikir kesini diam diam ia jadi menghela napas.
Setetah ia termenung-menung sebentaran, lalu memalingkan kepalanya memandang ke-tempat yang ada kuburannya yang dikitari oleh pohon-pohon tho. pikirnya sudah lupa akan peringatannya nona Kho, maka dengan pelahan-lahan ia datang menghampiri dan melihat lihat keadaan kuburan itu.
Tiba-tiba matanya melihat pada papan yang ada tulisannya. KUBURAN KERAMAT SIAPA YANG MENGINTAI RAHASIANYA AKAN BINASA.
Ho Tiong Jong seram juga membacanya, Lain papan yang terdapat disitu ada bertulisan. PINTU KELUAR DI DEKAT MATA.
Kini hatinya girang, karena mendapat pengunjukan itu untuk keluar dari kebun sayur itu, ia tidak mengganggu kuburan keramat itu, dengan sangat hormat ia meninggalkan tempat itu. ia kembali berjalan terputar-putar hasilnya terupa saja ia disitu-situ juga. Kali ini ia menemui sebuah batu nisan yang bertulisan.
XXXVI KUBURAN RAHASIA LANGIT DAN BUMI.
Hatinya heran, ia ingin menyelidiki lebih mendalam kuburan itu, maka ia lantas lompat ke atas kuburan-
Tiba-tiba ia dibikin kaget dengan berkelebatnya bayangan orang diantara pohon pohon tho, sebentar kemudian keluar dari balik salah satu pohon seorang tua berpengawakan tinggi besar dan kekar sekali hanya sayang agaknya dia itu bongkok. Matanya bersinar, menandakan bahwa tenaga dalamnya sangat tinggi.
Ho Tiong Jong cepat lompat turun lagi dari atas kuburan dan menyambut kedatangan orang itu seraya menjura dalam-
dalam, "cianpwee, harap suka maafkan perbuatanku yang tidak becus. Apakah cianpwee ini ada Sim Pek Hian Locianpwee ?" orang tua itu kerutkan alisnya yang putih.
"Bocah, aku tidak menyalahkan kau, hanya aku ingin menanya kenapa kau telah menghina anak pungutku?" tanya orang tua itu.
Ho Tiong Jong kaget, ia terus menduga bahwa yang dikatakan anak pungutnya itu tentu ada sinona cantik yang bertempur dengannya.
"Siapa namamu?" tanya si kakek, sebelum Ho Tiong Jong sempat membuka suara.
"ow..... aku bernama Ho Tiong Jong." jawabnya "Tapi cianpwe aku tidak merasa sudah menghina kau punya anak pungut. Karena salah paham kita jadi bertengkar, mana berani aku menghina orang perempuan ? Bolehkah aku meniapat tahu nama cianpwe yang terhormat?" orang tua itu mengurut- urut jenggotnya.
"seperti yang kau katakan semula, itulah ada namaku." jawabnya. Ho Tiong Jong terkejut. cepat-cepat ia menjura lagi dengan hormatnya dan berkata.
"Aku Ho Tiong Jong sudah berlaku tidak hormat didepan cianpwee, harap cianpwee tidak menjadi kecil hati dan suka memaafkannya." Sim Pek Hian tertawa tergelak- g elak.
"Bocah, kau pintar sekali membawa diri, Aku Sim Pek Hian sudah tinggal disini mengasingkan diri sepuluh tahun tidak lagi menyampuri urusan Kang-ouw, tentu saja tidak mengenal siapa aku. Kau rupanya dalam kalangan Kang-ouw ada sedikit nama juga, makanya kau pandang rendah semua orang." Kini dia berkata telah memanggil nona Kho.
"Siujie, ayo lekas keluar, Dan keluarkan lagi beberapa ilmu mu untuk dipertonton-kan didepan bocah jumawa ini."
Ho Tiong Jong bingung menghadapi sikapnya Sim Pek Hian, tapi ia tidak takut, ia sebenarnya ingin membantah kata-katanya si orang tua, tapi sebelum ia buka mulut sudah didahului oleh nona Kho yang merdu menyahuti panggilannya Sim Pek Hian kemudian dirinyapun segera muncul dari balik pohon-
Ia menghampiri si orang tua dan dengan lagak kolokan ia berkata.
"Gihu, kau panggil aku bertempur dengan dia, mana aku bisa menang."
"Anak tolol. Aku suruh kau maju, tentu saja tidak mengijinkan kau menjadi kerugian-"
"Habis, memberi pelajaran ilmu silat begitu-begitu juga mana aku dapat mengalahkan dirinya?"
"Bocah tolol, jangan banyak rewel, Lekas maju tempur padanya."
"GihU, sebaiknya kau ajari dahulu aku, bagaimana aku dapat memukuli dia. Kemudian kita bekuk padanya dan memunahkan ilmu silatnya, supaya dia jangan bikin susah orang lagi."
Sim Pek Hianpelototkan matanya, Ho Tiong Jong sementara itu tinggal membisu saja, ia ingin menonjolkan keberaniannya, hanya menantikan saja apa yang anak dan ayah angkat (gihu) itu akan bertindak atas dirinya yang tidak bersalah itu.
Melihat kelakuan Ho Tiong Jong yang demikian sopan santun dan tidak ceriwis, Sim Pek Hian mendapat anggapan lain atas pengaduan anak pungutnya.
"Sin-jle, apakah benar anak muda ini jahat?"
"oh, gihu pasti dia seorang jahat, kalau tidak mana ia berani..."
Si gadis tak dapat melampiaskan kata katanya Karena ia merasa jengah, karena ia teringat belum lama ia kena dipermainkan si anak muda ditowel kuping, bahu dan lengannya sehingga ia merasa gemas sekali.
"cianpwee." kata sipemuda, ketika melihat si gadis seperti yang merasa jengah untuk menjelaskan bicaranya, "Kalau aku bersalah, aku minta maaf, sebab aku bukan sengaja. juga, kalau kau mendengar pengaduan jangan sepihak saja, harus didengar keterangan dari kedua pihak, baru adil." Sim Pek Hian melototkan matanya.
"Masa iya Siujie mendustai aku? Dia masih menganjurkan supaya aku memusnahkan ilmu silatmu, bukankah dia sangat benci kepadamu?"
Setelah berkata demikian, orang tua itu lalu berpaling pada anak angkatnya.
"Hai, Sin-jie hayo maju dan tempiling mukanya..."
Nona Kho kali ini tak main tawar tawar lagi, ia lantas berteriak.
"Bocah liar, kali ini pasti aku dapat menempiling mukamu, baru hatiku merasa puas" ia berkata sambil menyerang pada Ho Tiong Jong.
Ho Tiong Jong tak tinggal diam, sebab ia lantas berkelit, hingga tangan si nona yang kecil mungil tak dapat menemui sasarannya.
Sim Pek Hian melihat itu terus berteriak "Hei siujie, kenapa kau tidak memukulnya? Hayo, lekas maju lagi danpukul mukanya."
"Ah, gihu, aku tak dapat melakukannya, dia sudah menghindarkan diri jauh-jauh." Sim Pek Hian tertawa bergelak- gelak melihat kelakuan sang anak angkat.
"Siujie, kau jangan kasih dia menghindarkan diri." kata sang ayah angkat, "kau harus menyerang dia dari kiri kanan dengan tepat, Apa kau sudah lupa dengaa gerakan co cu Hun hoa (membelah bunga kanan dan kiri) ? Dengan gerakanmu ini pasti kau berhasil menggaplok mukanya.,., Ha ha ha...."
"Ah, aku tidak tega meludahi mukanya." jawab Kho Siu (Nona Kho) Sim Pek Hian kembali tertawa ngakak.
Gaya pukulan co yu Hun hoa itu harus dilakukan dengan cepat, mencecar musuh dari kiri kanan, hingga membuat musuh gelabakan dan akhirnya mukanya kena ke pukul, terus mukanya diludahi.
Sebenarnya Kho Siu sungkan mengeluarkan ilmu pukulan itu, karena tidak meludahi mukanya Ho Tiong Jong yang tampan, tapi karena ia sangat penasaran tidak bisa menjatuhkan pemuda gagah itu, maka apa boleh buat ia jalankan juga.
"Bocah liar" bentaknya pula, "Lihat nonamu akan bikin mukamu menjadi bengkak " berbareng ia menyerang dengan gesit sekali. Benar saja, gerakan co yu Hun hoa ada hebat sekali.