Nona Kho mengawasi si pemuda, tanpa berkata-kata untuk sesaat lamanya.
Ho Tiong Jong menduga sinona sudah dapat dibikin mengerti dan menyesal akan bicaranya yang sembarangan itu maka melihat si nona diam saja ia tidak berkata-kata lagi, hanya menantikan apa jawabannya sinona nanti.
"Aaaa. . . kata-katamu boleh juga." kata nona Kho. "Untuk mendapat maaf dari aku mudah saja, aku minta kau berdiri tegak dan aku akan tempiling pipimu, barulah aku merasa puas dan memaafkan padamu, Kau tidak boleh membalas atau menyerang aku karena kalau berbuat demikian kau bisa celaka. Nah, jagalah sekarang aku menyerang"
Ho Tiong Jong mendongkol, ia tak mau diperhina orang perempuan maka ia sudah bersiap ketika sinona menyerang. Nona Kho ternyata telah melancarkan serangan dengan tangan kanannya hanya berpura-pura saja, sebab yang sebenarnya memukul ada tangan kiri mengarah mukanya. Bukan main si pemuda kagetnya, karena serangan yang dilakukan si nona ada demikian cepat dan tak diduga-duga hingga ia kena diakali.
Selebar mukanya menjadi merah karena menahan marah. Ketika tangannya si nona hampir memukul mukanya, ia lantas mendongakkan kepalanya, berbareng tangannya bekerja mengirim serangan, hingga nona Kho sempoyongan terdorong oleh dahsyatnya angin pukulan Ho Tiong Jong.
Nona Kho kaget dan ia tak berani menyerang lagi.
"Ha ha ha.,." terdengar Ho Tiong Jong ketawa, "Terima kasih atas seranganmu dan sekarang terimalah pembalasan seranganku."
Sambil berkata Ho Tiong Jong menyerang dengan ilmu serangan berantai, sehingga nona Kho menjadi kelab akan menangkis.
Tapi dengan pelahan-lahan nona Kho dapat melayani si pemuda dengan ilmunya yang sukar diterobosi serangan musuh, tangannya diputar membuat suatu lingkaran-
Ilmu lingkaran tangan itu mengandung angin keras, hingga Ho Tiong Jong bingung juga bagaimana caranya memecahkan ilmu itu. ia lantas menggunakan beberapa tipu pukulan dari Tok liong ciang-hoat untuk melayaninya.
Sayang tipu-tipu istimewa dari Tok- liong ciang-hoat warisan Tok-kay itu tak dapat menembusi pertahanan si nona, yang dengan gigihnya menangkis dan terkadang ia melancarkan serangan istimewa yang membuat Ho Tiong Jong bingung juga menghindarinya.
Pada suatu saat tiba-tiba Ho Tiong Jong lompat keluar dari kalangan berkelahi,
seolah-olah hendak menyudahi pertempuran yang belum ada keputusannya itu.
Terdengar nona Kho tertawa dingin. "ow kiranya kau belajar lompat juga? Sejak tadi aku tak bergerak..." sambil berkata ia melangkah mundur dan berdiri diatas galangan kebun sayur
"orang liar, kau berani bertempur disini, mari kesini. Kita bertanding di sini siapa yang melangkah keluar dari galangan dia dinyatakan kalah, bagaimana akur?"
Ho Tiong Jong tidak menjawab. Hatinya panas, seketika itu ia melesat dan dilain saat ia sudah berdiri didepan nona Kho.
Si nona menyambut kedatangannya si pemuda, setelahnya berdiri tegak dengan jurus serangan kedua oleh tangan kanan dan ke-arah muka dengan serangan tangan kiri.
Meski agak gugup, ternyata serangan-serangan itu dapat dihindarkan oleh Ho Tiong Jong.
Kemudian ia membuka serangan membalas, pertandingan diatas galangan kebun sayur ternyata sangat menarik hati, mereka kelihatan bertempur dengan sungguh-sungguh dan masing-masing pada keluarkan ilmu simpanannya.
Malah kali ini Ho Tiong Jong dibuat heran, sebab kalau tadi di jalanan ia menempur si gadis dengan mudah dapat mempermainkannya, menowel kuping, menyentuhnya bahunya dan lengannya, kini ternyata si gadis sangat gesit dan ia merasa kewalahan untuk meladeninya, ia kagum dengan kepandaiannya si nona yang sempurna.
Pikirnya, "mungkin si nona tadi sudah mendapat pengunjukan dari si orang tua yang tak mau menemui tamunya, makanya nona Kho kali ini sangat lihay."
Dengan muridnya saja rasanya sudah kewalahan bertempur, bagaimana nanti kalau melayani gurunya nona Kho? Pikiran ini mengaduk dalam otaknya Ho Tiong Jong.
Sebaliknya nona Kho juga berpikir, kalau semua serangannya selalu luput, bagaimana nanti kesudahannya.
Ho Tiong Jong perhebat serangan-serangannya, ia menyecar dari segala jurusan, akan tetapi si nona tetap dengan pembelaannya lingkaran tangan-
Lama-lama karena hatinya gentar juga rasanya badan sudah mulai letih, maka sinona sambil bertanding terus mundur saja, Akhirnya ia kabur dan menghilang diantara pepohonan- Kelakuan mana membuat Ho Tiong Jong tertegun, ia tidak mengira bahwa sinona akan meninggalkan ia demikian saja.
Apakah sinona sudah tidak tahan oleh serangannya? Tidak, nona Kho masih tahan kalau ia mau terus bertempur. Tapi kenapa dia sudah melarikan diri? Rupa-rupa pikiran mengaduk otaknya Ho Tiong Jong.
Ia ingin sekali dapat menemui sim Pek-Hian gurunya sinona tentu Pikir ia sudah sampai disitu, karena kalau tidak sampai menemui orang pandai itu sayang sekali.
Selagi ia melamun sambil saban-saban mengawasi angkasa yang luas, tiba-tiba ia mendengar suara nona Kho yang merdu, ia cepat menoleh, ternyata si gadis sedang berdiri disampingnya salah satu pohon. Kini ia berdandan rapih, rupanya barusan ia habis tukaran, kelihatannya sangat elok hingga Ho Tiong Jong berdiri menjublek menyaksikan keelokan wanita yang seperti bidadari itu.
"Hei, kau jangan bengong mengawasi saja, dengarlah aku bicara" menegur sinona,
sambil menekap mulutnya yang mungil menahan gelinya.
Ho Tiong Jong seperti tersadar dari lamunannya.
cepat-cepat in berdiri tegak dan balas tersenyum, kemudian berkata.
"Nona, ada pesan apa untukku?"
"Kau pasang kuping baik-baik dan dengarlah aku bicara." nona Kho berkata lagi dengan suara sungguh-sungguh.
"Baik nona, aku sudah siap" jawab Ho Tiong Jong, sambil berdiri tegak menghadap si nona. Lagaknya lucu sekali, hingga
mau tidak mau nona Kho yang tadi sudah mulai serius bicaranya sudah ketawa dibuatnya.
"orang edan, jangan main sandiwara didepan nonamu. Aku akan bicara sungguh-sungguh, kau harus mendengarnya supaya dirimu tidak sampai binasa."
"celaka tiga belas kenapa aku harus binasa?"
"Kau dengar dahulu bicaraku, nanti tahu apa sebabnya."
Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya, "Nah, lihat disana ada kuburan keramat," kata si nona lagi, sambil menunjuk pada tanah yang muncul yang merupakan kuburan-
"Sekali-kali kau tak boleh coba-coba mendekatinya. Kalau melanggar ini. akibatnya jiwamu akan melayang, ini ada pesan yang pertama, kau mengerti ?"
XXXV. ILMU LINGKARAN BUMI LANGIT.
HO Tiong Jong anggukkan kepalanya. "Dan yang kedua, peringatan apakah itu?" tanyanya.
"Yang kedua kau harus perhatikan- Tempat ini ada tempat keramat, kalau sebentar kau mau keluar dari kebun sayur itu tak mempunyai daya, janganlah kau berlaku tolol dengan membabi buta tabrak sana dan tabrak sini merusak kebunan.
Kau harus bersumpahyalah setelah kau keluar dari tempat ini kau tak boleh mengatakan pada orang lain tentang pengalamanmu disini, barulah aku akan melepaskan padamu."
Ho Tiong Jong geli dalam hatinya.
Pikirnya, "kebun yang tidak seberapa luas itu, mana dapat menahan dirinya dan ia bisa linglung untuk keluarnya. Tak bisa jadi.
Ah, ini nona rupanya mau menggertak ia saja supaya ketakutan-"
"Dan yang ketiga?"
"Terserah pada pikiranmu, mau mentaati peringatanmu atau tidak. sebab yang bakal mengalami kebinasaan bukannya aku."
"Dan yang keempat?"
"Kau, kau... harus bisa jaga diri."
Ho Tiong Jong melengak mendengar kata-katanya si gadis paling belakang.
Dalam kata-katanya itu seperti mengandung kasih sayang yang mesra. Entahlah, apa gadis cantik jelita itu juga jatuh hati padanya? Ah. sungguh runyam sekali kalau ia mesti dicintai oleh satu gadis lagi, Tapi gadis Seng Giok Cin, Kim Hong Jie, Ie Ya dan tak terhitung ceng ie, sudah membuat ia mabuk untuk memilihnya, semuanya ada cantik-cantik, masing-masing membawa gaya dan tingkah laku yang khusus untuk membuat lelaki terpikat. Hebat ia tidak berani memikirkan pula si nona dari kebun sayur itu.
Ketika pikirannya tersadar dari tertegunnya, ia lantas memandang kearah sigadis berdiri, akan tetapi ternyata nona Kho sudah menghilang, entah sedari kapan ia sudah meninggalkan tempat itu.
Ia celingukan mencarinya, akan tetapi tidak kelihatan gadis cantik itu.
Pikirnya, "si nona mengatakan bahwa tempat kuburan itu keramat, mungkin ia tidak berdusta, ingin ia menemui Sim Pok Hian yang berkepandaiannya sangat tinggi, jikalau ia harus mati rasanya rela, peringatan si nona harus ditaati, karena perkataannya itu bukan perkatan mustahil akan menimbulkan kematian atas dirinya, kalau ia melanggar peringatan itu. .
Dengan pelahan-lahan ia meninggalkan tempat itu, pikirannya terus melayang layang ingin menemui sim Pek Hian- Ketika ia sampai pada pintu kebun. lantas ia menerobos
keluar, tapi alangkah kagetnya ketika mengetahui bahwa sesuatu yang bermula ia apal betul kini tampaknya sudah berubah dan ia tak tahu harus jalan kemana buat bisa keluar dari tempat itu.