Golok Sakti Chapter 108

NIC

"Nona harap kaujangan salah paham. Aku memberikan bungkusan ini dengan setulus hati. Sebab orang yang kucari tidak ketemu, aku pikir dari pada aku bawa kembali bungkusan ini lebih baik diberikan pada adik kecil ini."

"Kie Hok. hayo masuk kedalam " memerintah sang enci, sinona ternyata tidak menghiraukan Ho Tiong Jong.

"Nona apa kau tidak percaya atas perkataanku barusan ?"

si nona yang hendak berjalan masuk kedalam mengikuti adiknya, telah baliki badannya dan berkata, "Siapa yang berkata pada mu tidak percaya ? Kau bilang begitu sendiri, mungkin bicaramu tidak benar."

Ho Tiong Jong melongo, ia tidak menduga sama sekali si nona akan berkat demikian-Hatinya sangat tidak enak. ia tak berjaya untuk melayani nona yang ketus dingin ini, kemungkinan besar, kalau diajak bicara lebih lama akan menimbulkan salah paham lebih hebat lagi.

Ho Tiong Jong jadi serba salah. Untuk meninggalkan begitu saja, ia pikir kurang pantas, maka ia berdiri menjublek sekian lama. Tapi ia akhirnya berlalu juga dari depan rumah itu, ketika melihat sinonapun tinggal membisu saja. Tapi belum berjalan berapa langkah ia mendengar gerutuannya sinona.

"Hm.. Masih baik kau tahu diri, kalau tidak sudah kuhajar kau."

Ho Tiong Jong merandek dan balik badannya menatap wajahnya si gadis, Si nona ada dari familie Kho. Gadis remaja yang cantik jelita. entah dengan siapa ia tinggal ditempat itu. Ketika melihat dirinya diawasi, ia balas memandang pada Ho Tiong Jong.

Wajah si pemuda yang tampan menawan dan pengawakannya yang tegap dan gagah, agaknya membuat tergetar juga hatinya si gadis cantik dari kebun sayur. Selebar mukanya menjadi merah, kemudian ia tundukkan kepalanya.

Terdengar Ho Tiong Jong tertawa perlahan. ia berpendapat bahwa gadis ini hanya diluarnya galak. sedang hatinya ada lemah.

Tertawanya si pemuda justeru menimbulkan salah paham pada nona Kho. Air mukanya tampak cemberut, dengan suar galak ia menanya.

"Kau tertawakan apa ? Hm Kau tentu mentertawakan aku, ya ?"

"Aku tertawakan kau juga bukan bermaksud jelek."

"Habis apa maksudnya ?"

Ho Tiong Jong kembali tertawa.

"Kau jangan main gila dengan nonamu, ya ?"

"Waduh galaknya. Kalah harimau..."

Wajahnya nona Kho cemberut-cemberut ketawa, mendengar si pemuda berkelakar.

"Niiih... harimau " bentaknya, seraya menyerang dengan tangannya yang halus.

"Eee... kok nyerang? Apa nona mau berkelahi dengan aku?" si pemuda menggoda seraya berkelit dari serangan sinona.

Gemas hatinya nona Kho, sebab giginya sampai bercatrukan.

Ia tidak menyangka, serangannya yang hebat tadi dengan mudah saja dapat diegoskan oleh pemuda tampan didepannya itu.

Nona Kho sebenarnya tidak ingin mengumbar napsu marahnya, karena biar bagaimana juga, barusan hatinya sudah kena ketusuk panah asmaranya Ho Tiong Jong, tapi karena keterlanjur barusan ia sudah menyerang, ia harus lanjutkan tindakannya.

"Lelaki tolol.jangan banyak omong" nona Kho membentak lantas menyerang lagi pada Ho Tiong Jong dengan gerakan yang gesit sekali. Kembali serangannya menemui tempat kosong.

Ho Tiong Jong yang diserang, bukan saja dapat menghindarkan serangan, tapi seperti setan saja dengan mendadakan sudah berada disampingnya si nona.

"Hei, nona, kau benar-benar ganas..." terdengar suara berbisik, nyelusup ke telinganya nona Kho yang saat itu sedang kebingungan kehilangan lawannya.

NONA Kho kaget bukan main, ketika nampak dirinya Ho Tiong Jong berada disampingny siapa kalau mau dengan mudah saja menyamber pinggangnya yang ceking langsing, cepat melompat menjauhkan diri.

"orang liar kau berani main-main dengan nonamu? Barusan aku lihat gerak-gerikmu didepan rumahnya Sim loya, aku sudah tahu kau ini bukannya orang baik-baik."

"Nona, kau jangan berkata sembarangan."

"Kalau bukannya orang liar, kenapa kau datang mengacau disini ?"

"Aku datang juga ada maksudnya."

"Maksud apa? Hendak mencuri barang, atau sengaja hendak mempersulit orang?"

Ho Tiong Jong tidak senang dikatakan hendak mencuri barang dan mempersulit orang, karena kedatangannya kesitu adalah dengan hati yang sujud hendak menemui orang pandai. Dengan sungguh-sungguh ia berkata.

"Nona, aku hampir tidak percaya seorang nona cantik jelita seperti kau ini dapat mengeluarkan kata-kata yang tak enak bagi orang yang mendengarnya."

"Habis, kau mau apa?" tanyanya galak. Ho Tiong Jong membisu.

"Kau tidak senang dikata-katai demikian, apa urusanmu. Kau boleh membela dirimu kalau ada mempunyai kepandaian- Kini sudah berhadapan dengan nonamu, jangan harap ka dapat lolos sebelumnya mendapat tanda mata atas perbuatanmu yang lancang."

"Baiklah, aku ingin lihat kepandaianmu sampai dimana."

Nona Kho ketawa ngikik, kepalannya yang kecil diayun menyerang si pemuda, tapi lagi-lagi menemui tempat kosong, Meskipun begitu telah mengejutkan juga si pemuda yang tidak mengira sama sekali kalau nona yang demikian sederhana ada mempunyai tenaga dalam yang mahir.

Angin serangannya berkesiur mendampar seolah-olah gelombang laut. Dengan tenang Ho Tiong Jong meladeni si nona bertempur Rupanya nona Kho sangat penasaran akan serangannya yang sudah dilakukan sampai tiga kali, tapi tidak ada satu yang dapat menyentuh Ho Tiong Jong, meski hanya ujung bajunya saja, Si nona bergerak dengan lincah, menyerang dan membela diri dengan bagus sekali hingga diam-diam Ho Tiong Jong merasa sangat kagum.

Pasti si nona sudah mendapat didikan orang pandai kalau tidak, dalam usia demikian muda mana bisa ia sudah mempunyai kemahiran dalam tenaga dalam?

Mengingat bahwa dirinya datang kesitu bukannya hendak mencari musuh, mengingat juga bahwa sinona ketika pertama kali sepasang matanya kebentrok dengan sorot matanya seperti yang tertarik olehnya, maka perlawanan Ho Tiong Jong tidak dengan sungguh-sungguh, malah kasihkan dirinya dicecer dengan tidak memberikan perlawanan apa-apa. Hal mana membuat nona Kho jadi heran.

"Hei, orang liar Lekas keluarkan kepandaianmu untuk dipertontonkan didepan nonamu, Aku mau lihat apa kau ada harganya untuk menjadi lawan dari nonamu ?"

Biar bagaimana Ho Tiong Jong berdaya sebisanya menahan sabar, kini ia mendengar kata-kata si nona yang jumawa, hatinya merasa panas juga.

"Nona sombong, aku she orang she Ho tidak mempunyai kepandaian-" Jawabnya, berbareng ia merubah cara bersilatnya. Kim-ci Gin-ciang dikombinasi dengan Tok liong ciang-hoat.

Tubuhnya berkelebat gesit seka1i hingga si nona yang barusan menang diatas angin, dalam sedikit tempo saja jadi kelab akan- Sebentar-bentar ia merasa ditowel bahunya, kupingnya dan lengannya, semua itu menyatakan bahwa ilmu silatnya si nona bukan tandingannya si pemuda.

Tapi nona Kho masih terus membandel dan memberikan perlawanan dengan gigihnya.

Lama kelamaan ia kena dipermainkan Ho Tiong Jong menjadi gemas juga. Dari gemas menjadi marah dan dari marah menjadi sedih, akhirnya ia lompat dari kalangan berkelahi sambil banting-banting kaki seperti hendak menangis ia berkata.

"orang she Ho, kau jangan kira ilmumu sudah tinggi hendak menghina pada seorang wantia. Betul-betul kau orang liar ini tidak tahu malu."

"Aku bukannya hendak menghina padamu, nona. Maaf atas semua perbuatanku tadi sebab memang juga bukannya menjadi aku punya maksud untuk bertempur dengan seorang wanita."

"Tutup mulutmu " bentak si nona, "Kalau kau benar satu laki-laki, jangan kita bertempur disini, mari ikut aku kekebun sayur, disana nanti kita akan mendapat kepastian siapa yang lebih unggul kepandaiannya."

Ho Tiong Jong geleng-geleng kepala.

"Aku tidak berani bertempur lagi dengan kau?" kata pula si pemuda.

"Kenapa, apa kau takut? Hm Pengecut memang selalu merasa jerih hatinya."

Kembali Ho Tiong Jong dibikin panas hatinya oleh kata-kata si nona. "Apa kau kira aku takut padamu?" katanya lagi kemudian-

"Kalau tidak takut, kenapa jerih untuk berkelahi di kebun sayur?"

"Baik, silahkan kau jalan lebih dulu."

Si nona tanpa menjawab lagi, lantas enjot tubuhnya melesat dan sebentar saja sudah menghilang dari pemandangannya, Ketika Ho Tiong Jong sampai dikebun sayur, ia celingukan mencari si nona ternyata dia masih belum kelihaian-

Tidak lama kemudian ia lihat pintu rumah kecil yang ada ditengah-tengah kebun sayur itu sudah terbuka dan nona Kho kelihatan keluar dengan muka berseri-seri.

"Aaa.... dia tentu sudah lapor pada Sim Pek Hian untuk minta bantuan-" pikir Ho-Tiong Jong, "itu memang lebih baik, aku jadi dapat bertemu dengan orang pandai yang tak mau menemui tetamunya. Ha ha ha.." ia ketawa geli dalam hatinya. Tapi diam-diam ia memperhatikan kalau-kalau si tua ada ikut keluar dengan nona Kho.

Ternyata Sim Pek Hian tidak unjukkan batang hidungnya, malah pintu rumah telah dirapatkan lagi oleh nona Kho, kemudian ia menghampiri si pemuda yang sudah berada di lapangan kebun sayur,

Tampak air mukanya yang cantik mengunjukkan senyuman mengejek.

"orang liar, dengan kepandaianmu yang tidak seberapa rupanya kau sengaja hendak menghina kaum perempuan, sekarang kau menghinakan aku di tengah jalan, tentu perbuatanmu ini bukannya kali ini saja. Entah sudah berapa banyak nona-nona yang sudah diperhina olehmu. Nah, sekarang nonamu akan membalas dendam untuk perbuatanmu yang tidak senonoh itu."

"Nona. . ." menyelak Tiong Jong. "kau jangan sembarangan berkata. Aku bukannya itu lelaki yang kau maksudkan- Kalau

aku mau menghinamu. barusan untuk apa berlaku baik hati mengampuni kau. Aku siang-siang sudah menotok kau rubuh dan sekarang kau tak usah mengobralkan katamu yang menyakiti hati itu."

Nona Kho tak dapat menjawab, pikirnya benar juga kata-katanya si pemuda itu.

Mungkin ia bukannya orang jahat, kalau ia sudah mencaci demikian karena ia menuruti napsu gemasnya saja kepada pemuda gagah itu.

"Nona kalau aku berbuat salah, aku dengan senang hati memohon maaf dengan kau tapi kalau kau menuduh yang bukan-bukan benar-benar aku tak dapat menerima." kata Ho Tiong Jong lagi dengan roman serius.

Posting Komentar