"Bagaimana enci dapat berkata begitu?"
Li-losat Ie Ya tertawa getir, "Adik Jong, aku percaya kau sudah menyandak dirinya si kedok kuning ber..."
"Enci ie.." memotong Ho Tiong Jong.
"Aa, kau jangan mendustai encimu. Si kedok kuning itu ada hubungan erat denganmu, betul tidak tebakanku ?"
Ho Tiong Jong gaga-gugu, ia sebenarnya tidak mau menyakiti hatinya le Ya, yang ia tahu benar ada menyintai dirinya, sebab kalau ia omong terus terang bahwa si kedok kuning ada Seng Giok Cin tentu hatinya nona Ie menjadi kecewa.
Tapi, sekarang di tebak demikian oleh si iblis cantik Ho Tiong Jong jadi kebingungan bagaimana ia harus menjawabnya.
"Adik Jong." kata Ie Ya dengan suara agak tidak lancar, "aku tak perlu menyebutkan namanya si kedok kuning, karena dari sikapmu diam-diam kau sudah mengakui tepatnya tebakanku atas dirinya, Aku tidak harus menyampuri urusanmu dengan dia. hanya dalam urusan pembakaran Kong beng si bagaimana juga harus aku turut menginsafi semangatmu yang tenggelam dalam lautan asmara." Ho Tiong Jong merah selebar mukanya.
"Adik Jong." kata pula le Ya. "Tay Hong Hosiang sudah demikian baik hati terhadap dirimu. Dia telah mengorbankan tenaga dalam untukmu sehingga dia binasa dalam lautan api, ini harus kau ukir dalam otakmu benar-benar. Satu waktu kau harus cari orang yang telah bersalah, yang menyebabkan kuil Kong beng si terbakar dan menjadikan kematiannya orang terhadap siapa kau ada berhutang budi."
Ho Tiong Jong merah matanya. Butiran air mata tanpa dirasa telah menerjang keluar dari kelopak sepasang matanya.
Pemuda gagah itu melepas air matanya dengan pikiran sangat kalut.
Ia memang berhutang budi pada Tay Hong Hosiang tapi siapa mau dikata, orang yang baik terhadap dirinya itu kini sudah berada ditempat baka. Baginya, tidak jalan lain, untuk membuat rochnya ditempat baka merasa senang, adalah mencari orang yang membakar kuil Kong-beng-si untuk membalaskan sakit hatinya.
"Enci ie...." jawab Ho Tiong Jong dengan suara parau, "perkataanmu tidak salah, terima kasih atas perhatianmu. Aku ingat betul akan nasehatmu ini."
"Aku tidak perlu dengan terima kasihmu. Asal kau selalu ingat diriku, aku sudah merasa girang dan bahagia..."
Ho Tiong Jong terkejut, matanya menatap pada nona Ie yang cantik, kecantikan dalam bentuk lain dan Seng Giok Cin kekasihnya itu. nona Ie ada mempunyai kecantikan dan daya penarik lain, hingga ketika matanya kebentrok dengan sorot mata Ie Ya yang haus dengan cinta pemuda impiannya itu, membuat hatinya Ho Tiong Jong tergetar.
Tapi untung ia lekas sadar. Pikirnya dengan menimbulkan urusan asmara baru dengan si iblis cantik dirinya akan menemui kesulitan berlarut-larut, ia tak dapat melupakan gadis yang telah menempati hatinya terlebih dahulu, maka matanya yang tadi memandang dengan mesra telah berubah dan cepat-cepat ia tundukkan kepalanya.
Li-lo sat Ie Ya bersenyum getir, ia mengerti anak muda itu tak dapat ia miliki. Hatinya sudah kena direbut oleh Seng-Giok Cin.
Terdengar ia menghela napas panjang, Ho Tiong Jong rasakan hatinya pilu, ia mengerti bahwa Ie Ya seperti yang
putus asa hendak merebut hatinya yang ia sudah berikan pada Seng Giok Cin.
la tidak tahu saat itu bagaimana ia harus berbuat, untung ketolongan dengan munculnya co Kang cay yang mengundang Ho Tiong Jong dan Ie Ya datang diruangan makan, dimana sudah tersedia hidangan untuk mereka.
"Tiong Jong, hidangan sudah siap untukmu. Mari kita makan, nona Ie mari kita makan-.." demikian tuan rumah mengundang dengan ramah.
"co lopek, kau terlalu memperhatikan padaku." kata Ho Tiong Jong.
"Kau habis melakukan perjalanan dari tempat jauh, seharusnya kau lekas-lekas menangsel perutmu. Anak muda, mari kita makan .... ha ha..." co Kang cay berkata sambil menggandeng Ho Tiong Jong.
Ie Ya kesal hatinya dengan munculnya si orang tua, tapi ia pikir lagi, memang benar juga Ho Tiong Jong datang dari tempat jauh seharusnya ia menemukan hidangan terlebih dahulu, baru bercakap-cakap dengan gembira.
Maka ia dengan tidak berkata apa apa telah mengikuti dua orang itu berjalan ke ruangan makan, sesampainya disitu Ho Tiong Jong berkata.
"co lopek perutku memang sudah minta diisi, tapi badannya rasanya lengket dengan debu diperjalanan maka aku permisi mandi dahulu saja..." Pemuda itu berkata dengan Jenaka.
"Tentu, tentu . . IHei. cin Siang mari sini" ia memanggil pelayannya, yang segera menyamperi, "kau bawa Ho Siauw ya kekamar mandi. Terlebih dulu kau bawa kekamarnya yang lalu sudah ku beritahukan padamu, baru kau antar kekamar mandi, Kau baik-baik melayani Siauw ya ya "
Ho Tiong Jong ketawa nyengir, ia melirik pada ia Ya dan berkata.
"Enci le, kau turut co lopek dulu menghadapi hidangan. Tak usah menantikan aku, makan saja lebih dahulu."
Ie Ya hanya mesem, Kemudian ia mengikuti co Kang cay masuk keruangan kamar makan, disana ia bercokol menghadapi hidangan, Tapi ia tak mau makan sendirian, ia nantikan sampai Ho Tiong Jong datang supaya dapat makan bersama-sama. Lama juga Ho Tiong Jong pergi mandi sehingga si Nona kekesalan-
"nona Ie, kau makan saja lebih dahulu, jangan tunggu Tiong Jong mungkin dia lama dikamar mandi."
"Biar, biarlah aku menantikan dia."
co Kang cay tidak berkata apa-ala lagi, ia agaknya jerih kepada ini nona galak.
sebentar lagi, Ho Tiong Jong muncul juga di ambang pintu.
Ia melihat keduanya membungkam, hidangan masih belum ada yang ganggu, rupanya mereka menanti kedatangannya, Maka cepat-cepat ia masuk dan mengambil tempat duduk sambil berkata.
"co lopek. enci Ie, kenapa kalian belum makan? Mari kita makan-"
Ho Tiong Jong tanpa sungkan-sungkan lagi sudah kerjakan sumpitnya menyumpit daging ayam yang empuk lalu dimasukan kedalam mulutnya, kemudian disusul dengan nasi, ia makan dengan lahapnya. Dalam beberapa saat ia sudah menyikat tiga mangkok nasi. selama makan Ho Tiong Jong tidak banyak bicara.
Ie Ya yang menunggu-nunggu Ho Tiong Jong bercerita ternyata kecele, ia terhadang timbulkan soal sebagai bahan pembicaraan, akan tetapi Ho Tiong Jong menjawab dengan "Ya" atau anggukkan kepala saja.
Setelah mereka selesai makan, Ho Tiong Jong omong-omong sebentaran dengan co Kang cay dan ie Ya, kemudian permisi tidur siang-siang dengan alasan badannya sangat lelah.
Kembali Ie Ya merasa kecewa, ia juga kemudian telah masuk tidur, Dalam kamarnya, Ho Tiong Jong tidak dapat tidur, pikirannya bekerja, Menurut pengunjukkan co Kang cay suhengnya itu ada bertempat tinggal tidak jauh dari pintu kota sebelah timur, Mereka ada muridnya In Kay, yang di maksudkan In Kay tentu In Kie Lojin-
Dari otaknya yang cerdik, ia menduga pasti bahwa Sim Pek Hian, suhengnya co Kang cay itu bukan lain daripada akhli waris In Kie Lojin yang termasyhur ia telah menyembunyikan dirinya dalam sebuah tempat yang sunyi dengan penduduk beberapa gelintir saja, ia memperkenalkan namanya sebagai seorang she Sim.
Dengan berbuat demikian ia tidak mengalami kesulitan dari pihaknya orang-orang Perserikatan Benteng perkampungan yang mengarah kitab "Kumpulan ilmu silat sejati" yang ia sembunyikan pada suatu tempat rahasia.
Meskipun sudah berjalan berpuluhan tahun tidak kedengaran orang-orang dari Perserikatan Benteng perkampungan menyelidiki akan kitab pusaka itu, akan tetapi ia selalu waspada, ia tidak ingin kitab wasiat itu jatuh ketangan orang sembarangan yang akan membuat huru-hara dalam dunia Kang ouw. Ho Tiong Jong gulak gulik dipembaringannya.
Pikirnya, "bagaimana ia harus bertindak untuk menghadapi jago tua yang merahasiakan dirinya itu? ia harus memilih jalan sangat hati-hati, kalau tidak, niscaya maksudnya untuk minta diterima jadi muridnya si orang tua itu akan gagal."
Ho Tiong Jong merasa kepandaiannya belum sempurna, ia harus belajar lagi kepada orang pandai itu, yang memiliki kitab
pusaka jilid ke satu, yang didalamnya ada dilukiskan berbagai ilmu silat yang sangat tinggi.
cara ilmu silat berbagai cabang bagaimana dipraktekkannya ada ditulis dengan lengkap dalam kitab itu, Dalam jilid kedua, yang demikian itu tidak ada.
Hanya tertulis komentarnya saja dan sedikit petunjuk-petunjuk bagaimana orang memelihara badannya supaya jadi kuat dan mempunyai tenaga dalam yang mahir.
Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ho Tiong Jong sudah bangun, setelah cuci muka, lantas ia keluar pergi ketoko untuk membeli barang yang akan diberikan kepada jago tua itu sebagai bingkisan perkenalan. Ie Ya tatkala mana masih belum bangun dari tidurnya.
Ho Tiong Jong setelah membeli barang-barang yang perlu sebagai bingkisan itu, tidak kembali kerumahnya co Kang cay, tapi langsung menuju kepintu kota sebelah timur untuk mencari Sim Pek Hian akhli waris dari in Kie Lojin.
Mulutnya mudah bertanya, maka tidak heran ia sudah dapat pertunjukan yang diingini. Mula-mula ia menemukan jalannya yang buruk. disana ada berdiri kira-kira sepuluh rumah yang jelek. pada setiap sampingnya rumah-rumah itu ada pekarangan yang lebar dan kebun sayur.
Ia berjalan sampai dirumah yang di ujung sekali, pintunya tertutup rapat dan sepi keadaan disitu, ia melihat kebun sayur yang terbentang disitu luasnya kira kira tiga bu sekitarnya dipagar oleh pohon-pohon berduri amat rapat, tingginya kira-kira satu tumbak. Ditengah-tengah kebun sayur itu ada sebuah rumah kecil, mencil sendiri. Pikirnya, apakah dia itu rumahnya Sim-Pek Hian?
Diam-diam ia menghela napas. orang pandai dalam dunia persilatan sampai mengumpat dalam rumah demikian kecil, tidak lain, karena maksudnya untuk melindungi kitab pusaka yang dimilikinya itu.
Ia berjalan masuk kedalam kebun sayur itu, Tidak jauh dari ia berjalan ia mendapat lihat ada tanah sedikit muncul sebuah kuburan, Sekitarnya dikitari oleh kira-kira dua puluh pohon Tho.
Kemudian ia menghampiri rumah kecil itu, justru ia hendak mengetuk pintunya, tiba-tiba sudah dibuka dari sebelah dalam dan tampak satu gadis remaja yang cantik sekali berjalan keluar.
Ho Tiong Jong terpesona oleh kecantikan si nona.
Dua pasang mata kebentrok, si nona sambil bersenyum telah tundukkan kepalanya dan meneruskan perjalanannya lagi.
Mulutnya sudah terbuka hendak menanya, akan terapi urung, karena si nona tampak jalannya cepat-cepat saja, Ho Tiong Jong tidak berani mengetuk pintu, hanya ia keluar lagi dari kebun sayur itu, ia menghampiri seorang wanita tua yang sedang menjemur pakaian-
Dengan laku hormat ia menanyakan rumah dalam kebun sayur itu siapa penghuninya? Benar seperti apa yang ia duga semula rumah kecil itu ada tempat tinggalnya Sim Pek Hian
Ia seorang tua, dan sudah tinggal disitu sepuluh tahun lamanya-Ho Tiong Jong berjalan lebih jauh. Di depannya salah satu rumah ia lihat ada duduk seorang anak lakl-laki berumur kira-kira dua belas tiga belas tahun sedang asyik membaca buku. Rupanya ia sangat tekun dengan pelajarannya, Ho Tiong Jong berhenti dan menanya.
"Adik kecii, kau kelihatan sangat tekun dengan pelajaranmu, sehingga melupakan keadaan disekitarmu, Siapa namamu adik kecil?"
Anak laki-laki itu tak lantas menjawab- hanya ia mengawasi pada Ho Tiong Jong beberapa saat, "kau siapa? Aku bernama Kioe Kie Hok." jawabnya kemudian,
Ho Tiong Jong tertawa, "Aku mencari teman" katanya, "tadi tak ketemu. Adik kecil, kalau kau suka terimalah bingkisan ini supaya aku tak berabe membawa pulang lagi."
Ho Tiong Jong berkata sambil menyerahkan bingkisan yang dibawanya, akan tetapi anak itu tak mau menerimanya.
"Tidak- tidak- aku tidak mau nerima." katanya, sambil tangannya ditaruh ke belakang lucu sekali kelihatannya.
"Kenapa kau tak mau terima, adik kecil?" tanya Ho Tiong Jong. Tapi sebelum anak itu menjawab, tiba-tiba ada suara memanggil nama anak itu.
"Kie Hok. Kie Hok. lekas masuk kedalam" demikian terdengar suara merdu dari sebelah dalam rumah. Tidak lama kemudian orang yang memanggil tadi telah unjukkan dirinya dan bukan lain kiranya ada si nona yang barusan Ho Tiong Jong lihat dirumahnya Sim Pek Hian.
"Enci, ini koko mau kasih bungkusan padaku, tapi aku telah menolaknya ..." kata Kho Kie Hok. sambil menunjuk pada Ho Tiong Jong.
Si nona memandang pada si pemuda dengan melototkan matanya.
Ho Tiong Jong tidak enak hatinya, ia kuatir si nona menduga yang tidak-tidak bahwa ia dengan memberikan bangkusan itu hendak membuat jahat pada anak kecil itu.