"Hei, bukankah kau sudah berjanji akan kita bersama-sama menyelidikinya?"
"Tadinya memang begitu, tapi sekarang hatiku merasa tawar."
"Tawarnya? Apa sebabnya, Tiong Jong?"
Ho Tiong Jong kerutkan alisnya, "co lopek," katanya kemudian, menurut katanya adik Giok penyelidikan itu kita jangan terus kan, karena banyak bahayanya."
"Ah, Tiong Jong, Sudah dua puluh aku membuat penyelidikan bagaimana aku dapatkan rahasianya jalan masuk ke gunung-gunungan itu, dan sekarang aku sudah yakin benar theorlku itu akan berhasil. Tapi dengan mendadak kau berubah pikiran, apa kau mau membikin aku muntah darah karena kekesalan?"
Ho TiongJoug tercengang mendengar bicaranya si orang tua yang diucapkan dengan sungguh-sungguh, ia lalu menghiburi.
"Co lopek, kau bersabar dahulu sebaiknya kau pikir matang-matang jangan sampai kita menyesal dibelakang hari"
"Aku sudah yakin benar bahwa aku akan berhasil menyelidikinya, keuntungan toh bukannya untuk aku tapi untuk kau sendiri bukan ?"
Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia memikirkan kata katanya Seng Giok Cin, yang tidak menyetujui ia ikut ikutan menyelidiki benda ajaib itu.
"Nah, sekarang begini saja," katanya, "Urusan itu baik kita tunda dahulu, Lain kali kita bicarakan pula. Sekarang aku membutuhkan bantuan lopek."
"Bantuan apa ?" tanya si orang tua heran-
"Suheng lopek itu sekarang ada tinggal di mana ?"
Co Kang cay gelengkan kepala, "Aku tak dapat mengatakan alamatnya Tiong Jong"
"Lopek, bukankah kau menyayang pada Tiong Jong? Kenapa mau menyembunyikan tempat suheng mu ?"
"Untuk apa kau hendak mengetahui tempat tinggalnya ?"
"Penting. Aku ingin mengetahui rumahnya, sebab aku ingin pergi kesana "
"Kau kau . . ." kata co Kang cay seperti yang ketakutan-
Ho Tiong Jong ketawa. "Kau jangan ketakutan, co lopek. Bukankah kau pernah mengatakan rejekiku besar dan belakang hari akan menjadi orang ternama?"
"Betul, tapi kenapa kau hendak mencari suhengku?"
"itulah ada sebabnya." sahut Ho Tiong Jong tenang,
"Aku tahu sekarang, memang benar kepandaiannya suheng lopek ada sangat di segani dikalangan Kang-ouw, tapi sekarang sudah mengasingkan diri, Tidak ingin mencampuri urusan dunia lagi, Hal mana, sebenarnya sungguh dibuat sayang kalau dia pasti meninggal dunia tidak menurunkan kepandaiannya kepada salah seorang yang ia penuju untuk menjadi akhli warisnya.?"
"Kau menebak jitu sekali, lopek"
"Ha ha ha..." co Kang cay tertawa, "Pengharapanmu sia-sia saja, dia tidak suka dirinya dikenali orang lagi, Aku takut memperkenalkan kau kepadanya."
"Kapan rejekiku besar, untuk apa kau takuti padanya?"
co Kang cay terkejut, Diam diam ia berpikir memang kalau dilihat tampang mukanya Ho Tiong Jong rejekinya besar dan di kemudian hari akan menjadi orang ternama. Mungkin tidak ada bahayanya kalau nanti ketemu dengan suhengnya.
Tiba-tiba ia seperti menemukan jalan untuk membikin suhengnya suka menemui Ho Tiong Jong, Maka dengan girang ia berkata.
"Tiong Jong suhengku itu tak mau menemui orang, Tapi aku ada satu akal untuk ia keluar dari sarangnya. Kau pergi kesana, dengan sengaja membuat onar, membikin rusak apa-apa dalam kampungnya, pasti dia akan keluar menemui kau, Kalau dengan sengaja kau minta-minta ketemu padanya,
jangan harap dia bisa keluar menemui padamu, bagaimana kau pikir?"
Ho Tiong Jong lerkejut, "Lopek mana bisa aku berbuat demikian? Bisa-bisa aku nanti diganyang oleh suheng mu."
"Kapan rejekimu besar, apanya yang ditakuti, bukan?"
Si orang tua ketawa nyengir, sementara Ho Tiong Jong berubah wajahnya seperti yang sakit gigi.
Ternyata omongannya tadi dapat dibuat pentungan oleh si orang tua. Akhirnya ia ketawa juga dan menyetujui pikirannya co Kang cay.
Selagi mereka uplek berunding. tiba-tiba muncul Li lo sat ie Ya. Dengan muka berseri-seri ia berkata. "Hei, kalian berdua begitu asyik berunding, apa sih yang dibicarakan yang begitu gembira? Ajak aku boleh tidak?"
ie Ya berkata sambit menghampiri kursi, diatas mana ia duduk tanpa dipersilahkan pula oleh dua orang yang sedang berunding itu.
Ho Tiong Jong tidak enak hatinya, kalau terus berlaku tawar kepada ie Ya, sebab biar bagaimana juga, iblis cantik ini ada menjadi salah satu tuan penolongnya. Maka ketika Ie Ya mengambil tempat duduk sambit ketawa ia berkata.
"Ah, encie Ie, tidak ada apa-apa yang penting dirundingkan. Hanya kita dapat bertemu lagi, rasa girang telah ditumpahkan oleh masing-masing."
"Ouw, begitu? Bagaimana tentang perjalananmu setelah meninggaikan kuil Kong beng si? Betul-betul hebat kepandaian adik Jong, apalagi setelah kau digembleng oleh Tay-Hong Hosiang..."
"Encie Ie..." memotong Ho Tiong Jong, tapi ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena merasa sangat sedih mendengar disebutnya nama Tay Hong Hosiang. co Kang cay
melihat sikapnya Ho Tiong Jong telah salah anggapan- Dikiranya pemuda itu ada kata-kata penting untuk di sampaikan kepada ie Ya, tak dapat dilampiaskan karena adanya ia disitu, Maka sambil berbangkit dari duduknya ia berkata.
"Tiong Jong, dan kau nona Ie, aku mohon diri karena aku ada urusan lain . . ." ia berkata sambil angkat kakinya ngeloyor.
Kali ini ia tidak dibentak "jangan bergerak" oleh Ie Ya seperti temjo hari, hanya kepergiannya itu diawasi oleh si Nona dengan bersenyum manis. Setelah orang tua itu berlalu ie Ya telah menanya pula pada Ho Tiong Jong.
"Adik Jong, bagaimana oh, sungguh kejam sekali kawanan gadis itu, mereka telah membakar kuil, sehingga rata dengan tanah, Sungguh mengerikan sekali waktu itu ketika aku mendengar jeritan dari hweshio yang tak dapat melarikan diri menjadi mangsanya si raja merah yang mengamuk tanpa dapat ditahan-"
"Enci ie, bagaimana dengan Tay Hong Hosiang.... ?"
"Aku sendiri tidak tahu, sebab sewaktu api hendak menjilat lebih luas, aku sudah meninggalkan Kong Goan suhu dan menyelamatkan diri. Kau tahu sendiri aku tak dapat dengan terang-terangan membantu pihaknya kawanan hweshio itu karena aku terikat dengan sumpahku kepada Khoe Pocu."
Ho Tiong Jong menundukan kepala, sepasang matanya sejenak tampak beringas, "Aku akan membalas dendam kepada orang orang kejam itu Harus, harus aku membalaskan sakit hati atas kematiannya Tay Hong Hosiang yang baik budi...."
Demikian ia terdengar bicara sendirian, Ie Ya yang paling tidak takuti segala apa, sejenak ketika Ho Tiong Jong beringas, bulu romanya pada bangun juga, ia tidak
menyangka si pemuda yang tampan dan murah ketawanya itu dapat mengunjukkan sikap yang demikian menakuti.
"Memang menjemukan perbuatannya itu," kata Ie Ya. "tapi waktu itu kau terus ke- mana? Apa kau menyusul itu orang berkedok kuning? siapakah dia?"
XXXIV SI CANTIK DARI KEBUN SAYUR
Ho Tiong Jong terkejut mendengar disebutnya si kedok kuning. "Habis kau terus pergi kemana?"
"Aku pikir, kau berlaku nekad-nekadan, tak ada faedahnya. Akhirnya aku akan dikepung oleh banyak musuh. Maka aku sudah meninggalkan mereka dengan maksud pada suatu hari aku akan mengunjungi pusatnya Perserikatan Benteng perkampungan untuk menuntut balas atas kekejaman mereka di Kong-beng si. Tapi aku tidak mengira kalau kekejaman mereka tidak hanya sampai pada membunuhi padri-padri disitu saja, tapi juga mereka sudah membakarnya kuil Kong beng-si yang dibangun oleh Tay Hong Hosiang dengan susah payah.
Ie Ya tertawa tawar "Kekejaman demikian untuk mereka sudah biasa, Tapi yang mengherankan aku itu orang berkedok kuning, dengan mati-matian telah bertempur dipihak kita, ilmu pedangnya sangat hebat. Tidak gampang orang itu menemui tandingan yang setimpat. Khoe cong yang ganas, boleh dikata tidak nempilpada kepandaiannya." Ho Tiong Jong membisu.
"Hei, kenapa kau tidak bicara? Apa kau tidak tertarik oleh pertolongannya si kedok kuning?"
"Enci ie, justru aku sedang memikirkan dirinya. Aku sebenarnya pada waktu itu betul sudah menguber pada si kedok kuning, hanya sayang aku tak dapat menyandak, dia sungguh hebat ilmu mengentengi tubuhnya. Dia rupanya tidak ingin menerima pengucapan terima kasihku."
"Aku menyesal, sebab aku juga kepingin tahu siapa adanya orang itu sudah kesudian turun tangan membela kita, kau rupanya membohongi aku, Adik Jong ?"