"Adik Giok. kau sudah diusir oleh ayahmu, rasanya tidak ada halangannya kau mengikuti aku merantau bukan?" tanya si pemuda, ketika melihat Seng Giok Cin diam saja.
"Aku girang bila dapat menyertai kau merantau, tapi bukannya sekarang."
"Kenapa begitu?"
"Namamu jelek dipemandangan ayah, karena dituduh dengan sengaja kau mencuri benda pusakanya. Aku diusir juga lantaran dituduh sekongkol dengan kau. Hal ini perlu dibersihkan karena kau bukan sengaja membawa benda pusakanya dan aku juga bukan Sekongkolanmu. Maka perlu aku menemui ayahku untuk menyerahkan benda ini dan menerangkan bahwa kau membawanya dengan tidak disengaja, Bukan ini baik?"
Ho Tiong Jong tidak menjawab, hanya kerutkan alisnya.
"Jadi, kau tak mau ikut aku merantau?"
"Bukannya begitu Engko Jong."
"Habis bagaimana maksudmu?" Ho Tiong Jong seperti yang agak mendongkol karena kekasihnya menolak diajak bersama-sama merantau, sebaliknya hendak kembali kerumah ayahnya.
"Kasih, aku pulang dahulu untuk menemui ayahku, untuk membereskan salah paham lencana pusaka yang dibawa olehmu ini." kata Seng Giok Cin sambil menunjukkan benda pusaka yang mengakibatkan kesulitan itu. "Kau tak usah ikut aku mungkin ada meminta tempo juga untuk aku membikin ayahku mengerti dan memaafkan pada kita, Kau boleh menantikan aku disuatu tempat untuk kita berjumpa lagi...."
"Berapa lama kau pulang ke rumah?" tanya si pemuda.
"sebaiknya kau kasih tempo lamaan sedikit, paling lama tiga bulan dah."
"Baik, baik, aku akan menanti kau."
"Dimana sebaiknya kau menanti aku untuk kita bertemu pula?" Ho Tiong Jong tundukkan kepalanya, seakan-akan yang berpikir.
"Aku kira dirumahnya co Kang cay di Yang-ce ada tempat yang paling baik untuk kita bertemu muka kembali, Disana aku sekalian dapat menyelidiki..."
"Menyelidiki apa?" memotong Seng Giok Cin.
Ho Tiong Jong lantas menyeritakan ceritanya co Kang cay dalam penjara air perihal baskom ajaib dan patung kumala yang mempunyai khasiat luar biasa.
Benda benda itu terdapat dalam gunung-gunungan yang telah dapat diselidiki jalan masuknya oleh co Kang cay didalam dua puluh tahun lamanya. la sudah berjanji dengan orang tua itu akan bersama-sama menyelidiki dua benda wasiat itu.
Setelah mendengar penuturan sang kekasih. "sebaiknya kau jangan terlalu memikirkan yang bukan-bukan. orang semakin berilmu semakin dibuat iri hati oleh sesamanya. Maka paling baik kita jadi orang sederhana saja, selamat dan aman bukanlah ini ada lebih baik?"
Si nona menutup matanya sambil mengerlingkan matanya dan bersenyum manis. Ho Tiong Jong tersenyum menyambutnya.
Kemudian ia angguk-anggukan kepalanya, tandanya ia setuju dengan perkata anyasi Nona. Tiba-tiba IHo Tiong Jong ingat sesuatu, ia merogoh kantongnya sambil berkata.
"Adik Giok kurasa kitab pusaka yang dimaksudkan dalam sembilan lencana itu ada jilid ke-1, sebab jilid kedua aku sudah punya. Nah, ini dianya."
Ho Tiong Jong menyerahkan pada si nona buku yang tempo hari di bawa-bawa oleh si-pengemis beracun Kang ciong, Seng Giok Cin terkejut, ia lantas menyambuti dan memeriksa buku itu, ternyata tidak salah itu jilid ke dua.
"Engko Jong, kau dapat dari mana kitab berharga itu?" tanya si nona heran.
Ho Tiong Jong lalu menuturkan dengan rlngkas pengalamannya dengan Tok-ka y Kang Ciong dan ia peroleh buku itu diatas sebuah pohon yang sedang dipatokin burung. Kitab mana telah di sambitkan oleh si pengemis beracun itu dan nyangkut dipohon.
"Kau simpanlah baik baik, Engko Jong." kata sigadis setelah habis memperhatikan, seraya diserahkan kepada sipemuda lagi.
"Aku ingin, setelah kita dapatkan yang ke satu, kitab ini menjadi lengkap dan kita bisa bersama sama mempelajarlnya disuatu tempat pegunungan-"
"Kau ingin mengasingkan diri, Engko Jong?" menyelak si gadis,
"Memang maksudku demikian, asal kau selalu berada disampingku . . ."
Seng Giok Cin mengerlingkan matanya yang jeli, penuh dengan rasa bahagia dan kasih. sebelum ia membuka mulut, Ho Tiong Jong telah berkata lagi.
"Adik Giok. asal kita sudah memahamkan dengan mahir isinya kitab ajaib itu pasti kita akan merupakan pasangan pendekar dalam dunia Kangouw tanpa tandingan-"
"Bagus, bagus, kau boleh melamun muluk-muluk. Nah, sekarang aku hendak pergi."
"Nanti dulu, adikku." mencegah Ho Tiong Jong sambil tangannya menyamber pinggang yang langsing itu, ditarlk dan dipeluknya dengan hangat.
"Adik Giok . ."
"Engko Jong ..."
Dua pasang mata beradu denganpenuh kasih sayang, itulah ada saat-saat yang sangat bahagia bagi sepasang merpati itu.
Mulutnya tak dapat mengucapkan kata-kata, akan tetapi sorot mata dari kedua pihak cukup menyatakan seribu kata isi hatinya, Lama mereka saling berpelukan, "Engko Jong, aku hendak pergi..." terdengar suara si nona pelahan, ia pelahan-lahan meloloskan diri dari pelukan lengan yang kuat itu.
"Adik Giok aku tidak ingin kau tinggalkan..." sambil memeluk makin erat, hampir si nona tak berkutik.
"Engko Jong, hanya untuk sementara waktu saja kita berpisah."
"Kau akan ikut aku merantau bukan?"
"Tentu, pasti aku akan ikut kau. Eh, kenapa kau menangis."
Si nona kaget menampak IHo Tiong Jong berlinang-linang air mata. cepat-cepat ia mengeluarkan setangannya dipakai menyusuti air mata kekasihnya.
"Engko Jong, kau jangan menangis. Kau kenapa?" sambil menyeka air matanya.
"Adik Giok . ." sahut sipemuda dengan suara d iteng gorokan, "hidupku matang dalam penghinaan, hanya kau adik Giok ... hanya kau seorang yang memperhatikan aku dan menyayang diriku. Kau adalah jiwaku yang kedua..."
Lengannya memeluk makin erat, seng Giok Cin sampai hampir tak bernapas, tapi ia rela dan biarkan diri dipeluk demikian rupa oleh pemuda pujaannya yang hendak melampiaskan rasa duka hatinya, mencari kehangatan dari orang yang mengasihinya. sebentar lagi pelukan sipemuda mengendur.
Seng Giok gunakan ketika ini untuk melepaskan diri, sambil berkata.
"Nah, Engko Jong, lepaskan aku, untuk menemui ayah membikin bersih namamu yang dituduh tanpa atasan, lepaskan Engko Jong ...."
Agak tidak rela si pemuda melepaskan si nona yang bertubuh kecil langsing tapi lincah dan gesit sekali.
Dilain saat kelihatan Ho Tiong Jong mengawasi berlalunya Seng Giok Cin sambil berdiri terbengong-bengong, semangatnya seolah-olah terbawa oleh bayangannya Seng Giok cin yang telah menghilang tidak lama kemudian-Ketika ia tersadar dari lamunannya, semangatnya terbangun.
Ia sudah berkeputusan pasti, bahwa Seng Giok cinlah yang akan menjadi pasangannya yang setimpal. Meski ia ada puterinya seorang Pocu yang kaya raya anak yang dimanja sejak kecil, ternyata ia dapat menyesuaikan dirinya untuk menyinta dan dicinta oleh seorang miskin seperti dirinya.
Ia memperhatikan sikap dan kelakuan si nona terhadap dirinya, begitu ramah dan telaten, ia mengingat akan kebalkan Seng Giok Cin yang berulang kali menolongnya. Semua ini seolah-olah merupakan "meterai" pada hatinya akan tidak mencintai gadis lagi, kecuali si jelita Seng Giok Cin.
Demikian ia melanjutkan perjalanannya dengan melamun-
Tidak lama, ia sudah sampai dirumahaya co Kang cay di Yang-ce. Ketika ia mengetuk pintu rumah, yang membukanya adalah si cantik Ie Ya.
Ho Tiong Jong agak tertegun menampik si iblis cantik ada dirumahnya co Kang cay sebelum ia membuka mulut telah didului oleh Ie Ya.
"Adik Jong, aku memang sudah menduga kau akan datang lagi kesini, cuma saja begini cepat benar ada diluar dugaanku."
Ie Ya berkata sambil menyilahkan Ho Tiong Jong masuk.
seraya berjalan masuk Ho Tiong Jong menanya. "Encie le, kenapa kau ada di sini?"
"Kenapa, apa tak boleh aku berada disini"
"Bukannya begitu, hanya aku merasa heran saja"
"ow, kau heran, kau baik sekali enci le." kata Ho Tiong Jong tersenyum
Ie Ya mengerlingkan matanya yang galak. tiba-tiba ia ingat akan kelakuannya sendiri ketika menghadapi sipemuda dalam pingsan- ia telah mencium Ho Tiong Jong dengan berlinang-linang, oh, bagaimana bahagianya ia dapat menyentuh pipi orang yang menjadi impiannya itu. justru ia ingat itu, maka selembar mukanya menjadi merah dan ia tundukkan kepalanya ketika Ho Tiong Jong mengawasi kepadanya.
Diam-diam Ho Tiong Jong tidak enak hatinya, karena ia tahu benar, bahwa iblis cantik ini ada jatuh hati kepadanya. Bagaimana ia dapat menyambut cintanya si cantik karena hatinya sudah ditempati oleh Seng Giok Cin, gadis pujaannya yang kecil langsing, yang pandai dalam bun dan bu (sastra dan silat).
Untuk membuat nona Ie tidak lebih menjadi lengket pula kepadanya, maka Ho Tiong Jong sebisa bisa unjukkan sikap tawar, ia terus berjalan masuk menemui co Kang cay yang saat itu datang menyambut dengan jalan dingkluk-dingkluk pakai tongkat.
Ie Ya tidak enak hatinya melihat sikap sipemuda tetapi ia bisa bersabar dan mengikuti dibelakangnya masuk ke dalam.
"Aaa, Tiong Jong, selamat ketemu lagi..." co Kang cay berkata dengan gembira.
"Selamat, selamat co lopek.,." sambut Ho Tiong Jong gembira. Keduanya saling bergandengan jalan masuk keruangan tetamu.
Li lo-sat ie Ya tidak turut masuk. karena ia anggap mereka baru ketemu lagi, sudah tentu keduanya merasa kangen untuk dapat berCakap cakap berduaan saja.
Memang juga dugaannya ie Ya tidak meleset, sebab mereka terus bercakap cakap dengan sangat gembira agaknya. Terutama si orang tua she co nyerocos terus.
Setelah masing-masing basahkan tenggorokannya dengan teh hangat, co Kang cay berkata pada Ho Tiong Jong.
"Tiong Jong, bagaimana dengan maksud kita tempo hari?"
"Urusaa apa itu co lopek?"
"Ah, kau ini suka kelupaan, apa kau sudah lupa dengan baskom ajaib dan si cantik yang hebat khasiatnya."
Ho Tiong Jong terkejut ia diam-diam saja, tidak lantas menjawab, hingga si orang tua tidak sabaran dan menanya pula.
"Tiong Jong kau kenapa? Apa ada hal-hal yang menghalang kau turut aku melakukan penyelidikan kesana?" Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.