Golok Sakti Chapter 104

NIC

"Aku selalu percaya akan kejujuranmu, Engko Jong."

Si gadis berkata sambil mengeluarkan sapu tangannya yang wangi semerbak. dipakai menyeka air matanya si pemuda yang berlinang dipipinya yang cakap.

Keduanya dengan perasaan lega dan girang lalu pada duduk lagi diatas batu besar dan Seng Giok Cin telah menanya pada sipemuda.

"Engko Jong, apakah kau tahu riwayatnya benda ini yang dinamai "Lencana Rahasia Tuhan?"

Ho Tiong Jong geleng-geleng kepala, "Aku tak tahu riwayatnya, aku baru melihatnya lebih tegas juga sekarang setelah kau kenali dia ada benda yang dicarinya." Seng Giok Cin angguk-anggukan kepalanya sambil berseri seri,

"inilah memang aku sudah menduga," sahutnya dengan suara merdu, "Engko Jong baiklah aku akan bercerita padamu hal riwayatnya benda pusaka ini, yang begitu jauh aku mendapat tahu dari ayahku, yang dalam tempo senggangnya suka mendongeng kepadaku sukalah kau mendengarkannya ?"

"Adik Giok. asal kau yang bercerita, biarpun bermalam-malam aku akan mendengarkannya dengan penuh perhatian. "

"Kalau orang lain?" Memotong sigadis sambil mengerlingkan matanya yang jeli, yang kontan menusuk hatinya si pemuda hingga berdebaran. Ho Tiong Jong ketawa nyengir.

"Kalau yang lain bagaimana ?" mengulangi Seng Giok Cin.

XXXIII. KEMBALI BERPISAHAN.

"Kalau yang lain aku ngantuk dibuatnya."

"Hii..." Seng Giok Cin sambil ulur tangannya yang halus hendak mencubit lengannya si pemuda akan tetapi ia urungkan ketika mengingat tempo hari ia mencubit seperti iuga mencubit papan besi.

"Kenapa tidak jadi adikku ?" menggoda si-pemuda.

Seng Giok Cin deliki matanya, tapi sudah tentu dibarengi dengan senyuman mesra. Keduanya gembira bersenda gurau.

Kemudian Seng Giok Cin menuturkan riwayatnya, "Lencana Rahasia Tuhan itu seperti berlkut, Leluhur dari "Perserikatan Benteng Perkampungan," ada berjumlah sembilan orang.

Mereka semuanya ada berkepandaian ilmu silat tinggi dan masing-masing ada mempunyai kepandaian simpanannya yang istimewa. Semuanya sangat terkenal dalam kalangan rlmba persilatan dan rata-rata pada belum punya istri.

Mereka itu ada menjagoi dalam kalangan putih, ada juga yang menjagoi dalam kalangan hitam. Pendeknya rata-rata mereka malang melintang dalam kalangan Kangouw jarang menemukan tandingan, oleh karenanya mereka jadi sangat bangga dengan kepandaiannya dimilikinya.

Berbareng pada masa itu, ada muncul juga seorang jago silat tua yang menamakan dirinya in Kie Lojin, Kepandaiannya dalam soal ilmu silat, tenaga dalam dan lain-lain, sangat tinggi sukar diukur berapa tingginya.

Satu demi satu sembilan jagoan ketemu dengan in Kie Lojin dan satu demi satu sudah pernah dikalahkan oleh In-Kie Lojin. Mereka merasa kurang puas dengan kelakuannya itu. Apa mau, pada suatu waktu mereka bisa berkumpul bersama-sama

dan masing-masing pada menceritakan pengalamannya kena dijatuhkan oleh In Kie Lojin.

Mereka dengan serentak lalu menganggap bahwa In Kie Lojin itu sebagai musuh mereka bersama.

Untuk menebus kekalahan, mereka telah menggabungkan tenaga hendak mencari in Kie Lojin. Tapi sebelumnya, mereka ingin minta petunjuk dari Beng Hie Sanjin, yang menurut kabar ada susioknya in Kie dan benci kepada sutitnya itu.

Satu diantaranya sembilan jago itu telah mengutarakan pikirannya, kalau hendak mencari Beng Hie Sanjin tempatnya dibelakang Sian-hoa digunung oeisan. Sebab sering orang melihat orang tua itu ada muncul digunung oei san-

Mereka lantas berunding dan telah diambil keputusan untuk pergi kebelakang puncak Lian hoa, mencari orang tua yang telah mengasingkan diri itu.

Betul saja, mereka sudah bisa menemui Beng Hie Sanjin ditempat yang disebutkan oleh salah satu kawannya. Mereka dengan berterus terang telah menceritakan bahwa mereka penasaran tempo hari telah dipecundangi oleh In Kie Lojin dan kedatangan mereka adalah hendak minta petunjuk bagaimana caranya supaya bisa mengalahkan in Kie Lojin. Beng Hie Sanjin ketawa mendengar permohonannya sembilan orang itu. Ia kata. benar ia ada susioknya in Kie Lojin.

Dahulu ketika suhunya masih hidup, ia belajar bersama-sama dengan suhengnya. Tapi dalam pelajaran itu ternyata dibeda-bedakan, suhengnya telah mendapat pelajaran ilmu tenaga dalam yang istimewa, akan tetapi ia sendiri tidak. Maka ketika suhunya meninggal ia bangkit bangkit suhunya yang menyayangi muridnya pilih kasih, selalu mengeloni suhengnya.

Sang suheng dengan ketawa menghibur pada sutenya, supaya ia jangan salah mengerti karena dalam anggapan suhunya sang sute ita tabeatnya masih belum ada ketentuan,

di kuatirkan kalau sudah mempunyai ilmu yang hebat perjalanannya akan menyeleweng.

Keterangan mana membuat Beng Hie Sanjin tidak tenang dan bertengkar dengan suheng yang selalu mengalah kepadanya.

Kemudian sang sute sudah meninggaikan suhengnya, yang jadi sangat berduka ketika melihat kepergiannya sang sute yang tak dapat ditahan. Malah Beng He Sanjin saat itu telah sesumbar, bahwa kelak, kemudian ada satu hari ia akan kembali dan mengunjukkan kepandaian yang lebih mahir dari suhengnya.

Suhengnya hanya menyambut sesumbarnya sang sute dengan ketawa getir.

Lama sejak itu mereka tidak ketemu, ketika pada suatu hari Beng Hie San-jin pulang hendak menemui suhengnya ternyata sang suheng sudah meninggal dunia.

Itulah pada tiga puluh tahun berselang, sejak Beng Hie Sanjin meninggaikan suhengnya.

Ia dapat kenyataan bahwa ilmu gaib dari kitab, "Kumpulan ilmu silat sejati," telah diwariskan kepada in Kie Lojin. Hal yang membuat hatinya sangat tidak senang dan mencaci maki pada in Kie Lojin, yang dikatakan tidak berhak menerima warisan kepandaian dari suhengnya.

Mereka bertengkar mulut, akhirnya urusan hanya dipusatkan dengan kepalan, Maka keduanya lantas mengukur tenaga kepandaiannya, akan tetapi ternyata Beng Hie Sanjin masih bukan tandingannya in Kie Lojin, ia akhirnya dikalahkan dengan sangat malu sekali ia lantas mencari suatu tempat untuk menyepi dan meyakinkan lebih jauh kepandaian yang kiranya dapat menjatuhkan in Kie Lojin.

Ia telah menciptakan suatu tin (barisan) yang istimewa, terdiri dari beberapa orang untuk menempur ln Khie Lojin,

karena kalau mengandaikan kepandaian satu dua saja untuk menempur in Kie Lojin masih bukan tandingannya. Kebetulan sembilan orang itu datang berkunjung.

Waktu itu in Kie Lojin masih belum rampung meyakinkan semua ilmu dalam kitab pusaka itu, jikalau in Kie Loiin sudah satu tahun meyakinkannya, jangan harap sembilan orang itu dapat merubuhkannya. Tapi justeru waktu itu masih ada tiga bulan dan baru in Kie Lojin tamat mempelajari kitab gaib itu.

Sembilan orang itu ketarik dengan penuturannya Beng Hie San jin tentang kitab Kumpulan ilmu silat sejati, mereka ingin memilikinya, maka mereka telah mendesak kepada orang tua itu supaya memberikan pelajarannya tentang barisan.

Beng Hie san-jin berkata kepada mereka, bahwa tempo ada demikian singkat, yaitu jikalau sebelumnya tiga bulan mereka dapat belajar dengan mahir pasti ada harapan dapat menang, dan in Kie Lojin, sebaliknya kalau sampai belajar lewat tiga bulan mereka belum mahir dengan ilmu barisan ini, jangan harap bisa menempur in Kie Lojin yang ilmunya sangat tinggi.

In Kie Lojin setelah dia mahir dengan segala ilmu silat yang tersebut dalam kitab "Kumpulan ilmu silat sejati" tentu ia akan menjadi jago tanpa tandingan dalam kalangan rlmba persilatan-

Sembilan orang itu merengek-rengek minta diajari ilmu barisan ( tin ) itu dari si orang tua, mereka berjanji akan belajar sungguh-sungguh supaya dapat mengalahkan in Kie Lojin dan merampas kitab pusaka itu untuk dijadikan milik mereka.

Demikian, akhirnya mereka punya permintaan diluluskan, Mereka belajar dengan tekan ilmu barisan itu, yang kemudian di namai "barisan Naga Emas dan Kuda sembrani di empat penjara angin", Disebabkan mereka belajar dengan sangat tekun, maka dalam tempo dua bulan mereka sudah lulus di uji

oleh Beng Hie Sanjin-Mereka kemudian mencari in Kle Lo-jin untuk membuat perhitungan-

Sembilan orang itu terdiri dari sembilan she, mulai she Kim co, Seng, Khoe, Lauw, IHui, cong dan ciauw. Dalam pertemuan dengan In Kie Lojin, mereka minta disaksikan oleh orang-orang dari kalangan Kang-ouw pengeroyokannya atas dirinya in Kie Lojin.

Sedang pada in Kie Lojin mereka telah menetapkan syarat, ialah kalau mereka kalah, mereka disuruh apa saja oleh In Kie Lojin, tegasnya mereka menyerah dibawa kekuasaannya In Kie Lojin. Tapi sebaliknya, jikalau mereka menang, mereka tak menginginkan lain dari pada in Kie Lojin suka menyerahkan kitab pusakanya yang sangat mengilarkan hati mereka.

in Kle Lojin mendengar syarat itu, telah mengerutkan alisnya dan diam-diam berpikir. "ia sudah mahir atau apal diluar kepala akan isinya kitab "Kumpulan ilmu silat sejati", kalau ia kalah bertanding, tidak ada halangan melukiskan petunjuk diatas sesuatu benda untuk mereka mencari sendiri dimana disimpannya buku pusaka itu."

Kalau mereka berjodo, sudah tentu dengan mudah didapatkan oleh mereka berdasarkan petunjuk yang dilukiskan olehnya, akan tetapi kalau mereka tidak mempunyai jodo sudah tentu buku itu tak dapat diketemukan-

Akhirnya in Kie Lojin telah menyanggupi syarat yang diajukan oleh mereka.

Begitulah, mereka telah mengatur barisannya dengan lantas dan kemudian mengundang untuk In Kle Lojin datang memukul pecah barisannya.

In Kie Lojin agak terkejut juga menyaksikan barisan yang belum pernah ia lihat dalam pengalamannya. Tapi, sebagai jago ulung, ia pantang mundur dan menyerbu pada barisan-

Dengan dikepalai orang she Kim, sembilan orang itu telah mengurung dan jalankan ilmunya dengan sangat hati-hati dan cepat sekali.

Setelah lama in Kle Lojin terputar-putar tidak juga dapat memecahkan barisan tersebut, maka ia telah menyerah kalah dan meluluskan permintaannya mereka.

Ia minta supaya sembilan orang itu mundur tiga puluh lie dari tempat tinggalnya.

Dalam tiga hari mereka akan mendapat pengunjukan dari jago kawasan itu perihal dimana ditaruhnya buku wasiat itu.

Mereka memang jerih untuk berurusan lebih jauh dengan in Kie Lojin, maka perjanjiannya itu telah diterima saja dengan sangat terpaksa.

Demikianlah dalam tempo tiga hari in Kie Lojin telah melukis pada sembilan buah lencana dari gading, yang mengunjukkan dimana disimpannya buka pusaka itu.

Kalau orang dapat membaca dan mengerti maksudnya, yang terlukis pada sembilan lencana gading itu, sudah tentu akan dapat mengambil kitab yang diliarkan itu.

Tempo tiga hari sangat cepat dalam anggapannya in Kie Lojin, akan tetapi lama untuk sembilan orang yang menanti-nantikan kedatangannya jago ulung itu.

Tidak sampai mereka mengeluh kekesalan karena in Kie Lojin memegang betul janjinya. Pada waktunya ia telah menemukan sembilan orang itu dan menyerahkan pada mereka masing-masing satu lencana yang dan diberitahukan bagaimana mereka harus gunakan sembilan lencana itu sebagai pengunjuk jalan ketempatnya kitab "Kumpulan ilmu silat sejati" disimpan-

Kala itu sudah malam, maka mereka setelah satu persatu menerima lencana gading itu telah kembali ke tempat penginapannya, semalaman mereka tidak bisa tidur, karena

masing-masing pada kuatir kalau lencananya nanti akan dirampas oleh kawannya sendiri.

Mereka kemudian telah angkat saudara, akan tetapi perbuatan itu tak menghilangkan rasa curiganya masing-masing akan kecurangan dari kawannya sendiri.

Dalam tempo lima tahun mereka gentayangan mencari kitab pusaka itu, akan tetapi tidak mendapatkan hasilnya, karena belum paham benar apa yang tersebut pada sembilan lencana itu. Akhirnya satu persatu merayap pada suatu tempat, sehingga mati mereka tidak saling berjumpa lagi.

Kemudian turunannya membentuk perserikatan yang dinamai "Perserikatan Benteng perkampungan" dengan tujuan mempererat hubungan, tapi belakangan ini mereka telah ngalamkan keretakan, Satu dengan lain saling curiga mencurigai dan masing-masing pada mengambil jalannya sendiri-sendiri mengumpulkan kawan yang gagah gagah untuk nanti menjagoi diantara kawan-kawannya perserikatan.."

Ho Tiong Jong setelah mendengar riwayat sembilan lencana tersebut, lalu angguk-anggukkan kepalanya, kemudian menyekal tangannya si gadis, katanya.

"Adik Giok. bagaimana kalau kita sama-sama berusaha mengumpulkan lencana itu, hingga berjiwalah lengkap sembilan dan kita sama-sama memahamkannya arti dalam lencana itu? Aku tidak percaya kalau kita tidak paham dan mendapatkan pedang pusaka itu. Bagaimana pikiranmu?"

Giok cin bersenyum manis, diam-diam merasa bahagia atas perhatian pemuda pujaannya itu dan tangan yang menyekal tangannya itu rasanya hangat dan mesra.

Posting Komentar