Setelah melampiaskan kesedibannya, sambil menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya, Seng Giok cin pelahan-lahan merangkak dan memungut bungkusan kecil tadi yang dilemparkan oleh ayahnya. isinya memang ada barang permata yang sangat berharga dan cukup untuk bekal selama melewatkan hidupnya. Tapi apa artinya hidup untuk dia tanpa Ho Tiong Jong disampingnya?
Penghidupan untuknya menjadi tawar, lebih-lebih lagi karena ia dilarang untuk menjumpai gurunya di Tay-pek san- Memang orang tua dalam rumah es di Tay peh-san itu, mudah saja akan menerima pengaduan-nya sang ayah danakan membenci padanya, pikirnya tidak berguna ia pergi menemui gurunya untuk meminta keadilan-
Mengingat akan kata-kata ayahnya bahwa Tiong Jong tentu sudah menipu dirinya dan ia kena dibohongi oleh pemuda itu, pikirnya Tiong Jong tentu belum mati dan ia akan mencari orang muda untuk bikin perhitungan atas perbuatannya yang telah membuat putus hubungan antara ia dengan ayahnya^ Semangatnya lantas bangun.
Lantas ia bangkit berdiri, kemudian berjalan masuk kedalam kamarnya.
Dalam kamarnya tidak terlihat dua pelayannya yang biasa menyambutnya. Kemana mereka itu ?
Pikirnya, sudah tentu ayahnya yang sudah menggebah dua pelayannya itu.
Hatinya sakit sekali, sambil menggigit bibirnya ia buka lemari dan bereskan pakaiannya yang perlu dibawa sekalian juga beberapa barang permata yang menjadi kesukaannya ia bawa, pedangnya yang disangkutkan pada tiang pembaringan juga tidak lupa ia bawa.
Setelah beres, dengan pedang tersoren di pinggang, ia berjalan keluar.
Tidak seorangpun ia ketemukan dalam rumah itu, se-olah-olah semuanya sudah dilarang oleh ayahnya untuk menjumpai dan melayani padanya.
Seng Giok Cin gigit bibirnya sampai berdarah, iailah saking ia menahan pilu hatinya, ia sebagai satu puteri yang sangat dimanja kini diusir begitu kejam.
Ia tahu tabiat ayahnya, sekali ia bilang putih harus putih, maka sekali ia mengusir ia sudah harus angkat kaki dari rumahnya, Kalau tidak. benar benar orang tua itu akan membuktikan perkataannya akan membakar rumahnya, membunuh ia dan kemudian membunuh diri sendiri.
Demikianlah dengan hati sangat sedih ia meninggalkan rumahnya.
Saban-saban tampak ia menoleh kebelakang seakan-akan yang mengucapkan selamat tinggal kepada itu pohon-pohonan yang bagus, kepada itu taman bunga dan kolam indah permai, dimana ia bisa bermain dengan gembira.
Sang waktu sudah malam, maka ia tahu mencari suatu rumah penginapan unmk melewatkan sang malam.
Dalam rumah penginapan ia minta disediakan makanan, untuk menangsal perutnya yang sudah keroncongan, ia sebenarnya tidak bernapsu makan, akan tapi ia paksakan juga karena kuatir masuk angin dan nanti mendapat halangan dalam perjalanannya mencari Ho Tiong Jong.
Mengingat akan dirinya Ho Tiong Jong saban-saban si gadis kertak gigi dan kepal-kepalkan tangannya, ia sangat gemas, karena dirinya sudah ditipu oleh kecintaanya yang palsu, demikian pikirnya.
Ia mengharap lekas-lekas ia akan menjumpai pula pemuda itu dan akan membuat perhitungan untuk perbuatannya yang palsu.
Untuk membikin supaya dirinya tidak dikenali orang makanya ia sudah menyaru sebagai lelaki dalam perjalanannya. Malah kali ini, ia sudah menutup wajahnya dengan sepotong kain kuning, yang dibagian matanya ia lubangi.
Demikianlah dalam pakaian itu, ia telah melakukan perjalanan beberapa hari, tapi penyelidikannya tentang Ho Tiong Jong tidak juga ia dapat selentingan apa-apa.
Dengan cara kebetulan sekali, pada itu malam penyerbuan ke kuil Kong beng-si oleh Khoe cong dan kawan-kawannya, seng Giok cin justru berada dalam kuil tersebut, baru saja bertindak masuk untuk minta meneduh karena kemalaman-
Ia mendengar orang berteriak menyebut nama Ho Tiong Jong, hatinya lantas terkesiap dan ia kenali bahwa yang berseru itu ada Siauw-pocu Khoe cong.
Pikirnya, tidak bisa salah lagi tentu dalam kelenteng itu ada bersembunyi Ho Tiong Jong, orang yang sedang ia cari.
Seng Giok Cin mengerti kedatangannya Khoe cong mencari Ho Tiong Jong niscaya tidak bermaksud baik. Khoe cong
datang tentu bukan sendirian, masih ada lagi kawan-kawannya yang akan menyusul belakangan.
Melihat kekejamannya Khoe cong yang menerjang masuk dengan menggunakan pukulan-pukulan yang ganas, hatinya Seng Giok Cin tidak tega mendengar hweshlo muda yang menjadi korbannya pada berteriak menyayatkan hati.
Lantas Ho Tiong Jong dam kamar yang dijaga kuat oleh Kong Goan hweshlo itu sedang berbuat apa? ia tidak ingin pemuda itu jatuh ditangan kawanan orang kejam, ia harus ambil pihaknya Ho Tiong Jong untuk menolak mundur mereka, kalau sudah selamat barulah nanti ia sendiri membuat perhitungan dengan si pemuda.
Setelah mengambil keputusan tetap. maka ia sudah menyerbu dalam perkelahian ketika Khoe cong sedang membasmi kawanan kepala gundul yang tidak seberapa kepandaiannya dari pada menganggap Khoe cong itu ada satu tamu lihay ilmu silatnya.
Selanjutnya adalah seperti pembaca mengetahui, maka sekarang kita kembali menceritakan pertemuannya Ho Tiong Jong dan Seng Giok Cin. Melihat Ho Tiong Jong melengak, Seng Giok Cin berkata.
"Engko Jong, meskipun cintamu terhadapku tidak dengan setulusnya, aku sendiri tak dapat melupakan padamu. Aku akan pergi kesuatu kuil yang jarang dikunjungi manusia, dimana aku akan cukur rambutku dan masuk menjadi nikow..."
Ho Tiong Jong kaget, sambil cekal tangan si gadis dan digoyangkan ia menanya. "Adik Giok, kau mengambil keputusan itu sudah dipikir matang-2"
Seng Giok Cin tundukan kepalanya dan sejenak tak dapat menjawab.
"Bagaimana, apa kau sudah pikir dengan matang?" si pemuda ulangi pertanyaannya.
"Ya, sudah..." jawabnya pelahan-
"Sebabnya, kenapa kau mau menjauhkan diri dari aku ?"
Si nona tak dapat menjawab ia tundukkan kepalanya dengan pikiran kusut.
"Kau mengambil tindakan itu karena menyesal sudah bergaulan dengan aku, hingga kau diusir oleh ayahmu bukan?"
". . . bukan begitu engko . . .Jong..."
"Habis, apa?"
"Kau tidak tahu kesulitan hatiku, Apa kau tidak paham dengan perkataanku barusan bahwa meskipun kau tidak menyinta aku dengan setulusnya, aku sendiri tetap tidak akan melupakan padamu. "
"Kesulitan karena lencana pusaka itu?"
"Ya. Karena hilangnya lencana itu, ayahku akan mengalamkan kesulitan dari kawan-kawan seperjuangannya yang semuanya ada mempunyai tanda demikian-"
"Adik Giok apa kau menyangka aku yang mencurinya."
"Aku tidak menuduh padamu, hanya menurut katanya ayah dalam kamar harta ada kedapatan bekas-bekas kakimu dan co Kang cay." Ho Tiong Jong tidak enak hatinya. Sesaat lamanya mereka membisu.
"Adik Giok, ayahmu tidak keliru mendapatkan bekas bekas kaki kami dalam kamar harta itu, akan tetapi aku tidak mencuri lencana yang dimaksud itu. Aku hanya mengambil beberapa butir mutiara untuk diberikan kepada co Kang cay..."
"Kenapa kau berbuat begitu?"
"Karena aku pikir co Kang cay sudah disekap oleh ayahmu dua puluh tahun lamanya, ada lebih dari pantas kalau dia mendapat keuntungan sedikit untuk ongkos hidup melewatkan hari tuanya. Aku kasihan dia...."
Sampai disini, si pemuda seperti ingat sesuatu? Ketika ia berada dalam kamar harta dan ketarlk hatinya oleh sesuatu benda dari gading, yang ia masukkan kedalam kantongnya tanpa disadari bahwa itu ada maksud perbuatan mencuri.
"Eh Adik Giok. Bukankah ini barangnya yang kau maksudkan?" sembari keluarkan benda yang terbikin dari gading itu diserahkan pada tangannya si gadis. seng Giok Cin terbelalak matanya melihat benda itu.
"Engko Jong, benar ini dia.." katanya sambil terus diperiksa benda itu.
WAJAHNYA yang barusan sangat berduka, kini telah berubah dengan tiba-tiba- ia begitu girang, hingga mulutnya tak berhenti menyungging senyuman-
Ho Tiong Jong yang melihat kekasihnya demikian gembira ia merasa puas dan lega hatinya. ia berkata pada Seng Giok Cin.
"Adik Giok. harap kau jangan salah paham dan suka dimaafkan perbuatannya, Benda itu telah aku masukkan kedalam kantongku dengan tak mengandung maksud lain dari pada aku merasakan sangat ketarik olehnya dan tanpa disadari aku mengambilnya. Aku berani bersumpah kalau..."
Seng Giok Cin menubruk si pemuda, tangannya yang mungil menekap mulutnya yang hendak meneruskan ucapannya,
"Aku percaya, aku percaya, Engko Jong," kata Seng Giok Cin dengan berseri-seri manis.
Ho Tiong Jong memeluk tubuhnya si nona yang langsing, matanya berlinangkan air mata, "Adik Giok hanya kau seorang
didunia ini yang dapat mempercayai diriku, Adik Giok kau adalah jiwaku yang kedua..."
Seng Giok Cin terharu, ia juga tak tahan kalau tak mengucurkan air mata, karena hatinya sangat kasihan pada pemuda sebatang kara ini.