Golok Sakti Chapter 102

NIC

"Hmm...Budak hina, kau sudah berikan golok Lam tian-to kepada Tiong Jong? jawab." sang ayah membentak dengan amat gusar.

Seng Giok cin anggukkan kepalanya, Seng Eng sangat murka, Alisnya berdiri, kumis dan jenggotnya juga hampir pada berdiri, bahwa menahan amarahnya yang besar, "Budak hina, kalau begitu tentukan yang sudah kasih lolos Tiong Jong yang itu malam menyaru sebagai pengemis. Betul?"

Seng Giok cin perih hatinya. Air mata-nya tanpa terasa mengucur deras, sambil anggukkan kepalanya perlahan-lahan ia menjawab "Ayah, Tiong Jong sudah mati, untuk apa ayah sampai begini marahnya?"

"Mati? Apa aku tidak tahu, ketika di Liu-soa kok kau tidak ikut pulang, selanjutnya kau kabur dengan anak gendeng itu?"

"Memang benar aku bersama Tiong Jong berjalan bersama-sama tapi selama itu aku bergaul dengannya tidak melanggar batas kesopanan-"

"Bagus Bagus!!! Tidak melanggar batas kesopanan-"

"Kau kenapa ayah? Tiong Jong ada satu pemuda baik-baik bagaimana ayah bagitu marah kepadanya."

"Baik, baik, itulah dalam anggapanmu yang sudah mabok cinta, Budak hina, kau pulang apa maksudmu?"

"Aku pulang kerumah hendak menemui ayah "

"Kau pulang hendak membikin aku muntah darah dan lekas mati, bukan?"

Seng Giok Cin melengak, ia melihat ayahnya saking marah suaranya hampir terdengar ditenggorokan, kemudian mengucurkan air mata.

Seng Eng ada satu jago yang terkenal dalam kalangan putih dan hitam, tidak berkedip membinasakan jiwa manusia dan tidak menyesal akan segala perbuatannya yang salah, apa lagi mengeluarkan air mata.

Tapi kali ini, menghadapi puterinya, yang dianggapnya sudah nyeleweng dan membantu pada pemuda bukan komplotannya, bukan main perihnya dan tanpa terasa ia mengucur kan air mata.

Menyaksikan keadaannya sang ayah demikian, cepat Seng Giok cin jatuhkan diri berlutut.

"Ayah" katanya sambil menangis tersedu-sedu, "apakah kesalahan Giok Jie Yang membuat ayah begini marah? oh... kalau saja ibu masih ada, tentu Giok Jie akan memeluk kakinya untuk minta perlindungan dari kemarahan ayah yang begini rupa..."

Seng Eng semakin sedih mendengar puterinya menyebut-nyebut ibunya yang sudah lama meninggal dunia.

Perlahan-lahan dari lengan bajunya ia mengeluarkan badi-badi kecil dan dilemparkan kedepan Seng Giok Cin sambil berkata, "Budak hina, kau sudah bikin malu ayahnu, hanya kematian saja yang dapat menebus dosamu.. Nah, terimalah ini dan kau boleh habiskan jiwamu di depanku.."

Seng Giok Cin bukan main kagetnya, inilah ada perlntah ayahnya yang tidak bisa ditawar lagi. Sudah menjadi kebiasaan ayahnya, kalau hendak menghukum orang-orangnya paling dekat, ia melemparkan badi-badi kecilnya untuk orang itu membunuhi diri. Tak ada pengampunan lagi.

Dilihat dari sikap orang tua itu. Seng Giok Cin sudah tidak diberi ampun lagi.

Pikirnya Seng Giok Cin, pemuda yang menjadi idam-idamannya sudah mati karena racun maka ia hidup lama-lama juga tidak ada gunanya. Kini ada jalan, ayahnya telah menyuruh ia mati didepannya, Maka ia sudah tidak menyayangi pula jiwanya. Ia lalu menubruk kaki ayahnya dan menangis sesenggukan

"Ayah..." katanya dengan suara memilukan- "Giok Jie ada satu anak yang tidak berbakti, telah membikin ayah kesal dan marah, maka biarlah setelah nanti Giok jie sudah tidak bernapas harap ayah suka mengampuni dosa Giok jie menjadi bergembira lagi sebagaimana biasa . . ."

Ia hentikan kata-katanya sejenak. tangannya pelan-lahan memungut badi badi yang dilemparkan ayahnya tadi.

Saat itu Seng Eng melihat kelakuannya sang putri yang sangat dikasihinya itu, bukan main pilu hatinya, ia seolah-olah ingin menangis menggerung- gerung dan ia tidak tega menyaksikan keadaan putrinya demikian menderita.

Ia lihat, setelah badi-badi berada ditangan nya, sambil acungkan itu diarahkan ke tenggorokannya, Seng Giok Cin dengan berlinang-linang air mata telah berkata.

"Tiong Jong, kau sudah jalan lebih dulu, tunggulah aku akan menyusul padamu..."

seketika itu, tangannya digerakan hendak menubles tenggorokannya sendiri, akan tetapi diluar dugaan kakinya Seng Eng dengan cepat telah menendang tangan si nona, hingga badi badi itu telah terlempar jauh.

"Budak jelek." kata Seng Eng dengan hati pilu, "Apa-benar Ho Tiong Jong sudah mati? Lekas jawab?"

Seng Eng sama sekali tidak menduga kalau Seng Giok Cin begitu setia membela kekasihnya hingga dengan tabah hendak mengorbankan dirinya menyusul rokhnya Ho Tiong Jong. Keadaan Sang puteri membuat Seng Eng berubah wajahnya pucat seketika, dengan gugup barusan ia menendang dengan kakinya si nona hendak tancapkan badi badi nya yang tajam ditenggorokannya .

"Ayah. . ."jawab Seng Giok Cin. "Tiong Jong semalam sudah mati karena racun yang ada dibadannya. Dimana mayatnya sekarang berada, Giok Jie, aku sendiri tidak tahu, Karena ayah begitu marah kepadanya maka Giok Jie pikir biarlah jiwa Giok Jie berkorban untuk menghilangkan kebencian ayah, Ayah, dia ada seorang baik, Giok Jie menyinta kepadanya."

Mendengar putrinya dengan terang-terangan membuka rahasia hatinya, Seng Eng sangat gusar selalu. Bahna gemas, saat itu kakinya melayang menendang putrinya, sehingga tubuhnya Seng Giok Cin terlempar bergulingan dua tumbak. Seng Eng masih marah, ia terus menghampiri puterinya dan berkata dengan keras.

"Budak hina, budak tak berbudi, kamu ini dengan mati-matian membela Ho Tiong Jong dan melupakan ayah yang

membesarkan dan mendidik kau sampai dua puluh tahun lamanya. Kau tidak ingat budi orang tua, apa kau ini boleh dihitung manusia?"

Seng Giok Cin menangis sedih sekali.

Seumurnya, baru kali ini ia mengalami periakuan yang demikian tak enak dari sang ayah, seingatnya, ia sangat dimanja oleh ayahnya dan dianggapnya ia puteri tunggalnya yang sangatjempolan- Tapi kali ini karena sangat membenci Ho Tiong Jong, Seng Eng demikian marah terhadap puterinya.

"Ayah..." kata Seng Giok Cin, "perlu apa menyebut-nyebut orang yang sudah mati. Semalam jam tiga racun dalam tubuhnya bekerja, dan merenggut jiwanya, Pada saat ia meninggalkan Giokjle ia telah menotok urat tidurnya Giokr jie sehingga tidak tahu ke mana ia sudah pergi . ."

"Bagus.." memotong sang ayah, "Kau ditotok dan kau tidak tahu kenapa Tiong Jong sudah pergi, Hm Dalam hal ini kalau bukan kau yang mendustai aku, adalah kau yang membohongi Ho Tiong Jong, kau mengerti."

"Ayah mengapa kau berkata demikian?"

"Lencana Rahasia Tuhan telah hilang.."

"Ayah . . ."

"Kalau bersekongkol mencuri lencana itu, kau membohongi aku, tapi kalau kau tidak tahu hal Lencana itu, Tiong Jong telah menipu padamu."

"Tapi, ayah . . ."

"Heran." kata Seng Eng. "Tiong Jong menemukan kematiannya, kenapa ia tidak menyerahkan kembali Lencana itu kepadamu, Lencana itu sudah tentu masih ada pada Tiong Jong ketika ia menarlk napasnya yang penghabisan.."

Seng Giok Cin sangat terkejut mendengar cerita ayahnya, dengan suara lemah ia ber-kata.

"Tapi, ayah, lencana itu pasti dicuri orang lain- Buat Tiong Jong yang melakukan itu tidak bisa jadi, Giokjie kenal betul hatinya yang jujur. Tak bisa jadi Ho Tiong Jong melakukan itu karena dia tidak tahu akan nilai harganya. Lencana Rahasia Tuhan itu, ia sama sekali tidak tahu kalau dalam Perserikatan Benteng perkampungan ada pertikaian dan keretakan. Betul, dia tidak tahu."

Seng Eng tertawa getir, "Anak bodoh, kau tahu apa? Anak tolol itu telah menipu pada mu kau tidak berasa. Kau tahu, lencana itu Selainnya dia tidak ada siapa lagi yang mengambilnya. Dia dengan co Kang cay sudah berdiam dalam gudang benda benda pusaka, bekas- bekas jejaknya mereka tampak tegas. Diluar gudang harta, bekas bekas kakinya itu telah dihapus oleh mereka, rupanya supaya jangan diketahui orang." Seng Giok Cin gelisah hatinya.

Ia sama sekali tidak perCaya, kalau Ho Tiong Jong telah mencuri lencana pusaka ayahnya itu. Kalau benar ia pencurinya benar benar anak muda itu cinta kasih terhadap dirinya palsu belaka.

Dengan begitu tentu Ho Tiong Jong tidak mati sedang racun yang dikatakan ada dalam tubuhnya dan akan merenggut jiwanya tentu itu hanya karangan Tiong Jong saja.

Mengingat pada yang barusan disebut, Seng Giok Cin, keretak gigi wajahnya berubah bengis, tangannya dikepal- kepalkan, se-olah-olah yang sangat gemas sekali.

Melihat kelakuannya sang puteri, Seng Eng menarlk kesimpulan bahwa Seng Giok Cin benar tidak tahu menahu soal lencana pusaka itu. Pasti adalah Ho Tiong Jong yang telah mencurinya.

seng Eng berduka mengingat putrinya sudah terbenam dalam lautan asmara.

Ho Tiong Jong cakap dan gagah, ia tidak bisa menyaksikan anaknya meny intai pemuda seperti Ho Tiong Jong yang menjadi idam-idaman gadis yang mana juga.

cuma saja ia sangat menyesal, karena terlibat oleh asmara itu, putrinya telah melupakan dirinya yang menjadi ayahnya dan yang mendidiknya sedari kecil.

Seng Eng benar-benar sangat berduka, bagaimana ia harus mengambil putusannya kepada putrinya yang sangat dikasihinya itu? Kembali ia mengucurkan air mata.

Sambil menyusut air matanya yang mengalir dikedua pipinya, orang tua itu telah berjalan masuk kedalam dan sebentar kemudian keluar lagi, dengan membawa satu bungkusan kecil yang segera dilemparkan pada Seng Giok Cin berkata.

"Dalam bungkusan itu ada barang permata berharga, paling sedikit harganya tidak kurang dari seratus sembilan rlbu tail perak,cukup buat ongkos hidupmu, Mulai saat ini kita putus hubungan antara anak dan ayah, maka kau pergilah dari siul, jangan kau menginjak pula rumah ini. Kalau kau melanggar putusanku ini, aku akan membakar rumah ini, dan akan membunuh kau dan aku juga akan menyusul rokhmu."

"Ayah." seru Seng Giok Cin, kembali ia menubruk kaki ayahnya, Akan tetapi Seng Eng dengan keras hati sudah menendang sang puteri hingga ia bergulingan dilantai sambil menangis gegerungan-

"Kau tentu kenal baik adatku." katanya, "Sekali menetapkan keputusan tak dapat dilanggar oleh siapapun. Nah, segera sekarang ku akan mengabarkan kepala gurumu, Kok Lo lo di Tay pek san, supaya dia tidak menerima kedatanganmu kesana karena perbuatanmu yang menghianati ayah sendiri, Kok Lo lo tentu akan menerima baik permintaanku, sebab dia memang paling benci kepada orang yang berhianat, kau boleh hidup kemana saja, jangan

mengaku lagi aku sebagai ayahmu. Nah, jalanlah lekas meninggalkan tempat ini "

"Ayah, oh, kau... ke.." lagi-lagi ia menubruk kaki ayahnya, kali ini juga tubuhnya si nona telah terlempar jauh-jauh kena di tendang oleh Seng Eng yang segera meninggalkan putrinya sedang menangis gegerungan. Dilain saat Seng Eng sudah tidak kelihatan dalam ruangan itu, sementara Seng Giok cin juga sudah jatuh pingsan bahna sedihnya, Ketika ia mendusin hari sudah menjelang magrlb.

Ia sangat berduka, kembali ia menumpahkan air mata mengingat akan nasibnya entah bagaimana nanti.

Posting Komentar