"Dia adalah penjahat yang barusan kuberitahukan padamu, sumoy."
"Kan bilang kita akan mengepung penjahat, sekarang dia sudah menggeletak dalam keadaan tidak bergerak. buat apa mesti dikepung lagi ?" ceng ie melirik pada suhengnya sambil monyongkan mulutnya.
Kim Toa Ki ketawa nyengir "mari kita lihat dia " Dilain saat keduanya sudah berdiri dekat tubuhnya Teng Leng.
"Dia sudah mampus, siapa yang membunuh dia." tanya ceng ie
"Aku sendiri yang membunuhnya."
"celaka tiga belas." menggerendeng ceng ie sambil putar tubuhnya dan hendak kembali ke tempat penginapannya.
"Eh, eh nanti dahulu, sumoy...." kata Kim Toa Ki gugup, sambil pegang lengannya si- nona, hingga si nona terpaksa merandek.
"Kau ada apa lagi, penjahat sudah kau bunuh, apa kau kurang puas dan sekarang hendak mengganggu ketentramanku diwaktu tidur?" Si nona berkata, wajahnya cemberut, rupanya mendongkol diapusi oleh suhengnya.
"Bukan begitu, sumoy. Kau jangan marah dahulu, dengar aku cerita. Nah, disana itu ada kamarnya wanita yang si penjahat hendak satroni, Dia keburu aku bunuh, hinga tak dapat melakukan kerjaannya yang busuk..."
"Hahh, sekarang kau mau apa?" memotong si nona.
"Aku minta pertolonganmu."
"Pertolongan apa, sih?"
"Tolong kau masuk kedalam kamar itu dan lihat bagaimana keadaannya siwanita dalam kamar itu, apakah dia masih pingsan karena ketakutan ?"
ceng ie jebikan bibirnya. "Hmmm...." katanya, "ada-ada saja suheng mengasih kerjaan diwaktu aku enak tidur..."
Meskipun mulutnya berkata demikian, tapi kakinya terus jalan menghampiri kamarnya Seng Giok Cin. Dalam kamar lampu dipasang terang, maka ketika ia masuk dan mendekati pembaringan lantas saja ia kenali wanita yang sedang tidur itu ada nona Seng, putrinya Seng Pocu.
Hatinya ceng ie terkejut "Kenapa Seng Giok Cin berada disini?"
Pikirnya, "benar-benar penjahat itu berani mati, berani-berani membentur putrinya seng pocu yang sangat berpengaruh dalam dunia Kang ouw." Terdengar ia meneriaki suheng.
"Suheng, apa kau tidak tahu atau dalam kamar ini ada Seng Giok Cin ?"
"Mana aku tahu, sebab aku tidak masuk kedalam." jawab Kim Toa Ki, dalam hati diam-diam ia merasa geli.
"celaka betul, bagaimana kau bilang dalam kamar ini ada perempuan kalau kau tak dengan mata sendiri melihatnya ?"
"Sudah, jangan banyak rewel, Tolong sadarkan dia dari pingsannya. habis perkara, setelah sadar, kau boleh meninggalkannya sumoy. Kita harus buru-buru pulang..."
"Hmmm...." sumoy perdengarkan suara di-hidung.
ceng Ie datang dekat pada nona Seng, lalu ulur tangannya membuka totokan pada urat tidurnya, sebentar lagi sinona mengucek-ngucek matanya, kemudian menangis sedih hingga ceng Ie menjadi heran.
"Adik seng, kenapa kau menangis?" tanya nya.
Seng Giok cin sambil susut air matanya yang bercucuran telah mengawasi pada nona ceng.
"Hei, enci ceng ada disini?" ia balik menanya.
"Aku disini, karena gara-garanya suhengku yang mengganggu orang tidur-"
"Enci ceng, kenapa begitu?" tanya nona Seng heran.
Pikirnya, mesti ada kejadian yang tidak beres, makanya Kim Toa ci dan ceng Ie mendadak ada disitu, ia kuatirkan Ho Tiong Jong, Karena salah paham, dua orang oei-san pay itu yang menduga Ho Tiong Jong mau berbuat jelek terhadap dirinya, telah menghajar Ho Tiong Jong hingga kabur dari situ.
"Kalau tidak ada suhengku, niscaya kau akan menjadi korban orang jahat." kata ceng Ie. "Untung saja ada suhengku yang keburu turun tangan . . ."
"Enci ceng, siapa orang jahat itu?" memotong Giok Cin dengan pikiran gelisah. Pikirnya, tentu tidak bisa salahi Kim Toa Ki salah mengerti dan mengira Ho Tiong Jong ada orang jahat.
"orang itu yang hendak berbuat jahat atas dirimu sekarang sudah mampus." Seng Giok Cia kaget bukan main-
Hampir saja keterlepasan dari mulutnya menyebut nama Ho Tiong Jong.
Tapi perkataan "Ho" yang hampir meluncur dari mulutnya telah ditelannya lagi.
"Enci ceng, siapa orang jahat itu yang telah dimampusi oleh suheng ?"
ceng Ie tertawa, "Suhengku sangat berjasa sudah turun tangan sebelum kau dijadikan korbannya." kata ceng Ie, ia seperti juga yang hendak menggoda nona Seng, tidak lantas menjawab langsung pertanyaannya Seng Giok Cin.
Seng Giok Cin tidak sabaran, dalam hati diam-diam sangat mendongkol. "Kau tahu, siapa orang jahat itu?" tanya ceng ie. Seng Giok Cin geleng-geleng kepala.
"Dia adalah si tukang petik bunga diwaktu malam yang tersohor bernama Teng Leng. penjahat paling kurang ajar dan entah sudah berapa banyak wanita yang menjadi korban kebusukannya itu. Hmm baiknya dia hanya ketemu suhengku, coba kalau dia berhadapan dengan aku, pasti kematiannya Tidak tinggal utuh, sedikitnya kepalanya akan terpisah dari tubuhnya"
Kaget bukan main Seng Giok Cin mendengar penuturan nona ceng.
"terima kasih, memang aku dalam keadaan pulas lupa daratan, mana dapat berdaya membela diri kalau penjahat itu hendak berbuat jahat? Sukur, sukur, dan aku mengucapkan terima kasih kepada suheng mu yang sudah dapat mencegah kejahatannya itu atas diriku. Mana suheng mu sekarang?"
"Suhengku ada diluar, mungkin dia sekarang sudah kembali kerumah penginapan- Nah, sekarang kau sudah tersadar dan aku pun sudah tidak diperlukan lagi pertolongannya, maka aku permisi berlalu saja, adik seng."
Seng Giok cin turun dari pembaringannyadan memberi hormat pada ceng ie sambil berkata, "Enci ceng, tolong kau sampaikan pada suhengmu aku punya terima kasih atas perlolongannya itu. juga kepadamu yang sudah membuka totokan urat tidurku, aku juga tidak lupa menghaturkan banyak banyak terima kasih." ceng ie repot juga menerima penghormatan dari nona Seng,
Dilain saat Seng Giok Cin sudah berada sendirian lagi, ceng ie sudah pergi menyusul suhengnya, yang pada keesokan harinya mereka telah meneruskan perjalananya ke oey-san.
Seng Giok Cin saat itu memikirkan Ho Tiong Jong. Kemana perginya pemuda itu sehingga dirinya dalam keadaan tidak ingat orang hampir-hampir saja menjadi korbannya Teng Leng, yang ia sudah dengar penjahat itu sangat busuk kelakuannya.
Ia tidak mengerti akan perbuatannya Ho Tiong Jong yang telah menotok urat tidurnya kemudian ditinggalkan sendirian-
Kapan ia ingat akan kejadian dirinya hampir menjadi mangsanya Teng Leng, si penjahat cabul yang mesum itu hatinya Seng Giok Cin menjadi tawar terhadap dirinya Ho Tiong Jong. Pikirnya, pemuda itu benar-benar tak setulusnya menyinta pada dirinya karena buktinya ia telah meninggalkan dirinya.
Tapi kemudian ia ragu ragu dalam hatinya sendirian-
Kenapa Ho Tiong Jong sudah meninggalkan ia sendirian? Kemana dia sudah pergi? Apakah dia sudah mati karena racun dalam tubuhnya.
Pelahan-lahan ia rapihkan pakaiannya, puyeng ia memikirkan halnya Ho Tiong Jong. Sementara itu cuaca juga sudah mulai terang tanah.
Dengan hati sedih Seng Giok Cin meninggalkan rumah penginapan itu, kembali pulang ke rumahnya, karena ia tidak ungkulan untuk mencari jejaknya Ho Tiong Jong.
Ia jalankan kudanya dengan pelahan-lahan, Pikirannya kusut betul, saban-saban tampak ia kerutkan alis dan bibirnya menjadi seperti yang merasa cemas sekali. Inilah karena pikirannya tidak bisa melupakan pada Ho Tiong Jong,
Pemuda itu sudah demikian ihlas meninggalkan dirinya dalam keadaan tertotok, apa- maksudnya? Apakah dengan maksud hendak membuat dirinya celaka? Ah, tidak bisa jadi. Demikian dalam otaknya bergulat pikiran yang hendak menilai kewalitetnya Ho Tiong Jong dalam urusan asmara.
Ketika sang matahari sudah mulai naik tinggi, ia terpaksa pecut kudanya untuk dilarikan karena ia merasa kepanasan juga. Tidak lama kemudian ia sudah sampai di rumah.
Setelah menyerahkan kudanya kepada pelayannya, lantas ia masuk ke dalam kamarnya, ia menukar pakaian yang
barusan penuh debu, kemudian mencari ayahnya dalam ruangan kamar tempat bekerjanya.
Pada saat itu, ia melihat ayahnya sedang duduk menghadapi meja tulisnya sambil termenung-menung dan saban-saban tangannya mengurut- urut kumis dan jenggot yarg panjang, Air mukanya seperti yang sangat berduka sekali, hingga Seng Giok Cin merasa sangat kasihan-
Tiba-tiba saja ia telah menubruk ayahnya sambil berseru. "Ayah."
Tapi seng Eng ternyata sikapnya ada lain dari biasa. Kalau biasanya ia suka menyambut pelukannya sang puteri yang manja dengan penuh kasih, kini ia telah menolak tubuhnya si gadis, sehingga Seng Giok cin jatuh meloso dilantai.
"Ayah..." Seng Giok Cin sambil merayap bangun.
"Kau jangan menyentuh pula tubuhku, aku sudah bukan ayahmu lagi..."
Seng Giok Cin buka lebar matanya, karena merasa sangat kaget akan sikapnya dan perkataannya sang ayah yang demikian asing untuk telinganya. "Ayah, kau kenapa?" tanyanya ketika sudah berdiri lagi.