"Kau... kau adalah jiwaku yang kedua, adik Giok."
"oo....yaaa..." jawabannya Seng Giok Cin dapatkan dari pelukannya sipemuda yang hangat.
oh bahagialah dua merpati itu.
Seng Giok cin sambil senderkan kepalanya didadanya Ho Tiong Jong melamun pada saat-saat yang bakal datang, bagaimana ia akan hidup penuh bahagia disampingnya Ho Tiong Jong, pemuda yang menjadi buah kalbunya itu.
Terbenam dalam lamunan kebahagian hidup, tampak bibirnya bergerak-gerak bersenyum. Ho Tiong Jong sebaliknya melamun bagaimana nasibnya nanti?
Ia mencintai Seng Giok Cin, tapi disamping itu, ia juga tak dapat melupakan cintanya Kim Hong Jie dengan sepasang sujen nya yang memikat hati dan Li losat Ie Ya si iblis cantik yang berkali-kali menolong dirinya, yang juga ada menyintai dirinya dengan segenap hatinya.
Dua-dua melamun berbeda-beda, yang satu penuh bahagia dan yang lainnya penuh dengan keragu-raguan.
Siapa yang akan memiliki Ho Tiong Jong pemuda cakap. gagah dan tinggi ilmu silatnya? itulah sang nasib yang akan menetapkan pada kelak kemudian hari.
"Adik Giok." bisik sipemuda dengan tiba-tiba. "bagaimana dengan pengalamanmu ketika aku tinggalkan dalam rumah penginapan?"
Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba saja awan kebahagiaan yang meliputi Seng Giok cin seolah-olah ditiup angin keras dan tak meninggalkan bekas. Ia berontak pelahan dan meloloskan diri dari pelukannya sipemuda. Kemudian mengawasi Ho Tiong Jong sejenak. mukanya berubah guram.
"Engko Jong, pengalamanku sangat getir," katanya sambil menghela napas, "Sekarang aku tidak diijinkan pulang kerumah, karena aku sudah diusir oleh ayahku, lantaran-.."
Seng Giok Cin tundukkan kepalanya, dari sela-sela matanya kontan butiran-butiran air mata laksana mutiara, ia tak dapat melampiaskan ceritanya.
"Adik Giok, lantaran apa?" tanya Ho Tiong Jong.
"Lantaran aku dituduh membantu kau men..."
"Hei, bicara sedikit terang, adik Giok."
"Dituduh membantu kau mencuri salah satu benda pusakanya yang paling disayangi." Ho Tiong Jong tercengang, Sampai disini kita ajak pembaca untuk mengetahui pengalaman Seng Giok cin yang katanya ada sangat getir.
seperti pembaca tahu, Seng Giok Cin ditinggalkan oleh Ho Tiong Jong dalam rumah penginapan dalam keadian tertotok urat tidurnya, hingga si nona jadi tidur pulas, si pemuda berbuat demikian, karena tidak ingin Seng Giok Cin akan menderita kesedihan hebat disebabkan menyaksikan kematiannya karena racun.
Pada waktu itu, Ho Tiong Jong meninggalkan kamarnya dengan pikiran ling-lung, sedih dan bercucuran air mata mengingat akan nasibnya yang malang, hingga ia lupa merapatkan pula pintu kamar dan memadamkan lampunya.
Satu bayangan dikala itu tampak berkelebat begitu Ho Tiong Jong sudah meninggalkan kamarnya agak jauh. Bayangan itu menyelinap masuk kedalam kamar yang pintunya tidak dirapatkan tadi.
Bayangan itu tenyata ada kira kira umur tiga puluh tahun, pengawakannya kurus tinggi dan wajahnya lumayan juga tidak termasuk dalam golongan jelek.
orang itu ketika sudah berada dalam kamar, meminjam penerangan lampu, ia lihat diatas pembaringan ada rebah wanita cantik luar biar biasa sedang pulas. Ia berlndap-indap menghampiri pembaringan-
"Ho Tiong Jong si bocah tolol itu, apa-apaan menotok orang punya urat tidur? Ha-ha ha... dasar ikan bagian aku, sayang sekali kalau aku menolaknya." Demikian orang itu berkata kata sendirian dengan suara pelahan-
Ditepi pembaringannya ia duduk mengawasi kecantikan Seng Giok cin, tubuhnya yang langsing ceking menggiurkan hatinya dengan mendadak saja napsu jahatnya berontak.
Tangannya diulur untuk mengusap- usap pipi si nona yang halus.
"Nona Seng, betul-betul kau cantik laksana bidadarl..." ia memuji, setelah matanya menatap dengan beringas pada wajahnya Seng Giok Cin sekian lamanya. Kelihatannya ia mengagumi sekali kecantikannya Seng Giok Cin.
ow, kalau saja sinona sadar dengan mendadak melihat ada lelaki asing duduk ditepi pembaringannya, niscaya ia akan lompat bangun dan menyerang tanpa ampun lagi. Tapi justeru si nona dalam tidur, dalam pulas, tidak ingat keadaan disekitarnya, hingga sangat leluasa untuk orang berbuat jahat atas dirinya.
Demikianlah yang terjadi dengan si lelaki tadi, setelah memandang puas wajah orang dan lengannya mengusap usap pipi si nona, lantas tanganya menggerayang lebih jauh.
"Nona Seng, siapa suruh kau begini cantik..." katanya seraya tangannya membukai kancing baju sinona.
Saat itu sudah sebagian kancing bajunya sinona terbuka, hatinya lelaki jahat itu sudah dakdik, duk. Pikirnya nona Seng puterinya Seng Pocu yang akan menjadi "makanan" lezatnya, tapi . . .
Tiba-tiba saja satu bayangan orang tinggi besar telah masuk melalui jendela kamar, hingga bikin orang jahat itu menjadi lompat mundur dari pembaringan sambil mengawasi siapa yang datang.
Hatinya bukan main kagetnya, karena ia kenali siapa yang datang itu. orang yang baru masuk dari jendela tadi ketawa dingin.
"Teng Leng" bentaknya, "Betul-betul kau berani mati, Kau tahu siapa nona yang kau hendak ganggu itu ?"
"Dia Seng Giok cin putrinya Seng Pocu."
"Nah, kau sudah tahu kenapa kau begitu berani mati hendak mengganggunya " Si penjahat yang ternyata bernama Teng Leng membangkang.
"Kau sebenarnya ada satu Penjahat pemetik bunga, entah sudah berapa banyak perempuan baik-baik yang telah menjadi korbanmu. DiSeng-keepo aku sudah mengenali kau, ketika mana aku sudah ingin membunuh padamu. Tapi aku harus bersabar, karena aku masih pandang mukanya tuan rumah, Seng Pocu. Disini kau ketemu aku,jangan harap kau dapat meloloskan diri..."
"orang she Kim, jangan banyak bacot, apa sih kepandaianmu?" memotong Teng Leng dengan sikap jumawa.
"Ha ha ha..." tertawa orang yang dipanggil orang she Kim, ia ternyata bukan lain dari Kim Toa Ki, murid kesayangan dari ketua oei-sanpay dan akan menjadi calon ciangbun-jin (ketua) dari partainya menggantikan ceng coe Goan, ayahnya nona ceng li yang pada saat itu masih memegang tampuk pimpinan-
"Kau tertawakan apa?" bentak Teng Leng.
"Aku tertawakan kau, bangsat tolol"
"Bagaimana kan bisa mengatakan aku tolol?"
"Kau menguntit Ho Tiong Jong dan Seng Giok Cin akan tetapi diri sendiri dikuntit orang tidak berasa ha ha ha..."
Teng Leng berubah wajahnya, ia merasa malu sebagai penjahat tukang menggerayangi orang perempuan, ia terkenal sangat gesit dan sukar dicari jejaknya, karena ia sangat licin. Tempatnya tidak menentu.
Dilain pihak, sebenarnya merasa jerih terhadap Kim Toa Ki, yang sudah merebut nama dalam kalangan Kang-ouw karena ilmu pedangnya. Kalau ia sudah unjuk sikap jumawa dan ucapannya yang dikeluarkan seperti yang tidak takuti Kim Toa Ki, itulah karena ia paksakan- Pikirnya, kalau ia tidak unjuk
kelemahannya, Kim Toa Ki niscaya tidak begitu memandang rendah padanya.
"orang she Kim..."
Baru ia mengucapkan demikian, lantas ia seakan angin serangan telapakan tangan telah mengarah dadanya,
Itulah serangan Kim Toa Ki yang tidak mau mengasih ketika si bangsat ngoceh lebih lama, jago dari oey-san-pay itu memang sangat benci Teng Leng, pengrusak kesucian kaum wanita. Di Seng keepo sebenarnya ia sudah hendak turun tangan, kalau ia tidak mengingat perbuatannya itu kurang baik terhadap dirinya tuan rumah.
Sejak meninggalkan Seng- keepo Kim Toa Ki terus menguntit penjahat cabul itu, tanpa disadari. Kebetulan sekali ketika penjahat perempun itu memasuki kamarnya Ho Tiong Jong diikuti Kim Toa Ki dan lantas mengintai perbuatannya dalam kamar.
Ketika ia melihat penjahat itu membukai kancing bajunya Seng Giok Cin, hatinya gusar bukan main tanpa menunggu lagi ia sudah menerjang masuk melalui jendela yang mana tidak terkunci. Ternyata penjahat cabul itu sangat gesit, sebab serangannya Kim Toa Ki dapat dipunahkan dengan kegesitannya.
Kemudian ia mengebut dengan lengan bajunya dan saat itu lampu menjadi padam, Keadaan dalam kamar menjadi gelap. pintu tampak terbuka dan si penjahat meloloskan diri, kemudian lompat kegenteng hendak melarikan diri lebih jauh.
Tapi ia tidak menyangka sama sekali, kalau Kim Toa Ki gerakannya ada lebih gesit lagi, karena belum berapa langkah ia lari, Kim Toa Ki sudah menyandak dan mengirim serangan dahsyat dengan angin pukulannya, hingga si penjahat terpental tubuhnya dan menggelundung jatuh lagi ketanah.
Dengan kesakitan ia bangun dan lekas-lekas mau menghilang, tapi Kim Toa Ki sudah berada lagi didepannya, Kini ia tanpa dapat ditangkis oleh si terjahat cabul, pukulan geledek dari Kim Toa Ki sudah bersarang didadanya, seketika itu juga Teng Leng terhuyung-huyung sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Kemudian ia rubuh dan-.. jiwanya melayang menemui raja akherat untuk beruntungan akan dosanya yang sudah berbuat banyak kejahatan didalam dunia. Demikian ada bagiannya si penjahat cabul yang dikutuk oleh masyarakat.
Kim Toa Ki datang mendekati ia memeriksa dan dapat kenyataan memang Teng- Leng sudah tidak bernyawa lagi, ia kemudian meninggalkan sang korban dan masuk ke dalam kamarnya Seng Giok Cin, ia menyalakan lampu, lalu menghampiri sinona yang sedang rebah tidak ingat keadaan disekitarnya.
ia mendadak melihat badannya Seng-Giok Cin yang bajunya sudah terbuka separuh. cepat-cepat ia bertindak keluar dan rapatkan lagi pintu kamar. Dengan tindakan lebar ia pulang ketempat penginapannya sendiri. ia mengetuk kamar disebelah kanan yang ia sewa.
"Sumoy, sumoy, bangun... Ada urusan penting yang memerlukan pertolonganmu. Lekas bangun sebentar." demikian sambil mengetuk pintu, Kim Toa Ki telah membanguni sumoaynya ceng Ie yang tidur dikamar tersebut.
"Aaaa... ada apa suheng?" tanya ceng ie dari sebelah dalam, suaranya marah-marahan-
"Bangun sebentar, ada urusan penting perlu dikerjakan-"
"Ah, suheng sebaiknya itu dilakukan besok pagi saja, aku ngantuk...."
Kim Toa Ki tak berdaya, ia kenal baik tabiatnya sang sumoy kalau sudah tidur tak mau dibangunkan meskipun ada kejadian apa juga.
Setelah ia terpekur sejenak. mendadak ia mendapat serupa pikiran yang dianggapnya akan membikin sang sumoy dapat bangun-
ia lalu mengetuk lagi dan berkata. "Sumoy si penjahat memetik bunga hampir-hampir saja masuk..."
"Haaa.... dia" terdengar ceng ie lompat bangun dari tempat tidurnya.
Dilain saat tampak pintu kamar terbuka dan ceng ie sudah berdiri dipintu dengan pakaian untuk jalan malam, "Mana dia suheng? Kurang ajar, aku sebelum dapat membunuh mati orang cabul itu hatiku belum merasa puas." katanya dengan bengis, hingga Sang suheng ketawa nyengir karena akalnya berhasil.
"Hampir masuk bukan kekamarmu sumoy, dia hampir kekamarnya seorang wanita dilain tempat penginapan- mari kita kesana, untuk mengepung dirinya, Masa iya dia bisa lolos dari tangan kita?" kata Kim Toa Ki.
ceng ie tanpa diminta kedua kalinya, dengan lantas merapatkan pintu kamarnya dan mengikuti pada suhengnya yang jalan dimuka menuju ketempat penginapannya Seng Giok Cin.
XXXII LENCANA RAHASIA TUHAN.
NONA ceng di bawa ketempat di mana Teng Leng menggeletak dalam keadaan tidak bernyawa, dari jauh ceng ie dapat melihat ada orang menggeletak ditanah, lalu menanya pada suhengnya, "Hei, suheng, didepan itu ada orang yang menggeletak. siapa dia ?"