Cinta Bernoda Darah Chapter 89

NIC

Keras. Lin Lin meloncat ke atas, semangatnya serasa melayang meninggalkan tubuhnya ketika ia tahu bahwa suara itu suara tikus-tikus dan bahwa ia tadi kena injak tikus. Hampir ia pingsan. Celaka baginya karena diantara segala benda dan mahluk di dunia ini, hanya tikuslah yang paling ia takuti. Setan ia tidak takut, iblis akan dilawannya, harimau akan diterjangnya, akan tetapi tikus. Menggigil ia dibuatnya. Saking jijik dan takutnya, Lin Lin memutar tubuh dan setengah berlari kembali. Akan tetapi anehnya sampai lama ia tidak juga sampai di pintu kecil tadi. Ia telah salah jalan, tidak tahu bahwa lorong itu mempunyai banyak jalan simpangan. Lin Lin telah tersesat ke dalam liku-liku jalan di bawah tanah.

Kegelisahan tercampur rasa ngeri dan takut akan tikus-tikus yang agaknya banyak terdapat di jalan terowongan gelap itu agak berkurang ketika Lin Lin tiba-tiba dapat melihat cahaya remang-remang di sebelah depan. Ia berlari terus, hatinya lega. Tak salah lagi, pikirnya, tentu di depan itu terdapat jalan keluar. Benar saja, lorong itu makin lama makin lebar dan cahaya menjadi makin terang. Tiba-tiba terdengar suara mendesis dari sebelah kanan dan sebuah bayangan panjang kecil menyambarnya. Lin Lin cepat mencabut pedangnya dan sinar kuning berkelebat ketika pedangnya membacok ke arah bayangan ini.

"Crakkk"

Lin Lin berdiri dengan mata terbelalak ketika melihat benda hitam itu kiranya adalah seekor ular hitam. Agaknya ular ini tadi kaget melihat kedatangannya dan menyerang. Kini tubuh ular itu menjadi dua potong dan bagian ekornya melilit-lilit tubuh sendiri. Lin Lin menyimpan kembali pedangnya dan melangkah maju dengan hati-hati.

Setelah berjalan maju sejauh tiga puluh meter, ia berhenti. Di depannya adalah sebuah ruangan besar dan cahaya yang sebagian menerangi lorong tadi ternyata adalah cahaya matahari yang masuk melalui sebuah jendela yang lebar, berjeruji baja dan tingginya dari lantai kurang lebih dua meter. Tiba-tiba mata gadis itu terbelalak dan wajahnya berubah agak pucat ketika pandang matanya meluncur ke bawah dan bertemu dengan tumpukan peti-peti mati yang jumlahnya ada tujuh buah, peti-peti mati itu bentuknya biasa, akan tetapi di bagian kepalanya terukir muka binatang yang menyeramkan, seperti muka iblis. Kemudian Lin Lin dapat menenangkan hatinya. Mengapa harus takut, pikirnya. Peti-peti mati kosong itu tentulah persediaan bagi keluarga kaisar atau para pimpinan Beng-kauw. Tadi ia kaget karena melihat bentuk dan model peti-peti yang berjajar dan bertumpuk itu sama benar dengan peti mati yang berada di ruanyan sembahyang.

"Ah, benda mati, hanya terbuat daripada kayu dan kosong, takut apa?"

Dengan suara hati menenangkan ini Lin Lin melangkah maju, sengaja tidak mau memperhatikan peti-peti mati itu, lalu sibuk mencari jalan keluar. Ia bingung dan heran. Ruangan ini tidak berpintu. Akan tetapi dari balik ruji jendela itu ia melihat atap sebuah rumah. Agaknya ruangan ini merupakan tempat terakhir dari jalan terowongan, dan melihat peti-peti mati itu, agaknya memang dijadikan semacam tempat penyimpanan peti mati, semacam gudang. Akan tetapi, kalau memang demikian, mengapa tidak ada pintunya yang menembus ke bangunan lain? Apakah untuk memasuki ruangan ini orang harus melalui jalan terowongan yang berliku-liku, banyak cabang dan rahasianya dan selain jauh, juga demikian gelapnya? Tak masuk akal. Ia melangkah maju dan menghampiri dinding, meraba-raba. Mungkin ada pintu rahasia.

"Kriiittttt.."

Lin Lin menengok, bulu tengkuknya berdiri.

Jelas ia mendengar suara itu, seperti sebuah pintu karatan dibuka, atau.. sebuah tutup peti. Akan tetapi tumpukan peti-peti mati itu tidak bergerak. Tiba-tiba Lin Lin meloncat dan hampir ia menjerit. Seekor tikus besar lari ke luar dari bawah peti mati sambil mencicit lari melalui bawah kakinya. Dengan hati berdebar-debar Lin Lin menenangkan hatinya sendiri. Hanya seekor tikus, Ia menggerakkan kedua pundak seperti orang kedinginan karena timbul rasa jijik dan gelinya. Akan tetapi segera wajahnya berubah. Biasanya, tikus takut melihat manusia dan tentu akan bersembunyi. Mengapa tikus yang sudah sembunyi di bawah tumpukan peti mati itu malah keluar dari tempat sembunyinya dan melarikan diri lewat dekat kakinya? Hanya satu hal yang memungkinkan kejadian ini. Tikus juga takut akan sesuatu. Takut sesuatu di dalam peti mati. Dan suara berkerit tadi.

"Ah, tidak ada setan di siang hari"

Pikir Lin Lin menabahkan hati, kemudian dengan penuh kegemasan ia melangkah maju mendekati tumpukan peti mati.

"Nah, tidak ada apa-apa, peti mati kayu yang kosong. Apa sih yang harus ditakuti?"

Katanya perlahan sambil menepuk-nepuk peti mati yang paling atas. Setelah kengeriannya lenyap dan keberaniannya timbul kembali, gadis ini sengaja hendak memeriksa terus. Tangan kanannya memegang gelang baja yang dipasang di atas tutup peti mati yang paling atas, lalu mengerahkan tenaga membukanya untuk menyatakan bahwa peti mati itu memang kosong.

Peti mati itu terbuka tutupnya, mengeluarkan suara seperti tadi, berkerit karena engselnya berkarat. Sedikit demi sedikit tutup itu terbuka, karena amat berat sehingga Lin Lin harus mengerahkan tenaga. Ia tersenyum sambil memandang ke dalam peti mati dan.. Lin Lin melepaskan gelang baja dan terhuyung mundur, terus mundur sampai punggungnya menyentuh dinding dingin, matanya terbelalak lebar, wajahnya pucat, tubuhnya menggigil dan mulutnya bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara. Apa yang dilihatnya? Sesosok mayat di dalam peti, muka mayat yang pucat kurus dan lebih hebat lagi.. tangan mayat yang hanya tulang terbungkus kulit itu bergerak menyangga tutup peti mati. Mayat itu bergerak dan hidup.

Dapat dibayangkan betapa kaget, ngeri dan takutnya hati Lin Lin melihat peti mati itu bergoyang-goyang, tutupnya setengah terbuka sehingga tampak kepala mayat, kemudian peti mati itu meloncat turun dari tumpukan, muka mayat yang mengerikan menjenguk keluar dan lengan kirinya keluar pula dari bawah tutup. Lin Lin menggerakkan tangan kanan meraih gagang pedang, akan tetapi pada saat itu terdengar lengking tinggi mengerikan, seperti suara suling, keluar dari mulut itu. Tiba-tiba Lin Lin menggigil kaki tangannya, tak dapat lagi mencabut pedang. Suara itu selain mengandung pengaruh melumpuhkan, juga mengingatkan ia akan sesuatu.

"Kau.. kau.."

Suaranya tenggelam dalam lengkingan yang panjang dan nyaring, kemudian gadis ini menjadi lemas dan terguling, pingsan. Kekagetan mengingat bahwa ia berhadapan dengan pembunuh ayah ibu angkatnya, yaitu setan peti mati dengan suara seperti suling, ditambah kengeriannya tak dapat tertahankan oleh Lin Lin.

Suara lengking itu berhenti, peti mati yang tadinya berada di tumpukan paling atas, kini sudah berada di bawah, tidak bergerak-gerak lagi. Akan tetapi tutup peti mati terbuka makin lebar oleh lengan yang kurus dan dengan gerakan perlahan mengerikan.

"setan"

Itu keluar dari dalam peti mati. Ia seorang laki-laki tinggi, kurus sekali seperti tengkorak terbungkus kulit, kepalanya gundul, matanya tak pernah berkedip, hidungnya besar dan panjang melengkung ke bawah, mulutnya seperti orang menangis, tubuh yang kurus itu terbungkus pakaian yang robek di sana-sini, sepatunya juga sudah butut. Muka yang pucat dan tak bergerak-gerak itu memang tak pantas menjadi muka manusia hidup, lebih patut menjadi muka mayat. Akan tetapi kenyataan bahwa ia dapat bergerak, menandakan bahwa ia masih hidup. Inilah kiranya yang disebut mayat hidup.

Mayat hidup itu berjalan perlahan menghampiri Lin Lin, terbungkuk berdiri memandang ke arah muka gadis itu, mulutnya mengeluarkan suara "ah-ah-uh-uh"

Seperti orang setengah tertawa setengah menangis, kemudian ia membungkuk dan dengan sebelah tangan saja ia mengangkat tubuh Lin Lin dengan ringannya, menghampiri peti mati yang bertumpuk, membuka tutup peti mati teratas lalu.. memasukkan tubuh Lin Lin ke dalam peti mati itu dan menutupnya kembali. Setelah melakukan hal ini, ia kembali mengeluarkan suara seperti tadi dan kini bibirnya bergerak seperti orang tersenyum iblis, kemudian ia melompat masuk ke dalam peti matinya yang dapat bergerak-gerak meloncat ke atas tumpukan peti mati. Dalam sekejap mata, peti-peti mati itu sudah bertumpuk seperti tadi dan keadaan di dalam ruangan itu sunyi tak terdengar apa-apa lagi.

Di ruangan sembahyang telah mulai ramai dengan para tamu yang berdatangan untuk memberi penghormatan. Mereka itu, seperti juga Lin Lin, terkejut dan heran melihat adanya peti mati besar yang berada di tengah ruangan, di belakang meja sembahyang. Bukankah Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ketua pertama dan pendiri Beng-kauw itu telah meninggal dunia seribu hari yang lalu? Bagaimana sekarang peti matinya masih berada di sini? Apakah selama tiga tahun ini peti matinya tidak dikubur? Pertanyaan-pertanyaan ini terkandung di hati setiap orang pengunjung, akan tetapi mereka tidak berani bertanya dan dengan penuh hormat mereka memasang hio dan memberi hormat ke arah peti mati yang membujur di tengah ruangan. Asap hio makin banyak dan tebal mengebul memenuhi ruangan, membawa bau harum.

Di sebelah kanan peti mati berdiri ketua Beng-kauw sendiri, yang menerima penghormatan dan membalas dengan sikap hormat kepada setiap orang tamu yang bersembahyang. Di sebelah kiri peti mati berdiri Liu Hwee dan di belakangnya berjajar para pembantu pimpinan Beng-kauw. Mereka ini pun membalas penghormatan para tamu. Yang berdatangan adalah tamu-tamu terhormat, wakil-wakil dari kerajaan lain. Tokoh-tokoh kang-ouw belum ada yang tampak. Hari masih terlampau pagi agaknya. Akan tetapi Suling Emas sudah kelihatan duduk di ujung kursi kehormatan. Di sebelahnya duduk Bu Sin yang bercakap-cakap dengannya sambil tersenyum-senyum dan wajahnya berseri-seri.

"Sungguh, Song-koko, kau telah mempermainkan kami adik-adikmu bertiga secara hebat. Setengah mati kami mencarimu, sampai mengalami hal-hal yang sengsara dan berbahaya. Mengapa kau tidak mengaku terus terang bahwa pendekar besar Suling Emas adalah kakak kami Kam Bu Song?"

Suling Emas menahan senyumnya sehingga mukanya tampak berduka, lalu ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Bu Sin, aku sudah hampir lupa akan orang yang bernama seperti itu. Bagiku, aku adalah Suling Emas.."

Bu Sin mengeluarkan sebuah gelang emas,

"Twako (Kakak Tertua), biarpun kau sudah melupakan kami, sebaliknya kami tidak melupakanmu. Ayah kita selalu ingat kepadamu, berusaha susah payah mencarimu, bahkan di hari terakhir beliau meninggalkan pesan agar kami bertiga mencarimu dan memberikan benda ini kepadamu. Twako apakah kau berani bilang bahwa kau melupakan benda ini?"

Ia menyerahkan gelang emas itu kepada Suling Emas.

Melihat benda ini, Suling Emas berubah mukanya, menerima dan mengamat-amatinya. Ia membaca dua buah huruf yang berbunyi BU SONG terukir pada gelang emas kecil itu, ia meramkan matanya untuk beberapa detik lamanya, agaknya untuk membayangkan ketika ia masih kanak-kanak, membayangkan ayah bundanya, ketika ia membuka kembali matanya, Bu Sin melihat betapa bola matanya itu agak membasah, dan ia menjadi terharu. Suling Emas mempermainkan gelang itu dengan kedua tangannya, seakan-akan heran bagaimana benda sekecil itu dahulu dapat menghias lengan tangannya.

"Bu Sin.."

Katanya kemudian, perlahan sekali setengah berbisik.

"kau keliru kalau kau menyangka aku melupakan semua. Tidak, aku tidak pernah melupakan Ayah, biarpun harus kuakui bahwa aku juga tidak dapat lupa betapa Ayah berpisah dari Ibu, dan menikah lagi. Juga.. aku girang sekali bertemu dengan kalian bertiga, tapi.. Bu Sin, kupesan kepadamu, jangan membuka rahasia bahwa aku adalah kakak kalian, belum lagi tiba saatnya. Kelak mungkin.."

Pada saat itu, Suling Emas tiba-tiba menghentikan kata-katanya dan matanya memandang keluar ruangan. Bu Sin juga cepat memandang dan ia melihat dengan mata terbelalak ke arah mahluk yang kini menghampiri meja sembahyang, menjura dan suaranya terdengar parau dan bergema seakan-akan suara yang datang dari balik kubur.

"Pat-jiu Sin-ong, tiga tahun mati, petimu masih belum dikubur, benar-benar membikin aku merasa kagum."

Ia lalu melangkah maju menghampiri peti mati, mengamat-amati dengan mata terbelalaknya. Menyeramkan sekali iblis ini bagi Bu Sin yang baru kali ini menyaksikannya, seorang manusia tapi mukanya adalah muka tengkorak, pakaiannya serba hitam. Kalau ia bukan tengkorak hidup, tentulah seorang manusia yang memakai kedok tengkorak yang menyeramkan.

"Hek-giam-lo, terima kasih atas penghormatan terhadap kami,"

Kata Beng-kauwcu Liu Mo.

"Kau datang mewakili Kerajaan Khitan ataukah atas nama pribadimu sendiri?"

"Khitan tidak ada urusan maupun permusuhan dengan Nan-cao, Hek-giam-lo juga tidak ada permusuhan dengan Beng-kauw, apalagi bedanya? Sepuluh tahun yang lalu, dalam pertandingan yang cukup adil, aku dikalahkan Pat-jiu Sin-ong, sayang dia sudah mati tiga tahun yang lalu. Akan tetapi karena peti matinya masih berada di sini, apa salahnya aku melihat sejenak wajah dari bekas sahabatku?"

Memang sepuluh tahun yang lalu, Hek-giam-lo pernah dikalahkan dalam adu kesaktian oleh mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.

Beng-kauwcu Liu Mo tentu saja cukup tahu akan wataknya yang seperti iblis, dan aneh sekali. Akan tetapi mendengar bahwa iblis ini hendak membuka peti mati kakaknya, ia terkejut dan marah sekali. Dengan gerak-geriknya yang tenang, ia menggerakkan kakinya mendekat, siap mencegah dengan cara apa pun juga agar iblis hitam tidak melakukan perbuatan yang lancang ini.

"Hek-giam-lo, mengingat akan hubungan di antara kita, harap kau suka lepaskan tanganmu dari peti mati dan jangan mengganggunya."

Akan tetapi secara tiba-tiba sekali Hek-giam-lo membalikkan tubuh dan.. kedua tangannya memukul dengan gerakan hebat sekali, mendatangkan angin pukulan dahsyat ke arah pusar dan dada Beng-kauwcu Liu Mo. Pukulan ini selain dahsyat dan sakti, juga dilakukan tiba-tiba di luar dugaan, karena seluruh perhatian ketua Beng-kauw itu tadinya ditujukan ke arah peti mati yang hendak dijaganya daripada gangguan Hek-giam-lo.

Siapa duga, bukan peti mati yang diserang melainkan dirinya. Kalau saja bukan Beng-kauwcu Liu Mo yang menghadapi serangan kilat yang mematikan ini, tentu akan kalah dia yang diserang Hek-giam-lo. Para tamu dan para pimpinan Beng-kauw sudah mengeluarkan seruan tertahan saking kaget dan gelisahnya. Akan tetapi, biarpun dalam keadaan berbahaya sekali, Beng-kauwcu Liu Mo tetap tenang dan tidak kehilangan kewaspadaannya. Ia mengangkat kedua tangan, secepatnya digerakkan menangkis pukulan sambil membanting tubuh ke belakang. Kiranya pukulan Hek-giam-lo itu hanya gertakan belaka karena tahu-tahu iblis hitam ini sudah menubruk dari samping dan sekali renggut, tongkat di tangan Beng-kauwcu itu telah dirampasnya. Ia melompat keluar dari ruangan itu sambil tertawa bergelak.

"Manusia curang.."

Suling Emas berseru marah, akan tetapi karena tidak ada perintah dari tuan rumah, ia hanya bangkit berdiri dari tempat duduknya dan memandang marah.

"Hek-giam-lo, kembalikan tongkat kami"

Dengan gerakan ringan Beng-kauwcu Liu Mo melayang keluar mengejar, akan tetapi tiba-tiba dari samping kiri menyambar sebatang tongkat dengan tenaga dahsyat pula. Beng-kauwcu Liu Mo yang sudah siap segera mengelak dan ia berhadapan dengan seorang kakek yang buntung kedua kakinya. Kakek ini bukan lain adalah Pak-sin-tung, adik seperguruan Hek-giam-lo.

"Kauwcu, tidak perlu mengejar dia,"

Kata kakek buntung ini.

"Ketahuliah, tongkatmu itu hanya dipinjam, terpaksa dirampas untuk memenuhi permintaan Tuan Puteri kerajaan kami yang ingin meminjamnya sebentar"

Pada saat itu Suling Emas sudah berada di belakang Beng-kauwcu Liu Mo, juga anak buah Beng-kauw sudah ikut mengejar.

Para tamu yang tertarik akan peristiwa hebat itu pun tidak mau ketinggalan, ikut pula mengejar hendak menonton. Mereka kini seakan-akan telah pindah dari ruangan sembahyang ke ruangan depan, lalu otomatis membentuk lingkaran lebar dan mengurung Pak-sin-tung yang ditemani oleh enam orang anak buahnya yang muncul dari tempat-tempat sembunyi mereka. Seperti kita ketahui, Pak-sin-tung yang mengantar Lin Lin tidak berani mengikuti gadis itu yang memasuki pintu kecil yang menembus terowongan, lalu menanti dan mengintai di situ sampai keesokan harinya. Demikian pula para anak buah yang dua puluh empat orang itu, diam-diam bersiap di tempat persembunyian masing-masing sehingga melihat Pak-sin-tung kini mewakili Hek-giam-lo menghadapi ketua Beng-kauw, enam orang di antara mereka muncul mengawaninya.

"Siapa kau?"

Beng-kauwcu Liu Mo menegur, memandang tajam kepada kakek yang berdiri di atas sepasang tongkat dan enam orang laki-laki di belakang kakek ini yang tampak gagah bersemangat. Memang, Pak-sin-tung tidaklah sepopuler Hek-giam-lo, karena kalau Hek-giam-lo suka merantau dan membuat geger dunia kang-ouw, adalah Pak-sin-tung berdiam di Khitan sebagai pengawal kaisar di Khitan, jarang sekali keluar dari Khitan. Karena inilah maka Beng-kauwcu Liu Mo tidak mengenalnya.

"Kauwcu, saya yang rendah disebut orang Pak-sin-tung. Hek-giam-lo adalah suhengku, karena itulah terpaksa saya berlaku kurang ajar mencegahmu mengejar suheng."

Merah muka ketua Beng-kauw itu. Ia memang tidak bisa bicara. Terhadap Hek-gim-lo, ia masih mau turun tangan. Akan tetapi terhadap seorang yang kurang terkenal seperti Pak-sin-tung ini, betapapun lihai Pak-sin-tung ia merasa enggan. Ketua Beng-kauw ini bertepuk tangan tiga kali, suara tepukan tangan ini amat nyaring seperti diadunya dua buah piring baja sehingga diam-diam Pak-sin-tung kaget bukan main karena tepukan tangan ini saja sudah membayangkan kehebatan tenaga dalam ketua Beng-kauw itu. Beberapa detik kemudian, berkelebatlah bayangan orang dan tahu-tahu Kauw Bian Cinjin sudah berada di situ, menjura di depan Beng-kauwcu sambil berkata penuh hormat,

"Mohon maaf atas kelambatan siauwte sehingga si jahat Hek-giam-lo mendapat kesempatan untuk berbuat kurang ajar. Harap Kauwcu sudi mundur dan biarkan siauwte membereskan si buntung ini."

Seperti biasa, sikap Kauw Bian Cinjin juga tenang sekali, akan tetapi di dalam ketenangannya, kakek berpakaian sederhana bertopi caping yang memegang pecut ini memperlihatkan gerak-gerik yang lincah bertenaga dan sikapnya berwibawa.

Memang terkenallah di Nan-cao, apalagi di kalangan para pimpinan Beng-kauw bahwa Kauw Bian Cinjin inilah yang menjamin lancar dan beresnya segala sesuatu mengenai Beng-kauw. Biarpun kepandaian dan kesaktiannya tidak melampaui suhengnya, yaitu Liu Mo sendiri, namun ia terkenal cerdik, waspada, dan luas pandangannya. Andaikata ia tidak sedang sibuk menyelidiki berbagai peristiwa yang mengacau di Nan-cao pada saat itu, tentu ia berada di dekat ketuanya dan kalau tadi ia hadir, kiranya Hek-giam-lo akan menghadapi kesukaran besar dalam merampas tongkat. Tadi pun ia hanya dapat melakukan itu karena melakukan penyerangan gelap lalu melarikan diri dan para pengejarnya dihadang oleh Pak-sin-tung. Dengan sikap angker Kauw Bian Cinjin menghadapi Pak-sin-tung yang masih tersenyum-senyum.

"Pak-sin-tung, kami tahu bahwa kau adalah sute Hek-giam-lo dan bahwa dari Khitan kau datang secara sembunyi. Kiranya kau dan suhengwu merencanakan perampasan tongkat ketua kami. Pak-sin-tung, siapakah yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan rendah ini? Pribadi kau dan Hek-giam-lo, ataukah Kerajaan Khitan?"

Tak enak juga hati Pak-sin-tung menghadapi sikap serius ini, apalagi nama Kerajaan Khitan dibawa-bawa.

"Terus terang saja, Kauw Bian Cinjin, kerajaan kami tidak tahu-menahu, akan tetapi peminjaman tongkat itu adalah atas perintah Tuan Puteri kami yang kebetulan kami jumpai di antara para tamu di sini. Beliau yang ingin meminjam tongkat itu."

"Wah, adikmu yang bikin gara-gara.."

Suling Emas berbisik kepada Bu Sin yang sudah berada di sampingnya, pemuda ini tadi pun bersama para tamu lain ikut berlari keluar dan ia segera mengambil tempat di dekat kakaknya.

"Kau tunggu di sini, biar kucari dia"

Sebelum Bu Sin dapat mengerti apa yang dimaksudkan Suling Emas, pendekar aneh itu telah berkelebat dan lenyap dari situ. Sementara itu, Kauw Bian Cinjin menoleh dan memandang ke arah para tamu, lalu berteriak lantang.

"Kami mohon dongan hormat kehadiran Pek-bin-ciangkun sebagai wakil dari Khitan"

Semua orang memandang dan muncullah seorang kakek tinggi besar bermuka putih, bersikap gagah dan berpakaian serba hijau. Ia menghadapi Kaw Bin Cinjin, dengan sikap yang gagah seorang perwira tinggi peperangan memberi hormat dan berkata, suaranya lantang dan agak kaku karena memang ia seorang Khitan aseli,

"Semua ucapan Pak-sin-tung benar belaka. Urusan pagi hari ini sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan Kerajaan Khitan dan sepenuhnya adalah tanggung jawab Hek-giam-lo dan Pak-sin-tung berdua."

"Bagus, kami pun memang tidak ingin membawa-bawa pihak yang tidak bersalah. Pek-bin-ciangkun, sebagai wakil dari Khitan kau telah melihat sendiri bahwa sekali-kali bukan kami pihak Beng-kauw maupun Kerajaan Nan-cao tidak menghormat tamu apalagi wakil kerajaan lain, melainkan karena orang telah berbuat keterlaluan terpaksa kami bertindak. Silakan Ciangkun kembali ke tempat duduk."

Setelah wakil Khitan itu mengundurkan diri, Kauw Bian Cinjin menggerakkan pecutnya, menghadapi Pak-sin-tung.

"Pak-sin-tung, karena jelas bahwa kau dan orang-orangmu membantu Hek-giam-lo maka kalian bersama Hek-giam-lo yang berani menghina ketua Beng-kauw harus dihukum. Menyerahlah, dan kami akan mempertimbangkan dengan adil tentang hukuman. Melawan, kami akan menggunakan kekerasaan."

"Ha-ha-ha, Kauw Bian Cinjin, omongan dan sikapmu benar-benar lucu sekali"

Pak-sin-tung tertawa bergelak.

"Siapa tidak tahu bahwa orang-orang seperti kita yang menjunjung kegagahan, berbuat apa yang kita suka dan sekali berbuat berani menanggung segala akibatnya? Suheng telah meminjam tongkat Beng-kauwcu atas perintah Puteri junjungan kami, aku telah mencegah kalian mengejarnya untuk membantu agar perintah itu terlaksana. Nah, segala kejadian memang disengaja, untuk menyerah tentu saja pantang bagi Pak-sin-tung. Terserah kau mau apa"

Kauw Bian Cinjin agaknya ragu-ragu karena mengingat bahwa mereka sedang melakukan sembahyang, ragu-ragu untuk bertindak pada hari yang dianggap keramat itu. Akan tetapi ketika menoleh ke arah ketua Beng-kauw, Beng-kauwcu Liu Mo berkata perlahan.

"Sute, kehormatan Beng-kauw dilanggar orang, di depan peti mati mendiang twa-suheng yang mulia, kalau tidak diperlihatkan keangkeran kita, Beng-kauw akan diperhina orang. Hukum mati dia"

Cambuk atau pecut panjang di tangan Kau Bian Cinjin berbunyi "tar-tar-tar"

Tiga kali dan kakek ini sudah melangkah maju sambil membentak,

"Pak-sin-tung, terimalah hukuman Beng-kauw"

Pak-sin-tung tertawa bergelak dan melihat gulungan sinar hitam kecil panjang yang mengeluarkan suara berciutan menyambar ke arahnya, cepat ia mengangkat tongkat kirinya menangkis. Terdengar bunyi nyaring sekali ketika dua senjata ini beradu, disusul mengebulnya asap putih. Agaknya saking kerasnya pertemuan pecut dan tongkat, sampai mengakibatkan panas yang hampir membakar tongkat.

Posting Komentar