Cinta Bernoda Darah Chapter 88

NIC

Suara kecil dan berbunyi ngik-ngik seperti orang sakit napas itu menantang.

"Memang aku tikus, paling takut melihat ular"

Empek Gan menggigil.

"Tapi engkau bocah cacingan kurang ajar. Engkau cacing busuk. Kalau mengajak berkelahi, pakailah aturan. Masa orang lagi enak-enak mandi kau ganggu dan takut-takuti dengan ular? Aku paling jijik melihat ular yang kotor"

Orang-orang yang tadinya sarapan kini sudah berdiri semua, ada yang menahan ketawa, ada yang memandang tegang. Peristiwa itu tampaknya saja lucu, melihat seorang kakek yang disohorkan sakti terbirit-birit ketakutan melihat ular sampai lari bertelanjang, akan tetapi sebetulnya amatlah menegangkan karena kakek sakti ini kini berhadapan dengan seorang di antara Enam Iblis.

"Orang she Gan, mari.. mari.. kita main-main sejenak.."

Kembali Tok-sim Lo-tong menantang sambil berdiri dengan kaki terpentang lebar di luar pondok. Akan tetapi Empek Gan tidak mempedulikan dia lagi. Entah dari mana dapatnya, tahu-tahu kakek ini sudah mengeluarkan puluhan butir obat bundar sebesar kelingking. Kain yang tadi dibawanya sudah ia libatkan menutupi tubuhnya, dan sambil tertawa lebar ia berkata.

"Kalian ini jagoan-jagoan dari Kerajaan Sung mengapa begini goblok?"

Ouwyang Swan mengerutkan alisnya. Dia seorang panglima tua yang namanya sudah terkenal, ilmu kepandaiannya tinggi dan kedudukannya tinggi pula di Kota Raja Sung. Biarpun ia maklum akan kesaktian Gan-lopek, namun ia merasa bahwa orang sakti ini keterlaluan, sama sekali tidak memandang mata kepadanya.

"Gan-locianpwe, kami mengerti bahwa kau adalah seorang yang sakti dan kami adalah orang-orang bodoh saja, akan tetapi tidak ada alasan bagimu untuk memaki-maki karena di antara kita tidak ada.."

"Aduhhh.."

Dua orang anak buahnya terguling dan merintih-rintih, mukanya pucat dan mereka memegangi perut yang terasa amat sakit. Ouwyang Swan kaget sekali, mengira bahwa kakek sakti itu turun tangan jahat, akan tetapi tiba-tiba tiga orang temannya yang menjadi pembantu-pembantunya juga mengerang kesakitan dan menekan-nekan perut. Empek Gan tertawa bergelak.

"Salahkah kalau aku bilang kalian goblok? Begitu gobloknya sehingga tai busuk dimakannya. Sekarang setelah keracunan, masih berlagak lagi. Nih, telanlah seorang satu sebelum nyawa melayang. Kalau masih ada yang rakus, mau makan sisa makanan yang sudah kuinjak-injak, silakan dan aku tidak bisa menolong lagi"

Setelah melempar puluhan butir obat itu ke atas meja, ia berlari-lari keluar.

"Eh, kau masih di sini? Tok-sim Lo-tong, bocah baik, jangan menakut-nakuti orang tua dengan ular, ya? Lebih baik kau main tari-tarian ular biar nanti kuberi hadiah"

"Hadiah kepalamu"

Tok-sim Lo-tong menerjang maju, ular itu telah ia pegang perutnya dan kini binatang ini ia pergunakan sebagai senjata, menyambar ke arah kepala Gan-lopek.

"Hiiiii.. jijik aku.."

Dengan amat mudahnya Gan-lopek mengelak, kelihatannya tidak mengelak hanya menggerakkan pantat megal-megol, tapi serangan-serangan Tok-sim Lo-tong mengenai tempat kosong melulu. Ketika iblis itu marah dan mendesak, Gan-lopek sudah lari pergi sambil berteriak-teriak ketakutan. Tok-sim Lo-tong juga lari mengejar. Adapun Ouwyang Swan cepat membagi-bagi obat. Dia lebih dulu menelan obat itu karena tiba-tiba perutnya juga terasa panas dan sakit. Ajaib. Begitu ditelan, rasa panas dan sakit lenyap seketika. Anak buahnya juga mengalami hal serupa.

"Hemmm, ada yang menaruh racun pada makanan kita.."

Ouwyang Swan berkata marah.

"Heran sekali, apakah pemerintah Nan-cao mau berlaku serendah ini, meracuni tamu-tamunya yang datang memberi selamat dan mengantarkan sumbangan sebagai tanda persahabatan?"

"Tuan rumah memperlihatkan sikap bermusuhan, tak perlu kita tinggal lebih lama di sini, Ouwyang-twako"

Kata panglima lainnya, Tan Hun, yang menjadi pembantunya.

"Memang, hendak kulaporkan hal ini kepada Beng-kauwcu sendiri sambil berpamit."

Cepat Ouwyang Swan memasuki kamar hendak berganti pakaian dinas, akan tetapi pada saat itu terdengar pekik kesakitan di sebelah belakang rumah. Mereka cepat berlari-lari ke belakang dan melihat dua orang berpakaian pelayan menggeletak tak bernyawa lagi dan di situ berdiri seorang laki-laki tua yang bersikap gagah, berpakaian sederhana, kepalanya tertutup topi lebar, tangannya memegang senjata pecut. Kauw Bian Cinjin, sute dari Beng-kauw yang bertugas menyambut tamu.

"Maaf, Cu-wi enghiong dari Kerajaan Sung tentu mengalami banyak kaget karena gara-gara pengkhianat dua orang pelayan ini. Syukur ada Gan-lopek yang datang lebih dulu menyampaikan obat penawar. Lohu (aku yang tua) atas nama Beng-kauw menghaturkan maaf atas keteledoran ini."

Ia menjura dengan hormat kepada Ouwyang Swan. Panglima tua ini cepat balas menghormat.

"Kiranya ada pengkhianatan, akan tetapi sebetulnya apakah yang terjadi? Siapakah yang menaruh racun dalam makanan untuk kami Cinjin?"

Kakek Beng-kauw itu tersenyum sabar dan menggeleng kepala.

"Banyak terjadi hal aneh, Ciangkun (Panglima), yang agaknya ditujukan untuk mengotori nama Beng-kauw. Kami sedang melakukan penyelidikan, karena itu hal ini masih menjadi rahasia. Akan tetapi percayalah, semua ketidakwajaran yang terjadi, pasti bukan dari kami datangnya dan kalau ada anak buah kami yang terbawa-bawa, kami tidak ragu-ragu untuk memberi hukuman seperti yang kulakukan kepada dua orang pelayan ini. Nah, selamat pagi dan sekali lagi maaf"

Setelah berkata demikian, Kauw Bian Cinjin membunyikan cambuknya satu kali "tar"

Maka muncullah dua orang anak buah Beng-kauw yang segera mengangkat dua jenazah itu dan pergi tanpa mengeluarkan kata-kata. Kauw Bian Cinjin menjura kepada para tamu dan berjalan pergi. Ouwyang Seng dan anak buahnya saling pandang, lalu kembali ke ruangan, tiada hentinya membicarakan hal yang aneh itu. Tak lama kemudian dua orang pelayan baru datang untuk membersihkan tempat itu dan menggantinya dengan makanan baru. Panglima Sung itu dan teman-temannya lalu melanjutkan makan pagi untuk kemudian bersiap-siap pergi ke tempat sembahyangan guna memberi hormat kepada arwah mendiang ketua Beng-kauwcu yang tersohor, yaitu Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.

Kita kembali mengikuti Lin Lin. Malam hari itu ia dan Pak-sin-tung, dikawal pula oleh dua puluh empat orang Khitan yang berkepandaian tinggi secara sembunyi, telah mendatangi ruangan sembahyang. Melihat Suling Emas berada di ruangan itu, bersama tokoh-tokoh Beng-kauw sibuk mengatur ruangan sembahyangan di mana terdapat sebuah peti mati yang besar dan panjang, melihat pula betapa Beng-kauwcu masih memegang tongkatnya yang berhiaskan ya-beng-cu permata yang mengeluarkan sinar itu, Lin Lin kecewa sekali. Ia dapat menduga bahwa Hek-giam-lo tentu belum berhasil merampas tongkat itu. Selain kecewa juga ia melihat kesempatan terbuka baginya untuk membebaskan diri dari Pak-sin-tung karena Suling Emas berada di situ, maka dengan nekad ia menyelinap masuk melalui pintu belakang ruangan sembahyang itu yang merupakan sebuah bangunan besar, megah dan serem.

Pak-sin-tung kaget sekali karena kakek ini sudah mendengar bahwa bangunan ruangan sembahyang ini adalah bagian terlarang yang tidak boleh sekali-kali dimasuki orang, apalagi orang luar, bahkan para anggauta Beng-kauw sendiri ia dengar tidak berani memasukinya. Sekarang, Lin Lin masuk melalui pintu kecil. Tadinya ia hanya bersembunyi sambil mengintai, menanti munculnya gadis itu dan ia siap membantu dengan taruhan nyawa. Akan tetapi karena sampai lama gadis itu tidak muncul, kegelisahannya memuncak. Ia lalu bergerak dengan hati-hati, meninggalkan tempat sembunyinya dan dengan beberapa kali loncatan yang tidak mengeluarkan suara, ia telah berada di depan pintu kecil. Alangkah kagetnya ketika ia membaca tanda-tanda larangan bahkan ancaman hukuman bagi orang yang berani memasuki pintu itu. Betapapun gagahnya Pak-sin-tung, ia cukup maklum akan keangkeran Beng-kauw, maka ia mundur lagi, tidak berani masuk. Dengan hati gelisah, kembali ia bersembunyi dan mengintai ke arah ruangan yang masih sibuk.

Lin Lin memasuki lorong yang amat gelap dan hawanya dingin sekali. Ia berjalan terus, meraba-raba dengan kedua kakinya, berlaku hati-hati. Ia mulai merasa serem ketika lorong yang panjang itu terus berada dalam kegelapan dan dinginnya makin menyusup tulang, seakan-akan ia berada di dalam lorong yang ditutup es. Mulailah ia ragu-ragu dan takut, siap untuk memutar tubuh dan kembali. Akan tetapi ia teringat bahwa di belakangnya, Pak-sin-tung dan dua puluh empat orang Khitan siap untuk memaksanya ke Khitan. Ingat akan ini, ia mengeraskan hati dan melangkah maju terus. Tiba-tiba ia tersentak kaget. Ada suara bercicit aneh di dalam gelap, suara yang mula-mula terdengar di atas, kemudian terdengar di sebelah bawah. Ia berhenti, bulu tengkuknya meremang, mendengarkan dengan penuh perhatian. Suara itu makin mendekat, terdengar di bawah kakinya. Dengan mengeraskan hatinya yang kebat-kebit ia melangkah lagi, kakinya agak menggigil. Tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu dan terdengar suara,

"Cuittttt"

Posting Komentar