Cinta Bernoda Darah Chapter 87

NIC

"Kerrriittt"

Tutup itu berbunyi dan tampaklah isinya. Sesosok tubuh seorang laki-laki sudah menjadi mayat.

"Suheng.."

Su Ban Ki berseru kaget, tubuhnya menggigil.

"Celaka.. suheng dibunuh.. tentu rahasia bocor atau.. ah, ini alamat buruk. Selamat tinggal, aku harus segera pergi, lari keluar kota.."

Ia menyambar jenazah itu, mengeluarkannya dari dalam peti lalu memanggul jenazah dan lari dengan cepat sekali. Akan tetapi segera terdengar suara jeritannya di luar rumah dan terdengar orang jatuh.

Tiga orang jagoan Hou-han cepat melompat keluar dan di dalam gelap mereka masih sempat melihat Su Ban Ki roboh terlentang tak bergerak di dekat mayat suhengnya dan yang membuat tiga orang ini melongo adalah ketika mereka melihat sebuah peti mati bergerak-gerak pergi, kadang-kadang bergulingan, kadang-kadang berloncatan. Saking kaget dan ngeri hati, mereka tidak mengejar. Akan tetapi Lu Bin cepat meloncat ke dalam rumah dan melihat bahwa peti mati yang tadi masih menggeletak di atas meja, terbuka dan kosong. Dengan demikian, berarti bahwa peti mati di luar yang "hidup"

Itu adalah peti mati lain, walaupun bentuk dan modelnya sama, yaitu di bagian kepala terdapat ukir-ukiran kepala siluman seperti naga atau harimau. Ia cepat melompat keluar lagi.

"Kejar.."

Serunya sambil lari cepat diikuti kedua orang sutenya. Akan tetapi dalam sekejap mata saja peti mati "hidup"

Itu sudah lenyap. Dengan penuh keheranan dan penasaran, tiga orang jago Hou-han ini kembali dan alangkah kaget dan herannya hati mereka ketika mereka tiba di depan pondok, mereka tidak melihat lagi mayat Su Ban Ki dan suhengnya. Ketika mereka memasuki rumah, anak buah mereka masih berdiri saling pandang dengan muka pucat, memandang peti mati yang masih terbuka kosong di atas meja.

"Hemmm, apa artinya ini semua?"

Gak Houw berseru marah.

"Orang sakti mempermainkan kita. Sayang tidak ada Sin-ni, kalau ada jangan harap dia dapat bermain gila seperti ini"

"Betapapun juga, dia masih merasa sungkan dan tidak mengganggu kita. Siapa lagi yang dapat mengirim mayat dalam peti mati istana kalau bukan orang sini juga? Su Ban Ki dan suhengnya telah dihukum, mungkin dianggap sebagai pengkhianat, lenyapnya mayat mereka menjadi bukti bahwa pembunuhnya tentulah orang Beng-kauw sendiri yang tidak mau melihat anak buah mereka menggeletak di luar. Juga agaknya mereka itu hendak memperingatkan kita."

Memang Lu Bin seorang yang berpemandangan luas dan sudah berpengalaman dalam dunia kang-ouw yang serba aneh.

"Habis, bagaimana baiknya?"

Kata Giam Song.

"Apakah kita harus melaporkan hal ini kepada Sin-ni?"

"Tidak perlu,"

Kata Lu Bin.

"Kita tidak mempunyai maksud buruk, tugas kita hanya untuk menghubungi Nan-cao dan untuk mengadakan persekutuan guna memperkuat pertahanan bersama. Soal-soal yang busuk tadi datangnya dari fihak Nan-cao sendiri sebagai usul, bukan hasil pemikiran kita. Dan inilah sebabnya kita tidak diganggu. Hebat benar orang sakti itu, dan sudah sepatutnya kita mengucap syukur bahwa kita tidak mempunyai maksud-maksud kotor. Peti mati itu pun harus kita kembalikan."

"Kembalikan? Ke mana?"

Gak Houw berseru kaget.

"Datangnya dari atas genteng, tentu saja harus kita kembalikan ke atas genteng pula"

Sambil berkata demikian, ia menghampiri meja, mengempit peti mati itu dengan lengan kiri, membawanya keluar kemudian sekali menggerakkan tangan, peti mati itu melayang naik ke atas genteng, jatuh di atas genteng tanpa membikin pecah genteng dan terletak di situ seperti diletakkan perlahan-lahan oleh tangan yang amat hati-hati. Ini membuktikan betapa lwee-kang dari orang she Lu ini sudah cukup kuat. Lu Bin lalu mengajak teman temannya masuk ke dalam pondok dan memesan anak buahnya agar supaya iangan lengah, biarpun berada di dalam kamar masing-masing agar supaya malam itu jangan tidur, melainkan berjaga-jaga.

Tidak hanya di tempat penginapan orang-orang Hou-han yang terjadi peristiwa aneh. Juga di tempat lain terjadi keributan. Pada keesokan harinya, di ruangan tempat kediaman para utusan Kerajaan Sung, juga terjadi hal yang bikin geger. Pada waktu itu, rombongan utusan Kerajaan Sung Utara sedang sarapan. Di kepala meja duduklah ketua rombongan, yaitu wakil Kerajaan Sung, seorang panglima tua bernama Ouwyang Swan yang pada saat itu mengenakan pakaian biasa. Ia semeja dengan tiga orang panglima lain yang lebih muda. Tentu saja dalam percakapan mereka bicara tentang peristiwa dalam perjamuan kemarin, dan membicarakan Gan-lopek dan Suma Boan. Mereka tertawa-tawa geli. Sebagian besar panglima yang setia kepada Kerajaan Sung, tidak senang belaka kepada Suma Boan, putera dari Pangeran Suma yang korup. Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan ketika mereka menengok, dengan heran mereka melihat seorang kakek tua yang telanjang bulat memegangi sehelai kain berlari-lari ke arah mereka sambil berteriak-teriak.

"Waduhhh.. walaaahhh.. ular.. hiiiii.. ular, ular.."

Sambil berteriak-teriak dengan mata terbelalak ketakutan, kakek itu berlari memasuki ruangan dan terus saja meloncat ke atas meja di depan Panglima Ouwyang Swan, kakinya yang juga telanjang itu menginjak-injak hidangan dan menendang cawan-cawan arak sehingga hidangan dan minuman itu hancur berhamburan dan tumpah semua. Ia terus berloncat-loncatan dari meja ke meja dan menghancurkan semua hidangan. Tentu saja para panglima dan rombongan Sung menjadi kaget, heran, dan juga marah sekali. Apalagi ketika mereka melihat seorang kakek lain yang muncul dengan seekor ular besar membelit-belit tubuhnya, kakek yang bukan lain adalah Tok-sim Lo-tong, seorang di antara keenam Thian-te Liok-koai, kakek yang hanya bercawat saja dan tubuhnya tinggi kurus kering seperti tiang lampu.

Melihat munculnya iblis ini, barulah panglima Ouwyang Swan teringat dan kini ia memandang kepada kakek pendek telanjang bulat yang masih menari-nari di atas meja-meja, menginjak-injak semua hidangan sambil berteriak "ular-ular". Kini ia mengenal kakek telanjang itu, bukan lain adalah Gan-lopek si kakek badut yang sakti dan yang sejak pagi tadi menjadi bahan percakapan mereka. Kagetlah hati Ouwyang Swan. Pagi-pagi muncul dua orang sakti dalam keadaan begitu aneh, benar-benar hal yang luar biasa sekali. Para anak buahnya banyak yang marah sekali, akan tetepi sebagai anak buah yang taat, mereka belum berani bergerak sebelum mendapat komando dari Ouwyang Swan sendiri.

"Tikus busuk she Gan, jangan lari, hayo ke sini lawan aku"

Posting Komentar