Bu Kek Siansu Chapter 98

NIC

Si Pemegang Golok mengejek.

"Keparat, siapa takut?"

Swat Hong melompat dan mengejar.

"Sumoi....!"

Sin Liong memperingatkan, akan tetapi Swat Hong tentu saja tidak mau peduli karena dia sudah marah sekali, apalagi mendengar nama The Kwat Lin, dia sudah bersemangat dan ingin segera berhadapan dengan musuh besarnya itu.

Melihat sumoinya terus mengejar, terpaksa pula Sin Liong juga meloncat dan berlari cepat mengejar. Orang-orang kerdil itu berlari terus mendekati lereng bukit, keluar dari hutan memasuki daerah yang tandus berbatu-batu dan di situ terdapat banyak gua batu yang besar-besar, dan dari luar tampak menghitam karena di sebelah dalam gua tidak memperoleh matahari sehingga amat gelap. Dari belakang Sin Liong melihat betapa orang-orang kerdil itu bagaikan rombongan semut saja dengan sigapnya berloncatan memasuki gua-gua di sekitar itu, akan tetapi sebagian banyak memasuki sebuah guha terbesar dan yang berada di tengah-tengah di antara semua gua.

"Sumoi, berhenti dulu! Ini bukanlah sebuah rawa!"

Teriak pula Sin Liong, akan tetapi terlambat karena Swat Hong dengan penuh semangat telah menerjang masuk dan lenyap ke dalam gua besar.

"Ah, Sumoi terlalu bersemangat sehingga sikapnya sembrono dan berbahaya,"

Sin Liong mengomel dan terpaksa dia pun cepat mengejar memasuki guha besar itu. Guha itu gelap sekali, gelap dan sunyi.

"Sumoi....!!"

Dia berteriak memanggil, akan tetapi hanya gema suaranya sendiri yang menjawab dari berbagai jurusan! Dia terkejut dan dapat menduga bahwa gua itu merupakan terowongan yang bercabang-cabang. Dia maju terus dan benar saja dugaannya, gua yang gelap itu merupakan lorong dan akhirnya tiba di depan terowongan yang bersimpang tiga!

"Sumoi....!!"

Dia berteriak lagi dan jauh dari depan, terdengar jawaban gema suaranya sendiri lima kali berturut-turut!

"Celaka,"

Pikirnya.

"Kita telah terjebak!"

Akan tetapi karena dia harus dapat menemukan sumoinya yang dia khawatirkan terjeblos ke dalam perangkap orang-orang kerdil. Sin Liong tanpa ragu-ragu memilih jalan ke kanan. Setelah kini matanya terbiasa, ternyata terowongan itu tidaklah terlalu gelap benar. Ada sinar matahari yang masuk dan memantul sampai ke dalam terowongan, entah dari mana masuknya sinar itu. Dia berjalan agak cepat ke depan dan terowongan yang dipilihnya itu ternyata berakhir pula dengan simpangan, kini simpang empat!

"Aihhh....!"

Dia mengeluh lalu mengerahkan khingkangnya berteriak memanggil.

Posting Komentar