Bu Kek Siansu Chapter 94

NIC

"Sudah tua bangka masih banyak pamrih mencampuri urusan pemberontakan!"

Bentaknya dan pedangnya mengeluarkan sinar, lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika dia meloncat dan memutar senjata itu menyerang.

Dengan tenang kakek itu menghadapi penyerangan ini, sikapnya seperti seorang tua menghadapi seorang anak yang nakal. Karena menduga bahwa kakek itu tentu amat lihai, maka Ouw Sian Kok tidak bersikap tanggung-tanggung sekali ini, pedangnya meluncur dengan amat cepatnya dan dia membuka serangan. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu memutar pancingnya dan terdengarlah suara bersuitan nyaring sekali. Ouw Sian Kok bersikap waspada dan ketika tangkai yang terbuat dari bambu panjang itu menyambar ke depan menyambutnya, dia cepat menggerakan pedangnya yang ampuh dengan mengerahkan tenaga sinkang untuk membabat putus bambu itu.

Namun, bambu itu seperti hidup bergerak mengikuti sinar pedangnya, berkejaran dengan sinar pedangnya tidak pernah tersentuh, dan tahu-tahu Ouw Sian Kok merasa betapa tubuhnya terangkat ke atas. Ternyata bahwa ketika kakek itu memutar bambu yang menjadi tangkai pancing, tali pancingnya berputaran sedemikian cepatnya sampai tidak tampak karena tali itu kecil saja, dan tahu-tahu mata pancing itu telah mengait punggung baju Ouw Sian Kok sehingga seolah-olah Ouw Sian Kok dijadikan "ikan"

Yang terkena pancing! Ouw Sian Kok terkejut dan marah, dia bergerak hendak membabat tali pancing di atas punggungnya, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya yang tergantung itu berputar cepat sekali.

Dia diputar-putar di atas kepala kakek itu sehingga kalau sampai tali itu diputuskan dengan tangannya, tentu tubuhnya akan terlempar dan terbanting keras tanpa dia mampu mencegahnya karena tubuhnya sudah berputaran seperti kitiran di udara. Semua orang memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, kaget dan kagum melihat betapa mudahnya kakek tua itu membuat Ouw Sian Kok yang sakti itu tidak berdaya sama sekali! Ouw Sian Kok merasa malu dan marah. Dikerahkannya sinkangnya dan dia telah menggunakan ilmu memberatkan tubuhnya. Seketika tubuhnya yang masih berputar-putar itu agak menurun dan bambu itu melengkung seolah-olah tidak kuat menahan tubuhnya.

"Tidak buruk....!"

Kakek itu berseru kagum juga, akan tetapi karena dia masih memutar-mutar hasil pancingannya itu dengan amat cepatnya, Ouw Sian Kok tidak dapat melepaskan diri dan hanya melirik ke arah kakek itu dengan pandang mata penuh kemarahan dan kadang-kadang mencoba untuk menggerakan pedang membacok ke arah tubuh kakek itu. Tiba-tiba terdengar suara Liu Bwee,

"Ouw-toako, jangan melawan....! Locianpwe, mohon Locianpwe sudi mengampuninya....!!"

Mendengar seruan Liu Bwee ini Ouw Sian Kok terkejut dan dia menghentikan usahanya untuk menyerang atau membebaskan diri, lalu berkata,

"Harap Locianpwe sudi memaafkan kalau saya bersikap kurang ajar!"

"Heh-heh-heh, ternyata Pulau Neraka belum merusakmu , orang muda!"

Tali pancing itu mengendur dan tahu-tahu Ouw Sian kok telah mendapatkan dirinya berada di atas tanah. Dia berdiri tak bergerak, hanya menoleh ke arah Liu Bwee yang kini sudah terbelenggu dan dijaga ketat. Kakek itu lalu menghadap ke arah An Lu San yang berdiri di tempat aman, kemudian berkata halus,

"An-goan-swe harap suka memenuhi permintaan seorang tua seperti aku agar suka membebaskan wanita itu."

Sudah kita ketahui bahwa An Lu San adalah seorang yang amat cerdik. Melihat keadaan kakek itu, dia pun maklum bahwa orang tua itu amat sakti dan menghadapi seorang kakek seperti itu, lebih baik bersa-habat daripada memusuhinya. Kalau ingin berhasil dalam mengejar cita-cita, berbaiklah dengan seba-nyak mungkin orang pandai, demikian pedoman hatinya. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk membebaskan Liu Bwee. Tentu saja isyarat ini tidak ada yang berani membantahnya sungguhpun para anak buah dan pembantunya merasa khawatir akan sikap An Lu San ini. Di situ terdapat tiga orang lawan tangguh, yang seorang sudah tertawan mengapa dibebaskan lagi? Bukankah ini merupakan perbuatan bodoh dan berbahaya? Liu Bwee yang sudah terbebas dari totokan dan belenggu, segera menghampiri kakek itu dan menjatuhkan diri berlutut.

"Locianpwe...."

Katanya dan melanjutkan dengan tangis yang menyedihkan. Kakek itu mengangguk-angguk.

"Sudahlah, sudahlah, aku sudah tahu semua yang menimpa dirimu dan Pulau Es. Sudah semestinya demikian, ditangisi pun tidak akan ada gunanya."

Liu Bwee sadar mendengar ucapan ini dan cepat menghapus air matanya, lalu berkata kepada Ouw Sian Kok,

"Ouw-twako, Beliau ini adalah kakek dari suamiku yang telah lama meninggalkan pulau dan mengasingkan diri sebagai seorang pertapa. Baru sekarang aku dapat bertemu dengan Beliau...."

Mendengar ini, terkejutlah hati Ouw Sian Kok. Kalau orang tua ini kakek dari Han Ti Ong, berarti kakek ini dahulunya adalah Raja Pulau Es atau setidaknya tentu pangeran! Dan tentu ilmunya sudah amat tinggi, karena dia tadi sudah merasakan kelihaian kakek ini, hatinya makin tunduk dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu di samping Liu Bwee.

"Teecu Ouw Sian Kok mohon maaf sebesarnya kepada Locianpwe,"

Katanya. Kakek itu terkekeh,

"Heh-heh-heh, kalian ini dua orang muda memang tidak pernah bertobat! Sudah puluhan tahun hidup menghadapi bermacam penderitaan, masih saja tidak mau merobah dan mencari keributan pula di sini. Kalian berdua mempunyai bakat baik sekali untuk mempelajari hidup dan marilah kalian ikut bersamaku! Kalau kalian tidak mau, aku pun tidak akan memaksa, akan tetapi kelak kalian hanya akan menemui kekecewaan dan kesengsaraan belaka. Sebaliknya, kalau kalian suka ikut bersamaku, segala hal mungkin saja terjadi."

Liu Bwee dan Ouw Sian Kok saling pandang dan biarpun mulut mereka tidak saling bicara namun hati mereka sudah saling menerima getaran dan mereka tahu bahwa ke mana pun mereka pergi, asal mere-ka tidak berpisah, mereka akan merasa cukup kuat, berani tabah dan bahagia! Maka keduanya lalu mengangguk-angguk tanpa bicara lagi. Kakek itu merasa girang, lalu menoleh ke arah An Lu San.

"An-goanswe, telah berbulan-bulan aku menyaksikan gerakanmu dan engkau memang pantas menjadi penggempur kelemahan kerajaan. Bukan urusanku untuk mencampuri. Nah, perkenankan kami bertiga pergi dari sini."

An Lu San cepat melangkah maju dan mengangkat kedua tangannya ke depan dada,

"Locianpwe, saya mohon petunjuk Locianpwe mengenai perjuangan kami!"

Jenderal ini maklum bahwa membujuk mereka untuk membantunya amatlah sukar, maka sedikitnya dia ingin memperoleh petunjuk dan nasihat dari kakek sakti itu. Mendengar ini, kakek itu lalu memutar-mutar pancingnya yang menge-luarkan suara bersuitan dan makin lama makin nyaring kemudian terdengar suara itu melengking seperti suling dan berlagu! Barulah terdengar suaranya seperti orang bernyanyi, diiringi suara seperti suling yang timbul dari tali yang diputar cepat itu.

"Yang lama akan terguling yang baru menggantikannya, yang baru akan menjadi lama dan ada yang lebih baru pula! Yang tua akan mati diganti yang muda, yang muda akan menjadi tua mati dan diganti pula! Apakah yang kekal di dunia ini? Yang menyebabkan kematian dan kesengsaraan akan dilanda kematian dan kesengsaraan ayah dan anak menyukai kekerasan akan menjadi korban kekerasan pula!"

Suara melengking dan nyanyian terhenti, semua orang tercengang dan diam, pikiran bekerja memecahkan arti nyanyian itu dan ketika mereka memandang tiga orang itu telah pergi dari situ. Barulah para pengawal sadar dan hendak mengejar, akan tetapi An Lu San berkata,

"Jangan ganggu mereka!"

Para pengawal yang mengikuti dari jauh kemudian melapor kepada An Lu San betapa kakek itu menggandeng tangan Ouw Sian Kok dan Liu Bwee melompati jurang yang amat lebar kemudian lenyap di balik gunung!

An Lu San menghela napas panjang, mengingat-ingat dan mencoba memecahkan arti nyanyian itu, menyuruh orangnya menuliskan nyanyian kakek itu. Dia merasa girang ketika orang-orangnya yang terkenal ahli sastra menguraikan nyanyian yang merupakan ramalan baik baginya. Yang lama akan terguling yang baru akan menggantikannya. Hal ini saja sudah jelas berarti bahwa perjuangannya menggulingkan pemerintahan lama pasti akan berhasil. Apalagi bait-bait terakhir yang mengatakan bahwa ayah dan anak menyukai kekerasan akan menjadi korban kekerasan pula. Ditafsirkannya bahwa ayah dan anak tentulah Kaisar dan Putera Mahkota yang tentu akan dibunuhnya kalau dia berhasil merebut tahta kerajaan.

Memang demikianlah semua manusia. Selalu menafsirkan segala sesuatu dengan kepentingan dan keinginan hatinya sendiri seolah-olah segala sesuatu yang tampak di dunia ini khusus diperuntukan dirinya belaka! Kenyataannya kelak akan terbukti bahwa biarpun An Lu San behasil merampas tahta kerajaan, namun dia tidak dapat lama menikmati hasil pembunuhan besar-besaran dalam perang pemberontakan itu, karena tidak lama kemudian dia dan puteranya berturut-turut dibunuh oleh kaki tangannya sendiri!

Orang memang selalu lupa akan kenyataan hidup bahwa yang baru lambat laun akan menjadi lama juga, yang muda akan menjadi tua pula. Manusia selalu dibuai oleh khayal, selalu dipermainkan oleh pikiran-nya sendiri yang menjangkau jauh ke masa depan, menjangkau segala sesuatu yang tidak ada atau yang belum dimilikinya. Manusia tidak mau melihat apa adanya, tidak mau memperdulikan "yang begini"

Melainkan selalu mengarahkan pandang matanya kepada "yang begitu"

Yaitu sesuatu yang belum ada, yang menimbulkan keinginan hatinya untuk memperolehnya. Manusia lupa bahwa "yang begitu"

Tadi, artinya belum diperolehnya.

Kalau sudah diperoleh dan berada di tangannya akan menjadi "yang begini"

Pula dan mata akan tidak mempedulikan lagi karena sudah memandang pula kepada "yang begitu", ialah hal lain yang belum dimilikinya. Betapa akan berada jauh keadaan hidup apabila kita menunjukan pandang mata kita kepada "yang begini", kepada apa adanya, mempelajari, mengertinya sehingga terjadilah perubahan karena dengan mengerti kebiasaan yang buruk, mengerti dengan sedalam-dalamnya, otomatis kebiasaan itu pun terhentilah. Dengan mengerti sedalamnya akan keadaan sekarang, saat ini, apa adanya setiap detik, benda apapun juga, di manapun juga, mengandung keindahan murni yang tidak dapat diperoleh keinginan.

Lenyaplah batas yang memisahkan indah dan buruk, senang dan susah, utung dan rugi, aku dan engkau, dan kalau sudah begini, baru kita tahu apa artinya cinta kasih, apa artinya kebenaran, kemurnian, kesucian dan apa artinya sebutan Tuhan yang biasanya hanya menjadi kembang bibir belaka. Kita tinggalkan dulu Liu Bwee dan Ouw Sian Kok yang ikut pergi bersama kakek nelayan sakti yang bukan lain adalah kakek dari Han Ti Ong, bekas Raja Pulau Es yang telah puluhan tahun lamanya meninggalkan pulau itu dan merantau di tempat-tempat sunyi sebagai pertapa yang mengasingkan diri dari dunia ramai.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Sin Liong dan Swat Hong, maka marilah kita mengikuti perjalanan dua orang itu. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sin Liong dan Swat Hong saling bertemu kembali di lereng puncak Gunung Awan Merah tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw. Setelah mendengar tentang Bu-tong-pai yang dikuasai oleh The Kwat Lin yang memang sedang mereka cari-cari, Sin Lion bersama Swat Hong lalu meninggalkan lereng Awan Merah, turun gunung dan dengan cepat pergi me-nuju ke Pegunungan Bu-tong-san.

Biarpun kedua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini telah menggunakan ilmu berlari cepat dan hanya mengaso apabila mereka merasa lapar dan terlalu lelah saja, namun karena jaraknya yang amat jauh, kurang lebih sebulan kemudian barulah mereka tiba di lereng Pegunungan Bu-tong-san. Di kaki gunung tadi mereka telah memperoleh petunjuk dari seorang petani di mana letak Bu-tong-pai, yaitu di atas sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Bu-tong-san.

"Hati-hatilah, sumoi, kita sudah tiba di daerah Bu-tong-pai."

Sin Liong berkata ketika mereka berhenti sebentar di bawah pohon untuk melepas lelah sambil menghapus keringat dari dahi dan leher.

"Hemm, kita hanya berurusan dengan The Kwat Lin, urusan pribadi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Bu-tong-pai. Kita harus menyatakan ini kepada semua orang Bu-tong-pai, kalau mereka tidak mau mengerti dan hendak membela The Kwat Lin, kita hantam mereka pula!"

Hati Sin Liong merasa khawatir sekali. Memang akibatnya amat berlawanan setelah bertemu dengan sumoinya ini. Girang dan juga khawatir, Serba susah. Dia tentu saja girang sekali dapat bertemu dengan sumoinya dalam keadaan selamat dan sehat. Akan tetapi di samping rasa girang ini, juga dia kini selalu dilanda kekhawatiran akan sifat Swat Hong.

Andaikata dia sendiri saja yang datang ke Bu-tong-pai, tentu dia akan membujuk agar The Kwat Lin mengembalikan pusaka-pusaka Pulau Es dan dia tidak akan menuntut hal ini. Akan tetapi, setelah pergi bersama Swat Hong, dia tahu bahwa tentu gadis ini akan menimbulkan keributan. Tentu Swat Hong akan memusuhi The Kwat Lin yang dianggapnya menjadi penyebab kesengsaraan ayah bundanya. Hal ini menaruh dia di tempat yang amat tidak menyenangkan. Memban-tu Swat Hong memusuhi The Kwat Lin berlawanan dengan batinnya karena dia tidak ingin memusuhi siapapun juga. Tidak membantu, tentu Swat Hong terancam bahaya dan tentu akan marah dan benci kepadanya! Mereka sudah mendekati puncak dimana tampak dinding tembok Bu-tong-pai yang tinggi.

"Sumoi, kau serahkan saja kepadaku untuk bicara dengan orang-orang Bu-tong-pai. Kurasa mereka akan suka menerima alasan kita kalau mereka mendengar apa yang telah dilakukan oleh ketua baru mereka."

Swat Hong mengangguk.

Posting Komentar