"Celaka, kita terjebak...!"
Song Kiat berseru.
"Taihiap Lihiap, kita kembali saja!"
Tergesa-gesa delapan belas orang pendekar itu memutar tubuh dan lari kembali ke jurang di mana mereka menyeberang tadi, diikuti oleh Ouw Sian Kok dan Liu Bwee. Akan tetapi, begitu tiba di tepi jurang, Song Kiat menjadi pucat dan memandang ke depan dengan mata terbelalak, demikian pula para sutenya. Ternyata di tempat penyeberangan itu, di sebelah sana tampak berbaris pasukan yang siap dengan busur dan anak panah mereka. Dengan adanya pasukan panah itu tidak mungkin lagi bagi mereka untuk melarikan diri dengan membentuk jembatan manusia seperti tadi. Tentu mereka akan dihujani anak panah dan akan tewas semua. Melihat betapa delapan belas orang pendekar itu kebingungan, Ouw Sian Kok berkata dengan suara agak kecewa,
"Mengapa Cuwi menjadi bingung setelah berhadapan dengan musuh?"
"Taihiap tidak tahu, memang benar dugaan Taihiap tadi bahwa kita terperosok ke dalam perangkap. Penyelidikan kita yang sudah-sudah pun agaknya sudah diketahui oleh orang-orang An Lu San. Ternyata secara diam-diam An Lu San berada di sini, lengkap dengan semua pembantunya dan hal ini amatlah berbahaya."
"Berbahaya atau tidak, kita sudah menghadapinya dan perlu apa bingung? Kebingungan hanya akan membuat kita tidak tenang dan lemah. Hadapilah apa saja yang kita temui, berbahaya maupun tidak. Apa gunanya hidup sebagai pendekar kalau matinya seperti pengecut?"
Mendengar ucapan Ouw Sian Kok ini, bangkitlah semangat kepahlawanan delapan belas orang murid Bu-tong-pai itu.
"Ucapan Taihiap tepat sekali! Maafkan kalau tadi kami bingung karena hal ini sama sekali tidak kami duga-duga dan apalagi kami telah mengajak Jiwi ke sini, berarti kami menyeret Jiwi ke dalam bahaya pula."
"Hidup memang merupakan keadaan yang penuh bahaya, tergantung kita menghadapinya."
Liu Bwee berkata. Memang bagi wanita yang sudah mengalami banyak kesengsaraan, apalagi sejak kecil tinggal di Pulau Es, bahaya bukanlah apa-apa dan merupakan hal yang wajar.
"Kalau begitu, mari kita ke telaga dan kita hadapi An Lu San sendiri. Setelah menghadapi dia, tugas kami berubah, tidak lagi melakukan penyelidikan melainkan kalau perlu menewaskan jenderal pemberontak itu!"
Song Kiat berkata penuh semangat sambil mencabut pedangnya. Gerakan ini diikuti oleh tujuh belas orang sutenya dan dengan berlari cepat mereka kembali ke telaga di mana telah menanti An Lu San dan semua pembantunya.
Akan tetapi mereka tercengang ketika tiba ditempat itu, mereka melihat An Lu San sendiri diiringkan oleh puluhan orang yang bermacam-macam bentuk dan keadaannya, menanti dengan sikap tenang, sama sekali tidak memperlihatkan sikap permusuhan, akan tetapi mereka juga melihat betapa tempat itu telah dikurung oleh banyak sekali orang-orang yang bersenjata lengkap! Delapan belas orang itu tidak tahu harus berkata apa, akan tetapi mereka sudah siap untuk melawan dengan nekat dan mati-matian apabila diserang oleh pasukan yang demikian banyaknya. Ternyata memang An Lu San telah mengatur perangkap ini. Ketika mendengar pelaporan dari anak buahnya yang berhasil menyelamatkan diri betapa delapan belas orang pendekar dari Bu-tong-pai yang tadinya sudah hampir dapat dibasmi itu diselamatkan oleh dua orang laki-laki dan wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, An Lu San merasa tertarik sekali dan cepat dia mengatur persiapan untuk menyambut mereka.
"Mereka tentu akan mengunjungi tempat ini,"
Katanya.
"Biarkan mereka menyeberang dan jangan menurunkan tangan besi sebelum mendapatkan perintahku. Aku ingin untuk bicara dulu dengan mereka, siapa tahu kita dapat membujuk mereka untuk bekerja sama, terutama dua orang sakti itu."
Demikianlah, karena memandang rendah kecerdikan An Lu San, delapan belas orang murid Butong-pai itu masuk ke dalam perangkap yang memang telah dipasang oleh jenderal itu. Kalau dia menghendaki, tadi ketika delapan belas orang itu membuat jembatan manusia, tentu dengan mudah dia akan membasmi mereka.
"Hemm, Cuwi tentulah Bu-tong Cap-pwe Enghiong yang gagah perkasa,"
Terdengar An Lu San berkata dengan suaranya yang nyaring penuh wibawa, kasar dan tidak memakai banyak sopan santun pula.
"Ada keperluan apakah Cuwi mengunjungi tempat kami ini?"
Karena tidak mungkin lagi berpura-pura atau membohong, maka sesuai dengan wataknya sebagai pendekar, Song Kiat menjawab dengan suara lantang,
"Kami datang untuk membunuh Jenderal pembe-rontak An Lu San!"
Tentu saja jawaban ini membuat marah para pembantu jenderal itu, yang sudah kelihatan gatal tangan untuk membasmi musuh, akan tetapi An Lu San menggerakkan tangan ke atas mencegah dan dia berkata lagi, ditujukan kepada delapan belas orang pendekar itu, akan tetapi diam-diam matanya yang tajam menyapu dengan penuh selidik kepada laki-laki setengah tua yang memegang tombak dan wanita cantik yang memegang pedang di dekat delapan belas pendekar itu.
"Sungguh kami merasa heran sekali mengapa para orang gagah di Bu-tong-pai masih juga belum sadar? Pemerintah yang dikuasai Kaisar lalim selain menyia-nyiakan sebuah perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai, juga telah menghinanya menganggap Bu-tong-pai sebagai perkumpulan orang jahat. Sekarang, Cuwi malah membela Kaisar, bukankah itu namanya penjilatan? Apakah orang-orang gagah demikian rendah dirinya, menjilat-jilat kalau dihina oleh pihak yang lebih tinggi?"