Bu Kek Siansu Chapter 88

NIC

"Duhai suamiku.... betapa kau menderita hebat...."

Bisiknya diantara isak tangisnya. Sian Kok memandang bekas cengkeraman jari tangan itu dan dia pun dapat membayangkan Han Ti Ong berusaha menahan dirinya dari seretan air dengan mencengkeram batu dinding. namun, kekuatan badai yang amat dahsyat itu akhirnya menang dan tentu Raja itu diseret dan ditelan gelombang membadai, lenyap dalam perut lautan. Liu Bwee menjatuhkan dirinya berlutut sambil menangis. Kembali tangannya meraba huruf-huruf di bawah. Agaknya huruf-huruf dibuat orang sambil berlutut pula dan di dinding bawah ini juga terdapat bekas cengkeraman jari tangan. Setelah mengusap matanya agar pandangan matanya tidak tertutup air mata, dia membaca lagi,

"Bwee-moi, dosaku padamu terlalu besar, maka Thian menghukum aku. Selamat tinggal."

Membaca ini, Liu Bwee mengeluarkan suara menjerit lalu tergelimpang dan roboh pingsan. Untung Sian Kok cepat menyambarnya sehingga kepalanya tidak sampai terbentur dinding batu.

Sian Kok cepat mengangkat tubuh wanita itu dan matanya menyapu tulisan di bawah itu. Dia menghela napas dan membawa tubuh yang pingsan itu ke dalam istana dan meletakannya ke dalam sebuah kamar. Ketika memeriksanya, dia memperoleh kenyataan bahwa nyonya ini menerima pukulan batin yang hebat sehingga keadaannya gawat. Dengan tergesa-gesa, Sian Kok meninggalkan Liu Bwee, berlari ke perahunya dan cepat mendayung perahunya menuju ke sebuah pulau dan memetik beberapa daun obat yang dikenalnya. Tak lama kemudian dia sudah kembali ke Pulau Es, memasak obat dan mencekokan obat itu ke dalam mulut Liu Bwee.

Kemudian dia membantu nyonya itu dengan penyaluran sinkangnya sehingga semalam suntuk dia duduk bersila di dekat Liu Bwee, mengerahkan tenaga agar tubuh nyonya yang pingsan itu tetap hangat. Pada keesokan harinya, Liu Bwee mengeluh dan sadar sehingga menggirangkan hati Sian Kok yang lupa akan keadaan dirinya sendiri yang kehabisan tenaga dan mukanya pucat sekali. Setelah sadar dan teringat lagi, Liu Bwee menangis sesenggukan, dibiarkan oleh Sian Kok yang menganggap tangis itu sebagai obat mujarab.

Setelah tangisnya mereda, Liu Bwee teringat bahwa tahu-tahu dia berada di dalam kamar istana yang kosong itu. Maklumlah dia bahwa dia pingsan dan dibawa ke tempat ini oleh Sian Kok. Dia mengangkat muka, menghentikan tangisnya dan memandang. Dia melihat betapa pria itu pucat mukanya dan kelihatan lelah sekali, maka sebagai seorang ahli, dia dapat menduga sebabnya.

"Berapa lamakah aku pingsan di sini, Toako?"

"Hemm, semalam suntuk kau pingsan, membuat hatiku gelisah,"

"Dan selama ini engkau menjagaku, mengerahkan sinkang untuk membantuku, bukan?"

"Hemmm...., tak perlu dibicarakan itu. Yang penting, engkau telah siuman kembali dan harap kau suka menjaga kesehatanmu sendiri, jangan terlalu menurutkan perasaan berduka. Toanio, dalam tulisan pesan suamimu itu disebut Sin Liong, siapakah dia?"

"Sin Liong adalah murid suamiku, seorang pemuda yang amat baik,"

Liu Bwee berkata sambil menghapus sisa air matanya.

"Kalau begitu, legakan hatimu, Toanio. Biarpun sangat boleh jadi suamimu, seperti semua penghuni Pulau Es, disapu habis oleh badai, namun kurasa puterimu selamat dan baru-baru ini datang pula ke pulau kosong ini."

Liu Bwee memandang dengan mata terbela-lak.

"Bagaimana engkau bisa tahu?"

"Aku melihat bekas tapak kaki mereka, tapak kaki seorang wanita dan seorang pria, masih jelas membekas di bagian es yang membeku di atas sana, dan aku juga menemukan ini."

Ouw Sian Kok mengeluarkan sehelai saputangan hijau dan memberikannya kepada Liu Bwee. Liu Bwee menyambar saputangan itu dan kembali matanya yang sudah mengering mencucurkan air mata. Dia mendekap saputangan itu dan berkata,

"Benar, ini adalah saputangan pengikat rambut anakku! Di mana tapak-tapak kaki itu, Toako? Ingin aku melihatnya!"

Mereka lalu meninggalkan istana menuju ke bagian atas dan benar saja, tampak jelas bekas tapak kaki dua orang, kecil dan besar, tanda bahwa baru saja, mungkin paling lama kemarin, ada dua orang datang ke pulau itu. Seorang laki-laki dan seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Swat Hong dan Sin Liong?

"Tidak salah lagi, tentu anaku dan Sin Liong. Akan tetapi di mana mereka sekarang? Aku harus bertemu dengan puteriku, Ouw-twako."

Ouw Sian Kok mengerutkan alisnya yang tebal.

"Mereka itu adalah orang-orang muda yang lihai dan tentu mereka telah melihat pula tulisan berukir di dinding pesan suamimu. Dan tentu mereka berusaha untuk mencari sampai dapat wanita bernama The Kwat Lin itu."

"Kalau begitu, aku akan menyusul mereka, Toako. Tentu mereka melakukan pengejaran ke daratan besar."

Ouw Sian Kok mengangguk-angguk.

"Kukira dugaanmu tidak keliru. Akan tetapi, Toanio, pernahkah Toanio ke daratan besar di barat sana?"

Liu Bwee menggeleng kepala tanpa menjawab, alisnya berkerut karena dia pun merasa bingung dan khawatir, ke mana harus mencari puterinya, padahal menurut penuturan yang didengarnya di Pulau Es, daratan besar amatlah luasnya, seluas lautan yang tiada tepi. Melihat wajah wanita itu, Ouw Sian Kok merasa makin kasihan dan dengan suara penuh semangat dia berkata,

"Toanio, jangan khawatir. Di dalam perantauanku, pernah aku mendarat di daratan besar dan biarlah aku menemanimu mencari puterimu Han Swat Hong itu, sekalian menjadi penunjuk jalan."

Berseri wajah Liu Bwee dan dia memandang kepada laki-laki itu penuh harapan dan terima kasih, akan tetapi mulutnya berkata,

"Ahhh, aku selalu menyusahkan Twako saja...."

"Jangan berkata demikian, Toanio. Aku hidup sebatang kara, akan tetapi aku adalah seorang pria. Sedangkan engkau seorang wanita yang masih muda, mana bisa harus hidup bersunyi diri apalagi hendak mencari puterimu di daratan besar? Aku sudah merasa cukup berbahagia kalau Toanio sudi kutemani."

"Tentu saja aku girang sekali dan banyak terima kasih atas budimu yang berlimpah-limpah itu, Toako. Semoga kelak Thian saja yang dapat membalasmu karena apakah dayaku untuk membalas kebaikanmu?"

Dia menjadi terharu sekali. Dahulu Liu Bwee adalah seorang wanita periang dan jenaka, namun penderitaan batin membuat dia menjadi perasa dan halus budi serta lemah. Ouw Sian Kok tidak menjawab, hanya menjawab dalam hatinya,

"Pandang matamu itu sudah merupakan pembalasan yang berlipat ganda bagiku."

Posting Komentar