Bu Kek Siansu Chapter 86

NIC

"Aku tidak muda lagi, usiaku sudah tiga puluh lima tahun...."

"Itu masih muda namanya, setidaknya bagiku. Seorang wanita muda...."

Dan mata laki-laki itu bercahaya penuh tantangan sehingga Liu Bwee tidak membantah lagi,

"cantik dan berkepandaian tinggi, bukan orang sembarangan, ini sudah jelas sekali, berada seorang diri di pulau kosong. Siapa tidak akan merasa heran?"

"Aku sedang mencari puteriku yang hilang...."

"Ah...!"

Laki-laki itu terkejut dan memandang penuh perhatian.

"Berapakah usianya dan siapa namanya? Aku akan membantumu mencarinya."

Dia bicara dengan suara mengandung keperihatinan dan perasaan iba yang jelas sekali nampak sehingga Liu Bwee merasa makin tertarik dan berterima kasih. Jelas baginya bahwa penolongnya adalah seorang laki-laki yang baik hati, sungguhpun kehadirannya di bagian dunia yang amat terasing ini bukanlah hal yang tidak aneh.

"Dia sudah dewasa, sekitar enam belas tahun, namanya Han Swat Hong...."

"Ahhhh??"

Kembali laki-laki itu memotong dengan seruan kaget dan matanya terbelalak memandang Liu Bwee.

"She Han....? Apa hubungannya dengan Han Ti Ong?"

"Dia anaknya...."

Liu Bwee sendiri terkejut karena merasa telah terlanjur bicara maka dia menahan kata-katanya. Laki-laki itu terkejut dan jelas terbayang di mukanya betapa jawaban ini sama sekali tidak disangkanya. Matanya memandang Liu Bwee dengan penuh perhatian dan penuh selidik, dan sampai lama dia baru bertanya.

"Kalau puterimu itu adalah anak Han Ti Ong berarti bahwa... Paduka adalah Ratu Pulau Es...."

Liu Bwee menarik napas panjang. Dia tidak dapat bersembunyi lagi, dan pula, orang yang telah menyelamatkan nyawanya ini memang berhak untuk mengetahui semuanya. Apalagi karena memang penderitaan batinnya adalah karena terkumpulnya rasa penasaran di dalam hatinya yang membutuhkan jalan keluar. Selain ini, sebutan "paduka"

Amat menyakitkan telinganya. Maka dia kembali menarik napas panjang.

"Itu sudah lalu.... sekarang aku bukanlah ratu lagi, melainkan seorang buangan....."

"Apa....? Seorang permaisuri dibuang dari Pulau Es?"

Liu Bwee lalu menceritakan riwayatnya, menceritakan betapa suaminya, Raja Pulau Es telah mengambil seorang selir bernama The Kwat Lin dan betapa akhirnya karena ulah selir itu, dia difitnah dihukum buang Ke Pulau Neraka!

"Puteriku Han Swat Hong, menjadi marah dan lari minggat dari Pulau Es hendak mewakili aku menerima hukuman buang di Pulau Neraka. Aku mengejarnya, akan tetapi tidak berhasil, bahkan aku tersesat ke pulau ini dan karena merasa putus harapan, aku lalu bertapa di sini sampai enam bulan lamanya. Hari ini semestinya penderitaanku berakhir, akan tetapi agaknya Thian masih hendak memperpanjang hukumanku makan aku dapat kau selamatkan...."

Tak tertahankan lagi, Liu Bwee menutupi mukanya dan menahan tangisnya, akan tetapi tetap saja dia terisak-isak.

"Krekkk! Krekkk!"

Ranting kayu di depan laki-laki itu telah hancur berkeping-keping karena diremasnya di tangan kanannya.

"Kejam! Jahat sekali! Orang yang merasa dirinya bersih adalah sekotor-kotornya orang! Seperti Han Ti Ong dan semua raja di Pulau Es! Menghukumi orang-orang dan membuang mereka ke Pulau Neraka, hidup di neraka yang amat sengsara. Akan tetapi mereka sendiri, Si penghukum itu, melakukan kekejian dan kejahatan bertumpuk-tumpuk dan merasa dirinya benar! Betapa menjemukan! Aku akan memper-taruhkan nyawa untuk menentang kejahatan dan kepalsuan macam ini!"

Liu Bwee mengangkat muka-nya memandang. Kedua pipinya masih basah oleh air matanya.

"Inkong, engkau siapakah dan mengapa seolah-olah menaruh permusuhan dengan Pulau Es?"

"Aku bernama Ouw Sian Kok, aku putera tunggal dari ketua di Pulau Neraka."

"Ohhh....!!"

Kini giliran Liu Bwee yang menjadi kaget setengah mati karena tidak mengira bahwa penolongnya ternyata adalah musuh besar Pulau Es!

"Harap Paduka jangan khawatir...."

"In-kong, jangan kau menyebutku Paduka. Aku bukanlah seorang permaisuri lagi melainkan seorang buangan seperti engkau pula, kau tahu bahwa namaku Liu Bwee, orang biasa anak nelayan, hanya bekas ratu sekarang menjadi orang buangan."

"Hem, baiklah Liu-toanio. Dan akupun tidak suka disebut Inkong, aku lebih tua dari padamu, sebut saja aku Twako. Sebutlah, aku bukanlah musuh langsung dari Pulau Es, karena aku bukan seorang buangan, melainkan keturunan seorang buangan. Akan tetapi aku pun hanya bekas putera Ketua Pulau Neraka, karena sudah lima belas tahun lamanya aku meninggalkan Pulau Neraka, tidak pernah menjenguknya lagi dan menjadi perantau di antara pulau-pulau kosong ini...."

Tiba-tiba wajah yang gagah itu kelihatan menyuram.

"Eh, kenapakah Ouw-twako? Apa yang terjadi denganmu maka engkau menjadi demikian?"

Liu Bwee bertanya, tertarik hatinya. Ouw Sian Kok menghela napas panjang, agaknya tidak suka menceritakan peristiwa masa lalu yang telah merobah jalan hidupnya sama sekali.

"Aku memang sudah tidak senang tinggal di Pulau Neraka. Keadaan pulau itu membuat orang yang tinggal di situ menjadi buas, liar dan kejam karena terpaksa oleh kekejaman di pulau itu. Akan tetapi sebagai putera Ketua, aku menekan ketidak senanganku dan terutama karena aku hidup penuh kasih sayang dengan isteriku. Kami mempunyai seorang anak perempuan yang sudah lima belas tahun tidak pernah kulihat. Tuhan menghukum aku. Isteriku yang tercinta itu meninggal dan aku . aku lalu pergi meninggalkan ayah, anakku, dan Pulau Neraka sampai sekarang."

Sehabis bercerita, Ouw Sian Kok menundukkan mukanya dan berkali-kali menghela napas panjang. Liu Bwee memandang dengan mata penuh belas kasihan, bengong dan tidak dapat berkata-kata. Betapa besar persamaan penderitaan di antara mereka. Dia pun kehilangan suami, sunguhpun suaminya masih hidup akan tetapi apa bedanya dengan mati kalau suaminya sudah tidak mencintainya lagi? Dan dia kehilangan anaknya pula, sama benar dengan nasib Ouw Sian Kok yang kehilangan isteri dan anaknya. Hanya bedanya, kalau dia mencari-cari Swat Hong, adalah laki-laki ini sengaja meninggalkan puterinya.

"Kasihan engkau, Ouw-twako,"

Katanya sambil menyentuh tangan laki-laki yang telah menolongnya itu. Ouw Sian Kok menghela napas, kemudian tiba-tiba mengangkat mukanya dan tersenyum.

"Betapa aneh dan lucunya. Engkau yang bernasib malang ini menaruh kasihan kepada aku! Hemm, isteriku dirampas oleh Tuhan, aku tidak mungkin bisa mendendam. Sebaliknya, suamimu dirampas wanita lain, itu merupakan hal yang lebih menyakitkan hati lagi. Sudahlah, lebih baik kita melupakan semua itu dan yang terpenting kita memperhatikan keadaan kita sendiri, berusaha menghindarkan bahaya. Lihat badai mulai berhenti dan air yang merendam pulau sudah surut dan kembali ke laut, cuaca sudah terang tidak sege-lap tadi!"

Liu Bwee memandang ke bawah lalu ke kanan kiri benar saja, badai telah berhenti. Seketika lupalah dia akan segala kedukaan dan wajahnya berseri. Dia tidak tahu betapa Ouw Sin Kok memandangnya dengan penuh kagum melihat wajah yang cantik itu, dengan air mata yang masih menempel di pipi, kini terenyum dan berseri-seri.

"Mari kita turun!"

Kata Liu Bwee setelah melihat bahwa dengan amat cepatnya air telah meninggalkan pulau, seperti serombongan anak-anak nakal yang pulang ke rumah dipanggil ibunya. Mereka meloncat turun dan menuju ke tepi pantai di mana Ouw San Kok menaruh perahunya. Girang hatinya bahwa sebelum meninggalkan perahu ketika badai mulai mengamuk, dia telah mengikat perahunya dengan kuat sekali pada batu karang sehingga kini perahunya itu masih berada di situ. Akan tetapi perahu Liu Bwee lenyap tak meninggalkan bekas.

"Liu-toanio, mari kita berangkat."

"Eh, ke mana?"

Posting Komentar