Bu Kek Siansu Chapter 84

NIC

"Dan agaknya terpaksa aku sendiri yang harus maju melayani Toanio."

The Kwat Lin masih tetap duduk dan memandang kakek pengemis itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian dengan suara tenang dia berkata,

"Siapa lagi yang diutus oleh An Goanswe untuk menguji kami?"

"Hanya kami bertiga, dan karena Siok Tojin sudah kalah .."

"Maka tinggal engkau dan Tan Lo-enghiong itu. Nah, kau lihat Tan Lo-enghiong juga telah membawa senjatanya, membawa sebatang toya, maka sebaiknya kalau kalian berdua maju dan mengeroyokku!"

Pat-jiu Mo-kai tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, The-toannio, apakah Toanio juga hendak menggunakan siasat seperti Kiam-mo Cai-li tadi? Ingat, tidaklah mudah untuk memancing kemarahanku!"

The Kwat Lin mengerutkan alisnya, lalu melangkah maju.

"Siapa yang menggunakan siasat? Tanpa siasat pun, menghadapi kalian berdua aku masih sanggup."

Tiba-tiba terdengar suara Han Bu Ong,

"Ibu, berikan dia kepadaku! Biar aku yang menandingi pengemis tua itu!"

Pat-jiu Mo-kai diam-diam terkejut. Kalau seorang anak belasan tahun berani menghadapinya, tentu ibunya memiliki kepandaian yang hebat sekali. Akan tetapi The Kwat Lin menoleh kepada puteranya dan berkata,

"Bu Ong, kita tidak sedang menghadapi musuh, dan pertandingan ini hanya untuk menguji kepandaian saja. Jangan kau ikut-ikut!"

Han BU Ong cemberut lalu berkata,

"Apalagi hanya dikeroyok dua, biar kalian berlima maju semua, ibu akan dapat mengalahkan kalian dengan satu tangan saja!"

Kembali Pat-jiu Mo-kai terkejut. Bocah itu, putera The Kwat Lin, tidak lebih dianggap seperti bocah biasa, dan tentu telah memiliki kepandaian tinggi pula, maka kata-katanya tidak boleh dianggap kosong belaka. Lenyaplah keraguannya dan dia berkata kepada The Kwat Lin,

"Memang sesungguhnya aku sendiri dan Tan Goan Kok merupakan orang-orang yang diutus menguji kepandaian Toanio, apakah kami boleh maju bersama menghadapi kelihaian Toanio?"

Dengan sikap tak acuh The Kwat Lin berkata sambil menggerakan tangan kirinya,

"Majulah, jangan sungkan-sungkan!"

Tan Goan Kok yang berwatak kasar itu melompat ke depan.

"Hemm, tentu Nyonya rumah memiliki kelihaian yang luar biasa maka menantang kita maju berdua, Pat-jiu Mo-kai!"

Pat-jiu Mo-kai mengangguk-angguk.

"Hati-hatilah, Tan-sicu."

Mereka berdua lalu memasang kuda-kuda di sebelah kanan kiri The Kwat Lin. Pat-jiu Mo-kai memegang tongkat butut dengan tangan kanan seperti memegang sebatang pedang, tongkat itu menuding ke depan dari dadanya, lurus ke depan, sedangkan tangan kirinya menjaga di depan pusar, kedua kaki ditekuk sedikit, agak merapat di depan dan belakang.

Tan Goan Kok memegang toyanya dengan kedua tangan, kuda-kudanya kuat sekali, kokoh seperti batu karang dan toya di kedua tangannya itu sedikit pun tidak bergoyang. Melihat dua orang itu sudah memasang kuda-kuda, The Kwat Lin lalu mencabut pedangnya, yaitu Angbwe-kiam dan melangkah maju sambil berkata,

"Nah silahkan kalian mulai!"

"Kami adalah tamu-tamu dan kami maju berdua, tidak pantas kalau kami mulai, silahkan Toanio mulai,"

Kata Pat-jiu Mo-kai yang tidak mau membuka serangan karena dia ingin lawan maju menyerang lebih dulu agar dia atau temannya dapat mengacaukan pertahanan lawan dengan serangan mendadak. The Kwat Lin tersenyum, maklum akan siasat kakek jembel itu.

"Nah, sambutlah!"

Teriaknya dan Pat-jiu Mo-kai kecele kalau hendak melanjutkan siasatnya karena tiba-tiba pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar yang menyambar ke arah mereka seperti kilat cepatnya sehingga sekali bergerak, pedang itu telah menyerang mereka berdua dalam waktu yang hampir bersamaan! Tentu saja mereka terkejut sekali dan cepat menggerakkan tongkat dan toya untuk menangkis.

"Trang...! Cringggg....!!"

Pat-jiu Mo-kai dan Tan Goan Kok terhuyung ke belakang. Tenaga yang keluar dari Ang-bwe-kiam sungguh dahsyat, membuat telapak tangan mereka terasa panas dan hampir saja senjata mereka terlepas. Terkejutlah kedua orang itu dan The Kwat Lin diam-diam mentertawakan mereka karena dia memang hendak mengukur lebih dulu kekuatan lawan. Karena merasa penasaran, kini ke dua orang itu maju dari kanan kiri dan mulailah mereka menyerang dengan ganas.

Kwat Lin sudah dapat mengetahui bahwa di antara kedua orang pengeroyoknya, tongkat kakek jembel itulah yang lebih lihai maka dia selalu mendahulukan tangkisannya terhadap tongkat itu, baru dia menangkis toya yang menyambar. Dia tahu bahwa kakek Tan Goan Kok yang kasar itu hanyalah menggandalkan tenaga gwakang yang besar, namun makin besar tenaga kasar lawan, makin mudah dia menghadapinya karena sedikit getarkan pedang yang dilakukan dengan pengerahan sinkang cukup membuat telapak tangan Tan Goan Kok terpukul sendiri oleh tangannya. Lewat sepuluh jurus, setelah dia yakin akan ukuran tenaga kedua orang lawannya, Tiba-tiba The Kwat Lin menyarungkan kembali pedangnya dan menghadapi kedua lawan itu dengan tangan kosong. Tentu saja dua orang lawannya cepat menahan senjata dan pat-jiu Mo-kai berseru,

"Heiii, The-toanio. Kami belum kalah mengapa engkau mengakhiri pertandingan?"

"Siapa Mengakhiri? lanjutkanlah serangan kalian, aku menyimpan pedang karena takut rusak."

"Huhhh, dengan tangan kosong pun ibu akan mudah mengalahkan kalian!"

Mendengar teriakan bocah itu, dua orang kakek itu lalu maju lagi dan menggerakan senjata mereka untuk menyerang. Tongkat pat-jiu Mo-kai melayang dari atas menghantam kepala, sedangkan toya Tan Goan Kok menyambar dari samping menghantam lambung! Mereka terkejut setengah mati melihat lawan itu sama sekali tidak mengelak, hanya miringkan sedikit tubuhnya dan meloncat sedikit.

Posting Komentar