"Mereka inilah,"
Swi Nio menunjuk kepada tiga orang teman-temannya. Dia adalah Pat-jiu Mo-kai, dan Totiang ini adalah Siok Tojin, Lo-enghiongitu adalah Tan Goan Kok. Mereka bertiga yang menjadi utusan An Goanswe. The Kwat Lin memandang tajam kepada tiga orang itu seolah-olah hendak menimbang bobot mereka dengan matanya. Pat-jiu Mo-kai yang tertua dan dianggap pemimpin rombongan apalagi karena dia yang pandai bicara dibandingkan Tan Goan Kok yang kasar dan jujur, apalagi dengan Siok Tojin yang jarang sekali membuka mulut, segera tertawa.
"Ha-ha-ha, kami bertiga pun hanyalah pembantu-pembantu rendahan saja dari An Goanswe, akan tetapi kami menerima kehormatan untuk menjadi utusan Beliau menghadap Toannio The Kwat Lin yang namanya terkenal sebagai Ratu Pulau Es dan Ketua Bu-tong-pai, juga menghadap Kiam-mo Cai-li yang juga amat terkenal di dunia Kang-ouw sebagai seorang wanita yang amat lihai dan cerdas sekali. Kami merasa amat terhormat dapat menjadi tamu-tamu di Rawa Bangkai ini."
Kiam-mo Cai-li Liok Si yang memang amat cerdas, kini mendahului Kwat Lin dan berkata,
"Tidak tahu apakah kedatangan Cuwi ada hubungannya dengan pesan kami kepada An Goanswe"
"Dugaan Cai-li benar sekali. Kami berlima adalah utusan An Goanswe untuk menghadap Jiwi dan untuk bicara dengan Jiwi. An Goanswe telah menerima pesan Jiwi dan sebagai jawaban An Goanswe mengutus kami untuk bicara."
"Lalu bagaimana keputusan An Goanswe tentang ajakan kami untuk bekerja sama?"
The Kwat Lin bertanya.
"An Goanswe merasa amat senang menerima surat Jiwi dan tentu saja An Goanswe menerima dengan kedua tangan terbuka uluran kerja sama Jiwi itu. Sudah lama An Goanswe merasa kagum, terutama sekali melihat siasat gemilang yang berhasil baik sehingga Jiwi sekalian dapat menyelundupkan orang menjadi kepercayaan Yang Kui Hui. Hanya sayang, pada saat terakhir siasat gemilang itu mengalami kegagalan karena orang kepercayaan Jiwi tidak dapat menahan nafsu berahinya. Kami diutus oleh An Goanswe untuk menyampaikan pesan bahwa jika Jiwi suka membantu dari dalam, yaitu berusaha menanam tenaga-tenaga bantuan di dalam kota raja dan kalau mungkin di dalam istana agar kelak memudahkan penyerbuan ke kota raja apabila saatnya yang tepat tiba, maka An Goanswe akan berterima kasih sekali."
Mendengar pesan An Lu San yang di sampaikan oleh Pat-jiu Mo-kai ini, hati kedua orang wanita itu menjadi girang sekali sungguhpun kegirangan itu tidak terbaca di wajah mereka.
"Kami yang tidak mempunyai pasukan besar memang tahu diri dan tentu saja hanya akan membantu dari dalam seperti yang diusulkan An Goanswe. Kami dapat menerima usul itu dan sebaiknya kita rencanakan siasat-siasatnya bersama."
The Kwat Lin berkata.
"Sebelum kita berunding dan mengatur siasat agar dapat kami sampaikan kepada An Goanswe terlebih dahulu kami harus menyampaikan semua pesan Beliau untuk Jiwi. Selain usul itu juga An goanswe mengatakan bahwa pekerjaan membantu dari dalam itu merupakan pekerjaan yang amat rumit, sulit, dan berbahaya. Hanyalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi saja yang akan dapat berhasil dan An Goanswe ingin memperoleh keyakinan bahwa para pembantunya tidak akan gagal."
Mendengar kata-kata kakek berpakaian tambal-an itu, merahlah wajah The Kwat Lin dan hatinya menjadi panas.
"Hemm, ucapanmu itu berarti bahwa kalian hendak menguji kepandaian kami?"
Sambil tertawa Kiam-mo Cai-li yang melihat kemarahan kawannya itu bangkit berdiri dan meloncat ke tengah ruangan yang luas itu sambil berkata,
"Memang sudah seharusnya demikian! An Goanswe adalah seorang Jenderal besar yang cerdik pandai, tentu akan menguji setiap orang sekutu atau pembantunya. Nah, biarlah aku yang lebih dulu memperlihatkan kepandaian. Siapakah di antara Cuwi berlima yang hendak menguji?"
Dengan lagak memandang rendah Kiam-mo Cai-li berdiri dan memandang ke arah lima orang utusan itu.
Tentu saja Bu Swi Nio tidak berani bergerak, juga Liem Toan Ki yang sudah maklum akan kehebatan ilmu kepandaian wanita Majikan Rawa Bangkai itu mengerti bahwa dia bukanlah tandingannya. Melihat wanita yang usianya lima puluh tahun itu masih cantik menarik dan memegang sebatang payung, berdiri dengan sikap memandang rendah, Siok Tojin yang sejak tadi diam saja sudah bangkit. Ilmu kepandaian tosu ini amat tinggi terutama ilmu pedangnya, dan di dalam rombongan itu dia merupakan orang ke dua yang terpandai.
"Biarlah pinto yang akan menguji,"
Katanya. Pat-jiu Mo-kai mengangguk. Memang yang akan menjadi tukang menguji kepandaian dua orang wanita itu adalah mereka bertiga, dan dia mendengar bahwa kepandaian bekas Ratu Pulau Es itu lebih hebat daripada kepandaian Kiam-mo Cai-li, maka memang sebaiknya kalau Siok Tojin yang menghadapi Kiam-mo Cai-li sedangkan dia nanti yang akan menghadapi The Kwat Lin. Kiam-mo Cai-li memandang tosu itu penuh perhatian, kemudian sambil tersenyum dia berkata,
"Kalau aku hanya mampu menandingi Siok Tojin, agaknya belumlah patut aku menjadi tangan kanan Ratu Pulau Es dan akan menjadi kepercayaan An Goanswe, akan tetapi hendak kuperlihatkan bahwa aku akan dapat mengalahkan totiang dalam sepuluh jurus. kalau sampai dalam sepuluh jurus aku tidak mampu mengalahkan Totiang, anggap saja aku tidak becus dan aku akan mengundurkan diri!"
Ucapan ini mengejutkan semua utusan itu.
Biarpun mereka sudah lama mendengar nama besar datuk wanita yang merupakan iblis betina ini, namun Siok Tojin bukan orang sembarangan. Ilmu pedangnya amat tangkas, hebat dan kuat. Bagaimana wanita itu berani bersombong mengatakan hendak mengalahkannya dalam sepuluh jurus? Namun The Kwat Lin yang dengan pandang matanya yang tajam dapat menilai orang, tenang-tenang saja. Juga Kiam-mo Cai-li bukanlah menyombongkan diri secara ngawur, melainkan dia pun sudah dapat menilai kepandaian tosu itu dari gerakanya maka dia berani menantang akan mengalahkannya dalam sepuluh jurus. Siok Tojin mengerutkan alisnya, perutnya terasa panas. Dia tidak pandai bicara, maka dalam kemendongkolannya dia hanya berkata,
"Hemm, seekor kerbau diikat hidungnya, manusia diikat mulutnya!"
Ucapan ini mengandung maksud bahwa kalau Kiam-mo Cai-li tidak memenuhi janji yang diucapkan dengan mulut, dia sama dengan seekor kerbau! Setelah berkata demikian, tangan kananya bergerak dan tampaklah sinar berkilau dari pedang yang telah dicabutnya.
"Tentu saja mulutku dapat dipercaya, Siok Tojin! Aku akan mengalahkanmu dalam waktu sembilan jurus! Kiam-mo Cai-li berkata sambil mengejek dan tangan kanannya memegang payung yang segera terbuka dan dipakainya, sedangkan tangan kirinya diraba-raba sanggul rambutnya, seperti merapikan padahal diamdiam dia melepas tali rambutnya yang panjang itu.
Sebagai nyonya rumah rasanya kurang sopan jika aku menyerang tamuku. Silakan dimulai, Totiang, ujar Kiam-mo Cai-li.
Singgg...! Siok Tojin langsung menghunus pedangnya. Tosu ini memang lebih pandai berbicara melalui pedang dibandingkan dengan mulutnya.
Pihak lawan sudah memintanya membuka pertarungan, maka tanpa sungkan lagi tosu ini menerjang ke depan, apa-lagi perutnya masih panas akibat dia tadi diremehkan. Melihat iblis wanita yang menjadi lawannya menyandang payung di bahu kanan, langsung pedangnya menusuk lurus ke arah pundak kiri lawan yang lebih terbuka. Dalam pertarungan biasa, dia akan menusukkan pedangnya tepat ke jantung lawan, tetapi karena pertarungan ini hanya untuk menguji kepandaian, maka sengaja dia arahkan pedangnya lebih tinggi sehingga tidak mengancam jiwa lawannya.
Tidak percuma Liok Si bergelar Cai-li (Wanita Pandai). Melihat gerakan pembuka tosu ini dia lantas paham bahwa pihak lawan memang hanya ingin mengujinya, tidak punya maksud mencelakakan. Sebab itu bibirnya mengembangkan senyum manis, dan dalam hati dia pun bertekad untuk tidak menurunkan tangan berat kepada tosu itu. Begitu pedang datang menyambar, Kiam-mo Cai-li cepat menarik kaki kiri sedikit ke belakang, sedangkan kaki kanannya ditekuk sehingga tubuhnya merendah dan menjauh dari pedang Siok Tojin.
Namun gerakan pembuka tadi ternyata hanya pancingan belaka. Begitu tubuh lawan bergerak, segera Siok Tojin menahan pedangnya, lalu membuat gerakan memutar dan membabat lengan kiri lawan. Kiam-mo Cai-li tidak mengelak lagi, secepat kilat tangan kanannya yang memegang payung digerakkan untuk menangkis pedang yang mengancam lengannya. Melihat urat di dahi tosu itu menegang, tanda bahwa dia sedang mengerahkan tenaga penuh, Kiam-mo Cai-li turut menghimpun sinkang dan menangkis dengan sekuatnya.
Tranggg...! timbul percikan api akibat benturan payung dan pedang, diikuti langkah mundur keduanya.
Dalam sekali gebrakan, keduanya langsung paham kemampuan lawan masing-masing. Pedang Siok Tojin bergerak lebih dulu, namun payung Kiam-mo Cai-li yang sampai lebih awal di tempat tujuan, padahal jarak yang ditempuh pedang lebih pendek dibandingkan payung. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan majikan Rawa Bangkai itu masih lebih unggul. Selain itu, ketika terjadi benturan tadi Siok Tojin dapat melihat pedangnya sedikit terpental dan merasakan perih di telapak tangannya, sedangkan payung di tangan wanita iblis itu hanya terlihat sedikit tergetar. Mau tidak mau Siok Tojin harus mengakui bahwa sinkang-nya juga lebih asor.
Hemmm..., baik kecepatan mau pun sinkang-nya lebih unggul, tidak heran lidahnya bisa berucap hingga menjilat langit. Melihat kenyataan ini, sebaiknya aku bertahan saja selama sepuluh jurus, hendak kulihat apa yang bisa dia lakukan terhadap diriku. Lewat sepuluh jurus, jika aku masih berdiri tegak, bukankah dia sendiri yang harus mengaku kalah? demikian jalan pikiran si tosu dalam mengatur siasat.
Setelah mengambil keputusan demikian, Siok Tojin tidak mau bergerak sembarangan lagi. Dia hanya berdiri tegak dengan kuda-kuda sekokoh batu karang, kedua kaki dipentang dengan lutut sedikit menekuk, pedang menuding diarahkan lurus ke depan, tangan kirinya dipasang melintang di depan dada, sedangkan matanya mengawasi lawan dengan waspada.
Mula-mula Kiam-mo Cai-li tertegun melihat lawannya diam tak bergerak, namun dia segera sadar akan isi benak si tosu. Semenjak sebelum pertarungan dimulai, ketika dia menyatakan akan menundukkan lawannya di bawah sepuluh jurus, wanita cerdik ini sudah memikirkan pula kemungkinan ini.
Hi-hik..., baru satu jurus Totiang sudah mematung tidak berani maju. Apakah Totiang merasa takut kepada seorang wanita? Bukankah Totiang bermaksud mengujiku? Atau... justru aku yang perlu menguji kepandaian Totiang? dengan cerdik Kiam-mo Cai-li menyindir tajam sambil tersenyum mengejek.
Walau pun seorang tosu, agaknya Siok Tojin adalah orang yang lebih mengutamakan hati dibandingkan otak. Mendengar sindiran lawan, dia lupa pada siasat yang sudah ditanam dalam pikirannya. Siapa yang takut?! bentaknya sambil kembali menerjang.
Kiam-mo Cai-li tahu An-goanswe tidak mungkin mengirim orang lemah untuk menguji dirinya. Bisa melewati rawa maut hingga kakinya menginjak istana kediamannya saja sudah menunjukkan bahwa tosu ini bukan lawan yang mudah dikalahkan begitu saja. Bila Siok Tojin hanya bertahan saja, dia khawatir hingga lewat sepuluh jurus dirinya belum mampu mengalahkan tosu ini. Karena itu dia memang sengaja memancing kemarahan lawan agar mau menyerang, dengan demikian akan timbul lubang-lubang yang dapat diterobos payung, kuku, atau rambutnya yang seperti cambuk.
Segera kedua orang itu saling serang dengan dahsyat. Walau pun Siok Tojin tidak bertahan sama sekali, namun pada kenyataannya dia ada di pihak yang lebih banyak bertahan. Dalam empat gerakan, dia hanya menyerang satu kali, sisa tiga gerakan lainnya berupa tangkisan atau gerakan mengelak untuk mempertahankan diri. Selain dia kalah cepat, niatnya untuk bertahan tidak terhapus hilang dari otaknya.
Tidak demikian dengan Kiam-mo Cai-li. Wanita ini harus menjatuhkan lawan sebelum jurus ke sepuluh dimainkan, karena itu dia langsung mengembangkan jurus-jurus pilihan. Payungnya berkelebat cepat, kadang tertutup lain kali terbuka, sekali menusuk dua kali membabat. Di samping itu tangan kirinya tidak tinggal diam, akan tetapi turut menyerang dengan kuku-kukunya yang beracun.
Setelah lewat empat lima jurus kedudukan Siok Tojin sudah sangat payah. Seluruh ruang geraknya seakan-akan tertutup tanpa jalan lolos, terkepung oleh kelebatan sinar payung dan cengkeraman kuku jari Kiam-mo Cai-li. Hingga suatu saat, pada jurus kelima, tubuh tosu itu terhuyung setelah pedangnya terpaksa menangkis payung lawan yang menyabet lengan atasnya dengan tenaga penuh.
Tiba-tiba Kiam-mo Cai-li mengeluarkan suara lengking yang membuat telinga semua orang mendengung. Mendadak tangan kiri wanita iblis ini menyerang ulu hati lawan dengan gerakan mencengkeram, mengandalkan kuku jarinya yang panjang dan mengandung racun. Dalam waktu yang bersamaan, payung di tangan kanannya berkelebat secepat kilat membabat pinggang kiri si tosu.
Walau pun dalam keadaan terhuyung, Siok Tojin masih dapat melihat dua serangan sekaligus yang sama berbahaya ini. Cepat tangan kirinya bergerak menangkap pergelangan tangan Kiam-mo Cai-li, sementara pedangnya diayun menangkis payung yang mengarah pada pinggangnya. Kiam-mo Cai-li mendengus, dia biarkan tangan lawan menangkap pergelangan kirinya, namun tanpa mengurangi tenaga, cakar kiri itu tetap mendorong dan mengancam ulu hati Siok Tojin. Di saat itu pula dia kerahkan sinkang pada payungnya sehingga pedang lawan menempel tanpa dapat dilepaskan.
Sekejap itu pula terjadilah adu tenaga antara kedua orang ini, majikan Rawa Bangkai berada pada kedudukan menyerang, sedangkan utusan An Lu Shan berjuang untuk mempertahankan diri. Pada saat itu, hanya sekejap saja, Siok Tojin sempat melihat senyum di bibir Kiam-mo Cai-li tanpa tahu apa maksudnya. Dia baru tersentak keget ketika kepala wanita itu tiba-tiba menghentak ke depan, diikuti oleh serangkum bayangan hitam yang panjang bagaikan ular menyambar ke arahnya.
"Ehhh.... celaka.....!!"
Siok Tojin berseru, akan tetapi bagaimana dia dapat menghindarkan diri dari serangan ke tiga ini? Kedua tangannya telah menahan dua ancaman maut dan sama sekali tidak bisa dilepaskan.
"Plak-plak....!!"
Seperti ular hidup mematuk saja layaknya, ujung rambut panjang itu menotok dua kali, membuat ke dua lengan tangan Siok Tojin seketika lumpuh dan pedangnya telah dirampas oleh ujung rambut yang terayun-ayun dan berputar ke atas, membawa pedang itu berputaran di atas kepala.
"Bagaimana, Totiang?"
Kiam-mo Cai-li bertanya. Sambil menundukan kepalanya, Siok Tojin berkata lirih,
"Pinto mengaku kalah."
Dan memang dia tahu akan kekeliruannya sekarang, akan tetapi dia harus mengaku bahwa dia telah dikalahkan dalam lima enam jurus saja! Dia tahu pula bahwa lawan tidak hendak mencelakakannya, kakau tidak, tentu ujung rambut itu dapat melakukan totokan maut yang akan menewaskannya. Rambut itu membawa pedang meluncur ke bawah dan melempar pedang menancap di depan kaki Siok Tojin, kemudian dua kali rambut menyambar, dan menotok sehingga terbebaslah tosu itu dari totokan. Siok tojin menghela napas, mengambil pedangnya, menjura lalu tanpa berkata-kata lagi dia melangkah mundur ke tempat teman-temannya.
"Ha-ha-ha, bukan main hebatnya Kiam-mo Cai-li. Pedang payung lihai, kukunya berbahaya, rambutnya hebat, akan tetapi yang lebih hebat lagi adalah kecerdikannya yang memancing kemarahan Siok Tojin! Memang kecerdikan seperti itu amat dibutuhkan dalam tugas bekerja dari dalam yang membutuhkan kecerdikan seperti yang dimiliki Kiam-mo Cai-li. Kionghi (Selamat)! An Goanswe tentu akan girang sekali mendengar laporan kami tentang diri Kiam-mo Cai-lil!"
Kiam-mo Cai-li yang sudah duduk kembali, tersenyum girang.
"Aihh, Loenghiong Pat-jiu Mo-kai terlalu memuji! "
Katanya dengan bangga dan girang.
"Sekarang untuk melengkapi tugas kami yang diberikan oleh An Goanswe, kuharap The-toanio suka memperlihatkan kepandaian,"
Kata pula Pat-jiu Mo-kai sambil melangkah maju menyeret tongkat bututnya.