Agak pucat muka Swi Nio dan otomatis dia menyentuh tangan Liem Toan Ki yang membalas dengan genggaman seolah olah hendak menghibur kegelisahan calon istrinya itu. Tentu saja Swi Nio merasa takut karena dia sudah mengenal watak subonya yang keras dan kejam, juga maklum betapa lihainya subonya itu. Dia tahu bahwa andai kata subonya berniat buruk, mereka berlima tentu akan tewas semua di tempat itu.
"Ibu, itu Swi-suci yang telah minggat datang kembali!"
Tiba tiba Han Bu Ong berkata sambil menudingkan telunjuknya ke muka Swi Nio. Swi Nio tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi, dan dia maju menjatuhkan diri berlutut sambil berkata,
"Subo, teecu harap subo sudi mengampunkan teecu."
The Kwat Lin memandang tajam sejenak lalu menghela napas dan menggerakkan tangannya. Dia cukup bermata tajam untuk dapat melihat betapa empat orang laki laki yang datang bersama Swi Nio itu bersikap siap siaga dan kalau dia menurutkan hati panas turun tangan mengganggu muridnya itu, tentu empat orang utusan An Lu San itu akan membela Swi Nio mati-matian. Hal ini sama sekali tidak diharapkannya dan sudah dibicarakannya tadi bersama Kiam-mo Cai-li, maka dia menekan perasaannya dan berkata,
"Bangkitlah, engkau pergi dan menjadi kepercayaan An Goanswe, tidak terlalu mengecewakan."
Lega bukan main hati Swi Nio dan dia bangkit berdiri lalu berkata kepada Bu Ong,
"Sute engkau baik baik saja, bukan?"
An Bu Ong yang biarpun masih kecil namun sikapnya sudah seperti orang dewasa itu mencibirkan bibirnya, mendengus seperti orang mengejek, lalu berkata,
"Suci, baik sekali engkau, ya? Suheng dibunuh orang, dan ibu sampai lari ke sini, akan tetapi engkau malah minggat dan enak enak saja!"
"Bu Ong, diamlah engkau!"
The Kwat Lin berkata, lalu melanjutkan kepada Swi Nio,
"Swi Nio, tahukah engkau bahwa kakakmu telah tewas?"
Swi Nio mengangguk dan air matanya bercucuran dan segera diusapnya.
"Teecu sudah mendengar akan hal itu, Subo."
"Kalau begitu kita sama-sama mendendam kepada pemerintah. Kita lupakan saja semua urusan lama, Swi Nio, dan baik sekali kalau kita dapat bekerja sama. Agaknya engkau kini sudah dipercaya menjadi utusan An Goanswe, ya?"
Swi Nio cepat menjawab dan memperkenalkan teman-temannya.
"Teecu hanya menjadi pembantu dan penunjuk jalan saja bersama....dia ini...."
Swi Nio menunjuk kepada Liem Toan Ki dan mukanya menjadi merah.
"Siapa dia?"
The Kwat Lin memandang tajam kepada Liem Toan Ki yang cepat maju menjura dengan hormat.
"Maafkan, Pangcu...."
"Aku bukan Ketua Bu-tong-pai lagi, aku adalah bekas Ratu Pulau Es!"jawab Kwat Lin ketus.
"Maaf, saya bernama Liem Toan Ki dan Bu-moi adalah calon istri saya."
"Ibu, dia ini yang pernah menyerbu Bu-tong-pai dan dialah tentunya yang membawa minggat Suci!"
Tiba-tiba Bu Ong berkata. Toan Ki diam-diam memuji kecerdikan anak laki-laki itu dan dia terkejut sekali.
"Benar demikian, saya yang dahulu menjadi petugas An Goanswe menyelidiki Bu-tong-pai dan kemudian mengajak pergi Bu-moi yang sekarang menjadi calon istri saya."
The Kwat Lin mengerutkan alisnya. Laki-laki ini sebenarnya telah menghinanya sebagai bekas Ketua Bu-tong-pai dan sebagai guru Swi Nio, akan tetapi diam-diam dia menerima isyarat mata Kiam-mo Cai-li, maka dia menoleh kepada Swi Nio sambil bertanya,
"Benarkah kau menjadi calon isterinya?"
Muka Swi Nio menjadi merah sekali.
"Benar, Subo. Kami saling mencinta, akan tetapi teecu dan dia berjanji hanya akan melangsungkan pernikahan setelah dendam saya terbalas, yaitu setelah kerajaan sekarang jatuh dan dikuasai An Goanswe."
"Hemm, sudahlah. Kalau kau dan calon suamimu ini hanya membantu, siapa yang menjadi utusan An Goanswe menghadap padaku?"