Bu Kek Siansu Chapter 100

NIC

"Hayo tunjukan aku di mana temanku wanita itu ditawan!"

Orang kerdil itu menjadi pucat dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Aku..... aku tidak tahu...." "Bohong! Hayo katakan, aku hanya ingin menolong dan membebaskannya. Kalau kau mengaku terus terang, aku akan membebaskanmu."

"Aku... aku tidak berani..."

Kemudian orang itu berkata, suaranya mengandung rasa takut dan dia menoleh ke kanan kiri seolah-olah takut kata-katanya terdengar oleh dinding di kanan kirinya.

"Hemm, aku tahu. Kalau kau mengaku, engkau takut dihukum oleh atasanmu. Akan tetapi kau menunjukan tempat itu karena kupaksa dan mereka tentu tahu akan hal itu."

"Aku... aku takut..... takut disiksa...."orang itu berkata setengah menangis Sin Liong menjadi gemas. Orang yang pengecut ini memaksa dia harus mengeraskan hati. Apa boleh buat, demi keselamatan Swat Hong! Dia lalu meng-gunakan jarinya memijit tengkuk orang itu, memijit jalan darah sambil berkata,

"Kau hanya takut kepada mereka dan tidak takut kepadaku? Nah, kau tunjukan atau kubiarkan kau tersiksa seperti ini selama hidupmu!"

Orang itu menyeringai, makin lama makin lebar dan tubuhnya mengeliat-geliat menahan rasa nyeri yang menyerang tubuhnya. Akan tetapi, rasa nyeri itu tidak dapat ditahannya lagi dan dia roboh terguling, menggeliat dan berkelojotan seperti orang sekarat, mulutnya merintih.

"Bebaskan aku.... atau bunuh aku saja..."

Sin Liong merasa kasihan sekali, akan tetapi dia mengeraskan hatinya.

"Aku tidak akan membunuhmu dan juga tidak akan menyembuhkanmu. Kalau kau tidak mau menunjukan tempat sahabatku itu, selama hidup kau akan menderita seperti ini!"

"Tolong.... aduhhhh... baik, kutunjukkan tempatnya... tapi... tapi bebaskan dulu aku..."

Girang bukan main rasa hati Sin Liong. Dengan beberapa totokan dia membebaskan orang itu yang segera menggeliat dan memijit-mijit dadanya, kemudian memandang kepada Sin Liong penuh rasa takut dan ngeri.

"Aku akan menunjukan tempatnya, akan tetapi... kau harus tahu bahwa kalau gadis itu sudah mati, maka bukanlah aku pembunuhnya."

Tentu saja kata-kata ini membuat Sin Liong terkejut bukan main. Dia tidak mau banyak bicara lagi, melainkan berkata dengan suara terengah.

"Lekas... tunjukkan...!"

Dan dia menyambar pergelangan tangan orang itu agar jangan sampai melarikan diri melalui tempat-tempat rahasia. Orang kerdil itu mengajak Sin Liong berlari melalui lorong-lorong dan ternyata lorong-lorong itu amat ruwet bangunannya, berbelit-belit dan banyak sekali persimpangannya. Pantas saja dia tidak berhasil, pikir Sin Liong dan merasa kagum. Lorong rahasia ini memang amat hebat. Akhirnya setelah melalui jarak yang kurang lebih lima li jauhnya, tibalah mereka di dalam lorong yang tidak rata, lebar sempit dan di situ banyak terdapat gundukan-gundukan batu pedang dandari atas bergantungan pula batu-batu yang runcing. Mereka berada di dalam guha-guha besar yang berbeda sekali dengan guha-guha darimana Sin Liong dan Swat Hong masuk.

"Di mana tempatnya?"

Sin Liong bertanya, suarnya gemetar karena dia merasa tegang sekali. Benarkah bahwa Swat Hong terancam nyawanya dan mungkin sekali sudah tewas? Hampir dia memekik untuk melampiaskan kekhawatirannya. Tidak! Tidak mungkin! Tidak boleh!

"Di mana dia? Hayo katakan!"

Dia mengguncang tangan orang kerdil itu. Tubuh orang itu menggigil.

"Dia... di dalam guha sana itu.... lihat, di sana ada lubang besar, bukan?"

"Hayo kita ke sana!"

"Tidak.... tidak, aku takut....! Mereka menjebaknya di sana, tempat itu adalah sarang laba-laba raksasa yang mengerikan. Kurasa dia sudah tewas ....."

Sin Lion tidak perduli dan menyeret orang itu menuju ke lubang besar yang berada di sebelah kiri lorong, melalui bantu-batu menonjol yang ujungnya seruncing pedang. Setelah tiba di situ, tiba-tiba dia mendengar suara lirih.

Posting Komentar